Bang Duda

Bang Duda
216. Senjata Makan Tuan



Echa dan Radit terus memancarkan sinar kebahagiaan di wajah mereka. "Ini semua rencana kamu?" tanya Echa sambil menyuapi Radit kentang goreng.


"Aku ingin membuat sesuatu yang tidak akan pernah kamu lupakan," ujarnya.


"Kamu jahat tau," kata Echa yang hendak memasukkan cumi ke dalam mulutnya.


"Jahat kenapa?"


"Chat aku gak dibalas, telpon gak diangkat," keluhnya.


Radit menggenggam tangan Echa dan menatap manik mata Echa dengan penuh rasa cinta. "Aku hanya ingin memberikan kamu ukiran-ukiran kebahagiaan bersama aku. Supaya kamu bisa melupakan segala sakit dan sedih yang pernah kamu rasakan."


Echa hanya terdiam dengan senyum yang melengkung dengan sempurna. "Makasih," ucapnya.


"Tidak usah ada kalimat terimakasih dalam ketulusan. Hanya ada kebersamaan di dalam hubungan yang dijalin dengan rasa sayang yang tulus. Selalu bersama di segala kondisi apapun. Sedih dan senang, rapuh dan kuat, baik dan buruk."


Inilah yang membuat Echa benar-benar nyaman bersama Radit. Mungkin, jika lelaki lain sudah akan meninggalkan Echa ketika Echa depresi dan down kemarin. Tapi, Radit yang hanya mantan pacar mampu bertahan di samping Echa dan mencoba untuk menyembuhkan depresinya sedikit demi sedikit. Hingga luka hati yang Echa dan Radit rasakan bisa mereka sembuhkan dengan kebersamaan. Membina lagi hubungan yang terpaksa berakhir padahal hati kecil mereka berdua pun menolak untuk berpisah.


Radit dan Echa terus saja tertawa dan tangan mereka terus saling menggenggam. Ketika berbicara dengan keluarga mereka pun, mereka berdua sudah tidak malu dan segan menunjukkan kemesraan mereka.


Tangan Radit terus menggenggam tangan yang Echa dan meletakkannya di atas pahanya. Sedangkan Rindra menatap adiknya dan juga tunangannya dengan mata yang menyiratkan keirian yang luar biasa.


Hingga datang seorang perempuan bergabung dengan mereka. Mata Echa memicing dengan sempurna. Remasan di tangan Radit membuat Radit merengkuh pinggang Echa.


Yang Echa tahu wanita ini yang membuat Echa sakit hati dan memilih menyudahi hubungannya dengan Radit.


"Kenalkan, ini tunangannya Rindra. Fani, namanya. Sebentar lagi mereka akan menikah," imbuh Addhitama.


"Senjata makan tuan," bisik Radit kepada Echa. Echa menatap Radit dengan tatapan bingung.


"Udah malam, aku antar kamu pulang," ucapnya pada Echa. Padahal waktu masih menunjukkan pukul sembilan.


Dua pasang kedua orangtua Echa masih berbincang hangat dengan Addhitama. Terutama masalah pekerjaan.


Selama diperjalanan, Echa masih terdiam. Wajah Fani membuat amarahnya memuncak. Radit yang melihat perubahan wajah Echa langsung menarik tangan kekasihnya dan mengecupnya.


"Orang jahat berjodoh dengan orang jahat," kata Radit.


Dia terus menggenggam tangan Echa hingga mereka berdua tiba di rumah Ayanda. Seperti biasa mereka duduk di halaman belakang. Radit menarik tangan Echa agar memeluk pinggangnya. Dia pun mendekap hangat tubuh Echa.


"Inilah alasanku untuk mengikatmu, aku tahu Abang ku masih memendam perasaannya padamu. Aku tidak suka, makanya aku meminta izin kepada Papih, Om Genta dan juga keempat orangtuamu. Dan mereka pun setuju."


"Sebegitu takutnya kamu kehilangan aku?"


Radit pun mengangguk mantap. "Aku gak mau kamu terluka. Aku gak mau kamu menangis lagi. Aku ingin selalu menjaga kamu dan melindungi kamu," tuturnya.


Echa pun tersenyum dan mempererat pelukannya. Radit terus mendekap hangat tubuh Echa dengan sesekali mengecup ujung kepala Echa.


Sedangkan di kediaman Addhitama, keempat orangtua Echa dan juga Addhitma masih berbincang ringan. Ada juga Rindra bersama calon istrinya dan Rival yang asyik dengan ponselnya.


"Makasih banyak Gio, Pak Rion karena kalian telah merestui hubungan Radit dan juga Echa. Berkat Echa, Radit putra saya telah kembali," imbuhnya.


"Tidak usah berterimakasih, Om. Echa juga sangat beruntung bisa bertemu Radit. Radit lah yang menyembuhkan setiap luka dan sakit yang Echa terima dari orang lain. Radit lah yang selalu menemani Echa dan menguatkan Echa."


"Pepatah bijak mengatakan, orang baik akan dipertemukan dengan orang baik. Begitu pula sebaliknya," sindir Gio.


Rindra hanya menundukkan kepalanya begitu juga Fani. Sedangkan Rival hanya tersenyum melihat sang Abang yang arogan tidak berkutik ketika di skak mat oleh batal calon mertua.


"Berjuang seperlunya, tidak usah terlalu ngotot. Apalagi dari awal udah gak ada tanda-tanda lampu ijo." Rival pun menimpali ucapan Gio. Addhitama pun tersenyum tipis mendengar ucapan dari Rival.


Di kediaman Echa, Radit sedang menunggu Echa di sofa depan pintu kamarnya. Echa sedang mencuci muka dan juga berganti piyama. Setelah selesai, Echa menghampiri Radit dan duduk di sampingnya.


"Kamu istirahat, ya. Jangan tidur malam-malam. Belajarnya harus tahu waktu." Echa pun mengangguk.


"Oiya, besok sampai beberapa hari ke depan aku harus ke luar kota." Echa menatap Radit dengan tatapan kecewa.


Radit menggenggam tangan Echa dan menatapnya penuh cinta. "Aku harus membantu Papih, ada satu rumah sakit yang memerlukan bantuan aku." Echa hanya diam dan menyandarkan kepalanya di bahu Radit.


"Kenapa setiap kamu ngasih kebahagiaan ke aku, besoknya kamu pasti pergi," keluhnya.


"Hey, lihat aku Sayang," pinta Radit.


Karena Echa tidak mau menatap Radit, Radit pun menangkup wajah Echa. "Aku tidak akan pernah berpaling dari kamu. Hanya kamu satu di hatiku," ungkapnya.


"Dan ini." Radit menunjukkan cincin pengikatan mereka. "Ini menjadi bukti kepada dunia, kalo aku sudah ada yang memiliki," sambungnya.


"Jangan nakal." Radit pun tersenyum dan menarik Echa masuk ke dalam dekapannya.


"Iya, Sayang. Aku gak akan nakal." Janjinya.


Radit mengantar Echa masuk ke kamarnya, menyelimuti tubuh kekasihnya dan berakhir mengecup kening Echa.


"Good night, Sayang."


"Hati-hati di jalan," ucap Echa yang sudah setengah sadar.


Radit pun mengangguk dan mematikan lampu kamar Echa. Ketika dia keluar dari kamar Echa, dia berpapasan dengan kedua orangtua Echa.


"Radit pulang dulu, Om, Tante," pamit Radit.


"Hati-hati, jangan ngebut," sahut Ayanda.


Ayanda dan Gio ikut bahagia melihat putrinya sangat bahagia bersama Radit. Apapun akan mereka lakukan untuk Echa. Dan inilah keputusan yang terbaik yang mereka ambil. Mempercayakan Radit untuk menjaga Echa ketika Echa berada di Ausi. Meskipun ada Genta yang tidak akan membiarkan cucunya terluka, tapi hati Echa butuh Radit. Hanya Radit yang mampu menyembuhkan segala sakit dan sedih Echa.


Pagi hari di kediaman Rion, senyum Amanda melengkung dengan sempurna. Membuat Rion mengernyitkan dahinya.


"Kamu kenapa senyum-senyum terus?" tanya Rion yang sedang mengenakan kemeja.


"Manda masih teringat bagaimana bahagianya Echa dan Radit semalam. Manda seperti melihat sosok lain dari Echa," imbuhnya.


Rion pun tersenyum, meskipun dalam hatinya menangis.


Ini semua kami lakukan untuk menjaga Echa di Ausi nanti. Kami tidak ingin Echa bersedih. Dan kami hanya ingin Echa bisa melewati hari-hari sulitnya bersama Radit.


Baru tiba di kantor, Rion dihadang oleh Arya. "Kenapa lu gak bilang?"


"Apaan?" sahut Rion yang baru saja masuk ke ruangannya.


"Echa sama Radit tunangan," imbuhnya.


"Cuma simbolis aja," sahut Rion.


"Maksudnya?"


"Echa akan kuliah di Ausi." Arya pun terdiam.


"Gua, Ayanda, dan Gio tahu kalo Echa pasti gak akan baik-baik saja di sana. Meskipun ada Om Genta yang akan selalu ngejaga dia." Rion menjeda ucapannya.


"Kami butuh Radit untuk mengisi kekosongan hati Echa. Kebetulan Pak Addhitama berbicara kepada Gio kalo Radit ingin serius sama Echa. Dia akan menunggu Echa sampai dia lulus kuliah," imbuhnya.


"Jadi, kami setuju untuk Radit mengikat Echa. Kami percaya sama Radit."


"Ngeliat Radit seperti ngeliat Gio yang menjaga Ayanda dulu," ucap Arya. Rion pun hanya mengangguk.


"Itulah yang membuat kami yakin."


Sore hari Echa pulang dijemput oleh sopir. Dia tahu Radit sedang berada di luar kota. Jadi, dia tidak ingin mengganggu kekasihnya. Biarkanlah kekasihnya yang menghubunginya terlebih dahulu.


Sesampainya di rumah, dia melihat ada mobil Bundanya di sana. Echa bergegas turun dan dia pun disambut oleh tiga bocah kecil yang sedang aktif-aktifnya.


"Ayo ain," ucap Ghassan yang sudah menarik tangan Echa.


"Abang," pekikan suara sang Mommy membuat Ghassan menghentikan tarikan tangannya.


"Kakak ganti baju dulu, ya." Mereka pun langsung berlari menjauhi Echa.


Echa menyapa Mamah dan bundanya. Mencium tangan keduanya bergantian. "Ada cake cokelat kesukaan kamu, sengaja Bunda beliin buat kamu sama si kembar."


"Makasih Bunda, Echa ganti baju dulu ya," pamitnya.


Setelah bermain bersama adik-adiknya, mengobrol bersama kedua ibunya, sekarang Echa masuk ke dalam kamarnya. Melihat ponselnya dan berharap ada pesan dari Radit. Echa hanya menghela napas kasar. Dia memilih untuk membuka pintu balkon dan duduk di sana.


Udara malam dan kerlipan bintang membuat hatinya tenang dan damai. Echa memejamkan matanya sambil memasang headset di telinganya.


Pelukan dari samping membuat Echa membuka matanya. Bibirnya melengkung dengan sempurna ketika melihat Radit sedang memeluknya.


"Udah pulang?" Radit meletakkan kepalanya di bahu Echa.


"Kangen kamu," ucapnya yang kini memeluk erat tubuh Echa.


Radit terlihat sangat lelah. Dan Echa mengusap kepala Radit dengan lembut. "Aku bikinin minum dulu, ya."


"Di sini dulu sebentar," pintanya. Echa pun menuruti permintaan Radit. Hingga kedatangan si kembar merusak suasana.


"Om, ain," tarik Ghassan dan juga Ghattan.


"Tuyul kamu dua ini ganggu deh, Yang." Echa pun tertawa.


Dengan langkah malas, Radit pun menuruti keinginan si kembar bermain perang-perangan. Echa sedang k dapur mengambil minuman untuk Radit.


"Kak, Radit ajak makan. Dia pulang dari Semarang langsung ke sini loh," ujar Ayanda. Echa pun mengangguk.


"Bhal, minum dulu." Echa menyerahkan botol minuman dingin yang telah dibukanya..


"Makan bareng yuk." Radit malah menarik tangan Echa agar duduk bersamanya.


Mereka pun bermain bersama si kembar dengan suara gelak tawa yang terdengar. Ayanda pun tersenyum bahagia. Apalagi melihat putrinya dengan wajah berbinar.


Mamah sedikit lega melepaskan kamu bersama Radit. Karena Radit lah, senyum kamu yang telah hilang kini kembali lagi. Radit lah yang membuat hari-harimu berwarna. Dan Mamah yakin, Radit lah yang akan selalu menjaga kamu di sana.


****


Happy reading ...


Gak bosen-bosennya aku bilang kalo ada notif UP langsung dibaca ya, jangan ditimbun-timbun.


Dengan cara begitu, berarti kalian udah support aku dan dukung karya aku.


Makasih semuanya ....