Bang Duda

Bang Duda
179. Mimpi



Seharian ini pikiran Rion terganggu akan mimpinya semalam. Senyum anak itu mirip sekali dengan Amanda. Wajah bersinar dan terlihat sangat bahagia.


"Kenapa lu?" tanya Arya membangunkan lamunan Rion.


"Semalam gua mimpi ada anak perempuan manggil gua Ayah," terangnya.


"Mimpi itu bunga tidur, jangan terlalu dianggap nyata."


"Wajah anak itu mirip sekali dengan Amanda." Arya terdiam. Dia teringat akan mimpi Arina, kakaknya sebelum kehilangan anaknya.


"Kandungan Amanda gak apa-apa, kan?" tanya Arya sedikit khawatir.


Rion hanya menggeleng, dia memejamkan matanya. Mencoba menenangkan pikirannya.


"Mimpi itu sama persis ketika Yanda mengandung Echa, dan ternyata ada dua nyawa di sana. Dan dokter mengatakan jika kembaran Echa tidak berkembang. Dan harus dilakukan tindakan," lirihnya.


Arya mencoba menenangkan Rion. Sebenarnya ada sedikit rasa takut di hatinya. Takut apa yang tidak diinginkan terjadi.


"Kan lu punya anak keguguran juga dari Amanda, ya siapa tau itu anak lu yang menyapa lu di dalam mimpi."


Rion membuka matanya, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Semoga saja."


Hatinya masih tidak tenang, makan pun sungguh tak berselera. Hanya putrinya yang sedikit banyak bisa menghilangkan kekhawatirannya.


"Ayah lelah?" ucap Echa yang baru saja masuk ke ruangan ayahnya.


"Tidak, Dek." Senyuman khasnya tersungging di bibirnya.


Echa bergelayut manja di lengan ayahnya. Menandakan putrinya ini menginginkan sesuatu. Rion pura-pura tidak peka.


"Yah."


"Hmm."


"Ayah."


"Ya."


"Ayah!" teriak Echa. Sontak Rion dan Arya menutup kedua telinganya.


"Tarzan gila," bentak Arya.


"Bodo," sahut Echa sambil menjulurkan lidahnya.


Rion beranjak dari kursinya dan duduk di sofa. Echa terus membuntuti ayahnya.


"Boleh, ya." Rion menggeleng dengan tegas.


"Ayah ... di sana kan ada Om Andri," rayunya.


Wajah Echa merengut kesal, membuat Rion ingin sekali tertawa. Dia pun memeluk tubuh putri manjanya ini.


"Ayah melarang karena Ayah tidak mau terjadi apa-apa sama kamu, demi kebaikan kamu. Jangan pernah membantah."


"Kamu boleh pergi ke sana tapi harus bersama Mamah dan juga Papa. Ayah dan Bunda tidak bisa ke mana-mana dulu karena kandungan Bunda sudah mau menginjak 9 bulan," lanjutnya.


"Ayah jangan terlalu kelelahan, Echa gak mau kalo Ayah sakit." Ucapan yang sangat menyentuh hati Rion. Sederhana namun, syarat akan makna.


Arya tersenyum bahagia melihat hubungan ayah dan anak sudah kembali lagi seperti dulu. Echa tetaplah anak yang manja, sedewasa apapun usianya dia tetap gadis kecil di mata Rion.


Malam hari, Amanda sedang menata makanan di atas meja. "Sayang, kenapa ke dapur?" Rion menghampiri Amanda dan menyuruhnya untuk duduk.


"Harus banyak gerak, Bang. Biar lahirannya lancar."


"Jangan di dapur juga, Yang. Bahaya," imbuhnya.


Setelah selesai makan, Amanda dan Rion bercengkrama di halaman belakang. Menikmati hembusan angin malam.


"Bang, sudah beberapa hari ini Manda tidur selalu bermimpi."


Deg.


Mata Rion melebar, apa istrinya juga bermimpi tentang seorang anak perempuan yang cantik.


"Mimpi apa Yang?" tanya Rion yang sedang memeluk Amanda dari belakang. Menyandarkan kepala Amanda ke dada bidangnya.


"Ada anak perempuan cantik sekali, memanggil Manda dengan sebutan Bunda. Dan dia bilang, Aku sayang Bunda. Manda takut, Bang," lirihnya.


Rion menghela napas kasar, dia tidak boleh terlalu percaya akan mimpi ini. Benar kata Arya, mimpi adalah bunga tidur.


"Gak usah dipikirin, Yang. Cuma mimpi, pasti anak kita baik-baik saja di dalam sini," ucapnya sambil mengusap lembut perut Amanda.


Amanda berbalik menatap Rion lekat. "Jika, Manda pergi. Tolong jaga anak kita ...."


****


Happy reading ....


Oiya, ada yang kesusahan nyari judul kisah Echa dan Radit. Aku rombak sedikit ya, judulnya. 👇 Silahkan baca, nanti malam up lagi ...


Jangan lupa ❤️, like, komen dan rate bintang 5 ...


Lope you pull sayang ..😘😘