Bang Duda

Bang Duda
197. Tidak Sanggup



Ucapan Ayanda terus terngiang-ngiang di kepala Rion. Matanya enggan sekali untuk terpejam. Ada sebuah penyesalan di hatinya.


"Kenapa belum tidur?" tanya Amanda yang terbangun karena Rion terus saja bergerak.


"Aku keinget ucapan Yanda."


"Ucapan apa?" tanya Amanda.


"Tentang Echa." Amanda hanya berdecak kesal.


"Dia sudah besar, tidak perlu kekakanak-kanakan seperti ini lah."


"Siapa yang kekanak-kanakan?" tanya Rion.


"Mantan istri kamu sama anak kamu," jawabnya.


Mata Rion merah menahan amarah, hatinya tidak akan pernah menerima jika ada orang yang menghina anak dan mantan istrinya. Namun, amarahnya dia tahan karena ini sudah larut dan bukan di rumahnya.


Pagi harinya ketika Riana sedang bermain dengan Mbaknya, Rion berbicara empat mata dengan Amanda.


"Kenapa? Mau bahas Echa lagi," ucap Amanda malas.


"Semenjak kehadiran Riana kita sudah tidak pernah memperhatikan Echa, Bun."


"Yah denger Bunda, Echa sudah besar dan Riana lebih membutuhkan kita. Yang terpenting, segala kebutuhan Echa sudah kita penuhi. Dia sudah harus menjadi anak yang mandiri. Tidak selalu menjadikan ini masalah besar."


Ada sepasang telinga yang mendengar percakapan sepasang suami istri ini. Dia hanya menghela napas kasar dan mencoba untuk baik-baik saja.


"Kekanak-kanakan." Echa tersenyum tipis padahal hatinya sangat teriris.


"Siapa yang kekanak-kanakan?" tanya Gio yang sudah membawa si kembar.


Echa hanya menggeleng, Gio menyuruh si kembar untuk bermain bola di rumput dan dia duduk di samping Echa.


"Melihat si kembar seperti melihatmu ketika Papa baru bertemu dengan gadis kecil yang cantik dan juga ceria serta manja."


Echa tersenyum mendengar cerita sang papa. Dia pun memperhatikan si kembar yang sedang asyik bermain.


"Dari kecil kamu selalu ingin terlihat baik-baik saja meskipun banyak luka bekas jatuh di tubuh kamu. Kamu hanya akan menangis ketika malam tiba. Menangis di pelukan Papa karena kamu tidak ingin Mamah tau akan kesakitan mu."


Ucapan Gio membuat dada Echa terasa sesak dan air matanya luruh. Gio memeluk tubuh putrinya.


"Menangis lah dalam pelukan Papa, dan katakanlah apa yang membuat kamu menangis seperti ini," ujar Gio sambil mengusap lembut rambut Echa.


"Pa, apakah diusia Echa ini, Echa sudah tidak memerlukan kasih sayang lagi?" Hati Gio tersentak mendengar pertanyaan Echa. Apa yang dikatakan istrinya benar adanya.


"Bagi Papa kamu tetaplah putri kecil Papa. Papa akan terus memberikan kasih sayang yang berlimpah untuk kamu dan juga si kembar. Nyawa Papa pun akan Papa korbankan untuk kalian."


Tangis Echa pecah, dia memeluk erat tubuh sang Papa. "Makasih Papa," lirihnya.


"Tidak perlu berterimakasih, Sayang. Sudah kewajiban Papa sebagai orangtua untuk memberikan kasih sayang dan cinta yang tulus untuk kamu."


"Papa tau gak? Ketika si kembar lahir. Ada ketakutan di hati Echa."


Gio melepaskan pelukannya dan menatap Echa dengan penuh keingin tahuan.


"Echa takut, Papa gak menyayangi Echa lagi. Echa takut Papa akan membeda-bedakan kasih sayang Papa kepada Echa. Karena si kembar adalah anak kandung Papa, sedangkan Echa ...."


"Dengar Papa, semenjak pertama kali Papa bertemu kamu. Papa sudah jatuh cinta kepada kamu, Sayang. Sudah menganggap kamu seperti anak kandung Papa sendiri. Jadi, jangan berpikiran aneh-aneh. Selamanya Papa akan terus menyayangi kamu."


Echa tersenyum ke arah Gio. "Echa sangat beruntung memiliki Papa sambung seperti Papa. Kasih sayang Papa tidak pernah berubah. Meskipun sudah ada si kembar, Papa dan Mamah selalu memberikan kasih sayang yang sangat besar untuk Echa. Love you." Echa memeluk tubuh Gio, hati Gio sangat amat teriris mendengar ucapan putrinya ini.


Kenapa ini harus terjadi lagi sama kamu, Sayang? Papa kira kamu akan mendapat kasih sayang yang besar dari ayah kandungmu. Tapi, malah ini yang kamu rasakan. Andaikan Papa adalah ayah kandungmu, tidak akan pernah Papa sia-siakan putri cantik seperti kamu.


Dari kejauhan Rion menatap sedih ke arah Gio dan Echa yang sedang berpelukan. Mengingatkannya ketika Echa yang selalu bercerita kepadanya.


"Ban mu peyuk tata."


"Ade pun." Si kembar berlari dan memeluk tubuh Kakak dan Daddy-nya.


"Kalian sayang Kakak?"


"Yes Dad," jawab Ghassan.


"Adek?"


"Mol."


Echa memeluk erat tubuh si kembar dan mencium pipi tembem mereka. Berada dengan Mamah dan Papanya dia sangat merasakan kasih sayang yang sangat luar biasa. Berbeda jika dia berada di rumah Rion dan juga Amanda.


"Udah yuk mainnya, kita mandi terus jalan-jalan." Si kembar pun menuruti perintah Daddy-nya. Kini, tinggal Echa berada di sana seorang diri. Kesendiriannya membuat Echa merasa lebih tenang.


"Dek." Suara sang ayah mengusik kekecewaan yang ada.


Echa tersenyum ke arah Rion, senyum yang sarat akan luka.


"Maafkan Ayah," ucap Rion.


"Ayah salah apa?" tanya Echa.


"Karena Ayah ...."


"Ayah," panggil Riana yang sedang digendong oleh Amanda dan menghampiri Rion dan juga Echa.


"Ini loh anak kamu dari tadi nyariin juga," ujar Amanda.


Riana langsung memeluk tubuh Ayahnya dan bersikap judes kepada Echa. "Ini Ayah Li," kata Riana.


"Itu juga Ayah aku. Tapi, kalo kamu mau, ambil saja Ayah aku. Aku masih punya Papa yang lebih sayang sama aku dibanding Ayah kamu."


Rion melebarkan matanya ketika mendengar ucapan Echa. "Echa," bentak Amanda.


"Kamu gak ada sopan-sopannya sama Ayah kamu," sentaknya lagi. Rion hanya diam, hatinya sangat sakit. Ini bukan salah Echa tapi, memang salah dirinya sendiri.


"Apa selama ini Echa pernah tidak sopan sama Ayah? Apa selama ini Echa menuntut banyak kepada Ayah? Apa selama ini Echa ingin menguasai Ayah?" teriaknya.


"Echa juga anak Ayah bukan hanya Riana. Sudah seharusnya Echa mendapatkan kasih sayang yang sama seperti Riana. Tapi nyatanya? Permintaan kecil Echa saja Bunda bilang Echa kekanak-kanakan. Bunda bilang, selama Ayah memenuhi kebutuhan Echa itu sudah lebih dari cukup. Apa kebahagiaan bisa dibeli dengan uang?" Air mata Echa pun luruh. Pertahannya roboh.


"Apa salah, seorang anak meminta kasih sayang kepada ayah kandungnya? Apa salah jika Echa iri kepada Riana? Karena Riana selalu diprioritaskan sedangkan Echa diabaikan. APA ECHA SALAH?


"Bunda tidak tahu bagaimana Echa seusia Riana. Bunda tidak tahu betapa sedihnya Echa tidak mendapatkan belaian hangat seorang ayah. Bunda tidak pernah tau bagaimana menderitanya Echa seusia Riana. BUNDA GAK PERNAH TAU."


Baru kali ini Echa meluaPkan semuanya. Meluapkan seluruh isi hatinya. Kesedihannya sudah melebihi batas.


"Ayah, mau bagaimana pun Ayah tetaplah Ayah kandung Echa. Mulai sekarang, anggaplah Echa sudah tiada. Echa tidak akan mengganggu keluarga Ayah lagi. Semoga Ayah bahagia selalu." Echa pun meninggalkan Ron dan juga Amanda yang masih mematung di tempatnya. Sedangkan Riana sudah menangis keras.


Echa berlari ke kamarnya dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Ayanda yang sedari tadi berada tak jauh dari mereka hanya bisa menahan sesak di dadanya.


"Izinkan Echa selamanya tinggal bersamaku dan juga Gio. Jangan pernah mengganggu putriku lagi. Sudah banyak kesedihan yang dia dapat dari kalian." Ayanda meninggalkan sepasang suami-istri ini. Air mata Rion tumpah. Sakit sangat sakit yang dia rasakan.


Dia melepaskan Riana dan mengejar putrinya ke kamar atas. Namun, kamar Echa dikunci dari dalam.


Gio menghampiri Rion yang sudah berlinang air mata. "Lu ayah kandungnya, harusnya lu yang lebih menyayangi putri lu dari pada gua."


Seharian ini Echa tidak keluar kamarnya. Namun, Gio selalu memantau putrinya melalu CCTV yang dipasang di kamarnya.


"Apa Echa baik-baik saja?" tanya Azka yang kini berada di ruang kerja Giondra.


"Semoga saja."


"Terlalu banyak beban yang dia pikul sendiri. Dia anak yang kuat, tapi hari ini kekuatannya kalah dengan kesedihan yang sangat besar yang selalu dia pendam sendiri," ucap Azka.


"Dia hanya ingin menuntut kasih sayang. Tapi, kasih sayang yang tidak seimbang membuatnya kecewa. Terlebih dia sangat mendambakan kasih sayang dari ayahnya. Yang tidak dia terima sejak dia lahir hingga dia berusia lima tahun."


"Mungkin jika aku jadi Echa aku gak akan sekuat dia," imbuh Azka.


Makan malam pun tiba, semuanya sudah berada di meja makan. Hanya tinggal menunggu Echa. Dengan wajah yang sembab, Echa turun dari kamarnya. Untung saja, hari ini Genta Wiguna sedang tidak ada di rumah.


Mereka makan dalam keadaan hening tidak ada yang berbicara satu pun. Rion terus menatap putrinya dengan perasaan sangat sedih. Dan Amanda hanya menunduk.


"Tata, nanis agi?" tanya Ghassan.


Semua mata tertuju pada Echa dan si Abang. Gatthan turun dari kursinya dan berlari ke ruangan depan. Semua orang menatap heran ke arah Gatthan. Tak lama dia berlari ke arah meja makan dengan membawa beberapa lembar tissue.


Gatthan mendekat ke arah Echa dan menghapus wajah Echa yang sendu. "Ade da cuta tata nanis." Echa memeluk erat tubuh si kembar dengan rasa haru.


Ayanda menghampiri ketiga anaknya lalu memeluk erat tubuh mereka. "Kalian adalah kebahagiaan Mommy. Mommy bangga kalian seperti ini, saling menyayangi."


Echa terlebih dahulu menyudahi makan malamnya. Tidak ada selera untuknya menikmati makanan. Liburan yang seharusnya menyenangkan malah menyedihkan.


Echa melangkahkan kakinya menuju kamar Gio dan juga Ayanda. Tekadnya sudah bulat. "Ada apa, Kak?" tanya Ayanda.


Echa duduk diantara Mamah dan Papanya. "Pa, Mah, Echa ingin menghabiskan waktu liburan Echa di Jogja bareng Om Andri," ujarnya.


"Kenapa Sayang?" tanya Gio.


"Echa ingin melupakan kesedihan hari ini. Echa ingin memulai hidup Echa yang baru."


Hati Ayanda seperti dihantam pisau yang sangat tajam. Sedangkan Gio hanya tersenyum mendengarnya.


"Pergilah, ketika hatimu sudah sembuh Papa akan menjemputmu." Echa memeluk tubuh Papanya dengan air mata yang sudah ingin menetes.


"Kapan kamu akan berangkat?" tanya Ayanda.


"Echa ingin malam ini juga," imbuhnya.


"Baiklah, akan Papa atur penerbangan mu sekarang juga."


Hanya berada di tengah-tengah Papa dan Mamahnya lah Echa merasa menjadi anak yang berharga.


Gio mengantarkan Echa ke Bandara. Di sana sudah ada pesawat pribadi milik keluarga Wiguna. Dan di dalam pesawat ada dua pengawal yang khusus menjaga Echa selama di Jogja.


"Hati-hati, Sayang. Kabari Papa kalo sudah sampai Jogja."


Echa mengangguk pelan dan memeluk tubuh Papanya. "Thank you for everything."


"Obati lah lukamu, kembali lah dengan kebahagiaan."


Pukul sebelas malam waktu Singapura Echa terbang ke Jogja. Dia ingin melepaskan semua kesedihan yang ada dan ingin menata hidupnya. Dia memutuskan untuk tinggal bersama Mamah dan Papanya dan tidak akan pernah kembali ke rumah ayahnya.


Rasa kecewa Echa sudah sangat besar. Dia memberontak, dia berteriak karena sudah sangat lama dia memendam sedihnya seorang diri.


Keesokan harinya Genta Wiguna menanyakan keberadaan Echa yang tidak terlihat sedari pagi. "Echa berangkat ke Jogja, Yah." Jawaban dari Gio membuat semua orang terkejut, terlebih Rion


"Kenapa? Ada apa dengan cucu Ayah?" tanyanya.


"Biarkan Echa menyembuhkan kekecewaannya, Yah. Dia juga harus bahagia," ujar Ayanda dengan suara beratnya.


Genta menghela napas kasar. "Jika kalian memilih pasangan yang sudah terlebih dahulu menikah dan memiliki anak. Sayangilah anaknya terlebih dahulu. Ketika Tuhan memberikan kepercayaan kepada kalian untuk memiliki momongan dengan pasangan kalian, jangan pernah lupakan anak kalian yang pertama. Jangan buang dia. Dia juga memiliki hati, bibirnya bisa tersenyum tapi hatinya bisa saja menangis keras."


"Ingatlah, tidak ada kata mantan untuk seorang anak. Darah kalian mengalir pada tubuh anak yang tidak berdosa itu." Genta bangkit dari duduknya meninggalkan semua orang.


"Mungkin rasa kecewa ku ini tidak sebanding dengan rasa kecewa putriku," ujar Ayanda yang menatap tajam ke arah Rion dan juga Amanda. Dia sudah berdiri dan hendak pergi.


Liburan mereka kacau dan gagal. Kepergian Echa membuat rumah ini tidak berwarna. Hanya kesunyian yang ada. Rion masuk ke dalam kamar Echa. Terpajang rapi foto Echa sewaktu dia kecil hingga dia besar. Betapa Genta sangat menyayanginya. Sedangkan dia, ayah kandungnya sendiri malah acuh kepada Echa.


"Maafkan Ayah, Dek," ucapnya sambil menatap foto Echa di meja belajarnya.


Ada secarik kertas yang bertuliskan Dear : Ayah.


Ayah ...


Maafkan Echa, Echa adalah putri Ayah yang durhaka. Terimakasih sudah kembali ke hidup Echa. Terimakasih sudah memberikan kasih sayang kepada Echa. Terimakasih ...


Ketika Ayah membaca surat ini, berarti Ayah sudah menganggap Echa tiada. Echa sudah pergi, Echa tidak akan kembali lagi ke rumah Ayah. Tidak akan mengadu kepada Ayah. Dan tidak akan bermanja lagi kepada Ayah. Dan Echa tidak akan merepotkan Ayah lagi.


Benar kata istri Ayah, Echa memang kekanak-kanakan. Karena Echa memang tidak pernah merasakan masa kanak-kanak seperti Riana. Echa tidak tahu rasanya digendong Ayah, dipeluk Ayah, dicium Ayah. Echa tidak tahu. Yang Echa tahu hanyalah tersenyum dan terus tersenyum. Padahal dalam hati Echa, Echa menangis sangat keras.


Echa pergi karena Echa tidak ingin menjadi benalu untuk keluarga kecil Ayah. Echa tidak ingin merusak kebahagiaan Ayah, dan Echa tidak ingin melihat Riana seperti Echa dulu.


Tuhan telah memberikan tempat yang nyaman untuk Echa. Berada dalam keluarga Mamah, Echa merasa lebih berharga. Echa diperlakukan layaknya anak pada umumnya yang diberikan kasih sayang penuh oleh orangtuanya. Karena kebahagiaan yang sesungguhnya tidak bisa dibeli dengan uang.


Semua Echa lakukan untuk Ayah dan juga diri Echa sendiri. Ada kalanya Echa lelah. Dan inilah saatnya Echa menyerah. Echa akan menata ulang hidup Echa dengan Mamah dan Papah tanpa Ayah. Sampai kapanpun, Ayah tetaplah ayah kandung Echa. Darah Ayah mengalir pada tubuh Echa.


...I Love You, Ayah....


...Don't miss me....


Tubuh Rion lemas seketika, air matanya terus berjatuhan. Dia memeluk surat itu. Surat dengan sebuah foto, foto ketika Rion menggendong Echa sewaktu Echa berusia 5 tahun. Di belakang foto tersebut bertuliskan, hanya sebuah kenangan.


"Maafkan Ayah, Dek," lirihnya.


Di Jogja.


Andri menatap Echa dengan rasa iba. Mendengar cerita Echa membuat hatinya pedih. Dia saja yang mendengarnya pilu apalagi Echa yang merasakannya.


"Cha ...."


"Aku tidak apa-apa, Om. Aku pasti bisa melewatinya," ujarnya.


"Kadang aku selalu bertanya kepada diriku sendiri. Kenapa aku dilahirkan ke dunia ini jika, hanya untuk diabaikan dan dibuang kembali?" lirihnya.


Andri langsung memeluk tubuh Echa. "Sakit Om, rasanya tuh sakit ... banget. Aku juga anaknya, aku juga butuh kasih sayangnya. Aku ingin egois." Echa meluapkan semua isi hatinya dengan bulir air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Inilah titik di mana aku sudah lelah akan semuanya. Sudah lelah menyimpan semua sedih, pilu, luka dan kecewa seorang diri. Hatiku sudah tidak sanggup menampungnya, Om. Aku udah gak sanggup ...."


****


Happy reading ...


Ketika ada notif up langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.