
BOLEH MINTA TOLONG GAK?
TOLONG BANTU RATE BINTANG 5 DI KARYA "BANG DUDA" KARENA KEMARIN RATE AKU ANJLOK. ðŸ˜
YANG UDAH RATE MAKASIH BANYAK YANG BELUM RATE AKU TUNGGU YA, SAYANG ...
MAKASIH ...
...****************...
Semua orang terpana dengan kehadiran Echa yang diapit oleh Beby dan juga Nisa. Mata Riza benar-benar tak berkedip, melihat pujaan hatinya secantik ini.
"Cantiknya cucu, Kakek," puji Genta.
"Makasih Kakek, udah mau datang," ucap Echa.
"Kakek tidak akan pernah lupa akan ulangtahun mu, Sayang," sahut Genta.
Echa pun memeluk hangat sang kakek. Kebahagiaan yang sangat luar biasa yang dia rasakan. Pujian demi pujian berdatangan kepadanya. Apalagi Mima dan Sasa yang sangat terkagum-kagum melihat penampilan Echa sekarang ini.
Sambil menikmati makan malam dengan makanan mewah dan juga enak. Ditemani oleh alunan musik yang sangat sesuai dengan suasana. Riza terus menggenggam tangan Echa sembari mengobrol bersama Juna. Gio pun tak kalah erat merengkuh pinggang istrinya. Dulu, Juna hampir menjadi duri dalam rumah tangganya.
"Emang mau nyebrang, pegangan terus," gerutu Rion melihat tangan Riza yang bertaut dengan tangan putrinya.
"Abang kenapa sih? Sensi amat kalo ngeliat Riza sama putri kita. Abang mau juga kayak gitu?" Amanda menggenggam hangat tangan suaminya.
"Gak gitu, Sayang. Abang hanya takut," jelasnya yang malah mengeratkan genggaman tangannya.
"Takut kenapa?"
"Takut Echa sakit hati dan kecewa," ungkapnya.
"Abang takut sikap Abang yang lenjeh itu berimbas kepada putri kita?" Rion hanya mengangguk.
"Makanya tuh sikap lenjeh ilangin," titah Amanda.
"Udah nggak, Yang," balas Rion dan langsung memeluk pinggang istrinya.
"Hanya kamu wanita yang Abang sayang," ungkapnya.
Amanda hanya tersenyum, dan membelai wajah suaminya yang sedikit pucat.
"Test."
Suara yang tidak asing di telinga para tamu undangan. Ya, di atas mini panggung itu ada Arya yang sudah berdiri dan memegang microphone dengan senyuman hangat di bibirnya.
"Ngapain tuh makhluk?" tanya Rion yang kini merebahkan kepalanya di pundak sang istri.
"Gak tau."
"Gila ya, baru kali ini gua didapuk jadi host. Rasanya tegang-tegang gimana gitu." Sontak semua orang tergelak.
"Untuk sahabat saya, Giondra Aresta Wiguna. Ini gak gratis ya. Anda harus siap bayar saya mahal," ujar Arya.
Gio pun tergelak dan hanya mengangkat jempolnya.
"Wah mantep lah, lumayan buat bayar gedung," celotehnya.
"Sekalian tuh lu minta ke BPJS buat biayain kawinan lu," balas Rion dengan suara kencang.
"Berisik lu, tukang roti," timpal Arya.
"Gua mau kawin bukan masuk rumah sakit," sambung Arya.
"Ya udah lu minta aja SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) ke kelurahan. Siapa tau biaya kawinan lu bisa ditanggung pemerintah," jawab Rion.
Suasana pun sangat riuh kaewna gelak tawa karena perdebatan kecil antara Rion dan juga Arya.
"Dah lah, yang waras ngalah. Abaikan manusia kelewat waras itu."
Setelah perdebatan berakhir, Arya memanggil Echa dan juga Riza ke atas mini panggung. Arya memberitahukan jika, akan ada permainan kecil untuk mereka berdua.
"Oke, ini sih kayak QnA gitu ya. Tanya jawab lah, tapi kalian harus jawab jujur, ya." Echa dan juga Riza hanya mengangguk.
"Sayang gak sih sama pasangan kalian? Dari Riza dulu, deh."
"Sayang lah, Om. Sayang banget malah. Dapetin cewek di depan aku tuh susah banget. Digombalin tiap hari malah semakin dicuekin," jawab Riza. Mereka yang mendengar penjelasan Riza pin tertawa.
"Wajar sih, kita semua yang sayang sama Echa tahu Echa seperti apa. Dia bukan tipe orang yang mudah membuka hatinya," sahut Arya sambil tersenyum ke arah Echa.
"Kalo kamu, Cha? Sayang gak sama Riza?"
Echa hanya terdiam dan menatap ke arah ayahnya. Sedangkan ayahnya menatap Echa dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.
"Gak usah liatin bapak lu, ikutin kata hati lu aja," ujar Arya.
"Nggak Om, apapun masalahnya Echa harus minta izin terlebih dahulu kepada Ayah. Karena Ayah memiliki hak lebih atas diri Echa," imbuhnya.
Semua orang yang berada di sana merasa kagum dengan jawaban dari gadis remaja ini.
Rion pun menghampiri putrinya lalu memeluknya. "Ayah tidak melarang, hanya saja kamu harus tahu batasan," jawabnya.
"Kamu adalah mutiara yang sangat berharga yang harus Ayah jaga dengan jiwa dan raga Ayah. Dan kamu pun harus menjaga semua itu. Jangan sampai siapapun merusak kamu," jelas Rion.
"Speechless," ucap Arya.
"Dan sekarang boleh kan anak lu jawab pertanyaan dari gua," ujar Arya. Hanya anggukan yang menjadi jawaban dari Rion.
"Bagaimana?" tanya Arya pada Echa.
"Maafin aku sebelumnya karena kamu juga tau kan alasan aku menerima kamu itu apa." Riza pun mengangguk.
"Ya mungkin benar kata orang, cinta akan datang karena terbiasa," imbuh Echa.
Semua orang bertepuk tangan dan wajah sumringah nampak sekali di wajah Riza.
"Cinta lu terbalas ya," goda Arya pada Riza.
"Iya, Om."
Rion pun tersenyum ke arah putrinya, tak terasa kini Echa sudah beranjak dewasa. Anak yang dulu sempat dia buang kini, tumbuh menjadi remaja yang sangat baik dan juga cantik.
"Pernah gak sih, Echa marah besar ke kamu?"
"Em ... pernah, Om. Waktu SMP, aku nyanyiin sebuah lagu buat dia di radio sekolah. Dan diakhir lagu, aku sebut nama dia. Eh, dia malah marah besar. Pas dia sakit pun dia masih marah kayaknya," jelas Riza.
"Nyanyi apa emang?"
"Terimalah lagu ini dari orang biasa. Tapi, cintaku padamu luar biasa. Aku tak punya bunga aku tak punya harta ...."
"Lah lu mau modal apaan kalo gitu? Wajar anak gua nolak lu," sahut Rion.
Para tamu dan keluarga pun tertawa Dibalik ke playboy-an seorang Rion Juanda tersimpan keposesifan yang luar biasa untuk putri semata wayangnya.
"Kalo gua punya mertua kayak gini udah gua kasih racun," ucap Arya kesal.
"Turun deh mending, ganggu aja," ujar Arya yang kini menyeret paksa tubuh Rion untuk menuruni panggung.
"Aku ada sebuah lagu buat kamu," ucap Riza kepada Echa.
🎶
Aku tak pernah meminta
Sosok pendamping sempurna
Cukup dia yang selalu
Sabar menemani dalam kekuranganku
Namun, Tuhan menghadirkan
Kamu wanita terhebat
Kuat, tak pernah mengeluh
Bahagiaku slalu bersamamu
Andai ada keajaiban
Ingin ku ukirkan
Namamu di atas bintang-bintang angkasa
Agar semua tahu
Kau berarti untukku
Selama-lamanya kamu milikku
Namun, kusadari diriku
Tak kan mampu selalu
Bahagiakan kamu
Tapi, akan ku perjuangkan
Untukmu yang terhebat
Kekasih impian
(Song by. Natta Reza - Kekasih Impian)
Echa tersenyum bahagia mendengar lagu itu. Begitu pun kedua ibunda Echa. Mereka merangkul mesra lengan para suaminya.
Tak terkecuali dua remaja yang sedang dimabuk cinta. Tangan mereka saling menggenggam seakan tidak ingin dipisahkan. Wajah mereka pun terlihat sangat bahagia.
"Baru kali ini wajah kamu sebahagia ini," ujar Ayanda ketika melihat Echa.
"Anak kita sudah beranjak dewasa, Mom. Dia berhak memilih apa yang dia mau. Kita hanya bisa mengarahkan dan juga memantau dari kejauhan," sahut Gio.
****
Happy reading ...