Bang Duda

Bang Duda
318. Antara Nyaman Dan Cinta (Musim Kedua)



Sebelum Aksa datang, Aska menggenggam tangan Riana dengan tatapan teduhnya.


"Apa kamu tidak bisa melihat aku yang dengan tulus menyayangi kamu? Abang bukanlah laki-laki yang mudah untuk jatuh cinta. Tapi, sekalinya jatuh cinta Abang akan terus memperjuangkan cintanya."


"Tapi, Ri tidak bisa membohongi hati ini, Kak," lirihnya.


"Aku ngerti, ketika Abang membuat kamu sedih. Jangan sungkan untuk datang kepadaku. Bahuku masih sanggup untuk menampung rasa sedihmu itu," ujar Aska. Riana pun tersenyum.


Aska menangkup wajah Riana dan berkata, "aku akan terus menunggumu hingga kamu merasa lelah dan akhirnya menyerah dengan perasaanmu kepada Abang. Dan harus kamu ingat, masih ada aku yang setia menunggu kamu."


Hati Riana benar-benar terenyuh mendengar ucapan Aska. Bibir Aska terlalu cepat menempel di keningnya. Hingga Riana tidak bisa menolak.


Suara pintu terbuka membuat Riana salah tingkah. Apalagi yang datang adalah Aksa. Dengan pelan, Riana mendorong tubuh Aska hingga melepaskan tempelan bibirnya di kening Riana.


"Maaf ganggu."


Dua kata yang membuat Riana dan juga Aska merasa bersalah kepada Aksa. Dan tanpa pikir panjang, Aksa pun pergi meninggalkan kamarnya. Dan memilih membersihkan tubuhnya di kamar Aska. Dan menggunakan pakaian Aska.


Setelah selesai, Aksa turun ke lantai bawah. Dia memilih duduk di tepian kolam ikan seorang diri. Melihat ikan yang berwarna-warni. Berenang ke sana ke mari. Dan dia menatap ke arah langit. Di mana banyak bintang berkelipan. Menandakan jika setelah kesedihan akan ada kebahagiaan.


"Aku ingin melupakan semuanya," gumamnya.


"Maaf."


Sebuah kata yang terlontar dari mulut Riana. "Untuk apa?"


Pandangan Aksa kini tertuju pada ikan-ikan di kolam.


"Ri dan Abang ...."


"Kenapa? Abang tidak marah. Dan tidak ada hak untuk Abang marah. Aska memang menyayangimu. Jadi, lihatlah dia," potong Aksa.


"Tapi, Ri tidak ...."


"Lebih baik dicintai dari pada mencintai. Dicintai seseorang yang tulus itu adalah anugerah terbesar. Tapi, mencintai orang yang tidak membalas perasaan kita itu sungguh menyakitkan."


Riana terdiam mendengar ucapan Aksa. Apa yang dikatakan Aksa benar adanya. Terlalu sakit mencintai Aksa, yang tidak mencintainya. Pengorbanannya pun tidak dilihat.


"Apa salah, jika Ri ingin tetap berjuang untuk mendapatkan hati Abang?" tanyanya sambil menatap ke arah Aksa.


Mendengar ucapan Riana, Aksa menatap Riana dengan tatapan yang sulit diartikan. Manik mata mereka bertemu.


"Tidak salah, hanya saja Abang yang tidak ingin kamu terluka. Abang bukanlah orang yang dengan mudahnya menerima cinta seseorang ataupun mencintai seseorang. Abang adalah laki-laki yang sulit untuk jatuh cinta. Tapi, sekalinya cinta pasti akan selalu setia."


"Berjuang boleh, tapi jangan terlalu berharap. Bukankah sebuah harapan yang tidak sesuai kenyataan akan lebih menyakitkan?"


"Izinkan Ri untuk berjuang, Bang. Ri, akan buat Abang jatuh cinta terhadap Ri," pintanya.


Aksa hanya menghela napas kasar. Sungguh keras kepala perempuan di sampingnya ini.


"Jangan pernah salahkan Abang , jika kamu terluka. Karena Abang tidak bisa membalas perasaan kamu." Riana pun mengangguk mengerti.


Di balik pintu ada yang tersenyum perih mendengarnya. Tenyata dia yang harus lebih sabar dalam hal ini. Mencintai itu terkadang melelahkan. Namun, Aska mencoba untuk terus berjuang. Sebenarnya, Aska dan Riana sedang sama-sama berjuang mendapatkan cinta seseorang. Riana berjuang mendapatkan cinta Aksa dan Aska berjuang untuk mendapatkan cinta Riana. Hubungan yang cukup rumit. Tapi, begitulah kenyataannya. Hati Aksa bagai baja, tidak bisa disentuh oleh kelembutan wanita.


"Ri, ayo Kakak antar pulang." Aska memberanikan diri untuk mendekat ke arah Aksa dan juga Riana.


"Iya, Kak. Bang, Ri pamit dulu, ya." Hanya seulas senyum yang Aksa berikan.


Setelah Aska dan Riana pergi, Aksa masih betah di tepian kolam seorang diri. Menatap pantulan dirinya di air kolam yang jernih.


"Apa istimewanya aku? Sampe kamu rela ngejar-ngejar aku. Padahal aku hanya laki-laki bodoh."


Sentuhan hangat di bahunya membuat Aksa menoleh lalu, tersenyum. "Kamu adalah pria istimewa, Bang." Seulas senyum yang diberikan oleh Aksa kepada wanita tercintanya.


"Apa Abang tega merebut perempuan yang Adek sayangi?" Lagi-lagi rasa bersalah itu dia utarakan kepada Ayanda.


"Kamu tidak merebut, Bang. Riana yang menyukai kamu. Dan Riana juga yang kekeh ingin mendapatkan kamu. Padahal, Adek sudah menyatakan perasaannya kepada Riana."


"Abang benci keadaan ini, Mom. Benci," lirihnya.


"Abang tidak ingin menyakiti siapapun. Abang tidak ingin membuat orang lain terluka karena Abang. Kenapa Riana harus bersikukuh? Padahal Abang tidak menyukainya," keluhnya.


"Biarkan dia berjuang, Bang. Ketika rasa yang kamu miliki itu tidak pernah ada untuk Riana. Biarkan Riana yang menyerah dengan sendirinya. Mommy yakin, ketulusan Adek nanti akan membuat Riana menyadari bahwa Adeklah yang pantas untuknya. Bukan Abang," ungkap Ayanda.


Aksa memeluk tubuh Mommy-nya dari samping. Dan usapan lembut dari tangan sang Mommy membuatnya sedikit merasa tenang. Melupakan segala kegundahan yang ada di dalam hatinya.


"Dimakan ya, itu dibuatnya pake hati." Aksa hanya tersenyum tanpa menjawab apapun.


"Ri, ke kelas, ya."


"Kalo Abang gak mau bekal dari Riana, buat Adek aja." Suara yang tiba-tiba muncul dari belakang.


"Ambil." Aksa pun melenggang menjauhi Aska.


Aska menatap Abangnya dengan tatapan bersalah. Dia merasakan ketidaknyamanan pada Abangnya. Di wajah dinginnya yang tampan terselip sebuah kesenduan.


Jam istirahat tiba, Riana yang hendak pergi ke kelas Aksa dicegah oleh Keysha. "Anter ke kantin, yuk. Gua laper."


Mendengar rengekan Keysha, Riana pun tidak tega. Dia memutuskan untuk pergi ke kantin. Dan membatalkan untuk ke kelas Aksa.


Di kelas Aksa, hanya ada Aksa dan juga Aska. "Abang gak makan?" tanya Aska yang sedang melahap makanan dari Riana.


"Udah pesan, bentar lagi juga datang."


"Bang, masalah semalam ...."


"Terserah kalian, yang penting jangan kebablasan." Dingin sekali ucapan Aksa kepada Aska. Ada aura kemarahan di dalam ucapan Aksa. Bukan marah karena cemburu, tapi karena Aska yang tidak bisa menjaga sikap sebagai seorang laki-laki.


Setelah Aska selesai makan, dia ke kelas Riana. Namun, Riana tidak ada. Dia menuju ke kantin. Dan bibirnya terangkat ketika dia melihat Riana dan Keysha berada di salah satu meja yang sedang memakan siomay.


"Hay," sapa Aska yang segera duduk di samping Riana.


"Abang mana?"


"Abang lagi makan," sahut Aska sambil mengusap rambut Riana.


Aska menarik tangan Riana untuk menyuapinya. Membuat Riana terkekeh geli. "Kayak bocah."


"Biarin," sahut Aska sambil mengunyah. Mereka terlibat obrolan yang seru. Di mana tawa Riana terus mengembang membuat Aska bahagia. Hingga sebuah lagu yang diputar di kantin membuat hati Riana mencelos.


🎶


Maaf harus seperti ini


Aku tak mengerti


Menahan hati


Jujur separuh hati ini telah dimiliki


Tanya hati


Mengapa begini


Antara nyaman dan cinta


Sungguh ku dilema


Harus memilah hati tuk siapa


Ku mencintaimu ...


Tapi ku nyaman dengannya


Kamu sakiti aku terluka


Dia yang ada obati rasa


Aku terbiasa


Nyaman bersama dia


🎶


Riana pun terdiam, meresapi setiap bait lagu yang seakan menampar keras hatinya. Dia mencintai Aksa tapi, dia mendapatkan kenyamanan dari Aska. Siapa yang harus dia pilih?


...----------------...


Happy reading ...