Bang Duda

Bang Duda
105. Hadiah Terindah.



Di negara lain, perjuangan hidup dan mati Ayanda sedang berlangsung. Gio selalu setia mendampingi istrinya yang masih menahan sakit karena kontraksi yang tak kunjung sempurna.


"Tinggal dua pembukaan lagi. Tahan dulu Ay," ujar Sarah.


Keringat terus bercucuran di wajah Ayanda. Gio dengan sabar dan telaten mengelap cucuran keringat istrinya dan tak hentinya mengecup kening istrinya. Tangan Gio terus menggenggam tangan Ayanda yang sudah dingin dan basah karena keringat.


"Sayang, kita lakukan operasi aja, ya. Masih sangat lama, dua jam lagi," pinta Gio.


Ayanda hanya menggelengkan kepalanya. dan semakin erat menggenggam tangan Gio. Wajah istrinya sudah terlihat sangat pucat membuat Gio benar-benar tidak tega melihatnya.


"Dad, sakit," ucap Ayanda.


Gio terus mengusap rambut Ayanda dan mengecup kening Ayanda. Melihat perjuangan istrinya berjuang seperti ini membuatnya ikut meneteskan air mata. Dia berjanji tidak akan pernah menyakiti istrinya dan akan terus membahagiakannya dengan segala yang dia miliki.


"Sarah," panggil Gio panik karena istrinya sudah sangat terlihat lemas.


"Tenang, semua ibu yang melahirkan normal pasti akan seperti ini," ucap Sarah.


"Sayang, apa kamu masih kuat?" tanya Gio sendu.


Ayanda menatap Gio, seulas senyum tulus terukir dari bibirnya. "Sudah kewajiban seorang wanita merasakan ini," ujar Ayanda.


Perut Ayanda mulai kontraksi lagi dan sekarang semakin terasa mulasnya. Dia menggenggam erat tangan suaminya dan sesekali meringis.


"Sakit." Hanya itu yang Ayanda katakan. Keringat semakin bercucuran hingga rasa mulas yang semakin menjadi membuatnya semakin meringis keras.


"Sempurna," ucap Sarah.


"Sekarang kamu boleh mengejan," titah Sarah.


Ayanda pun mengikuti perintah Sarah, Ayanda menarik napas panjangnya lalu mengejan dengan sekuat tenaga. Keluarlah seorang bayi dengan berlumuran darah yang sudah menangis.


"Anak pertama kalian laki-laki," ucap Sarah dengan tersenyum lebar.


Air mata Gio menetes dan tak hentinya dia menciumi wajah istrinya dan mengucapkan terimakasih. Ayanda yang masih lemah pun hanya tersenyum bahagia.


Rasa mulas kini datang kembali, masih ada satu bayi lagi yang sudah ingin melihat indahnya dunia. Setelah mendapat aba-aba dari Sarah, Ayanda baru mengejan. Bayi mungil yang masih merah pun akhirnya keluar dari rahim Ayanda.


"Anak kedua kalian pun sama, laki-laki," ujar Sarah.


Air mata kebahagiaan kini menyelimuti Gio. "Selamat, Nak," ucap Genta.


"Pasti, Yah," jawab Gio mantap.


Genta mencium kening menantu kesayangannya. "Terimakasih sudah berjuang melahirkan cucu-cucu Ayah," ucapnya dengan air mata yang sudah menganak.


"Sudah kewajiban aku, Yah," jawab lemahnya.


Keharuan dan kebahagiaan dari keluarga Wiguna sangat Sarah rasakan. Ayanda adalah wanita yang sangat beruntung mendapatkan cinta tulus dari seorang penerus tunggal dari keluarga Wiguna. Kasih sayang ayah mertuanya juga sangat tulus.


"Karena ada robekan, jadi harus dilakukan sedikit penjahitan," jelas Sarah.


Gio dengan setia menemani istrinya yang masih harus mengeluarkan saudara dari si kembar. Setelah proses persalinan selesai Ayanda harus menjalani proses penjahitan. Genggaman tangan dan juga kecupan hangat suaminya mampu meredakan sakitnya jarum jahit yang menusuk bibir vag*nanya.


Gio sudah dipanggil oleh perawat yang bertugas untuk mengadzani dan juga melantunkan iqomah untuk kedua putranya. Selama Gio melafalkan adzan, air matanya terus mengalir deras. Melihat maha karyanya bersama Ayanda yang terlahir sempurna dan juga sangat tampan.


Sekarang, kedua bayi kembar itu diletakkan di dada Gio yang tak terbalut sehelai benang pun. Tak henti-hentinya Gio mengucapakan rasa syukurnya kepada Tuhan. Dia mendekap kedua putranya dengan penuh kehangatan dan juga kasih sayang.


Ayanda sudah berada di kamarnya yang sudah di desain khusus. Selang infus masih terpasang di tangannya. Air matanya mengalir deras ketika melihat kedua anaknya digendong oleh Gio.


"Ini Abang," kata Gio yang menunjukkan bayi yang digendongnya dengan tangan kanan.


"Ini Adek," katanya lagi yang menunjukkan bayi yang digendongnya dengan tangan kiri.


Ayanda mengecup satu per satu putranya yang sudah terbedong hangat dan menggunakan topi dengan bordiran huruf G di depan topinya. Ayanda mengambil si Adek dari tangan Gio dan menggendongnya.


"Jadilah putra-putra kebanggaan Mommy dan Daddy, yang bisa menjaga Mommy dan juga Kaka," ujar Ayanda.


"Makasih, Mommy. Telah bersedia melahirkan kedua putra tampan kita," ucap Gio dan mengecup kening Ayanda sangat lama. Dan beralih mengecup hangat bibir istrinya. Tak Gio hiraukan orang-orang yang sedang berada di dalam kamar.


Suara tangisan kedua bayi kembar itu memutuskan kemesraan Daddy dan Mommy-nya. Mereka seakan cemburu melihat kedua orangtuanya bermesraan tanpa mengajak mereka. Semua orang yang berada di kamar tertawa melihat tingkah para bayi yang menggemaskan itu. Karena setelah Daddy dan Mommy-nya mencium mereka secara bergantian, tangis mereka seketika reda.


"Sekarang bermesraan kalian bukan hanya berdua, tapi berempat," ledek Genta. Semua orang pun tak henti-hentinya tertawa.


Terimakasih Tuhan, di sisa-sisa usia ku Engkau memberikan Hadian terindah untukku. Yaitu, cucu-cucu ku yang sangat lucu, batin Genta.


****


Happy reading ....