Bang Duda

Bang Duda
214. Demam



Amanda menutup pintu kamar Echa dengan pelan. Dia membiarkan suaminya tidur bersama putri sulungnya. Echa berhak untuk mendapat cinta yang besar dari Rion. Karena Echa adalah anak yang sangat-sangat baik.


Amanda mengambil air wudhu dan melaksanakan solat isya. Di setiap sujudnya Amanda selalu meneteskan air mata. Diposisi inilah Amanda sadar jika dia adalah wanita yang sangat berlumuran dosa dan memiliki hati yang kotor.


Setelah selesai solat, dia menengadahkan tangannya memohon ampunan kepada sang Maha Pencipta dengan air mata yang berderai. Setelah selesai, Amanda ke dapur untuk membuat teh hijau untuk dirinya. Di sana ada Mbak Ina yang sedang merapihkan perabotan dapur.


Amanda berniat untuk mengajak Mbak Ina berbicara. Dia ingin tahu lebih dalam bagaimana Echa. Amanda mengajak Mbak Ina duduk di gazebo sambil menikmati teh hangat.


"Mbak, apa dari dulu Echa manja kepada Ayahnya?" Mbak Ina pun tersenyum.


"Neng Echa lebih dekat kepada Bapak dari pada Ibu. Jika dengan Ibu, Neng Echa selalu adu mulut. Tapi, dengan Bapak Neng Echa sangat dekat karena Bapak selalu menuruti setiap permintaan Neng Echa."


"Bukan karena Neng Echa manja, tapi semata-mata Bapak membalas kasih sayang yang terlambat untuk Neng Echa," jelasnya.


Mbak Ina menggenggam tangan Amanda. Dia memberanikan diri untuk menatap majikannya dalam.


"Bu, saya mohon jangan pernah sakiti hati Neng Echa. Berilah kasih sayang yang tulus untuk Neng Echa. Meskipun Ibu bukan ibu kandung Neng Echa, tapi saya yakin Ibu memiliki hati yang baik," ujar Mbak Ina dengan air mata yang sudah terurai.


"Neng Echa anak baik, Bu," timpal Mbak Ira. Mbak Ira mendengar apa yang dikatakan oleh Mbak Ina tadi.


"Selama ibu pergi, Neng Echa selalu menjaga Riana. Tak peduli lelah mendera tubuh Neng Echa. Meskipun banyak tugas, Neng Echa akan menyempatkan waktu untuk bermain bersama Riana. Setelah itu Neng Echa akan mengerjakan tugasnya. Terkadang, Neng Echa harus bergadang sampai jam dua pagi untuk menyelesaikan tugasnya," ungkap Mbak Ira.


Hati Amanda sangat teriris mendengarnya. Betapa sayangnya Echa kepada Riana. Hingga dia rela mengorbankan apapun untuk Riana.


"Pada waktu itu sebenarnya Neng Echa sedang sakit. Tapi, Neng Echa tetap bermain bersama Riana. Kebetulan waktu itu Riana ingin main air, dan Neng Echa pun menuruti semua permintaannya. Malamnya, Neng Echa merintih, menggigil dan selalu menyebut ayahnya," tutur Mbak Ira.


Mata Amanda sudah berkaca-kaca, dia benar-benar sudah jahat kepada Echa. Meskipun Echa telah dilukai oleh Amanda tapi, dia tetap mau merawat Riana. Adik yang dulu pernah membenci Echa.


"Dibalik keceriaan Neng Echa, ada penyakit yang mematikan. Bisa membunuh Neng Echa kapan saja." Amanda mengangguk pelan. Dia tahu tentang riwayat penyakit yang Echa derita.


"Ibu tahu, kenapa Bu Ayanda memutuskan untuk berpisah dengan Bapak?" tanya Mbak Ina. Amanda pun menggeleng. Karena yang dia tahu sudah tidak ada kecocokan diantara keduanya.


"Bu Ayanda kembali bersama Bapak hanya untuk melihat putrinya bahagia. Ketika kondisi hati Ibu sedang lemah dan Ibu memilih pergi ke Singapura, besoknya Ibu mendapat kabar jika Neng Echa masuk rumah sakit. Bagaimana Ibu tidak syok? Apalagi ketika dicari tahu ternyata Bapaklah yang membuat penyakit lama Neng Echa kambuh."


Amanda lu melebarkan matanya tak percaya. Dia yang hanya mendengarnya saja merasa sakit hingga ke ulu hati. Bagaimana jika dia berada di posisi Ayanda.


"Hati Ibu mana yang tidak sakit ketika melihat putri kesayangannya terbujur lemah seperti ini?" Mbak Ina menunjukkan foto ketika Echa dinyatakan koma oleh dokter.


"Hanya ada alat bantu medis yang membantu Neng Echa untuk bertahan. Dokter terbaik dunia pun dihadirkan oleh Tuan Genta dan dia juga menyerah." Air mata Mbak Ira menetes ketika mengingat kejadian yang sangat memilukan.


"Waktu di mana alat bantu akan dilepas, dan keluarga sudah ikhlas datanglah Bapak membawa penyesalan yang mendalam. Sungguh keajaiban, tubuh Neng Echa merespon dengan baik dan juga kondisi tubuh Neng Echa mengalami progress yang baik."


Wajah Amanda pun dibanjiri dengan air mata. Terlebih Mbak Ina yang menunjukkan foto ketika Echa sudah satu bulan dirawat di Singapura. Tubuh kurus, dengan berbagai selang ditubuhnya dan bernafas pun dibantu selang oksigen.


"Kami semua menyayangi Neng Echa, Bu. Kami berharap besar kepada Ibu." Tidak ada yang bisa Amanda jawab. Hatinya teramat sakit mendengar penuturan Mbak Ina dan Mbak Ira.


Pagi harinya, Amanda sudah menyiapkan roti bakar dengan isian cokelat kesukaan Echa dan juga susu cokelat. Namun, Echa tak kunjung keluar membuatnya sedikit khawatir.


Ketika Amanda hendak ke kamar Echa, dia berpapasan dengan suaminya. "Mau ke mana?"


"Echa belum keluar kamar, Bang." Rion menyuruh Amanda untuk kembali ke dapur dan mengurus Riana. Dia yang akan melihat putrinya.


Rion mendekat ke arah Echa yang masih nyaman berada di bawah selimut. Baru dia akan menyentuh Echa, namun wajah pucat Echa membuat Rion panik.


Rion langsung mengecek suhu tubuh Echa dengan punggung tangannya. Suhunya diatas rata-rata suhu tubuh normal.


"Dek, ke dokter yuk," ajak Rion sambil membangunkan putrinya.


Echa hanya menggeleng. "Echa ingin istirahat," sahutnya lemah.


"Kamu mau Mamah mu membunuh Ayah? Nanti pasti Mamah mu ngoceh-ngoceh, Dek," canda Rion. Padahal dalam hatinya dia panik setengah mati.


Echa menggenggam tangan Ayahnya. "Temani Echa di sini, peluk Echa." Hati Rion sakit mendengar permintaan dari putrinya ini.


"Ayahlah yang bisa mengobati tubuh Echa," ujarnya. Rion mencium kening Echa dan memeluknya erat.


"Kamu sarapan dulu ya. Ayah bawa sarapannya ke sini." Echa pun mengangguk.


Baru saja Rion keluar kamar Echa dia sudah dihadang oleh Amanda. "Echa mana?"


"Dia demam, tolong ambilin sarapannya," pinta Rion.


Amanda pun mengikuti perintah Rion. Dia menyerahkan nampan yang berisi makanan untuk Echa. Rion membawanya ke kamar putrinya. Menyuapi Echa dengan telaten.


"Udah, Yah." Padahal baru tiga suap Echa memakan roti bakarnya.


"Jangan lepasin pelukan Ayah, hanya pelukan Ayah yang mampu membuat Echa baik-baik saja." Air mata Rion pun luruh mendengar ucapan putrinya ini.


Rion membalas erat pelukan putrinya. Inilah yang selama ini Echa inginkan. Hanya sebuah pelukan yang membuat dia nyaman dan lebih baik. Permintaan yang sangat amat sederhana.


Ketika Echa sudah mulai terlelap, Rion mengirimkan pesan kepada Ayanda tentang kondisi Echa.


"Nanti Radit ke sana untuk mengantarkan obatnya."


"Jangan terlihat panik, jangan buat Echa curiga. Karena dia tidak tahu, kalo kita semua tahu tentang sakitnya."


Rion hanya menghela napas kasar. Menatap wajah putrinya sangat dalam. Lalu, mengecup kening Echa sangat lama.


"Ayah tidak akan pernah bosan untuk memelukmu, akan selalu berada di samping kamu disaat kamu sedang merasa sedih, sakit dan kecewa. Ayah akan selalu ada untuk kamu, Dek."


Amanda yang mendengar ucapan seorang Rion tak kuasa menitikan air matanya. Sungguh sudah sangat kejam dirinya memisahkan anak dan ayah. Padahal, semesta pun tahu mereka tidak akan pernah bisa dipisahkan. Ikatan batin mereka sangat erat. Kasih sayang Echa sangat besar kepada ayahnya. Seberapa besar kesalahan Ayahnya tidak mampu membuat Echa membencinya.


Amanda membiarkan Rion menemani Echa. Riana yang sedari tadi ingin masuk pun dilarang oleh Amanda. "Kakak sedang sakit, Riana main sama Bunda , ya."


"Yayah," katanya.


"Ayah sedang menjaga Kakak, sama seperti Ayah yang selalu menjaga Riana ketika Riana sakit. Jangan ganggu Ayah dan Kakak dulu, oke." Gadis kecil itu pun mengangguk pelan.


Rion beranjak dari tidurnya, dia menyelimuti tubuh Echa dan mengecek suhu tubuh putrinya. Dia hanya menghela napas kasar. Apalagi suhu tubuh Echa semakin meninggi.


Di luar sudah ada Radit, Amanda mengajak Radit masuk dan membuka pintu kamar Echa. Rion pun menoleh ke arah Radit dan Amanda.


Mereka memutuskan untuk berbicara di ruang depan. "Echa gak apa-apa kan, Om."


"Demamnya semakin tinggi."


"Bang kita bawa ke dokter aja," imbuh Amanda khawatir.


Rion dan Radit hanya saling menatap. "Tidak usah Tante, Echa sudah biasa seperti itu," ujar Radit.


Suara pintu kamar Echa terbuka membuat semua orang di ruangan depan menoleh. Radit langsung memapah tubuh Echa. Dan membantu dia duduk di sofa.


"Ayah ...."


Rion pun mendekat dan memeluk tubuh Echa. Radit hanya menghela napas kasar melihat kekasihnya seperti ini.


Bhal, selama dua bulan ini aku ingin menghabiskan waktuku bersama Ayah. Aku ingin memeluk tubuh Ayah. Aku ingin tidur bersama Ayah. Karena aku yakin, orang yang pertama kali aku rindukan pastilah Ayah. Pelukan hangatnya lah yang membuat aku merasa selalu tenang. Ucapan itu yang pernah Echa sampaikan kepada Radit.


"Kamu mau makan apa, Sayang? Biar Bunda buatkan." Echa menggeleng.


"Echa ingin siomay, Bun."


"Ya udah, aku beliin, ya. Siomay yang suka kamu beli, kan?" Echa pun mengangguk.


Radit pamit kepada Amanda dan juga Rion. Kini Riana sudah bergabung bersama mereka. Riana menghampiri Echa dan berdiri di atas sofa. Menyentuh kening kakaknya.


"Nanas," katanya.


"Kakak sedang demam, Riana," imbuh Rion.


Riana pun kembali duduk, dia memijat-mijat kaki Echa membuat semua orang tersenyum bangga.


"Kenapa kamu mijit Kakak?" tanya Amanda.


"Tata telalu pijit Li talo Li tape ain. Tetalang, Li pijit tata, tata tape tetolah."


Echa pun tersenyum, dia memeluk tubuh Riana lalu mencium pipi gembulnya. "Danan tatit, Li Nda ada temen ain," ocehnya.


Echa pun memeluk erat tubuh Riana. Dia ingin membuat kenangan demi kenangan yang menyenangkan bersama keluarga ayahnya.


Seandainya kamu tahu kalo Kakak sebentar lagi akan meninggalkan kamu, apa kamu akan membenci Kakak lagi?


*****


Makasih semuanya atas komen kalian kemarin aku terharu 🤧 Banyak juga ternyata pecinta Bang Duda.


Maaf ya, kemarin cuma up 1 bab karena kata orang mah aku lagi sakit. Lagi mual-mual terus. Udah beberapa hari ini juga kan aku gak up tengah malam.


Insya Allah nanti siang/sore aku up lagi. Semoga kalian senang ....