Bang Duda

Bang Duda
25. Mantan Suami



Beberapa hari setelah kejadian itu, banyak yang berubah dari Sheza. Setiap hari wajahnya tidak seperti mentari, tapi seperti awan mendung. Begitulah yang Rion tangkap.


Diam-diam Rion selalu mengikuti aktifitas Sheza setelah pulang kerja. Biasanya Sheza langsung ke warung bakso untuk bekerja sampingan di sana. Sudah berapa hari ini dia ijin tidak bekerja di sana dulu. Setelah pulang kerja, Sheza langsung ke kosan dan mengunci pintu. Tidak pernah keluar lagi.


Rion mencoba untuk menghubungi Sheza ketika pulang kerja, namun ponselnya selalu mati. Rion sedikit khawatir dengan keadaan Sheza yang kian hari kian pilu. Rasa penasarannya semakin membuncah. Hanya sedikit informasi yang dia terima dari Gio.


"Apa gua harus cari tau, ya?" gumamnya.


Tidak tahu malam ini Rion sedang kesambet setan apa, hingga dia terus memantau kosan Sheza dalam mobilnya. Satu jam berlalu, sekarang memasuki dua jam Rion masih betah berada di dalam mobil. Meskipun wanita yang diintai tidak keluar dari kosannya.


Mobil putih yang kisaran Milyaran berhenti di depan kosan Sheza. Rion menukikan alisnya, dia menajamkan matanya melihat siapa yang datang ke kosan Sheza.


Pria dengan menggunakan kemeja hitam turun dari mobil. Melangkahkan kakinya menuju kosan Sheza. Dia mengetuk pintu kosan Sheza, tak lama seorang wanita berpiyama keluar.


"Sheza," ucap Nando dengan tersenyum manis.


Hanya tatapan datar dan dingin dari mata Sheza. Dia sudah mengubur cintanya sejak lima tahun lalu. Dia tidak ingin membongkar kembali semua kenangan bersama Nando. Kenangan manis maupun pahit.


"Lebih baik kamu pergi sekarang, pergi," teriaknya. Sheza segera menutup pintu kosannya namun ditahan oleh Nando.


"Aku perlu bicara dulu sebentar. Aku merindukanmu Sheza," ujar Nando.


Mendengar kata rindu, Sheza terdiam dan mematung di tempatnya. Kata yang sangat menyakitkan untuknya.


"Aku tahu, kamu juga masih merindukanku, kan," ucap Nando pada Sheza.


Sheza hanya tersenyum tipis, dia maju beberapa langkah hingga berhadapan langsung dengan Nando. Nektra mereka bertemu, Sheza sangat melihat ketulusan dari ucapan Nando.


Plak!


Tamparan keras mendarat sempurna di pipi Nando. Nando hanya bisa memegangi pipinya yang terasa panas.


"Jangan pernah kamu ucapkan kata rindu dihadapan ku. Kamulah yang membuat kata rindu itu menjadi menyakitkan untukku," ujar Sheza dengan nada yang sangat berat.


Sheza langsung menutup pintu kamarnya dengan sangat keras. Hingga membuat Nando mematung di tempatnya.


Dibalik pintu, air mata Sheza sudah tidak bisa terbendung lagi. Tangisnya pecah dengan air mata yang mengalir deras.


Sheza hanya dapat memegang dadanya yang sangat teramat sakit. Kemewahan yang Nando dapatkan karena telah menukar cintanya dengan tahta.


Dibalik kemudi, Rion mengepalkan tangannya karena geram. Beraninya sekali pria itu menemui Sheza. Dia masih bingung, ada hubungan apa Sheza dengan suami wanita lain? Apa Sheza seorang pelakor?


Pagi harinya, mata Sheza terlihat bengkak. Dalam diam Rion selalu memperhatikan Sheza. Hanya saja dia sok jual mahal, tak mau membuka obrolan terlebih dahulu. Kebisingan yang selalu Sheza ciptakan, sudah hampir seminggu ini berubah menjadi suasana tenang dan damai. Hingga Rion rindu dengan suasana gaduh karena ulah Sheza.


Meskipun begitu, Sheza tetap fokus pada pekerjaannya. Dia berusaha profesional. Arya yang melihat perubahan dari Sheza mencoba menanyakannya pada Rion. Akan tetapi, Rion hanya menjawab tidak tahu.


"Dasar cowok gak peka," umpat Arya dihadapan Rion.


Setelah jam makan siang, Rion kedatangan tamu wanita yang kian hari kian cantik. Ayanda datang memenuhi permintaan mantan suaminya untuk bertemu. Ayanda juga tidak tahu apa tujuan Rion ingin bertemu dengannya. Tidak seperti biasanya.


Ayanda sudah duduk di sofa yang sudah Rion sediakan. Arya hanya berdecak kesal. "Modus kan lu datengin Ayanda kesini. Ujung-ujungnya nyuruh Ayanda buat ngomong sama si Ceca. Pengecutlah," ucap Arah bersungut-sungut.


Rion hanya memasang wajah kesal setengah mati kepada manusia yang sangat peka ini. Sedangkan Ayanda hanya mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Ada apa Mas?" tanya Ayanda.


"Aku boleh minta tolong gak? Ini tentang Sheza," jawab Rion.


"Aku tidak tahu masalah Sheza, dan Gio juga tidak mau tahu bagaimana latar belakang keluarga Caren. Business is business, Itulah yang Gi bilang," ungkap Ayanda.


"Ya, aku mengerti. Tapi ...."


"Gini loh Ayanda Wiguna, nih makhluk mau minta tolong kamu buat deketin Sheza biar Sheza mau terbuka dan menceritakan masalah yang sebenarnya," timpal Arya si manusia kelewat peka.


Ayanda hanya tergelak mendengar ucapan Arya. "Kemana sifat playboy kamu, Mas? Kenapa sekarang seperti anak bocah yang minta dicomblangin," balasnya dengan tak henti tertawa.


Arya pun ikut tertawa sedangkan Rion jangan ditanya seperti apa wajahnya. Merah menahan malu semalu-malunya.


"Udah dong, bantuin aku," pinta Rion.


Ayanda terdiam sejenak. "Oke." Akhirnya Ayanda mencoba membantu Rion.


Ayanda menuju meja Sheza, terlihat kesedihan di wajahnya. Ayanda teringat akan dirinya sendiri. Dulu, dia mencoba untuk baik-baik saja dan memamerkan senyum palsu kepada semua orang. Padahal, hatinya teramat sakit.


Kenapa melihat Sheza seperti melihat diriku sendiri?


"Sheza," panggil Ayanda. Sheza yang masih fokus ke pekerjaannya pun mendongakkan kepala ke asal suara.


"Bereskan barang-barangmu. Temani saya belanja. Dan saya sudah minta izin ke Bossmu," ucap Ayanda.


"Tidak ada bantahan," tegas Ayanda.


Mau tidak mau Sheza mengikuti perintah Ayanda. Meskipun dia sendiri tidak mengerti, ada apa sebenarnya?


Mereka menuju salah satu mall besar dengan menaiki mobil Ayanda. Dari belakang ada satu mobil yang mengikuti mobil yang dinaiki Sheza. Ada rasa khawatir di hati Sheza.


"Bu, mobil di belakang kok ngikutin kita terus ya," ucap Sheza.


"Itu pengawal saya, jadi tenang saja," jawab Ayanda yang tidak bergeming menatap layar ponselnya.


Beruntungnya Ibu Boss ini, batin Sheza.


Mereka telah tiba di salah satu mall besar. Ayanda menarik tangan Sheza untuk mengikutinya. Ada beberapa dress cantik dan tas yang Ayanda beli.


Sheza hanya bisa menggelengkan kepala.


Apa orang kaya seperti ini kalo berbelanja? Tidak pernah melihat harganya dulu.


Setelah ditotal Sheza melebarkan mata dan kupingnya. Hampir 30 juta hanya untuk tiga dress cantik dan satu tas. Sheza hanya berdecak kagum.


"Nih, buat kamu," ucap Ayanda sembari memberikan goodybag berisi baju dan tas yang dia beli.


"Tapi, Bu ...."


"Ambillah." Ayanda memaksa Sheza untuk mengambil pemberian darinya.


Mereka menuju salah satu restoran untuk makan terlebih dahulu. "Bu, untuk bill kemarin boleh saya cicil setiap bulannya?" ujar Sheza.


Ayanda hanya tertawa mendengarnya. "Semuanya sudah dibayar Mas Rion," jelas Ayanda.


Sheza membelalakkan matanya tak percaya. Apa yang harus dia lakukan sekarang.


Tak lama berselang, dua pria tampan datang bersamaan menghampiri mereka.


"Sudah selesai?" tanya Gio pada Ayanda.


"Ya, Mommy lelah," jawab Ayanda yang kini memeluk pinggang Gio.


"Kita pulang," ajak Gio dan dijawab anggukan kepala oleh istrinya.


Rion menatap Ayanda bingung, matanya berbicara bagaimana ini?


"Tanya sendiri biar lebih jelas, agar Mas juga bisa memahami dia sedikit demi sedikit," ujar Ayanda. Gio hanya tertawa seolah meledek Rion.


"Kami pulang bro. Semoga sukses," ucap Gio kepada Rion.


Di meja ini hanya tersisa Sheza dan Rion. Hanya keheningan yang tercipta. Tidak ada obrolan diantara mereka.


"Pak, bisa saya cicil hutang saya untuk mengganti tagihan kemarin?" tanya Sheza gugup karena raut wajah Bossnya datar dan dingin.


"Semuanya akan saya anggap lunas jika kamu bisa menjawab pertanyaan saya," ucap Rion.


"A-apa?" tanya Sheza yang kini berani menatap Rion.


"Siapa lelaki yang di restoran kemarin? Dan kenapa istrinya bisa sangat marah kepadamu?" tanya Rion.


Sheza hanya menghela nafas kasar. Sebenarnya dia tidak mau mengungkapkan statusnya kepada siapa pun. Dan sekarang, Bossnya sendiri menanyakan hal itu kepada dirinya.


"Jawab," pinta Rion dengan suara dinginnya.


"Dia ... dia mantan suami saya," jawab Sheza.


Duarr!


Seperti timah panas yang menghujam jantung Rion. Seketika Rion terdiam dan membeku. Ada rasa tidak percaya di hatinya.


Sedangkan Sheza menundukkan kepalanya dengan meremas tangannya sendiri.


***


Happy reading,


Maaf telat up 🙏