Bang Duda

Bang Duda
44. Curiga



Setiap hari si pengagum rahasia selalu mengantarkan makanan yang berbeda-beda untuk Rion, dengan secarik kertas di dalamnya. Selalu dia sematkan kata-kata sederhana namun menyemangati diri. Rion mulai tertarik dengan sosok si pengagum ini.


Setiap pulang sekolah Echa selalu mampir ke kantor ayahnya untuk mencicipi makanan yang dikirim pengagum rahasia ayahnya. Lidah Echa tidak bisa dibohongi, dan dia mulai curiga dengan satu orang.


Malam ini adalah malam akhir pekan, banyak muda-muda menghabiskan waktu dengan para pasangan mereka di restoran yang dimiliki Azkano. Hubungan Azkano dan Sheza semakin mesra walaupun Sheza masih tetap menjadi pelayan di restoran kekasihnya.


Pekikan suara seorang wanita membuat Azkano yang sedang fokus pada ponselnya mengalihkan pandangannya. Dengan manja wanita itu memeluk tubuh tegap Azkano dan tak segan mencium pipi mulus Azkano di depan umum.


Tatapan seseorang dari belakang seolah menabuhkan genderang perang. Api cemburu melanda hatinya sekarang ini. Kekasihnya seolah bahagia melakukan adegan yang tidak pada tempatnya. Malah tawa bahagia terpancar dari wajah Azkano.


Dengan langkah seribu Sheza menghampiri Azkano dengan amarah yang menggebu-gebu.


Plak!


Suara tamparan nyaring terdengar. Azkano yang ditampar wanita disamping Azkano yang meringis memegang pipinya.


"Kamu jahat," ucap Sheza yang sudah berkaca-kaca.


Azka hanya tersenyum melihat kekasihnya cemburu. Dia menarik tangan Sheza hingga dia terjatuh ke pangkuan Azka.


"Lihat dulu siapa wanitanya?" bisik Azka.


Mata Sheza melebar ketika yang dia lihat adalah Echa. Echa hanya tersenyum memamerkan giginya.


"Tante kasar ih, pipi Abang Kano jadi merah gini," ucap Echa sambil mengusap pipi Azkano.


"Jangan sentuh," geram Sheza dan memukul punggung tangan Echa.


"Sakit Tante," sahut Echa yang meniup-niup punggung tangannya.


"Ayo by, aku obatin pipinya," ujar Sheza yang sudah menarik tangan Azka.


Azka mengacak-acak poni Echa. "Abang panggilan Beby ya," ucapnya. Hanya dijawab anggukan oleh Echa.


Sebelum datang ke restoran Echa sudah menanyakan keberadaan Beby kepada Azka, ternyata Beby ada di sana. Dengan seizin ibu ratu penunggu apartment, akhirnya Echa bisa keluar dengan jaminan Echa harus foto bersama Azka sebagai bukti jika Echa tidak berbohong.


"Manisnya melihat orang yang sedang di mabuk cinta," gumamnya.


"Ngapain lu ke sini?" tanya Beby.


"Mau kemana udah cantik?" tanya balik Echa.


Echa menautkan kedua alisnya. Dia mulai teringat akan ucapan ayahnya.


Ayah mau ketemu sama seseorang.


Apa Kak Beb yang ...., batin Echa.


"Kak Beb, Echa mau nanya. Kak Beb tau alamat kantor Ayah Echa?"


"Tau," jawabnya dengan senyuman yang indah. Mendengar kantor ayahnya Echa Beby teringat akan wajah pria yang membuat hatinya berdegup kencang.


"Apa Kak Beb pernah mengirim makanan ke sana?" tanya Echa lagi.


"Pertanyaan lu banyak banget sih," geram Beby.


"Dia udah sampe nih di tempat ketemuan," lanjut Beby.


"Jawab dulu Kak Beby, itu pertanyaan Echa yang terakhir," pinta Echa dengan wajah yang memelas.


Beby hanya menghela nafas panjang, dan dia melihat jam yang melingkar di tangannya. Beby melihat mata Echa yang menginginkan jawaban.


"Sering, gua sering nganterin makanan ke kantor Ayah lu. Hampir tiap hari malah," jawab Beby.


"Udah ya, dia udah nunggu gua. Gak enak kalo gua telat," ujar Beby dan beranjak dari duduknya meninggalkan Echa.


Jadi, Kak Beby yang selama ini mengirim makanan untuk Ayah?


Di sebuah mall besar, Rion sudah duduk tenang di sebuah restoran Jepang. Dia sedang menunggu seorang wanita. Baru saja wanita itu menghubunginya jika ada anak dari sepupunya yang mengajaknya berbincang terlebih dahulu.


"Maaf aku telat," ucap si wanita yang sedang ditunggu Rion.


Bibir Rion melengkung dengan sempurna melihat wanita di depannya. Cantik dan sangat mengagumkan. Hingga Rion terpana untuk beberapa saat.


"Aku gak disuruh duduk," ucap si wanita dengan wajah yang sudah merona karena mata Rion yang tak berhenti memandangnya.


Seketika Rion pun tersadar akan lamunannya. Dia menyuruh si wanita itu duduk. Mereka menikmati makan malam bersama dengan sesekali tertawa dan bercanda.


***