
Pahi harinya suasana hati Gio sedang tak karuhan Remon terus selalu salah di mata Gio. Gio sedang uring-uringan efek ada yang tidak tersalurkan.
"Meeting hari ini akan diadakan setelah makan siang," ucap Remon.
Gio hanya berdehem sebagai jawaban dari ucapan asistennya itu. "Jangan ganggu saya dulu, saya ingin istirahat."
Remon pun pergi meninggalkan ruangan Gio, berada di ruangan atasannya di kala mood Gio sedang tidak bagus terasa seperti uji nyali.
Baru saja menutup pintu, Ayanda menyapanya. "Eh, Bu bos."
"Gio ada?" Mata Remon tak berkedip melihat istri dari bosnya ini. Meskipun sudah memiliki anak tiga tapi kecantikannya sangat luar biasa.
"Mon ...."
"I-iya ada di dalam Bu Bos." Seulas senyum melengkung dari bibir Ayanda membuat Remon tak berdaya. Sedangkan Ayanda masuk ke dalam ruangan suaminya.
Dilihatnya Gio sedang memejamkan matanya sembari duduk di kursi kebesarannya. Perlahan Ayanda mendekati Gio dan mengecup pipi sang suami dari arah pinggir. Mata Gio pun terbuka dan dia langsung merengkuh pinggang Ayanda.
"Kok ke sini? Si kembar?" tanya Gio.
"Lagi sama Mamah, dan aku nitip mereka dulu ke Mamah."
Ayanda mendudukkan diri dengan posisi menyamping di atas pangkuan suaminya. "Maaf."
Gio tersenyum lalu mengecup singkat bibir Ayanda. "Gak apa-apa, Sayang. Daddy tau Mommy juga lelah mengurus si kembar. Walaupun mereka memiliki pengasuh masing-masing tapi mereka ingin bermanjanya sama Mommy-nya."
"Pasti sekarang Daddy lagi pusing, kan. Karena menahannya dari kemarin." Tangan Ayanda sudah mulai nakal melonggarkan dasi suaminya dan membuka kancing kemeja Gio satu per satu.
Tangannya dengan lembut menyentuh dada bidang Gio yang merupakan area sensitif baginya. "Sayang, jangan bangunkan dia yang sedang tidur." Desiran panas menjalar ke seluruh tubuh Gio.
Bukannya berhenti, Ayanda malah memberikan tanda cinta di dada sang suami. Membuat Gio tersenyum bahagia.
"Mommy mau menggoda Daddy?"
"Mommy hanya ingin memuaskan suami Mommy. agar tidak jajan di luar." Gio pun tergelak dan menciumi wajah Ayanda bertubi-tubi.
"Ngapain jajan di luar, jika yang di rumah lebih nikmat."
Ayanda pun tersenyum lalu mencium lembut bibir suaminya. Gio pun semakin merengkuh tubuh istrinya dan memperdalam penyatuan bibir mereka. Ketika oksigen dirasa sedikit menipis, barulah mereka melepaskan pagutan bibir mereka.
Gio mengangkat tubuh istrinya ala bridal dan masuk ke dalam kamar tempatnya beristirahat dikala lelah melanda. "Tunggu sebentar, ya. Daddy kunci pintu dulu."
Gio melongokkan kepalanya dan bibirnya melengkung ketika melihat Remon sedang duduk di depan ruangannya.
"Mon, jangan ganggu saya dulu untuk beberapa jam ini. Jika, ada yang mencari saya, katakan saya tidak ada. Kamu boleh istirahat dulu."
Hati Remon bersorak gembira mendengar ucapan bosnya ini. Dia juga tau apa yang akan dilakukan bosnya di dalam sana bersama istrinya. Apalagi dia mendengar Gio mengunci pintu ruangannya.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Gio yang baru masuk ke dalam kamar private-nya.
"Peluk." Ayanda merentangkan tangannya lalu Gio berhambur memeluknya.
"Pertanyaaan Daddy belum dijawab, loh."
"Makasih sudah jadi Papa dan Daddy yang luar biasa untuk anak-anak kita. Makasih, sudah mau menerima Mommy dengan segala kekurangan dan masa lalu Mommy. I love you."
"I love you more."
Berawal dari pengungkapan rasa cinta masing-masing, berlanjut dengan bibir yang saling berpagut. Dan kemudian ... mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Kegiatan yang tertunda karena terlalu banyak jeda iklannya.
***
"Aku mau ngomong sama kamu," kata Riza yang sudah berdiri di samping Echa. Ekspresi Echa pun datar seakan hatinya mendingin untuk Riza.
Echa pun beranjak dari duduknya namun, lengannya dicekal oleh Dimas. "Makanan kamu abisin dulu," ujarnya.
"Aku bicara dulu sama Riza, Kak."
Mima dan Sasa terus memandangi Echa yang kini menjauhi mereka. Ada sirat kesedihan di mata mereka.
"Ada apa?" tanya Dimas.
Mima dan Sasa menggelengkan kepalanya berbarengan. Cukup mereka bertiga saja yang tahu. Dan hanya Mima dan Sasa yang tahu bagaimana Echa sekarang.
Di belakang sekolah, Riza menatap sinis ke arah Echa. Hanya tatapan datar tak terbaca yang Echa perlihatkan.
"Mau kamu apa, El? Aku itu gak suka kamu dekat-dekat sama Dimas," bentak Riza.
Seakan hati Echa membeku mendengar ucapan dari Riza. Dia hanya diam, tidak menjawab apapun yang dilontarkan Riza.
"Aku tuh pacar kamu, coba hargai aku sedikit saja," sambung Riza.
Cih, hargai dia bilang.
"Aku tuh cemburu El, cemburu," sentaknya.
"Udah ngomongnya?"
"Aku mau kembali lanjutin makan." Echa pun melangkah pergi menjauhi Riza. Namun, tangan Echa dicekal oleh Riza.
"El ...."
"Kamu cemburu, kan. Ya udah," ucap Echa.
"El, kapan sih kamu ngerti aku?" teriak Riza.
"Aku bukanlah cewek yang peka dan pengertian, berbeda dengan cewek manis yang dengan sabar dan lembutnya menyuapi kamu, merangkul mesra tangan kamu dan mencium pipi kamu di tempat umum," jelasnya.
Riza terdiam dan mematung di tempatnya. Mulutnya peluh tidak bisa menjawab apa yang diucapkan oleh Echa.
"Kalo kamu ingin cewek yang selalu mengerti kamu, aku bukanlah orangnya. Aku juga butuh dimengerti," ujar Echa.
"Aku lelah El, lelah ...."
"Orangtua kamu terlalu protektif ke kamu. Selalu melarang kamu ini itu, dan selalu mengawasi kita dari jauh jika kita sedang bersama. Aku ingin kebebasan, El."
Echa tersenyum tipis mendengar ucapan Riza. "Dari awal kamu tahu bagaimana Ayah, Mamah, Papa dan juga Bunda ku. Kenapa baru sekarang kamu merasa keberatan?"
"Aku mencoba bersabar selama ini dengan segala aturan orangtua kamu. Aku mencoba untuk terus memberi perhatian kecil untuk kamu meskipun hanya sikap dingin yang kamu tunjukkan. Dan wajar, jika sekarang aku lelah," terangnya.
Echa menghela napas berat dan menatap wajah Riza dengan intens. "Jika, kedua orangtuaku yang menjadi alasan untuk kamu seperti ini. Aku tidak akan pernah mencegah kamu jika kamu ingin pergi dari aku. Orangtua aku adalah segalanya untuk aku dan hanya mereka yang menyayangi aku dengan tulus."
"Kamu boleh menutupi semua kesalahan mu seolah aku yang berdosa kepada kamu. Aku tidak bodoh, aku hanya tidak ingin membeberkan dosa apa saja yang telah kamu perbuat terhadap ku. Biarkanlah dosa dan aibmu terbongkar dengan sendirinya," ujar Echa.
"Makasih sudah mau bersama ku si cewek dingin ini." Echa langsung meninggalkan Riza yang sedang mematung.
Dengan langkah panjang, Echa menyusuri lorong kelas dengan menahan sesak di dadanya. Rasa sakit yang kini dia rasakan. Namun, Echa harus tetap terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang. Tak terasa bulir bening menetes di pipi mulusnya.
***