
Waktu semakin cepat berlalu. Empat bulan sudah usia kandungan Echa. Dan hari ini, dia akan memeriksakan kandungan sekaligus mendapat izin atau tidak untuk melakukan penerbangan jauh. Ya, Echa ingin kembali ke Indonesia. Berkumpul bersama keluarganya.
Perut yang sudah semakin membuncit membuat Radit semakin senang mengusap lembut perut istrinya.
"Padahal baru empat bulan. Tapi, udah kaya tujuh bulan, ya," imbuh Radit yang tak hentinya mengusap lembut perut buncit Echa.
"Bukan hanya satu, kan bayinya." Radit pun tersenyum. Lalu menarik Echa ke dalam pelukannya. Tak mereka pedulikan di mana mereka berada. Tetap mengumbar kemesraan membuat semua orang iri.
Asisten Laura memanggil nama Echa. Dan dengan telaten, Radit membantu Echa berdiri dan berjalan. Echa sudah sulit untuk bergerak jika sudah duduk. Senyuman khas Laura tersungging di bibirnya.
"Laura apakah aku sudah diperbolehkan untuk kembali ke Indonesia?" Pertanyaan itu yang terlontar dari bibir Echa. Membuat Radit serta Laura melongo dibuatnya.
"Hey, orang tuh nanyain gimana bayinya. Ini malah nanya izin. Ampun dah sama istri si Radit ini." Laura menggelengkan kepalanya heran. Ada ibu seperti Echa ini.
"Aku sangat yakin, semua bayiku sehat. Buktinya dia masih bermain bola di dalam perutku." Jawaban Echa membuat Laura terbahak-bahak. Bermain bola? Memangnya anak Ronaldo.
"Istrimu terkadang kelewat waras, ya, Dit." Radit hanya menggedikkan bahunya.
Radit membantu Echa untuk berbaring. Laura terus tersenyum melihat perkembangan janin Echa.
"Sungguh luar biasa. Mereka sangat aktif." Radit pun tersenyum ke arah Echa lalu mengecup kening istrinya.
"Apa kalian tidak ingin mengetahui jenis kelaminnya?" tanya Laura.
"Tidak, apapun jenis kelaminnya yang penting ketiga bayi kami sehat dan selamat," jawab Echa.
"Tapi, kamu tidak bisa melahirkan secara normal." Laura sedikit memberi pengertian kepada Echa.
"Tidak apa-apa, Laura. Mau normal atau Caesar itu tidak masalah bagiku. Yang terpenting, keselamatan bayi-bayiku." Seulas senyum Laura tunjukkan kepada Echa.
"Kamu ibu yang hebat," puji Laura.
Setelah pemerikasaan selesai, Echa masih harus berhadapan dengan Laura karena masih ada penjelasan darinya untuk Echa dan bayi-bayinya.
"Kondisi janinmu sudah cukup kuat. Dan kamu sudah diperbolehkan untuk melakukan perjalan jauh. Tapi, harus membawa serta obat yang aku resepkan. Untuk menjaga kondisi bayi serta dirimu." Echa pun mengangguk patuh.
Wajah Echa sangat berbinar ketika mendapat izin dari Laura. Sungguh tidak sabar, Echa ingin bertemu dengan keluarganya di tanah air.
"Sayang, apa kamu senang?" Echa pun mengangguk dan meletakkan kepalanya di bahu Radit.
"Sangat senang. Akhirnya aku bisa berkumpul dengan semua orangtuaku," lirihnya.
Radit mengusap lembut air mata Echa. Dan dia menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya menangis bahagia, Ay."
"Panggil aku, Baba. Biar nanti pas anak-anak kita lahir, kita terbiasa dengan sebutan itu."
Echa pun tersenyum mendengarnya. "I love you, Baba."
"Love you more, Bubu."
Setelah sampai di rumah, Echa tidak memberitahukan kepulangannya kepada orang rumah. Hanya kepada sang kakek dia memberitahukannya.
"Kapan kamu mau kembali ke Indonesianya? Biar Kakek siapkan pesawat untuk kamu. Kakek tidak ingin terjadi apa-apa dengan cicit-cicit Kakek."
"Lusa, apa Kakek bisa menjemput Echa ke sini? Echa juga kangen Kakek. Dan pastinya Papa, Mama serta si kembar merindukan Kakek juga," ujar Echa.
"Makasih Kakek."
Echa mengakhiri sambungan teleponnya. Dan Radit sudah ada di samping Echa dengan membawa vitamin di tangannya.
"Makasih, Baba."
Radit segera memeluk tubuh istrinya yang sekarang sedikit berisi. "Aku gendutan, ya, Ba?"
"Kamu semakin seksi, Bubu."
"Gembel," sungut Echa. Tapi, segera mengecup singkat bibir sang suami.
"Udah mulai genit, ya," goda Radit sambil mencubit pipi chubby Echa.
"Genit sama suami sendiri, kan." Radit tersenyum dan tak hentinya mengecup ujung kepala Echa.
"Baby-baby-nya Bubu dan Baba. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan Engkong, Aki, Opa, Abah dan Uwa. Dan kamu juga akan naik pesawat jet milik grandpa. Sehat-sehat, ya, kesayangan Bubu." Echa terus mengoceh sambil mengusap-usap perutnya yang buncit.
Radit mulai mensejajarkan kepalanya dengan perut Echa. Dia elus perut Echa dan terasa ada tendangan-tendangan kecil.
"Bubu, mereka nendang." Radit sangat antusias menyentuh perut Echa. Apalagi tendangannya bersahutan membuat Radit tak kuasa menahan tangisnya.
"Sakit gak, Bu?" Echa menggeleng lalu mengusap lembut rambut sang suami.
"Sebentar lagi kita akan jadi orangtua. Kekurangan kasih sayang yang dulu kita rasakan, jangan pernah terulang lagi kepada anak-anak kita. Aku ingin anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang penuh dengan kasih sayang. Apalagi, semua orang mengharapkan kehadiran mereka. Aku yakin, anak-anak kita akan diberi kasih sayang yang berlimpah oleh semua orang."
Radit menyingkap daster yang dipakai oleh Echa. Terlihat jelas pergerakan bayi-bayinya di dalam sana. Ke kiri ke kanan seperti sedang berlarian.
"Jangan nyusahin Bubu, ya, anak-anak Baba. Jangan berantem di dalam sana. Nanti, Baba beliin bola satu-satu kalo udah lahir. Biar gak rebutan." Echa pun tertawa mendengar ucapan Radit.
"Emang kamu yakin anak-anak kita ini cowok?" Radit menggeleng.
"Kayaknya sih cewek tapi tomboy."
"Tau dari mana?" desak Echa.
"Ngidam kamu itu aneh, dandanin aku karakter kartun cewek. Terus, para pria tampan itu pun kamu jadiin bencong taman Lawang sama cheerleaders Jadi-Jadian," urai Radit.
Echa pun tertawa tapi, seketika tawa itu memudar. Mengingat kejadian demi kejadian yang Echa minta kepada keluarganya di belahan bumi sana. Hanya sekedar untuk melepas kerinduan dan membuatnya tertawa sejenak. Setelah itu, dia akan bersedih dan menangis. Hamil sendirian di negeri orang amatlah menyedihkan. Ingin ini itu hanya sebatas keinginan. Tanpa bisa direalisasikan.
"Sayang, jangan nangis lagi," ucap Radit dan segera memeluk tubuh istrinya.
"Empat bulan terasa lama sekali, Ba. Menahan rindu untuk bertemu keluarga. Mencoba baik-baik saja di hadapan mereka. Apalagi awal kehamilan ini aku harus merasakan mual yang tidak berkesudahan. Dan harus diinfus selama dua bulan. Sedih, Ba. Jauh dari orangtua."
Radit mengerti hati istrinya seperti apa. Radit juga sangat tahu, betapa menderitanya Echa di dua bulan kehamilannya. Mual dan muntah yang tak berkesudahan. Tidak ada asupan makanan. Hingga Radit harus dengan sabar merawat Echa yang lemah tak berdaya dengan selang infus di tangannya.
"Sebentar lagi, kita akan bertemu mereka, Sayang. Dan kamu akan bisa melepas rindu bersama mereka."
"Maafkan aku, Bu. Telah membawa mu jauh dari orangtua dan juga keluargamu. Dan membuatmu sedih seperti ini." Dengan cepat Echa menggeleng.
"Sudah kewajiban ku mengikuti ke mana langkah imam ku. Aku bahagia bersama kamu, Ba. Hanya saja, kehamilanku ini membuatku sangat sensitif."
...----------------...
Happy reading ....