
Echa dan juga Amanda kini semakin dekat. Rion mengajak dua wanita kesayangannya ini pergi ke mall untuk mencari kebutuhan Amanda dan juga Echa.
"Ngapain masuk ke tempat ini sih?" tanya Echa pada Amanda.
Mereka sedang memasuki salah satu toko underwear. Amanda hanya mengangkat bahunya, padahal dia tahu suaminya yang sudah tidak sabar untuk membelikan bra khusus untuknya.
"Sayang, cepet pilih," titah Rion. Amanda hanya mendelik kesal ke arah suami mesumnya.
"Yah, Echa tunggu di luar ya. Mata Echa sakit melihat ini semua," ujar Echa dan menunjuk underwear yang menggantung dan juga dipakai di patung. Ayahnya hanya menganggukkan kepalanya sedangkan Amanda masih sibuk memilih-milih.
Echa sedang asyik mengutak-atik ponsel baru miliknya. Hingga dia merasa ada yang duduk di sampingnya. Echa menoleh, seseorang sedang tersenyum manis ke arahnya.
"Udah sehatan?" tanya Riza.
"Lu liatnya kayak gimana?" tanya balik Echa.
Riza hanya terkekeh mendengar penuturan Echa. "Lu masih sama kayak Echa dulu. Cuek dan susah dideketin," ujar Riza.
Echa tidak menjawab ucapan Riza yang dirasanya sangat tidak penting. Riza yang masih bersikap sama kepada Echa meskipun sekarang sudah menjadi siswa populer di sekolah. Suaranya yang merdu dan juga wajahnya yang sangat tampan membuatnya digilai oleh para siswi di sekolah.
"Lu masih gak suka sama gua? Padahal gua udah ganteng begini loh," canda Riza.
"Hanya orang-orang yang up normal yang bilang lu ganteng." Riza pun tertawa renyah mendengar ucapan Echa. Dari zaman SMP Echa adalah cewek yang tidak mempan dengan rayuan gombalnya.
Rion yang baru saja keluar dari toko menatap tajam ke arah Riza. Amanda hanya tersenyum melihat mimik muka suaminya.
"Putri kita udah besar dan cantik, wajar kalo banyak yang melirik," bisik Amanda. Rion hanya mendelik kesal ke arah istrinya.
"Dek," panggil Rion.
"Udah selesai?" Amanda mengangguk pelan.
"Malam Om," sapa sopan Riza.
Rion memicingkan matanya ke arah Riza. Wajahnya tidak asing bagi Rion.
"Gak usah menatap saya begitu, Om. Jadi GR kan saya," canda Riza. Amanda tersenyum mendengar celotehan Riza tapi, tidak dengan Rion dan juga Echa.
"Kamu anak yang suka gombalin putri saya, kan?" tanya Rion.
"Bukan gombal, Om. Tapi emang beneran suka," ungkapnya.
Echa melebarkan matanya ke arah Riza begitu pun Rion. Amanda yang sudah merasakan hawa panas langsung mengajak suami dan putrinya menuju tempat lain.
Mereka sudah di salah satu food court. Echa memesan minuman yang dia sukai begitu juga Amanda.
"Dek, jangan pacaran dulu," ucap Rion.
"Iya, Ayah kan sudah sering bilang begitu," balas Echa.
Echa hanya mengangguk pelan, Amanda merasakan ada kesedihan di hati Echa namun, Echa mampu menutupi semuanya.
Setelah semua kebutuhan terbeli, mereka kembali ke rumah. Echa sudah masuk ke kamarnya. Rion dan Amanda pun masuk ke kamar utama.
Baru saja Amanda meletakkan tasnya, Rion sudah memeluknya dari belakang. "Sudahan belum?" bisik Rion.
"Udah surut, tapi aku belum mandi bersih. Besok pagi baru selesai," jawab Manda.
Raut wajah kecewa nampak jelas di wajah Rion. Amanda memutar badannya lalu mengecup bibir suaminya.
"Sabar ya," ucapnya seraya tersenyum.
Rion pun memeluk tubuh istrinya erat. "Kamu merasakan kan ada yang mengganjal di bawah," bisik Rion lagi.
"Manda bersih-bersih dulu. Nanti Manda bantu keluarin ya," ucap Manda.
Wajah Rion pun berubah bahagia. Seperti mendapatkan hadiah yang dia inginkan. Rion sudah menunggu istrinya di atas ranjang. Namun, Amanda tak kunjung keluar.
Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Rion menatap seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sini," ucap Rion.
Amanda pun mendekat ke arah suaminya. Rion memeluk tubuh Amanda dengan deru napas yang berbeda.
"Abang kangen," ucapnya seraya membuka kancing piyama istrinya satu per satu.
Amanda hanya bisa pasrah, sudah lima hari suaminya uring-uringan terus karena tidak mendapat jatah Mimi dan juga jatah kenikmatan yang lainnya karena Amanda sedang halangan. Ditambah Echa menginginkan tidur bersamanya selama Echa sakit.
Dengan pelan, Rion membuka pengait bra bagian depan. Matanya berbinar seperti melihat makanan kesukaannya. Dia pun melahap dengan sangat rakus.
"Bang pelan-pelan," ucap Amanda yang sedikit meringis.
Rion mulai menarik tangan Amanda dan memasukkannya ke dalam celana boxer yang dipakainya. Bisa Manda rasakan ada sesuatu yang sangat mengeras di bawah sana dan sudah terasa hangat.
"Sayang," panggil Rion dengan suara parau.
Amanda pun menganggukkan kepalanya dan mencoba memberikan kenikmatan dengan tangannya. Terdengar des*h*n kecil dengan sesekali Rion melepaskan aktifitas miminya.
"Sayang." Suara Rion sudah sangat parau. Amanda semakin mempercepat gerakan tangannya hingga lahar suaminya pun menyembur dengan sangat banyak.
Tubuh Rion lemas dan dia pun meletakkan kepalanya di pangkuan Amanda. Rion menciumi perut istrinya yang masih rata.
"Sayang, Abang ingin punya anak," ucapnya dengan tangan Rion mengelus perut Amanda. Amanda hanya tersenyum mendengarnya.
****
Happy reading ...