Bang Duda

Bang Duda
255. Hukuman Si Kembar



Ada bulir bening yang menetes di pipi seorang wanita yang tak jauh dari si kembar berada. Wanita itu menatap si kembar dengan tatapan penuh rindu.


"Mommy," teriak Beeya.


Sontak semua orang pun melihat ke arah Beeya yang sudah memeluk tubuh Ayanda. Dan Riana pun sudah memeluk Mommy-nya dengan sangat erat.


"Jangan kerja lagi, Mom. Ri gak mau liat Abang dan Kakak sedih," lirihnya.


Si kembar hanya mematung di depan pintu menuju halaman belakang. Air matanya sudah membasahi pipi keduanya. Tatapan bersalah bercampur dengan rindu yang menggebu membuat hati Ayanda pilu.


Ayanda pun merentangkan kedua tangannya dan si kembar pun memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Dengan tangisan yang membuat suasana menjadi haru.


Riana ikut terbawa suasana. Dia pun menangis lalu menarik baju belakang Beeya.


"Pasti deh ngelap ingus," keluh Beeya.


"Udah yuk mending kita duduk," ajak Amanda.


Mereka pun duduk di sofa ruang keluarga. Aksa dan Aska masih memeluk pinggang Ayanda dengan sangat erat.


"Laki-laki kok cengeng," ejek Beeya yang kemudian berlalu. Amanda tidak khawatir karena Beeya sudah sangat hafal setiap ruangan di rumah ini.


Tak lama bocah berusia empat tahun itu datang. Dan mengelap air mata Aksa dan Aska yang membasahi pipi mereka.


"Kamu ngelap pake apa Bee?" tanya Amanda yang baru saja mengambilkan minum untuk Ayanda dan kedua putranya.


"Kata Mbak ini buat ngelap-ngelap," sahut Beeya yang menunjukkan benda yang dibawanya.


"Itu kan kanebo, Bee."


Aksa dan Aska langsung duduk tegak. Dia merasakan ada yang kasar-kasar di pipinya. Ternyata butiran halus pasir dan juga wajahnya kotor.


Aksa dan Aska memandang tajam ke arah Beeya.


"Satu, dua tiga," gumam Beeya.


"Beeya!" pekik Aksa dan juga Aska berbarengan.


"Hahahaha." Bukannya takut anak itu malah tertawa terbahak-bahak sambil berlari membawa kanebo. Dia celupkan ke ember yang sedang dipakai Mbak Ina untuk mengepel lantai dapur. Lalu, dia lemparkan ke arah Abang dan Kakaknya.


"Ups! Salah sasaran," ucapnya seraya tertawa.


Anak perempuan yang terkena lemparan kanebo basah nan kotor sudah mengeluarkan tanduk. Kini, bukan hanya Aksa dan juga Aska yang mengejar Beeya. Sudah ada Riana yang sedang marah besar kepada Beeya.


Sedangkan Amanda dan Ayanda hanya menggelengkan kepalanya. Suasana haru biru pun berubah menjadi hancur karena ulah Beeya.


Pada akhirnya Beeya melambaikan tangan kepada dua kakak laki-lakinya dan kakak perempuannya.


"Bee gak kuat, Bee nyerah," ucapanya sambil melambaik-lambaikan tangan ke atas.


"Kamu kira ini sedang uji nyali," cerca Ayanda sambil mencubit gemas pipi gembul Beeya.


"Bunda, Bee lapar. Mie goreng sama dua telor mata kebo." Amanda pun tertawa.


"Mata sapi Bee bukan kebo," kata Amanda yang membenarkan ucapan bocah itu.


"Kata Papah jangan sapi terus yang dibawa-bawa. Kasian si kebo, dia juga ingin disebut biar gak iri." Ayanda hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Beeya yang menyebalkan sekaligus lucu.


"Dasar titisan si Arya," gumam Amanda yang kini berlalu ke dapur.


Mereka sedang asyik makan mie goreng suara derap langkah kaki terdengar. Seketika Ayanda, Aksa dan juga Aska menunduk takut. Ya, Gio datang menjemput mereka.


"Ikut Daddy," titahnya.


"Tapi, Pak ...."


Tatapan tajam mata Gio membuat mulut Amanda tercekat. Mulutnya seketika terkunci sendiri.


Ketiga orang itu pun mengikuti Gio dari belakang. Mereka tau Gio pasti marah. Apalagi melihat raut wajah Gio yang sangat tidak bersahabat.


"Bunda, Daddy kalo marah serem ya," bisik Riana.


"Ngga Kak Ri, Daddy malah lucu. Di kepalanya kayak ada keluar tanduk gitu," sahut Beeya seraya tertawa.


Amanda dan Riana hanya menggelengkan kepala mereka melihat Beeya. Bocah kecil yang tak pernah takut kepada siapapun. Dia hanya akan takut pada sang Mamah. Bagi Beeya, sang Mamah adalah ratu dari segala sesuatu yang menyeramkan.


Sesampainya di kediaman Gio, Gio menyuruh mereka untuk masuk ke ruangan kerjanya. Ruangan kerja itu seperti tempat pengadilan bagi mereka yang berbuat salah kepada Gio.


Yang hanya bisa mereka lakukan hanya menunduk dalam. Hanya keheningan yang tercipta. Hanya helaan napas kasar Gio yang terdengar.


"Daddy, maafkan Adek." Aska mulai berani membuka suaranya.


Gio menatap tajam ke arah Aska. Namun, Aska tak gentar. Dia pun menatap manik mata sang Daddy.


"Jangan hukum Abang dan Mommy, mereka tidak salah. Adek yang salah, Adek yang membuat Mommy menangis. Adek yang sudah membentak Mommy. Hukum Adek saja, Dad."


Hati Ayanda sungguh terenyuh mendengar penuturan Aska. Dan kini Aksa sudah menatap manik mata Giondra.


"Daddy pernah bilang, siapapun yang salah kami berdualah yang harus mempertanggung jawabkan semuanya. Hukum Abang juga Dad," ucapnya.


Aska menatap ke arah Aksa dan hanya seulas senyum yang Aksa berikan. "Kita anak laki-laki, kita harus menjaga Mommy dan juga Kakak," imbuh Aksa.


Mata Ayanda berkaca-kaca mendengar ucapan dari putra pertamanya. Sungguh Aksa mirip sekali dengan Gio. Dewasa dan selalu tidak egois.


"Baiklah jika itu mau kalian. Daddy akan menghukum kalian selama sebulan ini." Aksa dan Aska pun mengangguk. Tidak ada ketakutan di wajah mereka.


"Tidak ada uang jajan harian dan tidak ada game. Habiskan waktu kalian bersama Mommy." Si kembar pun tersenyum dan mengangguk mantap.


"Tapi, Dad. Uang jajan ...."


"Tidak ada yang bisa merubah keputusan Daddy," tegasnya.


Ayanda pun mengalah. Bagi seorang ibu dia sangat tidak tega jika, anakanya tidak membawa uang ke sekolah. Anak seusia Aska dan Aksa pasti menginginkan jajanan yang berada di kantin sekolah.


"Coba-coba Mommy memberi uang jajan kepada mereka. Hukuman mereka akan Daddy tambah." Sungguh menyebalkannya suaminya sekarang.


"Gak apa-apa, Mom. Yang penting Mommy bawain bekal untuk Abang dan Adek aja," ujar Aksa.


Ayanda pun tersenyum dan memeluk tubuh si kembar. Ada kehangatan yang Gio rasakan. Sekaya apapun dirinya sekarang, dia tetap harus mendidik kedua putranya dengan sedikit keras. Agar mereka tumbuh menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab. Dan yang terpenting mereka harus merasakan berusaha sendiri jika menginginkan sesuatu. Dilatih sejak dini karena mereka lah yang nantinya akan menjadi pewaris dari Wiguna Grup.


Si kembar sudah keluar dari ruangan Gio, kini menyisakan Ayanda dan juga Giondra. Gio menatap tajam ke arah sang istri dan membuat Ayanda tertunduk. Gio menghampiri Ayanda dan duduk di sampingnya. Dia menarik dagu Ayanda hingga bibir mereka pun bersatu.


Ayanda memukul-mukul dada Gio karena dia sudah kehilangan napas. Dan Gio hanya tertawa.


"Kenapa kabur dari hotel?" tanya Gio dengan mata elangnya.


"Mommy kangen si kembar." Ayanda menunduk kembali.


Gio menangkup wajah Ayanda, manik mata mereka berdua bertemu. "Mommy harus Daddy hukum," ucapnya.


Ayanda pun melebarkan matanya tak percaya. Kenapa suaminya sangat sadis akhir-akhir ini.


"Layani Daddy sampai pagi," bisik Gio.


"Daddy," pekik Ayanda.


Keesokan paginya Gio benar-benar merealisasikan hukumannya. Sang istri belum juga keluar dari kamarnya. Karena bagian bawahnya terasa sangat perih dan sakit. Gio tak henti melakukan gencatan senjata dan membuatnya tak berdaya. Lebih dari 7 kali mereka melakukannya. Jam lima pagi barulah Ayanda bisa terlelap.


"Daddy, Mommy ke mana?" tanya Aska.


"Biarkan Mommy istirahat," sahut Gio.


"Mommy sakit?" tanya Aksa.


"Tidak, Mommy hanya kelelahan."


"Emang abis ngapain?" tanya si kembar kompak.


"Temani Daddy olahraga malam," jawab Gio santai.


"Lagian Daddy gak ada kerjaan. Malam-malam olahraga ngajak Mommy," sungut Aska. Gio pun hanya tertawa.


Bu Mira sudah membawakan bekal untuk Aska dan juga Aksa. Ada dua paper bag yang dia bawa.


Aksa dan Aska pun menerimanya. Mereka langsung bergegas masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya ke sekolah. Sedangkan Gio naik kembali ke kamarnya. Dia masih melihat Ayanda tertidur pulas dan sesekali meringis.


"Daddy berangkat ya," ucapnya pelan seraya mencium kening istrinya. Lalu, turun ke bibir Ayanda yang sangat membuatnya kecanduan.


"Jaga istri saya," titahnya pada Bu Mira ketika Gio sudah sampai lantai bawah. Bu Mira pun mengangguk patuh.


Di mobil yang dikendarai Aska dan juga Aksa. "Kita kayak mau pergi bertamasya ya bawa bekal sebanyak ini," kata Aksa.


"Gak apa-apa lah. Cuma satu bulan doang," balas adiknya.


"Adek kamu bawa uang jajan gak?" tanya Aksa yang sedikit khawatir jika adiknya tidak membawa uang.


"Bawa, sisa uang jajan bulanan dari Mommy masih cukuplah buat jajan bakso mah," canda Aska.


"Bagus, kamu memang adik yang pintar."


Setibanya di sekolah, kedua anak kembar itu menjadi bahan ejekan para teman-teman mereka. Namun, dua bocah itu seakan tidak peduli.


"Abang bawa apa?" tanya Riana.


"Ini bekal dari Bu Mira," imbuhnya.


"Ri boleh minta ya." Aksa pun mengacak-acak poni Riana karena gemas dengan ucapannya yang tidak pernah bisa berbasa-basi.


"Istirahat ke kelas Abang aja ya." Riana pun mengangguk.


Jam pulang sekolah tiba, para murid berlarian menuju gerbang sekolah. Begitu juga Aksa dan juga Aska. Namun, langkah mereka terhenti ketika mereka melihat sang mommy yang menjemput mereka. Dan ada Beeya di samping Ayanda.


"Mommy kenapa jemput kami?" tanya Aska.


"Kenapa memangnya?" tanya balik Ayanda.


"Mommy tidak lihat tatapan para wali murid itu?" bisik Aksa.


"Biarkan saja, Nak."


Wali murid yang lainnya menatap Ayanda dengan tatapan sinis. Dan banyak yang dari mereka berbisik-bisik namun, mata mereka menatap ke arah Ayanda.


"Mommy," panggil Riana yang sedang berlari menuju Ayanda.


Wali murid yang berada tak jauh dari Ayanda pun tercengang mendengar Riana memanggil Ayanda dengan sebutan Mommy. Sama seperti Aska dan juga Aksa memanggil Ayanda.


"Ri ke rumah Mommy, ya. Bunda dan Ayah sedang ke rumah sakit untuk kontrol rutin." Riana pun mengangguk.


Keempat anak itu pun masuk ke dalam mobil, sebelumnya Ayanda pamit kepada orangtua murid yang masih berkerumun di sana.


"Saya duluan, permisi."


Para orangtua murid pun tercengang melihat kesopanan Ayanda. Padahal mereka sedang membicarakan Ayanda, namun Ayanda masih aja bersikap sopan dan ramah kepada mereka.


Tibanya di rumah, si kembar langsung menuju Mommy-nya beristirahat. Mereka mendekat dan duduk di samping dengan mengapit sang Mommy.


"Ada apa kesayangan Mommy?" tanyanya.


"Mommy tidak apa-apa?" tanya Aska.


"Mommy baik-baik saja, Dek."


"Mereka itu yang mulutnya jahat, Mom," imbuh Aksa.


"Biarkan saja, Bang. Apa kejahatan harus dibalas Juga dengan kejahatan?"


"Ya harus begitu dong, Mom," sahut Aska.


"Tidak boleh seperti itu, Sayang. Kejahatan itu harus dibalas dengan kebaikan. Mau diterima atau tidak kebaikan kita oleh mereka, yang penting kita tidak seperti mereka."


"Tidak akan selesai satu masalah jika saling berbalas. Jika, mereka menjadi api, kita harus menjadi air untuk memadamkan api yang tengah berkobar itu. Kalian paham apa yang Mommy katakan?" Si kembar pun mengangguk.


"Kalian anak-anak pintar dan hebat. Jadilah kebanggaan untuk Daddy. Karena Daddy memiliki harapan yang besar untuk kalian."


Sedangkan di kamar si kembar ada penyusup kecil. Dia sedang membuka laci rahasia dari Aksa dan Aska. Senyum pun mengembang ketika laci itu terbuka.


"Wow, banyak sekali cokelatnya," gumam Beeya.


"Ih lucu, ada yang berbentuk Teddy bear sama lope." Kini Beeya berlanjut pada laci Aska.


"Apaan ini?" gumamnya.


Beeya membolak-balikkan amplop lucu berwarna merah hati. "Bee tanya ke Mommy ah."


Baru saja turun dari lantai dua, Beeya sudah dijegat oleh Riana. "Bawa apa kamu?" tanya Riana.


"Nih!" Beeya menunjukkan cokelat berbentuk hati dan yang lainnya serta amplop merah hati yang berada di tangan kirinya.


"Kamu dapat dari mana?"


"Kamar Abang dan Kakak," jawabnya.


"Kalian sedang apa?" Ternyata sedari tadi Ayanda sudah memperhatikan dua anak perempuannya ini.


"Mommy ini apa?" tanya Beeya polos.


"Dapat dari mana, Bee?" tanya balik Ayanda.


"Kamar Abang dan juga Kakak."


Ayanda mengernyitkan dahinya, setahunya anak laki-laki pertamanya tidak suka cokelat. Sedangkan amplop berwarna merah hati Ayanda coba untuk membukanya. Alangkah terkejutnya ketika isi dari amplop itu adalah foto Aska dengan teman sekolahnya.


"Ini siapa?" gumamnya.


Gumaman Ayanda terdengar ke telinga Riana. "Oh itu Kak Chika, kata teman-teman Ri ibunya itu yang telah berbuat jahat kepada Ayah dan Mommy."


"Pantes saja anak itu marah besar." Ayanda menggelengkan kepalanya tak percaya.


Pekikan suara sang Mommy membuat si kembar naik ke daratan. Ya, mereka sedang berenang. "Ada apa, Mom?"


"Jelaskan ini apa?"


Si kembar pun mematung di tempatnya. Mereka melirik ke arah Riana, dengan cepat Riana mengibaskan kedua tangannya. Lalu, Riana menunjuk ke arah Beeya yang seakan tidak merasa berdosa sama sekali.


"Abang! Adek!" pekik Ayanda.


Mulut si kembar terasa peluh. Mereka tidak bisa menjawab pertanyaan dari sang Mommy. "Mau Mommy bilang Daddy?" Si kembar pun langsung menggeleng.


Ayanda menunjukkan cokelat. "Sejak kapan Abang suka cokelat?" Aksa pun menggeleng.


"Lalu?"


"Banyak teman-teman Abang yang cewek ngasih cokelat ke Abang. Karena Adek bilang ke teman-teman cewek Abang kalo Abang suka cokelat." Aska pun hanya tersenyum mendengar penuturan dari Aksa.


"Maaf Mommy. Abang tidak tega jika harus menolak pemberian dari mereka. Apalagi mereka membeli cokelat itu dengan uang jajan mereka," tuturnya.


Ayanda hanya menghela napas kasar. Sikap tidak enakan Aksa menurun darinya. Sekarang Ayanda menatap ke arah Aska. "Foto siapa ini?"


Aska hanya menunduk dalam. "Itu Chika Mom, anaknya Tante Cantika yang kemarin bersitegang dengan Daddy," sahut Aksa.


Aska menatap Aksa dengan tatapan permusuhan. Ayanda memijat pangkal hidungnya yang tidak pusing.


"Kenapa kamu suka sama anak dari mantan pacar Daddy kamu sih?" gerutu Ayanda.


Si kembar menatap ke arah sang Mommy. Namun, bau tidak sedap sudah menyeruak keluar. Semua orang menutup hidung. Dan mata mereka tertuju pada Beeya. Beeya hanya memamerkan giginya yang belum lengkap.


"Beeya!" pekik semua orang yang berada di sana.


******


Bantu aku untuk mempertahankan level karya Bang Duda ya. Dengan cara jika ada notif UP langsung dibaca jangan ditimbun-timbun. Kesetiaan kalian yang membuat karya ini memiliki level tertinggi.


Dengan cara itu juga kalian telah membantu aku untuk dapat uang tambahan.


Happy reading ....