
Hubungan yang sudah menjauhi kini mulai erat lagi. Tidak dipungkiri rasa sayang antara ayah dan anak ini amatlah besar. Mereka tidak akan pernah bisa membenci karena rasa sayang mereka lebih besar dari apapun.
Echa melonggarkan pelukannya dan menatap ke arah belakang. Sudah ada Mama dan Papanya, serta sahabat-sahabat ayahnya di sana.
Ayanda menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Echa menghampiri Ayanda dan juga Gio. Dia memeluk erat tubuh kedua orangtuanya.
"Kami tahu, kamu sangat menyayangi ayahmu," ujar Gio.
"Mamah senang, kamu dan Ayah mu sudah kembali lagi. Bagaimana pun hubungan darah kamu dan juga Ayahmu tidak pernah bisa terputus," imbuh Ayanda.
Echa tersenyum ke arah Radit lalu memeluk tubuhnya dengan erat. "Makasih, Bhal." Radit membalas pelukan Echa tak kalah eratnya.
Semua orang tersenyum ke arah Radit dan juga Echa. Hubungan yang kandas kini bersatu lagi. Mungkin, memang Echa dan Radit telah ditakdirkan untuk bersama.
Mereka merayakan ulang tahun Rion dengan sangat sederhana. Semua makanan pun hanya makanan delivery order. Karena memang tidak ada persiapan apapun.
Echa terus saja memeluk tubuh ayahnya begitu pun Rion yang tak melepaskan pelukan tangannya kepada putrinya. Inilah kado terindah diusianya yang menginjak kepala empat.
"Dek, kamu mau ikut pulang sama Ayah?" Semua orang diam mendengar ucapan Rion. Begitu pun Echa.
"Riana ingin memeluk kamu," lanjut Rion.
"Dia sudah berubah Cha, setiap hari selalu menanyakan kamu. Dia bilang dia ingin bertemu Kakak. Ingin peluk Kakak dan bermain bersama Kakak," ujar Arya.
"Temuilah Kak, kasihan Riana," kata Ayanda.
Echa menatap Radit dan Radit hanya tersenyum. "Echa mau, tapi Echa ingin ditemani Radit," ucapnya.
Rion pun menyetujuinya karena dia tahu bahwa Raditlah yang akan menjaga putrinya. Setelah selesai makan-makan, mereka semua kembali ke rumah masing-masing. Kecuali Echa dan juga Radit yang ikut ke rumah Rion. Namun, dengan mobil yang berbeda.
"Kamu takut, Bhul?" tanya Radit yang sedang memasangkan seat belt.
"Aku belum siap, Bhal." Radit mengecup kening Echa singkat. Menggenggam tangannya dan mengusap lembut punggung tangannya.
"Ada aku di sini. Aku akan selalu di sampingmu," ucap Radit yang sedang menatap Echa penuh dengan cinta. Echa pun mengangguk pelan.
Mereka tiba di kediaman Rion hampir jam 10 malam. Kemungkinan Riana sudah tidur. Radit menggenggam erat tangan Echa. Dia tahu, hati Echa sedikit cemas.
Rion masuk terlebih dahulu ke dalam rumah disambut oleh suara Amanda yang sudah tidak bersahabat.
"Ingat pulang kamu Bang?" sarkas Amanda.
Rion tidak ingin meladeni istrinya, dan dia melangkahkan kaki menjauhi Amanda.
"Setelah sekian hari kamu tidak kembali ke rumah. Kamu malah asyik memeluk tubuh mantan istri kamu. Di mana perasaan mu Bang?"
Langkah Rion pun terhenti. Dan dia menatap tajam ke arah Amanda.
"Apa maksudmu?" tanya Rion tidak mengerti.
"Jangan pura-pura lupa, Bang. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," bentaknya lagi.
"Kamu memperlakukan mantan istrimu sangatlah manis dan penuh kasih sayang. Sedangkan kepadaku?"
"Kamu terus-terusan mendiamkan aku, tak menganggap ku ada di rumah ini. Pergi dan datang sesuka hatimu. Apa menurutmu hati ku ini tidak sakit kamu perlakukan seperti itu?" lirihnya.
"Lebih sakit mana ditinggalkan anak kandungku sendiri karena ucapan jahat mu?" balas Rion dengan suara meninggi.
"Bukan hanya Abang yang sakit, aku juga sakit diperlakukan seperti ini oleh Abang. Hanya Echa, Echa dan Echa. Setiap hari Abang hanya sibuk mencari Echa. Dan kamu malah mengabaikanku dan juga Riana," ungkapnya.
"Dan kamu juga yang telah membuat Riana jauh dariku. Gak mau sama aku," teriaknya.
Diambang pintu, Echa mendengar semua apa yang diucapkan oleh istri dari Ayahnya. Dia memejamkan matanya sejenak. Radit terus menggenggam tangan Echa dan menariknya ke dalam pelukan Radit.
"Jika, kehadiran Echa hanya membuat kekisruhan di rumah tangga Ayah dan istri Ayah. Lebih baik Echa pamit pulang. Dan Ayah tidak perlu menemui Echa lagi. Echa tidak ingin menjadi perusak di rumah tangga Ayah. Echa pulang, Yah," ucapnya.
"Echa, tunggu Ayah, Dek." Namun, mobil Radit sudah meninggalkan rumah Rion.
Amanda hanya terdiam. Dia tidak tahu jika ada Echa di sana. "Sudah puas kamu? Mulutmu sangatlah jahat Amanda," teriak Rion.
"Berbulan-bulan aku menunggu putriku untuk memelukku. Setelah dia datang tapi kamu malah menjauhkan kami kembali," pekiknya.
"Asal kamu tahu, berkat Ayanda dan juga Gio serta Radit. Putriku mau menemui ku, dia datang kepadaku. Tapi, sekarang malah kamu rusak semuanya," bentaknya.
"Ma-maaf Bang. Aku tidak tahu ka ....'
"Cukup! Harus kamu tahu, aku susah payah membuat Riana untuk menyayangi Kakaknya. Dan aku dengan susah payah membujuk putriku untuk menemui adiknya. Dan sekarang, semuanya gagal. Gagal karena hati kamu yang sudah kotor," sentaknya lagi.
Amanda hanya menangis mendengar teriakan dan bentakan Rion kepadanya dengan nada yang sangat marah.
"Amanda yang dulu aku kenal sudah hilang. Berganti dengan sosok ibu tiri yang sangatlah kejam. Tidak punya hati," sindirnya.
Hati Amanda sangat sakit dibilang seperti itu oleh Rion. Tapi, dia pun tidak bisa menyanggah ucapan dari suaminya.
"Sekarang mau kamu apa? Kamu mau hartaku? Iya?"
"Ti-tidak Bang," ucapnya dengan terisak.
"Ambillah semua hartaku, tapi jangan pernah ambil anak-anakku," teriaknya.
"Tidak ada yang lebih berharga daripada kedua putriku," jelasnya.
Mbak Ina, Pak Mat serta pengasuh Riana hanya dapat mendengarkan majikannya yang sedang bertengkar di halaman belakang. Ada kesedihan di hati mereka.
Rion masuk ke ruangan kerjanya dan tak lama Rion membawa map cokelat. Dia membantingnya di atas meja. Di depannya ada Amanda yang sedang terisak.
"Itu surat-surat rumah ini dan juga mobil yang ada di garasi. Silahkan kamu ambil, dan akan aku bawa Riana pergi dari sini."
Mata Amanda melebar ketika mendengar ucapan dari suaminya. "Bang, aku minta maaf Bang." Amanda mengejar Rion yang sudah jauh darinya.
"Mbak, siapkan perlengkapan Riana. Kita akan pergi dari sini," ucap Rion kepada pengasuh Riana.
"Ba-baik Pak," ucapnya ragu.
"Bang, jangan bawa pergi putriku," pinta Amanda dengan berlinang air mata. Namun, Rion tak bergeming. Dan Riana pun sudah berada di dalam gendongan pengasuhnya.
"Aku akan mendidik putriku agar bisa menyayangi keluarganya. Bukan malah mendidik untuk membenci saudaranya sendiri," tegas Rion.
Amanda terus menarik-narik lengan baju Rion namun, Rion sama sekali tidak menggubrisnya. Dia dan pengasuh Riana masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Amanda yang terduduk lesu di tanah.
"Riana," panggil Amanda sangat lirih.
Rion melajukan mobilnya menuju rumahnya yang baru. Letak rumahnya tak jauh dari kediaman Gio. Sengaja dia membeli di sekitaran sana karena dia ingin selalu dekat dengan putrinya.
Mereka tiba di sebuah hunian tidak terlalu besar tapi terlihat sangat nyaman. "Kamar Riana di bawah. Kamu tidur dengan Riana," ujar Rion kepada pengasuh Riana.
Rion masuk ke dalam kamarnya. Dia mengusap kasar wajahnya. "Aku hanya ingin memberikan pelajaran kepadamu, Amanda. Bahwa tak selamanya harta memberikan kebahagiaan. Karena kebahagiaan sesungguhnya adalah putri-putri kita."
Radit membawa Echa bukan menuju rumahnya. Dia membawa Echa ke sebuah cafe. Dia tahu Echa tersentak dengan apa yang didengarnya barusan.
"Gak usah dipikirin, Tante Manda lagi emosi," ucap Radit sambil merangkul mesra pundak Echa.
Radit tersenyum dan mengusap lembut pipi sang kekasih. "Kebahagiaan mereka bukan terletak pada kamu. Tapi, pada hati mereka masing-masing. Harusnya dengan kehadiran kamu, kebahagiaan mereka akan semakin lengkap," imbuh Radit.
"Jangan terus-terusan menyalahkan diri kamu sendiri. Karena kesalahan bukan pada kamu, tapi pada hati Tante Manda. Hatinya terlalu sulit makanya selalu berburuk sangka, terlebih Om Rion sudah mengabaikannya. Hingga hanya ada pikiran-pikiran negatif yang ada di dalam kepalanya."
Echa hanya menghela napas kasar dan merebahkan kepalanya di bahu Radit. Jika, tidak ada Radit dia pasti sudah kabur jauh dari ayahnya. Baru saja Echa dan ayahnya berbaikan, sebuah ucapan yang teramat menyakitkan sangat menusuk perasaan.
Di kediaman Amanda, dia terus saja menangis. Selalu menyebut nama Riana.
"Sabar Bu. Bapak pasti akan merawat Riana," ujar Mbak Ina.
"Merawat kamu bilang? Putrinya saja dia terlantarkan," sentaknya.
Mbak Ina hanya bisa mengusap dadanya. Dia baru tahu beginilah tabiat asli majikan perempuannya. Berbeda dengan Ayanda. Tak pernah sekalipun ART di rumah ini dibentak ataupun dimarahi olehnya.
Pagi harinya, Amanda sudah bersiap akan mencari Riana. Tujuan pertamanya adalah Arya. Dia yakin Arya pasti tahu akan keberadaan Rion.
Bel pun dia tekan, tak lama Mbok Sum membukakan pintu dan menyuruhnya masuk. Arya dan Beby yang baru saja turun dari lantai atas mengerutkan dahi mereka ketika Mbok Sum bilang jika Amanda sudah menunggu mereka.
"Ada apa?" ucap Arya yang sedang menggandeng tangan Beby istrinya.
"Arya, aku mohon beritau di mana keberadaan suamiku," pinta Amanda dengan wajah yang sangat memelas.
"Suami lu? Emang dia ke mana? Bukannya semalam balik ke rumah lu?" sahut Arya heran.
Amanda menceritakan semuanya ketika mereka semua sudah duduk di sofa. Arya pun mendengus kesal.
"Gua tuh gak ngerti sama jalan pikiran lu. Masih aja lu cemburu sama Ayanda. Dia itu udah baik banget sama lu, sama Rion. Tapi, masih aja lu suudzon sama dia."
"HARUSNYA LU MALU SAMA DIA," sentak Arya.
"Udah bisa belum lu membalas kebaikan Ayanda?"
"Istri Kakak sepupuku bukanlah wanita rendahan dan juga murahan. Dia wanita yang sangat luar biasa. Dan menjadi contoh yang baik untukku dan juga Kak Sheza. Jadi, buang pikiran jelek mu tentang Kak Ay," tegas Beby.
Amanda hanya menunduk ketika mendengar jawaban dari Beby dan juga Arya. Tak seorang pun yang membenarkan tindakannya.
"Gua gak tau di mana Rion. Percaya aja sama laki lu kalo dia bisa jaga dan rawat Riana," imbuh Arya.
"Merawat kamu bilang? Anak kesayangannya aja dibuang, apalagi Riana," sarkas Amanda.
Arya tersenyum sinis kepada Amanda. "Selalu saja masa lalu yang jelek lu ungkit. Padahal lu gak kalah KOTOR dari Rion. Harusnya lu nyadar akan hal itu," sentak Arya.
"Semua orang punya kesalahan termasuk sahabat gua yang bodoh itu. Tapi, dia sedang berusaha untuk memperbaiki kesalahan demi kesalahannya."
"Lu berdua sama-sama pendosa, harusnya lu insaf. Percuma lu nutup kepala lu tapi hati lu gak ditutup dengan kebaikan. Percuma," ujar Arya.
"Sekarang nikmatin aja harta Rion itu. Dan lu bisa merasakan sendiri, apa bahagia hidup bergelimang harta tapi anak lu dibawa bapaknya?"
"Lu sadar diri napa Amanda, punya malu kek dikit mah. Terutama sama mertua lu yang udah mungut lu dari tempat sampah. Dan bersusah payah menjadikan lu istri untuk Rion Juanda," geramnya.
"Kalo lu gini terus, gua yakin Rion akan semakin jauhin lu. Bisa jadi dia akan menceraikan lu." Perkataan Arya sontak membuat Amanda takut. Dia tidak mau bercerai dengan Rion. Bukan karena harta Rion, tapi karena dia memang benar-benar cinta kepada Rion. Dan dia tidak ingin Riana menjadi anak broken home.
"Banyak banget kata mutiara yang keluar dari mulut gua pagi ini. Gua harap lu meresapi setiap ucapan gua," kata Arya.
Amanda pulang dengan tangan kosong. Hatinya benar-benar mencelos mendengarkan ucapan maut dari Arya. Semua ucapan Arya sama sekali tidak bisa sanggah.
"Apa aku sejahat itu?" gumamnya.
Amanda terus mencari Riana dan juga Rion. Dia mencoba ke rumah Ayanda untuk meminta maaf kepada Echa namun, dia masih tetap tidak diperbolehkan masuk oleh pihak keamanan di sana. Ayanda masih tidak ingin bertemu dengannya.
Amanda tak putus semangat, dia mencoba ke rumah Azka. Namun, Sheza pun berbicara hal yang sama. Dia tidak tahu keberadaan Rion.
Sudah tiga hari ini Amanda tinggal di ruang yang besar seorang diri. Tidak ada teriakan dan tangisan Riana. Tidak ada kebisingan hanya keheningan yang tercipta.
"Kamu di mana, Nak?" tanyanya pada diri sendiri.
Di kediaman Rion, Riana dan Echa sudah semakin dekat. Malah Riana tidak ingin jauh dari Echa. Echa selalu menghabiskan waktu bersama Riana dan juga si Abang. Karena Gatthan sama sekali tidak suka kepada Riana. Dan dia tidak pernah mau ikut jika Echa dan si Abang pergi bermain ke rumah Riana.
"Mbak, apa Riana tidak pernah menanyakan ibunya?" tanya Echa kepada pengasuhnya.
"Sering, Neng. Dia bilang dia kangen Bunda. Hanya saja dia tidak mau bilang kepada Bapak. Dia takut Bapak sedih," terang pengasuh.
Echa tersenyum tipis, ternyata sifat Riana tak jauh berbeda dengan sifatnya
"Apa ibunya tidak pernah menghubunginya?" Sang pengasuh pun hanya menggeleng. "Bapak sudah memblokir nomor Ibu di ponsel saya," jawabnya.
Echa mengusap lembut rambut Riana. "Kamu harus mendapatkan kasih sayang lengkap. Jangan seperti Kakak." Setelah mengucapkan itu, Echa mengecup kening bocah kecil itu.
Malam harinya, Echa menginap di kediaman Rion yang tak jauh dari rumah Papanya. Echa berbincang serius dengan sang ayah.
"Yah, kembalilah ke rumah Ayah. Riana membutuhkan kasih sayang Ayah dan ibunya." Enggan sekali Echa memanggil Amanda dengan sebutan Bunda.
"Rumah Ayah di sini," jawab Rion singkat.
"Kasihan Riana, Yah. Bagaimana pun pasti dia merasa rindu dengan Ibu kandungnya."
"Biarkan saja seperti ini dulu, Dek. Ayah tidak akan pernah memisahkan Riana dengan ibu kandungnya kok."
Echa hanya menghela napas kasar. Bernegosiasi dengan ayahnya pasti akan dimenangkan oleh ayahnya.
Seminggu sudah Amanda ditinggal Rion dan Amanda. Tubuhnya semakin kurus karena tidak mau makan.
"Bu makan dulu," ucap Mbak Ina.
"Aku hanya ingin Riana," ucapnya dengan nada yang sangat lirih.
Amanda hanya bisa memandang Riana di ponselnya. Rekaman video Riana selalu Amanda putar untuk mengobati rasa rindunya. Awalnya dia tersenyum, tapi pada akhirnya air mata Amanda tumpah ruah.
"Bunda kangen kamu, Ri."
Pak Mat masuk ke dalam rumah dengan membawa amplop cokelat panjang. Dia menyerahkannya kepada Amanda.
"Dari siapa?" Pak Mat hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Hati Amanda ketar-ketir ketika ingin membuka amplop cokelat itu. Dia takut jika, ini adalah surat gugatan cerai dari suaminya.
Tangan Amanda sudah berkeringat. Dengan perlahan dia menarik kertas yang terlipat di dalam amplop.
Dia memejamkan matanya terlebih dahulu sebelum membuka kertas tersebut. Amanda mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum membacanya.
Perlahan matanya terbuka dan hanya satu kalimat yang tertera di atas kertas itu.
Jika, rindu anakmu temui dia di Cluster Diamond Pearl nomor 47.
****
Happy reading ....
Ketika ada notif up langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun ....