
Menjelang Maghrib Rion baru tiba di Jakarta. Dia sudah dijemput oleh Pak Mat di Bandara. Sedangkan Arya dijemput oleh kekasihnya.
Setibanya di rumah, Rion langsung masuk ke kamar tak menghiraukan Mamah dan adiknya yang sedang mengobrol di ruang tamu.
"Bucin akut," gerutu Nisa.
"Sayang," panggil Rion. ketika sudah di dalam kamar.
"Iya, Bang. Manda di kamar mandi."
Rion merebahkan diri di sofa dan memejamkan mata. Ketika mendengar pintu kamar mandi dibuka, Rion membuka matanya dan dia hanya bisa menelan salivanya karena pemandangan sangat indah yang istrinya tunjukkan. Ya, Amanda hanya mengenakan handuk karena baru selesai mandi.
Hasratnya benar-benar sudah tidak tertahan lagi, dia langsung menyerang istrinya. Membuat Amanda terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Rion.
Ciuman yang benar-benar panas dan tangan Rion yang sudah tidak bisa diam membuat Amanda yang awalnya belum siap kini menikmati apa yang dilakukan suaminya.
Tangan Rion sudah masuk ke dalam handuk istrinya. Merem*s bok*ng istrinya yang cukup besar lalu naik ke atas mengusap-usap lembut punggung Amanda. Sedangkan Amanda sudah mengalungkan tangannya di leher Rion dengan bibir yang terus saja beradu.
Mereka berciuman seolah tidak ada yang mau mengalah. ******n, gigitan, belitan liar masih mampu Amanda dan Rion balas. Meskipun napas sudah terengah-engah tapi, mereka masih saling menyerang satu sama lain.
Amanda sudah manarik-narik rambut pendek Rion, membuat Rion mengakhiri ciuman panas nan liarnya. Sekarang, Rion beralih mencium leher istrinya dan berhasil membuat Amanda mendes*h tak karuhan.
Kecupan dan gigitan kecil Rion berikan agar semakin membuat istrinya memanas. Dia tahu kelemahan istrinya adalah pada leher dan juga daging kecil yang berada di area sensitifnya.
Bercak-bercak merah sengaja Rion tinggalkan di leher Amanda sebagai bukti rindunya pada tubuh sang istri. Bibirnya terus turun ke bawah hingga berhenti di dua dada yang terlihat menyembul keluar. Seringai senyum sarat akan makna terukir di bibirnya.
Dia melahap choco chips yang ada di gundukan istrinya dengan sangat ganas dengan tangan yang satunya merem*s gundukan yang lain. Hanya kenikmatan, yang Amanda rasakan hingga mengeluarkan desah*n yang membuat Rion semakin bersemangat untuk memasuki surga dunia yang sangat dia rindukan.
"Bang ...."
Panggilan yang terdengar sangat menggoda membuat Rion semakin memberikan foreplay maksimal agar membuat istrinya terbang ke awang-awang.
"Abang ...."
Suara istrinya seakan meminta Rion untuk melakukan hal lebih. Bukan hanya sentuhan yang menghanyutkan. Bibir dan tangan Rion pun mulai ke bawah dan ke bawah. Matanya terlihat senang sekali melihat area segitiga istrinya.
Dia mengecupnya perlahan membuat Amanda mendesah terus dan terus. Dia menyingkap bulu-bulu halus yang menghiasi area sensitif istrinya dan membenamkan wajahnya di sana.
Lidahnya dengan lincah memainkan sebuah daging kecil yang membuat Amanda terus menggeliat nikmat hingga daging kecil mengeras dan akan mengeluarkan sesuatu. Bertanda istrinya mencapai klimaks.
Lidah nakalnya kini bermain di lubang kenikmatan membuat Amanda terus mengeluarkan kata-kata yang benar-benar membuat Rion bersemangat mengalahkan semangat para pahlawan.
"Bang, masukin," pinta Amanda.
Tanpa pikir panjang, Rion mulai mengarahkan kejantanannya ke lubang kenikmatan istrinya. Baru kepalanya yang masuk, gedoran pintu sangat keras dari luar membuatnya mendesah kesal. Apalagi, suara mamahnya lah yang dia dengar.
Amanda mendorong tubuh suaminya dan memintanya untuk menemui Mamah mertuanya dulu. Membuat Rion mengerang kesal. Amanda berlari menuju kamar mandi sedangkan Rion hanya menggunakan boxer dan berjalan untuk membukakan pintu untuk sang mamah.
Bu Dina melihat Rion dari atas sampai bawah. Anaknya kini bertelanjang dada dan juga hanya mengenakan boxer.
"Aa abis ngapain?" tanya Bu Dina curiga.
"Naha Mamah nanya kitu?"
(Kenapa Mamah nanya begitu)
"Eta," jawab Bu Dina seraya menunjuk keadaan putranya.
(Itu)
"Nembe diasupkeun sirahna, Mamah gogorowokan. Letoy deui nu aya."
(Baru juga dimasukin kepalanya, Mamah udah teriak-teriak. Leroy lagi yang ada)
Bu Dina memukul bahu putranya dengan lumayan keras sehingga terdengar suara rintihan dari Rion.
"Teu Aa teu si Teteh, mesum wae gawena," geram Bu Dina.
(Gak Ada gak si Teteh, mesum aja kerjaannya)
"Kajeun wae atuh Mah. Da mesum oge sareng istri sorangan."
(Biarin aja atuh Mah. Mesum juga sama istri sendiri)
"Kumaha maneh wae lah."
(Kumaha kamu aja lah)
"A, jigana Mamah hoyong gaduh suami deui. Bosen cenah jadi randa wae," teriak Nisa dari ruang keluarga.
(A, kayaknya Mamah ingin punya suami lagi. Bosen katanya jadi janda terus)
"Tong fitnah Nisa," teriak Bu Dina dari arah dapur. Nisa terkekeh mendengar sahutan dari Mamahnya.
"Inget umur Mah, tos sepuh," balas Rion.
(Inget umur Mah, udah tua)
"Aa!!" geram Bu Dina.
Rion pun hanya tertawa dan masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Membiarkan Mamahnya yang sedang memaki-maki dirinya di luar sana.
Amanda keluar dari kamar mandi sudah dengan memakai baju. Dilihatnya suaminya tengah membaringkan tubuhnya dengan mata terpejam.
"Bang."
Amanda mencoba membangunkan suaminya dengan sentuhan lembut. Rion membuka matanya perlahan, berharap istrinya mengajaknya melanjutkan aktifitas yang tadi terganggu.
"Kapan ke dokter?"
Hanya helaan napas yang menjadi jawaban dari Rion. Dia pun beranjak dari tidurnya dan masuk ke kamar mandi. Membuat Amanda mengernyitkan dahi tak mengerti.
Rion keluar dari kamar mandi melihat istrinya sedang menonton tv. Membuat Rion mendengus kesal.
"Katanya mau ke dokter? Kok belum siap-siap," ujar Rion menahan kesal.
"Emangnya jadi?"
"Lah ini? Abang mandi karena mau antar kamu ke dokter."
"Makanya kalo ditanya tuh jawab bukan malah ngeloyor pergi. Jangan ngasih kode yang hanya dimengerti oleh Abang sendiri," omel Amanda kepada suaminya.
Lah kenapa sekarang gua yang diomelin? batin Rion.
Wanita memang selalu benar, sekalipun dia salah tapi para pria harus membenarkannya. Meskipun pria gak salah tapi, harus pria yang terlebih dahulu meminta maaf. Miris banget ya jadi kaum Adam, gerutunya di dalam hati.
Ketika baru keluar dari kamar, mereka berpapasan dengan Bu Dina yang sudah terlihat rapi.
"Rek kamana?" tanya Rion.
(Mau kemana)
"Si Teteh," jawab ketus Bu Dina.
"Dih Pundungan."
(Dih ngambekan)
"A, tos atuh tong dihereuyan wae si Mamahna. Kualat A," ujar Nisa.
(A, udah atuh jangan diledekin terus mamahnya. Kualat a)
"Anteup wae Nis. Isuk si Aa Mamah kutuk jadi batu maling kolor," guraunya.
(Biarin aja Nis. Besok si Aa Mamah kutuk jadi batu maling kolor)
"Malin Kundang Mah," jawab Nisa dan Rion berbarengan.
"Malin Kundang mah asalna ti Sumatera Barat. Da iye mah ti Jawa Barat," sahut santai Bu Dina.
(Malin Kundang mah asalnya dari Sumatera Barat. Tapi, ini mah dari Jawa Barat)
Nisa dan Rion hanya saling pandang. "Karak apal boga indung teh rada gesrek," bisik Rion.
(Baru tahu punya Mamah rada gesrek)
Nisa hanya menganggukkan kepalanya menandakan setuju dengan ucapan kakaknya. Sedangkan Amanda yang menyaksikan tingkah asli keluarga suaminya hanya menahan tawa.
****
Mon maap kalo bahasa sundanya agak kasar 🙏
Happy reading ....