Bang Duda

Bang Duda
Mau Nanya Dong ...



Gimana ya ngomongnya, aku itu ... aku ini ... ada karya baru tapi .... baca dulu aja deh



Sinopsis.


Nesha Permata si gadis riang yang menjadi incaran para murid lelaki di sekolahnya. Hari-harinya selalu dihiasi dengan senyumnya yang sangat manis.


Namun, pertemuannya dengan seseorang misterius membuat Nesha berubah menjadi muram. Nesha yang selalu ceria sekarang seolah menutup dirinya.


Siapa laki-laki misterius itu? Ada kaitan apa antara Nesha dengan laki-laki itu?


****


1. GADIS RIANG


Setiap pagi semua murid laki-laki selalu menunggu kedatangan Nesha anak kelas XI ipa 1. Matanya yang cokelat, kulitnya yang putih dan rambutnya yang lurus berwarna hitam berkilau menambah kesempurnaan seorang Nesha Permata.


Sapaan dari para murid lelaki mulai bertebaran. Nesha hanya membalasnya dengan sebuah senyuman yang sangat manis melebihi manisnya biang gula.


"Happy banget kayaknya kamu," ucap Rara sahabat Nesha.


"Biasa aja," sahutnya.


Nesha dan Rara jika pagi-pagi lebih asyik mengobrol di ruang kelas dari pada harus nongkrong di depan kelas ataupun ke kantin.


"Hari ini kamu kerja?" tanya Rara.


"Iya, aku off hanya hari Jum'at."


"Nes, apa kamu tidak capek? Pulang sekolah harus bekerja di cafe Kak Nugro," tanya Rara.


"Nggak Ra, aku malah senang. Karena aku bisa dapat uang buat bayar kosan aku dan biaya hidup sehari-hari aku," ucapnya.


"Kenapa kamu gak mau tinggal bersama Ayah kamu?" tanya Rara.


Wajah Nesha pun berubah menjadi sedih jika menyangkut sang Ayah. "Tidak, itu bukan rumahku."


Rara pun terperanjat mendengar ucapan dari Nesha. Jelas-jelas rumah itu adalah milik Nesha. Kenapa sekarang Nesha bilang itu bukan miliknya?


Hanya Rara yang tahu bagaimana kehidupan Nesha selama ini. Papanya Rara adalah pengacara terkenal dan selalu membantu keluarga Nesha jika menyangkut masalah hukum. Berkali-kali Rara menawarkan bantuan kepada Nesha, Nesha selalu menolak. Dia selalu beralasan tidak ingin menyusahkan orang lain. Padahal keluarga Rara sudah menganggap Nesha seperti anaknya sendiri.


Setiap jam istirahat sekolah, Nesha hanya akan membeli makanan enak dan mahal jika tanggal muda. Jika, akhir bulan seperti ini dia hanya akan memesan air putih dan juga mie rebus. Itu sudah lebih dari cukup untuknya.


Rara tidak akan pernah tega melihat sahabatnya ini kesusahan. Rara selalu memesan makanan terenak di kantin sekolah dan Rara pun yang akan membayarnya.


Sebenarnya, ayahnya Rara sudah menawarkan Nesha tinggal di rumahnya. Lagi-lagi Nesha menolak. Pandu selaku Papa dari Rara pun ingin memberikan uang bulanan khusus untuk Nesha. Tapi, Nesha tolak juga. Inilah cara satu-satunya agar uang jajan yang diberikan papanya dipakai Nesha Sisanya Rara simpan untuk kebutuhan Nesha, sebagai uang jaga-jaga untuk biaya sekolah Nesha.


Tidak banyak orang yang tahu tentang keadaan Nesha yang sesungguhnya. Karena penampilan Nesha tidak seperti orang tidak punya. Tubuh ideal Nesha dan kulit yang sangat terawat membuat semua orang salah sangka. Padahal kehidupan Nesha tidaklah seberuntung yang lain.


Ketika jam pulang sekolah, Nesha harus buru-buru pulang karena dia harus bekerja di Nugro's cafe. Cafe yang sangat elit dan hanya orang berduit yang bisa masuk ke dalam situ. Dan para murid yang pernah mengikuti Nesha setelah pulang sekolah semakin yakin jika Nesha adalah pemilik Nugro's cafe tersebut.


"Telat lagi," sindir Kia teman Nesha di cafe itu.


"Maaf Kak, tadi motor aku mogok di jalan."


Deheman seorang Nugro Nugraha membuat semua para karyawan terdiam. Termasuk Kia yang sedang mengomel.


"Nes, ganti baju kamu," titah Nugro.


"Iya, Mas."


Perlakuan Nugro terhadap karyawan yang lain dengan Nesha sangatlah berbeda. Sepertinya Nugro memiliki rasa kepada Nesha.


Tugas Nesha hanyalah di dapur, dia tidak diperkenankan untuk melayani tamu. Nugro memiliki alasan tersendiri kenapa dia tidak menempatkan Nesha sebagai pelayan. Jelas-jelas wajah Nesha sangat


membantu untuk didapuk sebagai ambasador cafenya.


Nugro tetaplah Nugro, pria yang sudah matang yang harusnya sudah melepas masa lajang. Namun, dia mencoba mengesampingkan pernikahan. Karena dia berprinsip menikah itu hanya satu kali dan tidak boleh bercerai.


Semenjak kehadiran Nesha, hari-hari Nugro seakan berwarna kembali. Senyumnya terus melengkung disaat Nesha datang. Gadis itu memiliki magnet tersendiri untuknya.


Sedangkan Nesha, tidak terlintas sedikit pun untuknya berpacaran. Sebenarnya sudah banyak laki-laki yang ingin menjadikannya pacar. Tapi, Nesha selalu menolak. Alasan sebenarnya Nesha hanya ingin fokus belajar. Dia bisa bersekolah di SMA bagus seperti itu karena hasil beasiswa. Jika, beasiswanya dicabut sudah dipastikan dia tidak akan pernah bisa membayar biaya bulanan sekolah yang jumlahnya hampir setara dengan gajinya selama satu bulan.


Jam sepuluh malam Nesha melajukan motornya menuju kosan kecil di dalam gang sempit. Hanya di sinilah yang harga kosan murah. Meskipun bisa dikatakan tidak layak tapi, tidak masalah untuk Nesha. Yang terpenting ada tempat untuknya tidur dan belajar.


"Bu, Nesha pulang," ucap Nesha yang sedang menatap foto mendiang sang ibu.


Bibirnya mampu tersenyum, tapi hatinya menangis sangat keras. Menjerit sekencang-kencangnya karena di usianya yang baru menginjak 17 tahun, harus berjuang sendiri di kota yang sangat kejam ini.


"Bu, boleh gak sehari aja Sha mengeluh? Sha lelah Bu. Sha hanya ingin belajar dengan fokus tanpa harus bekerja," lirihnya.


Nesha memeluk hangat foto sang ibu dan memejamkan matanya. Setiap kali dia seperti ini, dia merasa sang ibu sedang mengusap lembut kepalanya dan mengatakan, "kamu anak kuat, Sha. Kamu pasti bisa."


Andaikan Nesha bisa menawar kepada Tuhan tentang kematian, dia pasti akan meminta lebih baik dia yang pergi dari pada dia yang harus ditinggalkan oleh ibunya.


Ketukan pintu di malam hari membuat Nesha sedikit terkejut. Dia hanya menghela napas kasar karena dia tahu siapa yang datang di malam-malam seperti ini.


"Tanda tangan surat itu," ucap kasar pria berperawakan gagah sambil melemparkan beberapa lembar kertas.


"Emang tidak ada waktu lagi? Sekarang sudah malam," imbuh Nesha.


"Waktuku terbuang sia-sia jika harus bertemu dengan kamu. Anak pembawa sial!"


Tanpa membaca isi surat itu, Nesha langsung menandatanganinya. Dia sudah tahu, surat perjanjian yang dibuat oleh sang Ayah tidaklah menguntungkan untuknya.


Dulu dia berharap sedikit saja ayahnya memberikan harta warisan sang ibu, setidaknya untuk bekal dia selama satu bulan. Tapi, sekarang Nesha sudah ikhlas. Dia sudah tidak menginginkan apapun dari harta sang ibu. Harta yang sangat dia jaga sekarang ini adalah foto sang ibu yang selalu ada di kamar kosannya.


Setelah selesai membubuhkan tanda tangan, Nesha memberikan beberapa lembar kertas itu kepada sang Ayah.


"Sha harap, kita tidak akan pernah bertemu lagi," katanya.


"Saya pun tidak sudi melihat wajah kamu," balas sang Ayah dengan membuang ludah di hadapan Nesha.


Setelah Ayahnya pergi, Nesha langsung menutup pintu kosannya dan tubuhnya pun luruh ke lantai. Sudah kering air matanya untuk sang Ayah, sudah terlalu sakit luka yang ditorehkan oleh sang Ayah hingga dia hanya bisa memegang dadanya yang teramat sakit.


"Nasib Sha tidaklah seindah permata Bu, tidak pantas Sha diberi nama Nesha Permata. Sha hanya dipandang seperti kotoran yang menjijikan."


***