
Pagi harinya, sesuai dengan perintah Echa pengacara Endro datang ke kantor Rion. Arya dibuat bingung karena kehadiran Endro yang tidak biasanya.
"Ada apa?" Endro menggedikkan bahunya.
"Echa yang nyuruh saya ke sini." Otak Arya sudah bergerilya ke sana ke mari. Ada apa ini? Begitulah batinnya.
Tak lama, Rion datang dengan wajah kurang tidur. Karena semalaman dia berjaga menjaga Iyan.
"Echa masih di jalan," ujar Rion sambil meletakkan bokongnya di atas sofa.
"Ada apa sih?" tanya Arya penasaran.
"Bentar lagi juga lu tau," sahut Rion sambil memejamkan matanya.
Suara pintu terbuka dan semua mata yang ada di sana tertuju pada sosok yang terlihat sangat cantik dengan tubuh yang sedikit berisi. Siapa lagi jika bukan Echa.
"Maaf, sudah membuat kalian semua menunggu." Arya terperangah mendengar ucapan Echa yang begitu formal.
Echa duduk di samping ayahnya dengan Radit yang tidak bisa jauh darinya.
"Echa ingin mengubah nama kepemilikan toko ini." Mata Endro membulat begitu juga Arya.
"Lu mau ambil alih toko?" Dengan cepat Echa menggeleng. "Echa hanya ingin mencantumkan nama Echa sebagai pemilik toko ini." Arya dan Endro mengangguk mengerti. Mereka tahu, toko ini masih menjadi sengketa. Apalagi, untuk sementara waktu nama pemilik toko ini adalah Rion. Istri dan anak Rion beranggapan bahwa semua toko ini milik Rion. Padahal tidak, hampir semua toko bakery A&R milik Ayanda. Dan dia hanya memiliki sepuluh toko bakery atas nama Rion sendiri.
"Dan untuk rumah Ayah yang Ayah berikan untuk Echa, tolong ganti nama pemiliknya. Cantumkan nama Rian di sana." Lagi-lagi Endro dibuat terkejut oleh ucapan Echa.
"Ta-tapi ...."
"Echa tidak butuh itu, Om. Echa sudah memiliki apa yang Echa inginkan. Adik Echa yang lebih berhak menerima itu," tukasnya.
Rion hanya terdiam. Bangga sekali memiliki anak seperti Echa. Anak yang tidak serakah dan masih mementingkan keluarganya dibandingkan dirinya sendiri. Apalagi, orang yang dia berikan adalah orang yang sering membuatnya bersedih.
"Cha, lu gak salah dengan semua keputusan lu?" Echa menggeleng dengan yakin.
"Rezeki Echa lebih dari cukup, Om. Echa tidak ingin adik-adik Echa kelak hidup tidak layak." Sungguh luar biasa hati Echa.
"Dan mobil milik Echa, Echa akan ubah nama menjadi nama Iyan." Gelengan demi gelengan yang Endro lakukan.
"Itu semua milik kamu loh, Cha. Apa semudah itu kamu menyerahkan pemberian dari Ayahmu?" Endro angkat bicara.
"Echa tidak perlu harta Ayah. Echa hanya perlu kasih sayang dari Ayah. Karena tidak ada harta yang paling berharga di dunia ini. Kecuali, keluarga Echa sendiri." Seulas senyum ketulusan Echa berikan dalam mengakhiri ucapannya. Sungguh terenyuh hati ketiga pria di sana. Arya, Rion serta Endro.
"Pak, putrimu sangat luar biasa," ungkapnya pada Rion.
Semua permintaan Echa akan diurus oleh Endro. Tak lupa Echa mengucapkan terimakasih kepada Endro. Dan sekarang, hanya tinggal mereka berempat di kantor Rion.
"Apa keputusanmu ini sudah bulat?" tanya Rion.
"Sangat bulat, Ayah. Echa tidak menginginkan semuanya. Echa hanya ingin bahagia bersama Ayah dan keluarga Echa yang lainnya."
Pelukan hangat Rion berikan untuk Echa. Sungguh luar biasa hati yang dimiliki oleh putrinya ini. Disakiti terus menerus pun dia masih memikirkan adiknya.
"A ...."
Suara yang sangat Rion kenali. Rion segera beralih ke asal suara dan matanya nanar melihat Mamahnya yang sudah menatapnya dengan linangan air mata. Rion beranjak dari duduknya dan segera berhambur memeluk tubuhnya.
Tidak ada jawaban dari Rion, hanya tangisan yang menjadi jawaban akan kesedihan yang dia rasakan selama ini.
"Jika, Mamah tidak ...."
"Ini bukan salah, Mamah," pungkas Rion.
Rion mengajak sang mamah untuk duduk bersama cucunya dan juga Arya. Suasana haru biru pun tercipta antara nenek dan cucu.
"Maafkan Nenek, Cha."
Echa mengusap lembut punggung tangan mamah Dina seraya tersenyum. "Ini sudah jalan hidup Echa, Nek. Dari semua kesedihan yang Echa rasakan, kini Echa mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa. Memiliki suami yang sangat menyayangi Echa dan bisa membimbing Echa ke jalan yang lebih baik," ujarnya dengan rona bahagia.
Mamah Dina menatap ke arah Rion. Echa, Radit dan juga Arya berinisiatif untuk pergi. Meninggalkan Rion dengan sang mamah. Dari sorot mata Rion ingin menyampaikan sesuatu kepada mamah tercintanya.
Sepeninggalan mereka bertiga, Rion bersimpuh di hadapan sang mamah. Dia menggenggam hangat tangan mamah Dina.
"Maafkan Aa, Mah. Aa sudah mencoba untuk bertahan," lirihnya sambil membenamkan wajahnya di pangkuan sang mamah.
Mamah Dina teringat kedatangan Rion dua tahun lalu ke Bandung pada malam hari. Jam dua pagi, suara ketukan pintu terdengar. Sang mamah yang sudah terlelap pun akhirnya terbangun. Ada rasa takut di hati Mamah Dina. Dia takut, jika itu maling. Sebelum membuka pintu, Mamah Dina mengintip dari gorden. Alangkah terkejutnya, ketika mamah Dina melihat Rion yang sedang mematung di depan pintu rumahnya. Dengan cepat, sang mamah membukakan pintu dan Rion segera memeluk tubuh mamahnya tanpa sepatah kata pun.
"Kenapa A?" Mamah Dina terlihat sangat khawatir melihat keadaan Rion yang serapuh ini. Mamah Dina mengajak putranya untukmu duduk di ruang tamu.
"Aa harus bagaimana, Mah?" Pertanyaan itu yang terlontar dari mulutnya.
"Aa bertengkar dengan Amanda?" Rion pun mengangguk.
"Apa salah jika suami meminta hak kepada istri? Apa salah, suami memblokir kartu istri karena selalu hidup bak sosialita? Apa Aa salah?"
"Aa lelah, Mah. Jika, setiap meminta hak Aa dia selalu meminta bayaran. Aa seperti tidur dengan pelacoer." Air mata mamah Dina menetes begitu saja mendengar ucapan putranya.
Pelacoer, satu kata yang membuat mamah Dina menangis. Ya, menantu pilihan mamah Dina masa lalunya memang pekerja malam. Bisa dikatakan seorang pelacoer. Tetapi, dengan bersikeras Mamah Dina ingin menjodohkan putranya yang menyandang status duda dengan wanita itu. Segala cara telah mamah Dina lakukan. Dari mengubah Amanda menjadi wanita tertutup dan menjebak anaknya sendiri agar mau menikah dengan Amanda dengan pura-pura sakit. Sungguh keterlaluan kelakuannya dulu.
Selama ini, mamah Dina kira rumah tangga putranya bahagia seperti mantan menantunya. Ternyata tidak, setelah Riana lahir Amanda menjelma menjadi istri manja yang selalu menyuruh-nyuruh suaminya untuk menjaga Riana. Sedangkan Amanda, hanya berkutat dengan gadget di tangannya. Mamah Dina melihat sendiri bagaimana kelakuan menantu pilihannya itu. Hingga dia pernah menegur Amanda. Tetapi, apa yang dikatakan oleh Amanda. 'Mengurus anak bukan hanya tugas istri. Tetapi, tugas suami juga.'
Padahal, jika Rion pergi bekerja, pengasuh Riana lah yang akan menjaga Riana. Amanda hanya berleha-leha bagai nyonya besar. Itu dilihat sendiri oleh mamah Dina. Dan mamah Dina tidak bisa berkata apa-apa ketika Rion sendiri menjawab dengan kata tidak apa-apa.
# off
"Dua tahun ... bukanlah waktu yang singkat. Selama itu, Aa merasakan kehambaran dalam menjalani rumah tangga. Aa mencoba mengerti, tapi dia semakin menjadi. Aa sudah lelah, Mah."
Mamah Dina tak kuasa menahan tangisnya mendengar ucapan sang putra kesayangan.
"Mamah melihat perubahan Aa selama menjalani rumah tangga bersama Amanda. Tetapi, bukan hanya Aa yang berubah. Amanda pun ikut berubah menjadi wanita gila harta," paparnya.
"Jika, Aa lelah, sudahilah."
...----------------...
Happy reading ...
Komen mana komen?