
Setelah melalui kekalutan yang cukup panjang, akhirnya Rion memutuskan untuk melanjutkan pendekatannya dengan Sheza. Dia mengikuti nasihat dari Gio.
Mulai hari ini, Rion akan bersikap baik kepada Sheza seperti ketika dia mendekatinya. Rion akan mengesampingkan masa lalu Sheza. Benar kata Gio dan Arya, semua orang pasti memiliki masa lalu.
Baru saja Rion naik ke lantai atas, wajah cantik Sheza seolah menyambutnya di pagi hari.
"Bawakan saya kopi," ucap Rion yang sudah ada di depan meja Sheza.
Sheza melihat ke arah Rion, pandangan mata mereka bertemu. Secepat kilat Sheza langsung memutus pandangannya.
"Baik, Pak," jawabnya dan langsung melangkahkan kaki menuju pantry meninggalkan Rion seorang diri.
"Apa dia marah?" Monolog Rion.
Di pantry, Sheza hanya bisa menghela nafas panjang. Sikap dingin Bossnya sudah hampir sebulan ini membuatnya sedikit lupa akan rasa yang tersimpan dihatinya untuk Rion. Akan tetapi, suara Rion yang terdengar di telinganya pagi ini membuat desiran rasa itu tumbuh lagi.
"Selembek inikah hati gua?" gumam Sheza.
Dengan ragu Sheza masuk ke ruangan Rion. Dilihatnya Rion sedang fokus ke layar laptopnya. Dengan cepat dia meletakkan cangkir kopi di atas meja. Sheza pun buru-buru membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kaki menuju pintu untuk keluar.
Baru saja Sheza menyentuh gagang pintu, panggilan dari Rion menghentikan langkahnya. Rion menghampiri Sheza. Dan menarik tangannya agar berbalik ke arahnya.
"Apa kamu marah?" tanya Rion.
"Kenapa saya harus marah? Bukannya Bapak yang marah ketika tahu masa lalu saya," jawab Sheza santai dan masih menunjukkan senyum manisnya. Walaupun hatinya terasa sakit.
Jleb,
Rion terdiam mendengar jawaban Sheza. Ternyata Sheza tahu jika masa lalu dan statusnya membuatnya sedikit marah dan kecewa.
"Saya permisi Pak, masih banyak yang harus saya kerjakan," pamitnya.
Tangan Sheza meraih handle pintu namun kalah dengan kecepatan tangan Rion. Rion mendorong tubuh Sheza hingga tubuhnya membentur pintu.
Cup!
Kecupan singkat nan hangat Rion berikan kepada bibir ranum Sheza. Sheza hanya membelalakkan matanya tak percaya.
"Aku menyukaimu," ucap Rion yang memegang dagu Sheza.
Mendengar ucapan Rion, jantung Sheza berhenti berdetak untuk sesaat. Dia sungguh tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Rion mulai mendekatkan wajahnya lagi ke wajah Sheza. Hembusan nafas Rion bisa Sheza rasakan, namun Sheza mendorong tubuh Rion.
"Maaf, Pak. Saya harus ke meja saya," ucapnya.
Dengan langkah seribu Sheza meninggalkan ruangan Rion. Irama jantungnya sedang bergemuruh. Sedangkan Rion hanya tersenyum tipis. Baru kali ini ada wanita yang menolaknya, selain Ayanda.
Di tempat lain, sepasang suami sedang tarik-menarik. Ayanda sedang merengek tidak mau ditinggalkan Gio meskipun untuk bekerja.
"Dad, work from home aja," rengek Ayanda seperti anak kecil yang tidak ingin ditinggal orangtuanya.
"Ada rapat Mom, pagi ini. Remon udah di bawah," jawab Gio yang kini tengah memeluk tubuh Ayanda.
"Daddy cuma sampe jam satu siang doang kok. Daddy janji akan langsung pulang," ujar Gio.
Hanya wajah yang ditekuk yang Ayanda perlihatkan untuk Gio. Akhir-akhir ini dia tidak ingin ditinggalkan oleh suaminya. Ayanda ingin selalu berada dalam dekapan Gio.
"Daddy, gak sayang Mommy dan baby-baby ini," lirihnya dan berlalu meninggalkan Gio.
Gio hanya menghela nafas kasar. Sudah seminggu ini istrinya nempel terus seperti perangko pada tubuhnya. Apakah hormon ibu hamil seperti ini?
Akhirnya Gio masuk ke kamar, dilihatnya Ayanda yang sedang menangis di balik selimut. Sebenarnya dia tidak tega melihat Ayanda seperti ini. Akan tetapi, rapat hari ini sangat penting.
"Mom," panggil lembut Gio dan menyibakkan selimut yang menutupi tubuh istrinya.
"Maafkan Daddy, tapi hari ini rapatnya tidak bisa diwakilkan," jelasnya.
Gio memeluk tubuh Ayanda, mendengarkan Isak tangis lirih istrinya. "Daddy janji, akan langsung pulang setelah semuanya selesai."
"Bener, ya. Janji," ucap Ayanda dengan suara beratnya.
"Iya." Gio mengecup kening Ayanda lalu memeluknya.
Inilah fase di mana Gio harus sabar menghadapi kehamilan istrinya. Mood-nya tidak bisa ditebak, dan sekarang hobi istrinya ini adalah belanja. Meskipun dia belanja bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk orang lain. Gio tidak akan mempermasalahkannya, selagi istrinya bahagia di masa kehamilannya. Gio berharap, kelak anak-anaknya senang berbagi terhadap sesama.
***
Waktu makan siang tiba, Rion menghampiri meja Sheza. "Temani saya makan," ucapnya.
"Maaf, Pak. Saya sudah janji mau makan bersama mbak Sita," tolak Sheza dan berlalu meninggalkan Rion.
Belum sampai sehari ini, Rion sudah ditolak Sheza dua kali. Ada rasa lucu dihatinya tapi nyalinya semakin tertantang untuk mendapatkan Sheza.
Sorenya, setelah jam pulang kerja tiba. Tanpa aba-aba Rion menarik tangan Sheza. Sekuat apapun Sheza memberontak namun tidak digubris oleh Rion. Rion melajukan mobilnya, Sheza tahu ini jalan menuju kosannya. Jadi, dia tidak perlu bertanya kepada Bossnya.
Mobil Rion berhenti di depan kosan Sheza. Baru saja tangan Sheza hendak membuka pintu mobil, Rion menahan tangan Sheza.
"Nanti malam saya jemput, pakailah baju pemberian Ayanda," ucap Rion.
"Tapi Pak ...."
Rion mendekatkan wajahnya ke wajah Sheza, seringai senyum tipis terukir di bibirnya. "Jika kamu menolaknya, saya akan mencium kamu sampai kamu tidak bisa bernapas," ancam Rion.
Wajah Sheza pucat pasi mendengar ancaman Bossnya ini. Dengan cepat dia menganggukkan kepala. Sheza memiliki prinsip, jika belum ada hubungan apa-apa jangan pernah melakukan kontak bibir. Ketika sudah resmi, sah-sah saja melakukan kontak bibir seperti itu. Bibirmu adalah milik pasanganmu, begitulah prinsip percintaan Sheza.
Malam pun tiba, Rion sudah menunggu Sheza di depan pintu kosan. Mata Rion tak berkedip ketika melihat penampilan Sheza yang terlihat cantik malam ini memggunakan dress pemberian Ayanda.
"Cantik." Satu kata yang spontan keluar dari mulut Rion. Membuat Sheza tersipu malu.
Rion menggenggam tangan Sheza menuju mobilnya. Mobil melaju ke sebuah restoran mewah. Rion terus menggenggam erat tangan Sheza hingga menuju meja yang sudah disiapkan.
Semua makanan sudah tertata rapih di meja. Sheza hanya menatap Rion dengan hangat. Sikap dingin Sheza akhirnya mencair dengan perlakuan manis Rion.
Inilah saatnya untuk Rion mengutarakan perasaan yang sebenarnya kepada Sheza. Terlebih dia telah mengantongi restu dari anaknya dan juga mantan istrinya.
Setelah selesai makan, Rion menarik tangan Sheza lalu menciumnya. Tatapan penuh cinta bisa Sheza lihat dari mata Bossnya. Hanya seulas senyum yang Sheza tunjukkan.
"Aku mencintaimu Sheza," ucap Rion.
Deg,
Sheza membeku mendengar ungkapan hati dari Rion lelaki yang juga dia kagumi.
"Mas Rion," panggil seseorang. Membuat Rion dan Sheza memutuskan pandangan mereka dan juga melepaskan tangan.
"Dinda," sapa Rion dengan senyum yang terangkat dari bibirnya.
Sheza memperhatikan kedua orang di hadapannya ini hanya menghela nafas panjang. Sesungguhnya dadanya sesak sekali melihat keakraban mereka berdua. Apalagi mendengar panggilan Dinda kepada Rion, seperti panggilan sayang dari mantan istrinya.
"Mas, aku sangat merindukanmu," ucap Dinda yang langsung memeluk tubuh Rion.
Sheza hanya terdiam melihat adegan drama di hadapannya. Jangan ditanya bagaimana hatinya saat ini. Baru saja pria di depannya mengatakan cinta padanya, tapi dengan mudahnya membalas pelukan wanita lain di depan matanya.
Pantas saja Ibu Boss meninggalkanmu Pak Boss, batin Sheza yang menahan sesak di dadanya dan matanya mulai memerah.
Tanpa ijin, Sheza beranjak dari duduknya dan meninggalkan Rion dan Dinda. Ingin sekali Rion menahan dan mengejar Sheza, namun kondisi Dinda juga sedang tidak baik-baik saja. Dia sedang rapuh sekarang, butuh pundak untuk bersandar. Semua yang dia rencanakan malah berkahir seperti ini. Terjebak diantara dua wanita.
***
Hy ...
Jangan lupa like, komen dan vote ya biar tepat waktu terus up-nya dan views bang duda semakin naik ..
Happy reading semua ....