
Ketika Echa mendengar apa yang diobrolkan Dea dengan Vera di sekolah. Echa sudah menghubungi seseorang agar mencari tahu tentang Dea dan juga Vera. Kurang dari lima belas menit, Echa mendapat semua informasi tentang mereka berdua, Dengan cepat, Echa pun menutup segala informasi tentang dirinya. Karena dia meyakini jika, Dea dan Vera akan mencari tahu tentang siapa dirinya.
Setelah Echa tiba di cafe pun, Echa masih terhubung dengan orang suruhannya. Echa mendapt kabar, jika, Dea masih mengikutinya. Dengan santainya Echa duduk di cafe itu dan menunggu Dea datang. Ketika Dea menunjukkan foto dan video tentang kebersamaannya dengan ayahnya, Echa menghubungi media online yang berada di bawah naungan Wiguna Grup agar menolak berita yang diberikan oleh Dea.
Tanpa kedua orangtuanya tahu, ternyata Echa sudah terdaftar di perusahaannya Wiguna Grup dan memiliki jabatan yang tidak main-main. Hanya saja, Genta menyembunyikannya dari kedua orangtua Echa. Nama Echa yang tercantum di sana pun menjadi Elthasya Afani Wiguna. Dengan ada nama keluarga di belakang nama Echa, tidak akan ada yang bisa macam-macam kepada dirinya,
Echa pun ternyata memiliki seorang pengawal berbadan kekar bernama Ronald. Dia yang menjaga Echa dan mengikuti ke mana pun Echa pergi. Memberikan segala informasi yang Echa perlukan. Hanya saja, Ronald tidak pernah menampakkan dirinya. Dia hanya bekerja di belakang layar.
Dea benar-benar marah ketika orang suruhannya tidak menemukan informasi apapun tentang Echa.
"Bodoh!" pekiknya.
"Sepertinya dia bukan orang yang sembarangan," ucap salah satu orang suruhan Dea.
"Jika dia orang biasa, saya tidak akan menyuruh kalian," bentaknya.
Dea menghubungi orang dalam media online, tapi dengan sangat tegas media online itu menolak dengan alasan berita yang Dea berikan hanyalah berita sampah. Dea benar-benar naik pitam.
Keesokan harinya, Dea memberanikan diri mendatangi Amanda di rumahnya. Karena dia tahu, Riana sudah pulang dari rumah sakit.
Mata Amanda memicing ketika melihat Dea sudah duduk manis di sofa ruang tamu rumahnya.
"Mau apa kamu?" tanya Amanda dingin.
Dea hanya tersenyum tipis menjawab pertanyaan Amanda.
"Aku juga tidak ingin berlama-lama bertemu dengan kamu. Aku hanya ingin memperlihatkan foto suamimu dengan wanita lain," lanjutnya.
Amanda tersentak mendengarnya. Dea menyerahkan beberapa lembar foto kepada Amanda.
"Aku kira suamimu setia hanya padamu, ternyata dia memiliki simpanan yang jauh lebih cantik dari istrinya sendiri," ejek Dea.
Lalu, Dea memutar video yang dia tangkap dan memperlihatkan kepada Amanda. Wajah Amanda sangat datar dan sulit diartikan. Membuat Dea tersenyum puas. Kini, keadaanya seimbang. Bukan hanya dia yang tersakiti, tapi Amanda juga pasti sakit hati melihat semua ini.
"Bukan hanya aku yang kalah, istri sahnya pun kalah telak," ledek Dea.
Setelah paus meledak Amanda, Dea pun pergi meninggalkan rumah Rion dengan senyum sangat puas. Sedangkan Amanda tertawa terpingkal-pingkal setelah Dea pergi.
"Bunda kenapa?" tanya Riana.
Amanda pun menghentikan tawanya. "Tidak apa-apa Ri." Riana melanjutkan langkahnya menuju dapur karena dia ingin minum susu cokelat dingin.
"Pelakor otak dangkal," ejeknya seraya tertawa.
Echa sudah ada di kantor Ayahnya. Karena hari ini dia akan menjadi asisten pribadi ayahnya. Hanya saja para karyawan di sana diperingatkan untuk tidak memberikan info apa-apa tentang Echa kepada pihak luar. Mereka hanya diperbolehkan menjawab tidak tahu jika ada yang bertanya perihal Echa.
Jam makan siang tiba, Rion dan Echa keluar secara bersmaan dengan tangan Echa merangkul tangan ayahnya. Dea yang ingin mengantarkan kopi kepada Rion tersulut emosi karena melihat adegan di depannya.
Dengan sedikit berlari, Dea mendekat ke arah Echa yang akan masuk ke dalam mobil. Dea menjenggut rambut Echa dengan sangat keras.
"Aw," teriak Echa.
"Lepas wanita gila," seru Echa.
Rion langsung keluar dari kursi kemudi, dengan kasar dia menarik tangan Dea yang sedang menarik rambut Echa. Dea pun terdorong kebelakang karena tarikan keras dari Rion.
"Beraninya kamu menyentuh dia, saya pastikan tangan kamu tidak akan berfungsi," sentak Rion dengan wajah yang sudah merah padam.
"Sakit," ringis manja Echa.
Rion membelai rambut Echa lalu mengecup ujung kepala Echa. "Kita lanjut makan ya." Echa pun mengangguk pelan. Ayah dan anak ini tidak menghiraukan ada yang sedang menahan amarah di depan mereka.
Echa terus mengusap rambutnya. Sungguh pusing kepalanya mendapat jenggutan dari Dea.
"Tenaga kulit tuh cewek," gerutunya. Rion hanya tertawa mendengar gerutuan dan umpatan demi umpatan yang terlontar dari bibir Echa.
Sesampainya di restoran, tak sengaja Vera bertemu dengan Echa dan juga Rion. Awalnya Vera tidak percaya dengan penglihatannya. Namun, yang dia lihat itu benar adanya.
"Kamu yang jemput anak Pak Gio kemarin, kan?" tanya Vera penasaran. Echa dan Rion hanya saling tatap, Rion menarik tangan Echa untuk menjauhi Vera.
"Dia satu server sama Dea," bisik Rion.
"Echa tahu."
Sambil menikmati makan siang, Rion menceritakan bagaimana toko milik Dea itu berkembang. Dan bagaimana Dea bisa sangat terobsesi kepada Rion.
"Oh, berkembang juga karena modal dari Mamah. Cewek gak tahu diri," umpat Echa kesal.
***
Di sekolah, Aksa dan Aska dihadang oleh Vera. Kedua bocah itu hanya berdecak kesal.
"Kalian tau gak?" tanya Vera.
"GAK!" jawab si kembar berbarengan.
Vera berdecak kesal mendengar sahutan si kembar. Padahal dia belum selesai berbicara.
"Pacar Daddy kamu jalan bareng sama ayah Riana.," ucap Vera seraya tersenyum tipis.
"Oh ya?" ucap Aska seraya menatap Aksa.
"Wow, aku terkejut," sahut Aksa dengan ucapan datar.
Aksa dan Aska pun tertawa. "BODO AMAT!" teriak si kembar di depan wajah Vera. Mereka langsung meninggalkan Vea dengan wajah yang sangat teramat kesal.
"Tante itu bodoh ya," ucap Aska.
"Bukan bodoh lagi, tapi bodoh banget," sahut Aksa seraya tertawa mengejek.
Dua pelakor kurang pengalaman dan ilmu kalah telak oleh anak-anak Rion dan juga Gio. Sekarang yang harus para pelakor itu hadapi bukan Ayanda ataupun Amanda. Tapi. Para putra dan putri dari Amanda dan juga Ayanda. Itu yang lebih sulit.
****
Amanda dan Vera sedang memikirkan cara agar bisa mendapatkan Rion dan juga Gio. Mereka harus menyingkirkan Echa terlebih dahulu. Dari segi wajah pun mereka sudah kalah. Apalagi kepintaran, otak mereka seperti bajaj yang tidak bisa berpikir secara cepat.
"Siapa sebenarnya wanita itu?" Dea benar-benar penasaran.
"Aku tanya Kak Cantika, pasti dia tahu," sahut Vera.
"Dia tidak bisa bermain-main dengan kita," ucap Dea.
Tanpa mereka ketahui, di meja seberang sana ada seseorang yang sedang memperhatikan gerak-gerik mereka dengan tatapan dingin dan mata elangnya. Telinganya memiliki sensor yang tajam, sedangkan tangannya dengan sangat lincah mengetikkan sesuatu di atas layar ponsel.
"Mission success," gumamnya.
****
Happy reading ....