
Terima kasih kepada kalian yang udah baca dan suka sama karya Bang Duda. Dan terima kasih juga bagi kalian yang udah menjadi pembaca setia Bang Duda. Yang belum jadi pembaca setia, ayo jadi pembaca setianya.
Baca di sini tidak memerlukan koin, jadi kalian cukup membaca setiap update Bab terbaru dari Bang Duda tanpa menimbun-nimbun bab yang sudah terbit. Dengan cara begitu, kalian telah membayar mahal karya ini.
Aku tunggu kalian untuk jadi pembaca setia ...
...****************...
Radit menatap pilu kepada kekasihnya. Terlalu banyak beban yang dia pendam ketika dia kecil. Terlalu banyak penderitaan yang dia alami ketika dia balita. Hanya Echa yang tahu bagaimana hatinya. Karena hal itu Echa belajar menjadi tegar, bisa dibilang terpaksa menjadi tegar karena keadaan. Dia anak kecil yang masih membutuhkan kasih sayang dan bermanja dengan kedua orangtuanya. Namun, takdir berkata lain.
"Jangan nangis lagi. Yang penting sekarang kamu merasakan kasih sayang dari keempat orangtuamu. Dan kamu dikelilingi orang-orang yang menyayangi kamu, termasuk aku."
Lengkungan senyum pun hadir di bibir Echa. Setalah dia meluapkan segala yang dia simpan seorang diri selama lebih dari 18 tahun. Akhirnya, dia bisa menceritakan apa yang sebenarnya dia rasakan pada orang yang tepat. Hatinya merasa lega ketika beban yang hampir dua dekade dia pikul sendiri kini perlahan bebas dari pundaknya.
"Hug me."
Radit pun tertawa dan memeluk tubuh mungil kekasihnya. Radit sangat bersyukur karena sedikit demi sedikit dia bisa menjadi obat untuk Echa. Dan sebaliknya, Echa lah yang menguatkannya untuk menjalani hidup yang sungguh tidak adil. Karena masa lalu yang hampir sama lah, mereka berdua bisa bersatu.
"Masuk, yuk. Panas." Echa pun mengangguk.
Radit mendorong kursi roda Echa dengan sesekali mereka bersenda gurau dan tertawa. Membuat para perawat yang mengenal Radit merasakan yang namanya patah hati berjamaah.
Baru saja mereka keluar lift, wajah panik Rion, Gio dan Arya terlihat jelas. Dua sejoli ini pun mengernyitkan dahi mereka.
"Kalian ke mana aja?" Suara Gio menggema.
"Kenapa mata kamu bengkak? Radit bikin kamu nangis lagi?" cecar Rion dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Papa, Ayah, tenanglah. Echa baik-baik saja. Echa hanya ke taman sama Kak Radit."
"Echa habis cerita hal-hal aneh mengharukan bersama Kak Radit, makannya mata Echa bengkak," sambungnya seraya tersenyum manis.
"Awas kamu bikin anak saya nangis lagi," ancam Rion.
Radit yang diancam Arya yang mendengus kesal. Kadang sahabatnya ini tak tahu diri. Dulu, bukan hanya Radit yang membuat Echa menangis, tapi Rion juga sudah membuat hati Echa semakin terluka. Padahal Echa menginginkan ayahnya menjadi penawar lukanya.
"Sabar, Om," ucap Radit pada Arya setelah kekasihnya dibawa pergi oleh ayah dan papanya.
"Lu kuat ngadepin dua bapaknya si Echa yang kaya begono modelannya," ujar Arya.
"Awalnya sih gak kuat, Om. Tapi, karena cinta aku sangat kuat kepada Echa jadi apapun akan aku hadapi, Om."
"Termasuk tingkah absurb dua ayah ECha," bisik Radit.
"Raditya Addhitama, gua tolak lu jadi mantu!" pekik Rion dari dalam ruang perawatan.
"Radar kupingnya kuat banget," ejek Arya.
"Bhaskara, gua potong gaji lu 99 persen!" seru Rion.
"Ayah mah, gak ada manis-manisnya Sam pacar Echa," protes kini dilayangkan oleh ECha.
"Emang iklan air mineral," sahut Rion.
"Makin tua makin nyebelin," oceh Echa.
"Ayah masih muda, ya. Masih ganteng begini, rambut hitam klimis, mana ada Ayah tua," elak Rion.
"Nih, para perawat aja masih memandang kagum pada Ayah." Echa mendelikkan matanya kesal dengan ke-narsisan yang ayahnya miliki.
Radit dan Arya yang baru saja masuk hanya terkekeh mendengar perdebatan antara anak dan ayah yang sama gilanya.
"Dit, lu serius sama ponakan gua," tanya Arya santai layaknya teman. Rion, Echa serta Gio memandang lekat ke arah Radit.
"Serius, Om. Kalo Radit gak serius mungkin ketika badai menerjang hubungan Radit sama Echa dulu, pasti hubungan ini sudah karam, Om," jawab Radit.
"Papih malah yang nyuruh Radit untuk cepat-cepat nikahin Echa. Karena Papih ingin menimang cucu," ucapnya seraya menatap wajah Echa yang sudah blushing.
"Kakak lu?"
Radit mengerti kakak yang dimaksud oleh Arya adalah abangnya. Yaitu, Rindra.
"Kenapa nanyain dia? Pernikahan Radit tidak ada hubungannya dengan dia, Om. Yang terpenting, restu Papih, keempat orang tua Echa dan semua keluarga besar Echa merestui, itu sudah cukup."
Gio pun tersenyum puas dengan jawaban Radit. Melihat sikap Radit, seperti melihat cerminan dirinya sendiri.
"Papa kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Echa.
"Akhirnya Papa bisa melepaskan kamu kepada orang yang tepat," ucap Gio seraya memeluk tubuh ECha.
"PD amat lu! Gua bapaknya, keputusan memberi restu ada di tangan gua sama Yanda," timpal Rion.
Mode menyebalkan Rion mulai kumat kembali. Radit hanya tersenyum tipis. Karena dari awal hubungannya dengan Echaa, Radit hanya dekat dengan Gio dan Ayanda. Dan dengan Rion seperti masih ada jarak yang harus Radit jaga.
Bagaimana pun, Rion adalah ayah kandung Echa. Dan dia berhak atas Echa. Itulah yang membuat Radit harus sedikit berhati-hati ketika berbicara dengan Rion. Canggung yang Radit rasakan.
"Berapapun mahar yang Om minta, akan Radit berikan," ucap serius Radit.
"Seperti perjanjian awal. 10M tidak termasuk rumah serta biaya gedung, catering, serta gaun pengantin."
"Buset dah, bapak macam apa lu? Gak sekalian nih anak suruh bikin serebu candi dalam sehari semalam," imbuh Arya.
"Kalo kamu sanggup, ya kamu boleh nikah sama anak Om. Kalo nggak juga, silahkan kamu tinggalin anak Om," tegas Rion.
"Ayah ...."
Sebelum Echa melanjutkan rengekannya kepada ayahnya, Radit mengeluarkan kartu dari dompetnya. Dan dia menyerahkan kartu tersebut kepada Rion.
"Silahkan cek sendiri berapa saldo di kartu itu." Radit bangkit dari duduknya dan membisikkan pin kepada Echa.
"Ayo, kita cek saldonya. Karena kartu ini gak pake m-Banking." ajak Echa kepada ayahnya.
Rion pun menyanggupi ajakan Echa dan mulai membawa Echa ke lantai bawah dan diikuti oleh Arya.
Setelah Echa memasukkan PIN yang Radit bisikkan tadi, mata Rion dan Arya melebar dengan sempurna.
"Dua puluh lima milyar," ucap Arya dan juga Rion bersamaan.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam,tujuh, delapan, sembilan." Arya mencoba menghitung angka nol yang ada di nominal tersebut.
"Dapat dari mana tuh anak duit sebanyak ini?" tanya Arya.
"Jangan-jangan bener tuh anak pesugihan," sahut Rion.
Echa pun tergelak melihat ekspresi ayah dan Omnya yang sangat tercengang melihat isi tabungan dari Radit. Sebenarnya Echa sudah tidak kaget melihat isi tabungan Radit. Ada satu kartu Radit yang jumlah nominalnya empat kali lipat dari nominal yang ada di kartu yang dipegang oleh Rion.
Sumber uang Radit pun Echa tahu, karena Radit sangat terbuka kepada ECha tentang semua hal akan dirinya.
Mereka kembali ke kamar perawatan Echa. Radit tersenyum melihat wajah ayah dan juga om dari kekasihnya yang terlihat terkejut.
"Apa masih kurang?" tantang Radit lagi.
"Lu pesugihan di mana? Ajak-ajak gua dong. Kalo mesti pake tumbal, gua tumbalin nih sahabat yang gak ada akhlak," cerocos Arya sambil memegang pundak Rion.
"Setan!"
...----------------...