
Tiga bulan berlalu, Rion, Riana dan Iyan hidup layaknya keluarga bahagia walaupun hanya bertiga. Echa dan Radit adalah penghangat suasana ketika rumah terasa dingin. Karena aura kesedihan menghampiri mereka lagi. Ya, rumah yang Radit beli di samping rumah Gio sudah selesai direnovasi. Mereka hidup berlima di sana. Dengan lebih dari lima kamar di dalamnya.
Echa menghampiri ayahnya yang sedang berada di halaman belakang. Di mana ada kolam ikan koi di sana.
"Ayah."
Merasa dirinya di panggil, Rion mematikan rokok yang baru saja dihisapnya. Dan Echa hanya menghela napas kasar. Di saat ayahnya menyentuh rokok, di saat itulah keadaannya sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa keluar, Dek? Angin malam gak baik buat kesehatan kamu." Rion segera membantu Echa berjalan karena kandungannya semakin membesar layaknya kandungan yang sudah memasuki sembilan bulan.
Echa duduk di gazebo yang ada di sana bersama sang ayah. Seperti mengenang masa lalu di rumah lama. Begitulah yang Echa rasakan.
"Besok sidang terakhir, kan. Apa Ayah mau hadir?" Dengan cepat Rion menggeleng.
"Biarkan hakim mengetuk palunya. Dan Ayah menjadi duda kembali," lirihnya.
Echa memeluk erat tubuh sang ayah dengan penuh cinta. "Echa tahu, Ayah sedih," ucapnya.
"Kesedihan ini hanya sementara, nanti akan tergantikan oleh kebahagiaan yang masih Tuhan rahasiakan untuk Ayah."
"Dan ini hadiah yang sudah Tuhan persiapkan untuk Ayah," sambungnya sambil mengusap lembut perut Echa.
"Sehat-sehat terus, ya cucu-cucu Engkong. Engkong gak sabar ingin melihat kalian hadir ke dunia. Menambah warna dalam hidup Engkong."
Anak-anak Echa seakan merespon ucapan Rion. Dan mereka mulai bergerak-gerak hingga ada lengkungan senyum sekaligus haru di wajah Rion.
"Anak-anak kamu ngerespon." Haru, itulah yang Rion rasakan.
"Mereka tahu, jika Ayah tulus menyayangi mereka. Dan menginginkan mereka hadir ke dunia."
Di kamarnya masing-masing, Riana dan Iyan sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Tidak dipungkiri, mereka masih merindukan sosok ibu mereka yang mereka panggil Bunda.
Tiga bulan, tidak mampu membuat mereka lupa akan sosok yang membuat hati mereka hancur dalam sekejap. Apalagi, beberapa hari yang lalu. Amanda datang ke sekolahnya untuk menemui Riana.
# flashback on.
Riana dan Key sedang asyik bercengkrama sambil tertawa di dalam kelas. Hari ini, Mamih Sheza membuatkan bekal untuk mereka berdua. Jadi, mereka menikmatinya di dalam kelas. Tawa renyah Riana seketika hilang melihat sosok yang sedang berdiri di ambang pintu kelas. Wajahnya sangat dingin dan datar. Seolah melihat sosok makhluk astral.
"Riana, Bunda kangen."
Keysha menatap ke arah Riana yang hanya terdiam. Dia tahu, sahabatnya ini merindukan wanita yang berada tak jauh dari mereka. Tetapi, rasa sakit dan kecewa itu masih ada dan mungkin sulit hilang dalam waktu dekat. Nyatanya, sudah tiga bulan ini rasa benci masih melekat di hati Riana. Keysha dapat merasakan itu, jika Riana bermain ke rumahnya. Riana seakan menatap iri kepada Keysha ketika kedua orangtuanya berkumpul bersama. Namun, kedua orangtua Keysha selalu merangkul Riana.
"Gua ke kantin dulu, ya. Masih lapar," pamit Keysha.
Sengaja, itulah yang Keysha lakukan. Biarlah ibu dan anak itu melepas rindu. Begitulah pikirnya.
"Ri, Bunda kangen banget sama kamu dan juga Iyan." Amanda memeluk tubuh Riana. Tidak ada penolakan dari Riana. Dan sesungguhnya Riana merindukan aroma tubuh sang bunda.
Ketika tangan Riana hendak membalas pelukan sang bunda. Ada tendangan kecil yang Riana rasakan. Tendangan itu seperti tandangan bayi yang ada di dalam perut sang kakak.
Seketika dia melepaskan pelukan sang bunda. Terlalu sakit bagi dirinya jika harus dengan mudah memaafkan ibu kandungnya yang dengan teganya menyakiti Ayah, dirinya dan adiknya. Apalagi, bayi di dalam kandungan itu ikut merespon. Membuat api amarah Riana bergejolak.
Hati Amanda terasa sakit mendengar ucapan Riana. Air mata Amanda tak kuasa menetes.
"Bunda ini ibu yang telah mengandung kamu selama sembilan bulan, Ri," lirihnya.
"Apa pernah Ri meminta dilahirkan dari rahim Anda? Ri, tidak pernah meminta. Jika, Ri boleh bernegosiasi dengan Tuhan. Ri, ingin lahir dari rahim Mommy," jawabnya berapi-api.
"Rahim Anda hanya sebagai rahim penitipan benih-benih dari orang kaya yang dengan sengaja menebar benih di sana dan ditukar dengan harta."
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Riana. Riana tidak bergeming. Dia hanya mengusap pipinya yang terasa panas karena bekas tamparan. Sedangkan Amanda, dia sudah menangis dan menyesal karena telah berbuat kasar kepada putri tercintanya.
Tangan Amanda ingin menyentuh pipi Riana dengan cepat Riana menepisnya.
"Jangan sentuh aku! Kamu buka ibuku, kamu hanya iblis yang menjelma sebagai seorang ibu," serunya dan berlari meninggalkan Amanda.
# flashback off.
"Sampai kapan, Bunda terus menorehkan luka di hati, Ri?" ucap Riana sambil memegang dadanya yang teramat perih.
"Tuhan, berikan kekuatan kepada Riana agar mampu menghadapi semua kesakitan dan kesedihan ini. Jangan ambil nyawa Riana sebelum Riana bisa membahagiakan Ayah serta Kakak Riana. Riana ingin membuat mereka bahagia." Doa yang tulus yang terucap dari bibir Riana.
Sebuah doa yang masih sama, tidak berubah. Hidup tiga bulan tanpa sang bunda membuat Riana membuka mata akan kerja keras seorang ayah dan kakaknya yang dulu dia anggap sebagai pengeruk harta sang ayah.
Meskipun kondisi Echa sedang hamil. Dia mampu meng-handle semua pekerjaan dengan sangat baik. Riana sering mendengar sang kakak marah-marah. Memaki-maki, tapi itu hanya dilakukan ketika ada laporan dari pegawainya yang tidak benar. Salutnya Riana kepada Echa, Echa tidak pernah mencampur adukkan masalah pekerjaan ke dalam rumah. Meskipun, ruang kerja Echa masih berada di dalam rumah itu.
Pagi ini, pagi yang tidak seperti biasanya untuk Rion. Wajahnya terlihat kusut dan tubuhnya terlihat lesu.
"Gak ikhlas menduda untuk kedua kalinya?" tanya Arya.
"Ikhlas banget malah. Yang gua pikirkan hanya anak-anak."
Jika, Rion sudah menyebut anak-anaknya. Arya sudah tidak bisa berbicara. Tidak tega, itulah yang Arya rasakan.
Di ruang persidangan hakim sudah mengetuk palu. Dan kini Amanda dan Rion sudah resmi bercerai secara hukum dan agama. Dan akta cerai pun sudah di tangan mereka masing-masing.
Ada kelegaan di hati Amanda ketika Rion masih memberinya harta. Sebuah mobil mewah yang memang Rion berikan sebagai kado ulang tahun untuk Amanda empat tahun lalu. Semua surat-surat pun memang atas nama Amanda. Mobil itu Rion beli seharga 375 juta. Meskipun hanya mendapat mobil, setidaknya Amanda tidak akan cepat jatuh miskin. Walaupun harta yang mantan suaminya berikan hanya seujung kuku dari keseluruhan harta yang dimiliki Rion.
Ingin sekali dia menggugat perihal rumah. Namun, Amanda sadar dia akan kalah telak. Apalagi, Echa pasti akan turun tangan jika menyangkut rumah itu. Dari pada kalah tidak terhormat dan hanya mendaptakan malu. Lebih baik mengurungkan gugatannya.
Terlihat jelas sudut bibir Amanda terangkat setelah keluar dari ruang persidangan. Dering ponselnya berbunyi membuat langkahnya terhenti.
"Ke rumah sakit sekarang. Dokter sudah mengijinkan untuk melakukan Tes DNA."
...****************...
Komen yang banyak biar malam Up lagi ...