
Echa tiba di rumah disambut ketiga anak-anaknya yang sudah cantik. Mata Echa memicing ketika melihat rambut sang anak.
"Ini satu," tunjuknya pada Aleena.
"Ini dua," tunjuknya pada Aleesa.
"Ini tiga," tunjuknya pada Aleeya.
"Biar Ayah gak keder. Sengaja Ayah kuncir begitu." Radit terkekeh geli mendengar jawaban sang mertua.
"Kenapa keder? Udah ketauan yang mukanya beda sendiri itu Aleena. Yang super aktif itu Aleeya. Dan Aleesa dia yang paling datar mukanya," jelas Radit.
"Lah kamu bapaknya bisa bedain. Ayah kan cuma Kakeknya," sahut Rion.
"Ya udah gak usah debat. Makasih udah jagain si kembar untuk hari ini," ucap Echa tulus.
"Gak perlu berterimakasih. Itu sudah kewajiban Ayah untuk menjaga kamu dan juga anak-anak kamu." Terharu, itulah yang Echa rasakan. Echa segera memeluk tubuh sang Ayah diikuti si kembar.
"Baba gak dipeluk?" tanya Radit.
Ketiga anak Radit seperti anak bebek berlari kecil beriringan memeluk tubuh sang ayah. "Yup yu Baba," ucap mereka bertiga.
Tidak ada kebahagiaan selain melihat Echa dan Ayahnya bahagia. Kesendirian tidak selamanya menyakitkan. Pasti ada penawar dari rasa sedih dan sakit itu.
Malam ini, Kano dan Sheza mengadakan acara makan malam dadakan. Hanya Rion yang sendiri, maksudnya statusnya duda. Sedangkan para sahabatnya datang bersama anak dan istri mereka.
Rion tersenyum tipis ketika melihat kemesraan yang para sahabatnya tunjukkan. Sedangkan dia masih sibuk dengan ketiga cucunya yang selalu menghangatkan hatinya.
"Ayah ingin seperti mereka?" ucap Riana yang sudah duduk di samping sang ayah sambil memangku Aleena.
"Tidak, Ayah sudah bahagia bersama kalian," jawab Rion memamerkan senyumannya.
Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya yang Rion rasakan. Cinta anak-anaknya sangatlah besar kepadanya. Meskipun, luka sering dia torehkan untuk ketiga anaknya. Tidak ada kata benci dan marah di hati anak-anak Rion. Hanya cinta dan kasih yang mereka miliki untuk seorang ayah yang sangat luar biasa.
"Ayah sangat bersyukur memiliki anak-anak yang hebat seperti kalian ini. Tetaplah akur dengan saudara kamu. Karena tidak ada tempat yang akan menerima kamu dengan tulus, kecuali keluarga. Seburuk-buruknya kamu, kamu akan tetap mereka rangkul dengan tangan terbuka," ujar Rion. Riana mengangguk pelan. Itulah yang Riana rasakan. Dia pernah melakukan kesalahan, tetapi keluarganya mampu memaafkannya tanpa syarat apapun. Apalagi kakaknya, yang memiliki keikhlasan hati yang luar biasa. Ibu kedua untuk Riana dan Iyan.
"Ayah makan dulu, gih. Biar Echa yang jagain si kembar," ucap Echa yang kini duduk di samping sang ayah. Rion diapit oleh kedua putrinya.
"Ayah tidak lapar," jawabnya singkat sambil terus mendekap hangat tubuh Aleeya yang menjadi anak kucing penurut jika bersama sang engkong.
"Nanti Ayah sakit. Seharian ini kan udah lelah jagain anak-anak Echa," imbuhnya.
"Apa Ayah mau makan di luar? Ayah mau makan steak kesukaan Ayah?" tawar Echa. Rion tersenyum hangat ke arah sang putri sulung.
"Kenapa kamu menjadi wanita pemaksa?" tanyanya.
"Karena Echa gak ingin terjadi sesuatu sama Ayah. Echa dan adik-adik Echa masih membutuhkan Ayah," lirihnya.
Setiap kali melihat wajah Rion, ada rasa takut di hati Echa. Dia takut jika tiba-tiba Tuhan memanggil sang ayah di mana dia belum siap kehilangan sosok yang amat dia sayangi. Rion memeluk tubuh Echa dan menyalurkan ketenangan.
"Ayah akan berusaha terus menemani kamu dan adik-adik kamu. Serta cucu-cucu Ayah." Keharuan pun tercipta. Riana ikut memeluk tubuh sang ayah. Bukan hanya Echa yang merasakan ketakutan. Riana pun merasakan hal yang sama.
Byurr!
"Anak tuyul jatoh ke kolam ...."
...****************...
Mana komen kalian ....