Bang Duda

Bang Duda
412. Bonchap Terus dan Terus



"Heran deh gua, kenapa sih lu gak ngebolehin ayah lu kawin lagi. Ayah lu masih muda. Kebutuhan biologis dia juga harus dipenuhi," jelas Arya ketika mereka menikmati makan siang.


"Apa nikah hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis aja?" tanya balik Echa.


Arya pun terdiam mendengar ucapan Echa. Sedangkan Echa menghela napas kasar.


"Kalo cuma tujuan nikah untuk seperti itu, wajar aja kalo gagal terus," cicitnya lagi.


"Ya kalo mau nikah lagi, mau menyalurkan kebutuhan biologis silahkan. Echa yang akan angkat kaki dari sini."


Arya dan Rion hanya diam mendengar jawaban Echa. Jawabannya sungguh sangat dingin dan menusuk.


"Ba, anter Bubu ke supermarket. Stok makanan udah habis. Begitu juga susu si triplets." Radit pun mengangguk patuh. Dan Echa menyudahi makan siangnya yang semakin tidak berselera.


"Iyan tidak perlu kasih sayang seorang ibu, Ayah. Kasih sayang dari Kakak sudahlah cukup," tukas Iyan.


"Wanita yang menyayangi Ayah banyak. Tetapi, yang mau menerima anak-anak dan cucu-cucu Ayah belum tentu ada," pungkas Riana.


"Kenapa Kakak berbicara seperti itu? Karena Kakak pernah merasakan bagaimana sulitnya diterima oleh Bunda pada waktu itu. Di depan Ayah pura-pura baik tetapi di belakang Ayah? Kakak juga gak mau itu terjadi pada Riana dan juga Iyan," terangnya.


"Jangan buat Kakak kecewa, Ayah. Selama ini Kakak banyak tersakiti. Banyak berkorban demi kita. Apa dengan cara seperti ini Ayah membalasnya?"


Lagi-lagi Rion terdiam. Dia tidak bisa bicara apa-apa. Hingga suara pintu diketuk terdengar. Mbak Ina segera membukakan pintu untuk tamu.


"Pak, maaf. Ada yang mau bertemu dengan Bapak. Katanya penjaga toko mainan depan," ujar Mbak Ina. Mata Rion melebar begitu juga Arya yang langsung menggelengkan kepala.


"Udah ditahap janjian," cibir Riana.


"Terserah Ayah lah." Riana pergi meninggalkan ruang makan begitu juga Iyan.


Rion beranjak dari duduknya dan menemui wanita itu. Dengan senyum. ramah dan sopan wanita itu menyapa Rion.


"Permisi, apa dengan Bapak Rion Juanda?" Rion mengangguk.


"Ini ada kiriman mainan. Dan orangnya menyuruh saya untuk membawa langsung ke sini. Tolong ditandatangani," ucap si perempuan itu.


Tanpa banyak bertanya, Rion menandatangani kwitansi tersebut. Pertama kali bertemu dengan perempuan ini hatinya berdebar tak karuhan. Tapi, sekarang berbeda. Hanya kedinginan yang ada di hati Rion.


Echa dan Radit sudah siap berangkat. Dan langkah mereka terhenti ketika melihat sang ayah sedang bersama perempuan yang Echa tahu penjaga toko mainanan.


"Anak-anak kamu tinggal di rumah aja, Dek," imbuh Rion.


Riana dan Iyan juga sudah rapih dengan penampilannya. Membuat Rion mengerutkan dahinya.


"Kalian mau ke mana?" tanya Rion.


"Main, gak mau ganggu orang yang lagi PDKT," ketus Iyan.


Rion benar-benar merasa sendiri sekarang ini. Di mana anak-anaknya memilih pergi darinya. Padahal, dia hanya berbincang sambil menunggu mainan untuk si triplets datang.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Namun, ketiga anaknya masih belum tiba di rumah. Setiap kali Rion menghubungi, tidak pernah ada jawaban dari mereka. Suara deru mesin mobil terdengar. Rion segera keluar rumah. Echa sudah membawa dua tubuh si kembar dan Radit membawa tubuh Aleena karena mereka terlelap.


"Dari mana aja kalian?" tanya Rion.


"Dari rumah Papih dulu, Yah." Rion hanya terdiam melihat putri sulungnya tidak berucap satu patah kata pun. Seakan dia memang sedang marah.


Deru mesin mobil berikutnya terdengar. Rion menyambut kedatangan dua anaknya yang lain dengan tatapan dingin.


"Kenapa pulang malam banget?" sergah Rion.


"Bukankah itu membuat Ayah lebih leluasa mendekati wanita itu," ucap Riana.


"Kami hanya memberi waktu kepada Ayah," jawab Iyan.


Rion menghela napas kasar, lalu memanggil kedua anaknya agar duduk di ruang keluarga.


"Ayah gak akan menikah lagi. Dan perempuan itu juga sudah memiliki kekasih," terang Rion.


"Jangan diemin Ayah seperti ini. Ayah gak memiliki siapapun selain kalian," lirih Rion.


Riana dan Iyan memeluk tubuh sang ayah. "Maafkan Riana, Ayah. Ri, hanya tidak ingin Ayah tersakiti lagi oleh perempuan. Sudah cukup Bunda menorehkan luka di hati, Ayah."


"Maafkan Iyan juga, Yah. Iyan hanya ingin kita hidup bahagia. Meskipun, tanpa seorang ibu Iyan dan Kak Ri bahagia karena memiliki Ayah dan juga Kakak Echa. Iyan, tidak ingin menambah anggota keluarga baru. Cukup kita berempat, ditambah Abang dan juga si kurcaci hidup Iyan sudah sangat bahagia, Ayah."


Rion tersenyum ke arah Iyan dan juga Riana. Dia memeluk erat tubuh kedua anaknya yang sepemikiran dengan Echa. Karena mereka tidak ingin melihat Rion tersakiti oleh perempuan lain.


...****************...


Komen dong .....