
Echa pun terdiam mendengar pertanyaan dari sang Papa. Genta yang bisa membaca sutuasi langsung mencela ucapan Gio.
"Bicarakannya nanti saja, lebih baik kalian berisitirahat. Wajah kalian nampak lesu sekali," kata Genta.
Mereka semua pun mengikuti perintah Genta. Begitu juga Ayanda yang mengajak si kembar untuk beristirahat. Dan kini, hanya ada Echa, Radit dan juga Genta.
"Apapun keputusan mu, Kakek tidak akan pernah melarang," imbuhnya.
Echa hanya bisa membaringkan kepalanya di bahu Radit seraya merangkul lengan kekasihnya. Genta meninggalkan dua sejoli ini. Dia tahu, ada beban yang Echa rasakan.
"Kenapa?" Radit bertanya sambil mengusap lembut puncuk kepala Echa. Hanya helaan napas kasar yang menjadi jawaban dari pertanyaan Radit.
"Hey, lihat aku," pinta Radit.
Echa pun menaikkan kedua kakinya dan bersila di hadapan Radit. "Penyakit kamu ada di sini," ucap Radit sambil menunjuk dada Echa.
"Keluarkan saja apa yang kamu ingin katakan. Jika, sekiranya kamu tidak mampu untuk berkorban jangan berkorban. Jangan memaksakan apa yang sebenarnya kamu tidak mampu lakukan."
"Sekalipun kamu bersikap acuh, mereka yang tulus menyayangimu pasti tidak akan pernah membencimu. Mereka akan selalu mengerti kamu."
Echa berhambur memeluk tubuh Radit. "Makasih, selalu menenangkan aku disaat aku seperti ini. Selalu ada di samping aku ketika aku rapuh," ucap Echa sambil meletakkan dagunya di bahu Radit.
Radit pun tersenyum dan mempererat pelukannya. Di lantai atas. "Aku akan terus menjaga dan melindungi kamu."
Ada delapan pasang mata elang yang sedang mengawasi Echa dan Radit dari lantai atas.
"Echa kita sudah berubah," ujar Gio.
"Belum pernah gua liat dia seriang itu," imbuh Arya.
"Sebuah keajaiban," lirih Rion.
Arya mengusap punggung Rion dan merangkulnya dengan sangat hangat. "Ketika Tuhan sudah berkehendak maka terjadilah, tidak ada yang bisa menghalang-halanginya."
Mereka masih asyik memandang dua remaja yang sedang dimabuk cinta. Terkadang gelak tawa terdengar, tak lama adu mulut beserta rajukan terjadi tapi ujungnya mereka akan memeluk satu sama lain.
Keempat pria dewasa itu sangat melihat betapa tulusnya Radit mencintai Echa. Begitu juga Echa yang sudah sangat merasa nyaman bersama Radit.
Malam menjelang, setelah si kembar terlelap Ayanda masuk ke kamar Echa dan menemani putrinya yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Tangan Echa langsung melingkar di pinggang Ayanda. Begitu juga Ayanda yang sudah mencium kening sang putri.
"Kak, apa Mamah boleh bertanya?"
"Tanya aja, Mah." Echa sedang asyik menikmati aroma tubuh sang Mamah.
"Kamu akan tetap tinggal di sini, kuliah di sini?" Echa pun mendongakkan kepalanya menghadap sang Mamah. Lalu dia menegakkan tubuhnya.
"Beri Ayahmu kesempatan," pinta Ayanda.
Echa mengerutkan dahinya ketika mendengar ucapan sang Mamah. "Kesempatan apa?" tanya Echa bingung.
Ayanda menceritakan obrolannya dengan sang Ayah ketika Echa yang memutuskan untuk pergi Ausi.
# Flashback On.
Setelah mendengar kenyataan jika, Echa akan pergi ke Ausi hati Rion hancur berkeping-keping. Tubuhnya luruh ke lantai dan dia pun memohon ampun kepada Ayanda dengan keadaan bersimpuh.
"Maafkan aku Dek, harusnya Echa menghukum aku bukan malah pergi meninggalkan kita seperti ini," lirihnya.
"Aku ingin memberikan kasih sayang yang berlimpah untuk putriku. Aku ingin membangun keluarga bahagia bersama istri dan anak-anakku. Tapi, kenapa harus begini?"
Ayanda pun tak kuasa menahan air matanya. Dia membantu Rion untuk kembali duduk di sampingnya. Dia menggenggam tangan Rion dan menatapnya dengan penuh kesedihan.
"Aku hanya ingin tinggal bersama putri pertamaku, aku ingin merasakan menjadi keluarga yang sempurna." Permintaan yang sangat sederhana namun sulit untuk dibuat nyata.
"Aku tidak bisa jauh dari putriku," katanya seraya terisak. Hanya kepada Ayanda dia mampu menangis. Menumpahkan segala kesedihan dan kepedihan hatinya.
"Kenapa penyakit Echa harus kambuh lagi? Kenapa Tuhan tidak membiarkan putriku bahagia."
"Selama ini aku yang sudah menyakiti Echa, aku yang sudah membuat hidup Echa berantakan dan aku penyebab semua ini. Tapi, kenapa Tuhan selalu memberikan karmanya kepada Echa? Kenapa?" Air mata Rion membanjiri wajahnya.
"Tuhan, aku hanya ingin menjadi keluarga sempurna seperti orang lain. Ada suami-istri dan juga dua orang anak. Hanya itu yang aku inginkan," lirihnya sekali.
# Flashback off.
Echa menitikan air matanya mendengar penuturan sang Mamah. "Kamu tahu, ketika kamu berangkat ke Ausi Ayah sakit." Echa benar-benar terkejut mendengarnya.
"Ayah sempat di opname di rumah selama dua hari karena tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam perutnya. Ditambah Ayah stres mikirin kamu."
"Dek, Ayah hanya ingin memberikan kasih sayang yang tulus kepada kamu. Ayah ingin menebus kesalahannya di masa lalu kepada kamu. Hanya itu yang Ayah inginkan. Kali ini, Ayah benar-benar menyesal," terang Ayanda.
"Sumpah Mah, Echa sama sekali tidak membenci Ayah. Bagaimana pun perilaku Ayah tidak bisa membuat Echa membenci Ayah. Echa sangat sayang sama Ayah. Hanya saja, Echa masih canggung masuk ke dalam keluarga Ayah," ungkapnya.
"Kenapa?"
Echa menarik napas panjang sebelum menjawab. "Mamah tahu bagaimana sikap Bunda dan juga Riana dulu. Echa masih takut, Echa takut sikap mereka akan seperti itu lagi. Sehari dua hari mungkin mereka akan baik kepada Echa. Tapi, jika Echa tinggal di sana seterusnya ... lama-lama mereka juga akan bosan kepada Echa."
"Echa belum menemukan kasih sayang yang tulus selain kasih sayang, Mamah, Papa, si kembar, Kakek dan Kak Radit," terangnya.
Baru kali ini Echa berani mengungkapkan apa yang dia rasakan. Menyampaikan ketakutannya kepada sang Mamah. Biasanya semuanya selalu dia pendam seorang diri.
"Coba dulu Kak, jika Bunda dan Riana berubah kembali seperti dulu lagi. Kamu bilang ke Ayah. Dan kembalilah bersama Mamah. Buang semua ketakutan kamu. Jangan berburuk sangka kepada orang lain. Siapa tahu Bunda dan Riana memang sudah benar-benar berubah."
"Ingat, bagaimana pun orang lain menyakitimu, jangan pernah kamu menyakiti balik mereka. Ikhlaskan saja apa yang telah mereka perbuat kepada kamu. Supaya hati kamu juga tenang. Itulah salah satu kunci hidup bahagia." Echa pun mengangguk .
Banyak ajaran-ajaran baik yang Ayanda terapkan kepada Echa. Hingga Echa tumbuh menjadi pribadi yang sangat baik.
"Mamah harap kamu bisa mempertimbangkan ucapan Mamah. Ayah menunggumu, Sayang." Ayanda mengecup kening Echa sangat dalam, dan meninggalkan Echa untuk istirahat.
Sepeninggalan sang Mamah, Echa hanya bisa menatap langit-langit kamar. Apa yang harus dia lakukan?
Untuk menenangkan hatinya, dia turn ke bawah untuk membuat cokelat panas yang biasa dia minum. Keadaan rumah sudah gelap. Semua orang sudah terlelap.
Ketika Echa menuangkan air panas, samar-samar dia mendengar suara orang yang sedang mengobrol di halaman samping.
Dengan langkah pelan, Echa mendekat ke asal suara. Dirinya menegang ketika melihat ayahnya menangis.
"Aa sangat bahagia, Mah. Karena Echa sudah sembuh total. Echa tidak akan merasakan sakitnya lagi." Sejenak Rion terdiam, lalu melanjutkan ucapannya.
"Jika waktu bisa Aa putar, Aa ingin terus memeluk putri Aa. Memberikan kasih sayang yang Aa miliki dan menuruti setiap keinginannya. Andai Aa bisa kembali ke masa lalu, Aa tidak akan pernah menyia-nyiakan putri Aa," lirihnya.
"Mamah tau, sekarang ini Aa merasa jika Tuhan sedang mengirimkan karmanya untuk Aa. Beberapa bulan lalu, Echa ingin memeluk Aa tapi Aa yang tidak bisa. Dan sekarang ketika Aa ingin mengubah semuanya, ingin bersama Echa, Echa yang malah pergi menjauh." Senyum tipis menandakan kesakitan hatinya.
"Sedih Mah, hati Aa juga sakit. Mungkin ini juga yang dirasakan oleh Echa dulu, hingga dia memilih untuk pergi."
"Di setiap sujud Aa, Aa hanya memohon supaya dipersatukan lagi dengan putri Aa. Aa ingin membahagiakan dia dan membawa dia masuk ke keluarga kecil Aa. Keluarga kecil Aa masih kurang lengkap tanpa adanya Echa."
Echa hanya bisa memegang dadanya yang teramat sakit mendengar isi hati ayahnya yang sesungguhnya.
"Iya Mah, Aa tidak akan pernah memaksa Echa. Ini semua salah Aa. Dulu Aa menanam kesedihan, dan sekarang kesedihan itu yang Aa tuai."
Betapa besarnya sayang Ayah untuk Echa. Betapa tulusnya Ayah menyayangi Echa. Maafkan Echa Ayah.
****