Bang Duda

Bang Duda
65. Penusukan



Satu setengah jam yang lalu ....


Amanda sedang memejamkan matanya, terdengar ada suara ketukan pintu dari luar. Dengan ragu dia membuka pintunya. Seorang kurir makanan mengantarkan pesanannya. Amanda hendak menutup pintu, namanya dipanggil oleh seseorang. Suara yang sangat tidak asing untuk Amanda.


Senyum pun merekah dari bibir Amanda. Sahabatnya yang sudah lama tidak pernah mengirim kabar, kini ada di depannya. Amanda dengan antusias menyambut kedatangan sahabatnya ini. Mereka berbincang seru berdua mengenang masa-masa kuliah mereka. Suara adzan isya sudah berkumandang. Amanda meninggalkan sahabatnya untuk melaksanakan solat terlebih dahulu. Setelah Amanda keluar dari kamar mandi, tangan Amanda ditarik paksa oleh sahabatnya dan dengan keras tubuh Amanda didorong hingga dia terjerembab di atas lantai.


Amanda terkejut ketika sahabatnya itu mengeluarkan cairan yang berbau tajam. Amanda tau, itu cairan apa. Dia berusaha untuk bangkit meskipun pinggangnya sangat teramat sakit. Ketika sahabatnya akan menyiramkan air keras ke wajah Amanda, kaki Amanda terlebih dahulu menendang lutut sahabatnya dengan keras. Hingga cairan itu tumpah tak tersisa. Amanda kira semuanya akan berakhir, ternyata tidak. Masih ada satu botol lagi yang dikeluarkan sahabatnya.


Dengan cepat Amanda menjauhi sahabatnya itu namun, orang itu terus mendekati Amanda dengan senyum liciknya.


"Mau kamu apa?"


"Jauhi Rion," bentaknya pada Amanda.


"Dia suamiku."


"Kamu tidak pantas dengannya. Dia hanya pantas denganku," ucap orang yang sedang membawa cairan dalam botol.


Amanda terus mundur, rasa takut sudah menyelimuti dirinya. Dia hanya bisa berpasrah pada Tuhan dan segala takdir yang sudah Tuhan tetapkan untuknya.


"Wajahmu ini pasti akan rusak jika air ini aku siramkan pada wajahmu." Seringan jahat muncul dari wajah orang itu.


"Tinggalkan Rion," bentaknya.


"Tidak," jawab pelan Amanda yang sudah dibayangi rasa takut.


Dengan sedikit bekal ilmu bela diri, Amanda tahu kapan musuh akan menyerangnya. Sebelum orang di depannya menyerang Amanda meninju perut sahabatnya hingga dia tersungkur. Air keras pun tumpah lagi.


Dengan penuh amarah, sahabat Amanda mengambil pisau buah yang ada di atas meja. Amanda sekarang terpojok.


"Tinggalkan Rion dan jangan pernah datang lagi ke hadapan Enzy," teriaknya.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan suamiku," balasnya dengan sangat tegas.


"Ah ...."


Pisau sudah menusuk perut Amanda di bagian tengah. Sang penusuk pun terkejut dan langsung mencabut pisau yang sudah tertancap beberapa centimeter di perut Amanda. Tangannya gemetar, dan dia pun bergegas meninggalkan Amanda yang sedang meringis kesakitan. Amanda mencoba berjalan untuk mengambil ponselnya. Baru beberapa langkah, mata Amanda mulai gelap dan tubuhnya mulai lemas dan dia pun ambruk di lantai, tak sadarkan diri.


***


"Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja. Kamu yang memancingku," lirih sahabat Amanda yang kini sudah menelungkupkan wajahnya ke atas lututnya.


Dia mengingat kebaikan Amanda terhadapnya ketika dia berada di jeruji besi. Ketika semua orang menjauhinya, hanya Amanda lah yang selalu setia berada di sampingnya. Meskipun Amanda tidak membenarkan perbuatan sahabatnya ini. Orang itu mulai terisak, menyesali perbuatannya.


Dia melakukan ini semua karena telah berhutang budi kepada seseorang yang telah membebaskannya dari bui. Ditambah orang itu sudah menjamin hidupnya sudah hampir sebulan ini. Tanpa sengaja, dia bertemu dengan Enzy mantan kekasih Amanda. Perlahan mereka dekat dan kini merajut asmara.


Sebelumnya, dia melihat Enzy masih memperlakukan Amanda dengan lembut. Membuatnya terbakar cemburu, terlebih orang yang dulu dia sukai dan cintai kini telah menikah dengan Amanda. Rasa cemburu dan rasa kalah muncul di hatinya. Hingga dia menyetujui perintah dari orang baik yang telah membebaskannya dari kamar tahanan.


Di rumah sakit.


Dokter baru saja keluar, dokter mengatakan jika Amanda kehilangan banyak darah. Dan tim medis sedang mencarikan darah yang cocok untuk melakukan transfusi darah. Tubuh Rion semakin lemas seolah tak ada harapan hidup baginya. Baru saja dia mulai mencintai istrinya, tapi istrinya malah terluka seperti ini. Dia berjanji tidak akan memaafkan siapapun yang telah melukai istrinya.


Gio sudah menerima laporan CCTV pihak hotel. Dia pun segera mengeceknya.


"Kurir," gumamnya.


Gio dan Arya meneruskan melihat rekamannya, hingga seorang wanita berhijab datang dan masuk ke kamar Amanda.


"Bentar, gua gak asing sama cewek ini," ujar Gio.


"Kapan dia bebas?" tanya Arya pada Gio.


"Harusnya satu tahun," jawan Gio.


Rasa penasaran dan tidak mau menduga-duga juga, akhirnya Gio menghubungi pengacara yang dulu menangani kasus penusukannya. Ternyata, memang benar dia sudah menerima penangguhan penahanan. Ada yang bersedia menjaminnya.


"Tapi siapa?" gumam Gio.


Tanpa Arya dan Rion tahu, Gio menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu siapa dalang dari semua kejadian ini. Setelah Amanda sadar, eksekusi baru akan berlangsung. Begitulah rencana Gio.


Rion hanya menatap wajah istrinya, transfusinya berhasil. Namun, Amanda belum juga sadarkan diri. Arya kini sudah lega, sikap hangat Rion telah kembali lagi. Setelah sekian lama menjadi pria judes dan pria bodoh. Arya melihat pancaran sayang Rion kepada Amanda sama dengan ketika Rion masih bersama Ayanda.


Arya sudah masuk ke alam mimpi, sedangkan Rion masih terjaga dan terus menggenggam tangan istrinya.


"Sayang, bangun. Abang mohon," lirih Rion. Tak terasa bulir bening pun jatuh ke tangan Amanda.


"Abang sudah mencintaimu, bangunlah Sayang. Kita bangun keluarga yang bahagia. Abang janji tidak akan pernah menyia-nyiakanmu dan akan selalu menjagamu," ucapnya dengan wajah yang tertunduk dalam.


Amanda masih belum sadar tetapi Rion tetap sabar berada di samping istrinya. Rasa kantuk pun kini menyerangnya. Rion pun pada akhirnya menyerah. dan terlelap dengan tangan yang masih menggenggam tangan Amanda.


Rion terbangun dari tidurnya karena ada merasakan sentuhan lembut dari tangan seseorang. Dilihatnya Amanda sedang tersenyum ke arahnya. Saking bahagianya Rion menghujani ciuman di seluruh wajah Amanda.


"Jangan pernah tinggalkan Manda," pintanya dengan suara pelannya.


"Abang gak akan pernah tinggalkan kamu. Kamu istri Abang," balasnya dengan mengecup punggung tangan Amanda.


Paginya, keadaan Amanda sudah tidak selemah semalam. Dengan telaten Rion mengurusi istrinya.


"Bagian mana yang masih sakit?" tanya Rion.


"Tidak ada Abang. Hanya sedikit ngilu di bagian yang ditusuk," jawab Amanda.


"Siapa yang menusuk kamu?" tanya Rion di mode serius.


"Sahabat Manda," jawab Amanda. Dia pun menceritakan kronologi kejadian sampai akhirnya Amanda tak sadarkan diri.


"Abang punya mantan kekasih atau musuh?" tanya Amanda. Hanya dijawab dengan gelengan kepala.


Suara pintu terbuka, Gio dan Ayanda sudah tiba di kamar perawatan Amanda. Mereka pun mengobrol santai. Hingga Gio melontarkan sebuah pertanyaan tentang orang yang menusuk Amanda. Akan tetapi Amanda seakan menutupinya.


Seorang laki-laki tegap masuk ke kamar perawatan. Hanya dijawab dengan anggukan oleh Gio. Semua orang yang berada di sana tak mengerti apa yang sedang dilakukan Gio.


"Apa dia yang telah menusuk mu?" tanya Gio seraya menunjuk ke arah wanita yang baru saja disuruh masuk oleh pengawal berbadan tegap.


"Ayuna," ucap Rion dan juga Ayanda bersamaan.


***


Tebakan kalian benar apa salah??😁


Mau nanya, aku boleh libur up gak sih?? Jawab di kolom komentar ya ....


Jangan lupa like, komen dan juga vote


Happy reading ....