Bang Duda

Bang Duda
241. Niat Banget



Setelah mereka selesai memberikan bantuan dan berbincang di panti, mereka pun pamit untuk pulang. Ketika Radit menyalakan mesin mobil, Amanda berkata, "antar Tante ke rumah sakit, Dit."


"Siapa yang sakit, Tan?" tanya Radit.


"Papih Tante."


Echa dan Radit pun saling pandang dengan senyum tipis di bibir mereka. Radit pun melajukan mobilnya ke rumah sakit yang disebutkan Amanda.


Ternyata ini semua ide Radit untuk memberikan pencerahan kepada Amanda. Ya, ketika Radit dan Echa masih berada di Jogja Rion menghubungi Radit dan meminta bantuan kepadanya.


Sebenarnya Radit dan Echa masih ingin di Jogja, menikmati sisa waktu mereka yang hanya beberapa hari lagi di Indonesia. Namun, Radit juga tidak bisa menolak permintaan Rion. Karena itu adalah tugasnya. Mau tidak mau esok harinya Radit dan Echa pulang ke Jakarta.


Tibanya di rumah sakit, Radit dan Echa membuntuti Amanda. Karena anak kecil tidak diperbolehkan masuk, Radit dan Echa bertugas menjaga Riana.


Sebelum masuk ke kamar sang Papih, Amanda menarik napas panjang terlebih dahulu. Dengan pelan dia membuka pintu kamar perawatan.


Hatinya teriris ketika melihat sang papih sedang tertidur dan terbaring lemah dengan selang infus di tangannya dan juga selang oksigen di hidungnya.


Tubuh rentanya yang sangat kurus, guratan keriput di wajahnya nampak sangat jelas. Dan urat-urat di tangannya pun terlihat dengan sempurna. Air mata Amanda pun luruh.


Orang di depannya dulu memang jahat kepadanya. Tapi, apakah sekarang dia juga harus bersikap jahat kepada papihnya? Orang yang membesarkannya hingga dia sedewasa ini.


Ada darah sang papih yang mengalir di tubuhnya. Ada ikatan batin yang terikat antar dia dan juga papihnya. Tidak ada kata mantan untuk orangtua dan juga anak. Air matanya mengalir deras melihat sang papih seperti ini.


"Maafkan Nda, Pih," lirihnya. Air mata Amanda menetes ke atas punggung tangan Seno.


"Nda," panggil Seno.


Mata mereka berdua pun bertemu. Ada kerinduan yang mata mereka pancarkan. "Maafkan Papih," lirih Seno.


Amanda memeluk tubuh sang Papih dengan eratnya. Air matanya terus menetes karena tidak bisa berkata apa-apa.


"Harusnya kamu biarkan Papih mati saja, Nda."


Amanda melonggarkan pelukannya dan menggeleng. "Tidak ada anak yang tega melihat Papihnya terbaring tak berdaya seperti ini. Apapun akan Nda lakukan untuk Papih. Untuk kesembuhan Papih," jelas Amanda.


"Papih tidak pantas untuk menerima semua ini, Nda. Kamu adalah anak yang baik sedangkan Papih adalah ayah yang sangat jahat." Air mata Seno pun menetes.


"Pih, Nda memang membenci Papih. Tapi, Papih tetaplah Ayah kandung Nda. Papih keluarga Nda, Nda tidak memiliki siapa-siapa selain Papih dan juga Kak Jun yang berada jauh di sana. Papih adalah tanggung jawab Nda," jelasnya.


Sungguh sedih hati Seno mendengar penjelasan dari putrinya. Anak yang dulu dia sia-siakan, dia siksa dan tidak dia urus dengan benar. Tapi, ketika dia memasrahkan diri kepada sang pencipta, anak yang dulu dia buang datang untuk membiayai semua pengobatannya. Sungguh jahat dulu dia sebagai seorang Ayah.


"Hanya ini yang bisa Nda balas untuk Papih," ucapnya. Seno benar-benar menangis saat ini. Sikap Amanda dan juga penuturan Amanda membuatnya malu. Dia telah gagal menjadi seorang Ayah. Dia hanyalah ayah yang kejam untuk Amanda, putri yang sangat dia sayangi.


Dari pintu luar, Rion tersenyum lega melihat istri dan ayahnya sudah kembali akur. Dia tidak akan pernah mempermasalahkan biaya pengobatan mertuanya. Yang terpenting, mertuanya bisa sehat kembali.


Sebelum keluar dari ruang perawatan papihnya, Amanda menatap wajahnya di kamar mandi. Matanya bengkak dan hidungnya merah. Dia tidak ingin terlihat habis menangis.


Setelah pamit kepada Seno dan juga Situ, Amanda keluar dari ruang perawatan. Namun, langkahnya terhenti ketika dia melihat sang suami sudah ada di depannya.


"B-bang ...."


Rion menghampiri Amanda dan memeluk tubuhnya. "Makasih sudah mau menemui Papih kamu," imbuhnya.


Mata Amanda pun berkaca-kaca mendengar perkataan Rion. Mereka duduk di kursi tunggu di depan kamar perawatan Seno.


"Kamu dan Echa itu sama, memiliki kisah kelam di masa lalu jika menyangkut ayah. Abang tidak ingin kamu menyimpan dendam. Abang ingin melihat kamu bahagia dengan Papih kamu."


Amanda tersenyum ke arah Rion dan menggenggam tangannya. "Makasih Bang telah membuka mata hati Manda. Abang menyuruh Radit dan Echa kan untuk membawa Manda ke panti." Rion hanya tersenyum dan mengusap kepala sang istri.


"Masih banyak orangtua yang bersikap kejam terhadap anaknya. Malah lebih kejam dari apa yang Papih kamu lakukan. Tapi, dengan hati yang lapang dan juga ikhlas mereka mampu memaafkan ayahnya," sahut Rion.


Sungguh beruntungnya Amanda bersuamikan Rion Juanda. Semakin hari sikap Rion semakin mengayominya. Dan membuat Amanda semakin jatuh cinta kepada suaminya.


Radit dan Echa pulang berdua dan langsung ke rumah Ayanda. Sedangkan Rion dan juga Amanda pulang ke rumah mereka. Inilah kebahagiaan yang tak terkira yang Amanda rasakan. Sepanjang perjalanan, senyumannya melengkung dengan sempurna.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Rion yang masih fokus ke jalanan.


"Bahagia banget bisa memiliki suami seperti Abang," ujarnya.


Rion pun tertawa dan mengusap lembut kepala Amanda dan Riana yang tengah tertidur di pangkuan Amanda.


Sedangkan di rumah Ayanda sedang terjadi keributan, si Abang dan si Adek saling pukul hingga kening mereka berdua mengeluarkan darah. Bagaimana tidak berdarah, mereka saling memukul dengan menggunakan mainan pedang-pedangan yang ternyata sedikit tajam.


Jika, sudah seperti ini Ayanda mengangkat tangannya. Dia serahkan kepada Gio. Dua bocah ini pun sedang berhadapan dengan sang Daddy dengan air mata yang berlinang dan darah yang menghiasi kening mereka.


"Lihat lah Mommy, apa kalian tidak kasihan kepada Mommy?" Si kembar pun melihat ke arah sang Mommy yang sedang mengurut pangkal hidungnya yang terasa amat pusing.


"Abang dan Adek itu harusnya akur. Bukan malah membuat Mommy pusing seperti itu. Apa kalian mau ditinggal Mommy kerja?"


"No," jawab si kembar bersamaan sambil menangis keras.


"Jangan kelja Mommy," rengek Ghassan.


"Jangan tinggalin Adek," imbuh Gatthan.


Ya, mereka berdua pernah Ayanda tinggalkan seharian penuh karena Ayanda harus mengurus kesalahan pada bisnisnya di Bekasi. Dia pergi pagi buta dan pulang larut malam. Tanpa berpamitan kepada si kembar.


Ketika si kembar mencari sang Mommy dan mendengar jawaban dari Daddy, Kakak dan juga para pengasuh mereka jika Mommy-nya bekerja, mereka berdua pun menangis tersedu. Seharian mereka tidak mau makan. Tidak mau mandi, tidak mau bermain.


Dan inilah senjata yang Gio keluarkan jika, si kembar berulah seperti ini.


"Abang dan Adek kalo begini terus, Mommy tinggal kerja deh. Mommy akan bekerja bersama Daddy," imbuh Amanda.


"No, Mommy."


"No." Mereka berdua pun memeluk tubuh sang Mommy dan menangis dalam pelukan Mommy-nya.


"Hay kesayangan Kakak," sapa Echa yang baru saja tiba.


Si kembar hanya menengok ke arah Echa namun, masih betah memeluk tubuh Ayanda.


"Jidat kalian kenapa?"


"Biasalah," jawab Gio sambil menunjuk pedang-pedangan di lantai.


"Dasar bocah bandel," cibir Radit.


"Om Iyek," pekik si kembar.


Semua orang pun tertawa, si kembar dan juga Riana sangat tidak suka kepada Radit. Menurut mereka, Radit telah mengambil Echa dari mereka. Sehingga mereka tidak bisa bermain bersama Echa.


"Sini Kakak obatin lukanya," ucap Echa yang sudah membawa P3K.


Si kembar pun menuruti perintah Echa dan duduk di depan Echa. Dengan telaten Echa menyeka keringat si kembar dan membersihkan darah di kening mereka berdua.


"Jangan nangis, nanti Om iyek jahit mau?" ancam Echa. Si kembar pun menggeleng dengan cepat. Yang si kembar tahu Radit adalah seorang dokter. Jadi, sangat mudah untuk membohongi si kembar.


"Sudah beres, sekarang kalian tidur ya. Udah malam." Si kembar pun mengangguk patuh.


"Minta maaf dulu sama Mommy dan Daddy," titahnya.


Si kembar pun menghampiri sang Daddy dan duduk di pangkuannya. "Maaf Daddy," ucap si kembar berbarengan.


"Kalo kalian nakal lagi akan Daddy hukum, gak boleh main bola lagi," ancam Gio.


"Kami tidak akan nakal," ucap mereka sambil mengangkat kedua jari mereka masing-masing membentuk huruf v.


Mereka beralih kepada Ayanda dan memeluk tubuh Ayanda dengan begitu eratnya. "Maaf Mommy," ucap mereka.


"Mau nakal lagi?" Si kembar pun menggeleng.


"Hukumannya, kalian tidur sendiri di kamar. Tidak ada dongeng malam ini," tegas Ayanda.


"Baik Mommy," sahut si kembar.


Begitulah cara mendidik si kembar yang sering sekali membuat kedua orangtuanya pusing. Tiada hari tanpa bertengkar. Padahal mainan sudah masing-masing.


"Dak Bun, Li ini tata," ucap Riana sambil menangis.


"Bang, gimana ini?" tanya Amanda.


"Udah jam sebelas Yang, Echa pasti udah tidur." Rion mencoba menghubungi Echa namun, tak diangkat.


"Ayah, temput tata." Rengek Riana. Sudah dua jam Riana menangis tak mau henti.


Rion pun akhirnya menyerah. "Oke, Ayah jemput Kakak. Tapi, kalo Kakak sudah tidur Ri juga harus tidur. Kasihan Kakak." Riana pun mengangguk.


Rion melajukan mobilnya menuju kediaman Gio. Benar saja, lampu di rumah Gio sudah padam. Sudah dipastikan semua penghuni rumah sudah terlelap.


Rion mengambil ponselnya dan menghubungi Gio. Sudah panggilan kedua namun, tidak ada jawaban dari Gio.


Di panggilan kelima barulah Gio menjawab panggilan dari Rion.


"Teleponnya ntar. Udah diujung." Sambungan telepon pun diakhiri oleh Gio.


"Kam pret!" Umpatan demi umpatan keluar dari mulut Rion. Dia pun harus sabar menunggu Gio hingga Gio menyelesaikan tugasnya. Setengah jam berselang, Rion kembali menghubungi Gio.


"Apaan?"


"Keluarnya udah?"


"Gak guna lu."


"Bukain pintu."


"Ngapain lu malam-malam di rumah gua."


"Cepetan woiy."


Tak lama kemudian Gio membukakan pintu untuk Rion. Dengan tak sopannya Rion langsung masuk ke rumah Gio dan naik ke lantai dua.


Gio hanya berdecak kesal dan terus mengikuti langkah Rion. "Ngapain ke kamar anak gua?" tanya Gio heran.


"Anak gua ini, anak lu mah si kembar," sahut Rion.


Ingin rasanya Gio menimpali ucapan Rion, namun putrinya sedang tertidur pulas.


"Dek," ucap lembut sang Papa.


"Hm, Echa ngantuk Yah," sahut Echa yang kini semakin menaikkan selimutnya.


"Dek, tidur di rumah Ayah yuk. Riana nangis terus ingin tidur sama kamu."


"Echa cape banget itu," imbuh Gio.


Rion pun hanya menghela napas kasar. "Dek, yuk," ajak Rion.


Dengan mata yang masih menutup Echa membuka selimutnya. "Punya Adek tiga-tiganya pengganggu semua," gerutunya.


Echa pun mengikuti Rion dengan merangkul lengannya. Matanya masih sangat mengantuk.


"Bawa mobilnya hati-hati," ujar Gio.


"Ya," sahut Rion yang sudah meninggalkan kediaman Gio.


Inilah Echa yang terus mengorbankan apapun demi ketiga adiknya. Meskipun lelah dan ngantuk tak dia hiraukan. Yang terpenting dia bisa membuat adik-adiknya bahagia.


Jam setengah satu, Rion baru tiba di kediamannya. Riana sudah terlelap di gendongan Amanda.


"Maaf ya, Kak," ucap Amanda.


"Gak apa-apa Bun," sahut Echa sambil menguap.


"Riana mau tidur di mana? Echa udah ngantuk banget ini." Amanda pun membawa Echa ke kamar Riana. Echa berbaring di kasur Riana dengan Riana berada di sampingnya.


Rion dan Amanda melengkungkan senyum ketika melihat kedua putrinya terlelap dengan damainya.


Pagi hari, tubuh Echa sudah diguncang-guncang oleh Arya. "Bangun dong Cha," kata Arya.


"Izinkan Echa tidur dulu." Dia semakin membungkus tubuhnya dengan selimut.


"Cha, bangun dong. Temenin Kak Beby dia sendiri aja di rumah," kata Arya.


"Kan ada Tante Arin sama Oma, Om."


"Mereka pulang ke rumah utama, Cha. Om harus ke Bogor sekarang sama Ayah kamu. Please." Arya memohon kepada Echa.


Mendengar ucapan Om kesayangannya seperti itu dia pun tidak tega. Akhirnya dia duduk dan menatap Arya. "Echa mau tas," pintanya.


"Iya, pasti Om beliin."


Echa pun turun dari tempat tidur langsung menuju kamar mandi. Dia hanya mencuci muka dan menyikat gigi.


"Ayo," ajak Echa.


Arya hanya melongo melihatnya. "Lu gak mandi?"


"Gak mandi juga tetap cantik kok, Om. Bating ke rumah Om doang, selang dua rumah dari ruang Ayah," ocehnya.


"Rion, lihat tuh anak perawan lu," ucapnya pada Rion yang sedang menyesap kopi.


"Anak perawan gua mah meskipun gak mandi banyak yang ngantri."


"Anak sama bapak sama aja," dengus Arya.


Echa pun menuju rumah Arya, rumahnya masih sepi karena sudah dipastikan si ibu hamil itu belum bangun.


"Hamil gak hamil tetep aja bangun siang," oceh Echa.


Echa membaringkan tubuhnya di sofa panjang di ruang tv sambil menyalakan tv. Bukan Echa yang menonton tv tapi tv-lah yang menonton Echa.


"Cha, bangun Cha," kata Beby sambil menggoyang-goyangkan tubuh Echa.


"Apa sih Kak."


"Kakak laper," imbuhnya.


"Kan ada Mbok Sum."


"Gak ada, si Mbok lagi ke pasar," jawab Beby.


Echa pun terpaksa bangun dari pembaringannya. "Mau makan apa? Biar Echa pesenin." Beby pun menggeleng.


"Kakak ingin makan mie goreng."


"Ck, mie goreng doang." Echa bangkit dari duduknya namun, tangannya dicekal oleh Beby.


"Tapi harus persis sama yang dibungkusnya."


"Hah?" Echa hanya bisa menepuk jidatnya. Permintaan ibu hamil ini ada-ada saja.


"Di kulkas sepertinya cuma ada cumi, gak apa-apa pake cumi juga," kata Beby.


"Atuhlah Kak, itu gimana cara masaknya. Echa cuma bisa rebus mie sama telor doang," sahut Echa.


"Gak mau tau, pokoknya harus mirip. Kalo gak mirip kamu harus habisin mienya terus bikin lagi."


"Astaghfirullah, niat banget sih Kak Beby ngerjain Echanya ...."


***


Up langsung baca jangan ditimbun-timbun.