
"Jangan-jangan dia kabur?" gumam Rion kembali
Secepat kilat Rion menuju rumah Arya yang tak jauh dari rumahnya. Hanya berbeda tiga rumah saja dari rumahnya.
Tanpa mengetuk pintu, Rion langsung masuk. "Bhas ... Bhas ...."
"Kham pret ya, pagi-pagi dah kayak Tarzan," umpat Arya dengan suara keras.
Dilihatnya dahi Rion sudah bercucuran keringat, Arya pun mengernyitkan dahinya.
"Ngapain lu? Abis lari maraton," omel Arya.
"Bagi minum dulu, gua haus," ucap Rion dengan napas yang tersengal.
"Nyusahin mulu, Luh," geramnya.
Arya berpapasan dengan Beby di dapur. "Pak Rion kenapa? Tumben masih pagi udah datang ke sini?"
"Gak tahu, tuh anak bukannya ngejelasin malah minta minum," gerutu Arya pada Beby.
"Sabar, Ayang. Bagaimana pun dia itu atasan kamu dan sudah memberikan rumah untuk kita," ujar Beby.
"Iya, iya. Aku ini orang sabar yang kesabarannya seluas samudera. Kalo gak sabar mana mungkin aku sanggup berteman hampir 20 tahun dengan manusia modelan kaya dia itu." Beby pun tertawa mendengar ocehan suaminya seperti emak-emak komplek.
"Nih!" Arya memberikan segelas air putih untuk Rion. Dan dalam beberapa tenggukan air di dalam gelas itu habis tak tersisa.
"Ada apaan?"
"Bini gua kabur." Kepanikan muncul lagi di wajah Rion. Sedangkan Arya bersikap santai, tidak terkejut sama sekali.
"Kenapa bisa begitu?" Arya sangat tahu, jika sahabatnya ini pasti bersikap aneh.
"Tengah malam dia minta seblak dan katanya gua harus ke Bandung. Bayangin, coba."
"Mohon maaf, gua bukan hidup di dunia khayalan makanya tidak bisa membayangkan."
"Bhang Sat!!" umpat Rion.
"Baru diminta seblak, Kak Azka lebih parah malah," timpal Beby yang membawakan kopi panas untuk suaminya dan juga Rion.
"Parah gimana?" tanya Rion penasaran.
"Istrinya ingin ayam betutu tapi dia ingin di salah satu restoran yang ada di Bali. Kak Azka pun berangkat ke sana tanpa pernah menolak ataupun bilang nanti. Dia selalu menjadi suami siaga."
"Terus nasib si ayam betutu itu gimana?" Lanjut Rion.
"Pas Kak Azka datang ke restoran itu ternyata tutup. Awalnya Kak Azka akan menunggunya, namun kerjaan Kak Azka sangatlah banyak. Jadi, Kak Azka hanya menyuruh seseorang untuk mengabarkan dia jika restoran itu buka."
"Ketika orang suruhan Kak Azka memberitahu jika restoran itu sudah buka, pada saat itu bertepatan dengan meeting penting untuk kemajuan usaha Kak Azka."
"Kak Azka lebih membatalkan pertemuan penting itu daripada harus membatalkan janji dengan istrinya."
"Alhasil, uang yang sudah ada di depan mata lenyap sudah. Tapi, Kak Azka selalu bilang, "Ini bukan rezeki anak kita, Insha Allah rezekinya digantikan."
"Ya ampun, Yang. Kakak mu benar-benar suami idaman. Gak kayak si Kham pret ini nih, bisanya emosi mulu," ejek Arya.
Rion benar-benar tercengang mendengar cerita Beby tentang Azka. Ternyata dirinya belum layak disebut suami siaga.
"Kamu tau Manda ada di mana?" tanya Arya.
Beby mengangguk pelan. "Dimana?" tanya Rion tak sabar.
"Di rumah Kak Ay."
"Hah? Tadi Mbak Ina bilang dia berangkat subuh dan bawa tas kecil," balas Rion.
"Ya, hari ini ada senam hamil di rumah Kak Ay. Jadi, Kak Sheza sama Kak Manda sekarang ada di sana. Berhubung pelatihnya datang jam 6 pagi jadi otomatis Kak Manda berangkat lebih awal," jelas Beby.
"Makanya kalo bini lagi ngidam tuh turutin," sentak Arya.
"Gak usah khawatir, ngidam Kak Manda pasti diturutin, kok. Hari ini chef di rumah Kak Ay lagi masak masakan khas sunda, request Kak Ay dan juga dua bumil."
"Ya udahlah, gua ke rumah Yanda dulu. Mau nemuin Manda."
Sesampainya di kediaman Gio, Rion disambut oleh beberapa pelayan di sana. Salah satunya pelayan muda yang cantik rupanya dan juga memiliki postur tubuh yang aduhai.
Rion tidak menghiraukannya, dia terus berjalan menuju sebuah ruangan olahraga. Dia tersenyum ketika wajah istrinya sedang mengikuti gerakan pelatih dan wajahnya sudah dibanjiri dengan keringat.
Ada sedikit rasa bersalah di dadanya. Apalagi, mendengar cerita Beby tadi. Ternyata hormon ibu hamil itu tidak menentu. Dan suami harus benar-benar sabar menghadapinya. Bukan hanya dia yang mengalaminya, Azka pun mengalaminya.
"Mas." Panggilan itu membuat Rion menoleh dan tersenyum. Tanpa aba-aba dia mengambil alih si Abang yang sedang Ayanda gendong.
"Dek, maaf ya. Mas sama istri Mas selalu ngerepotin kamu," ujar Rion.
Ayanda tersenyum dan duduk di sebuah sofa di samping ruangan itu. "Kita adalah keluarga, Mas. Jadi, harus saling membantu."
"Maafin Mas, Dek. Ketika kamu hamil Echa, Mas gak bisa dampingi kamu. Dan gak pernah memenuhi ngidam kamu," lirihnya.
Lagi-lagi, Ayanda hanya tersenyum. "Gak apa-apa, Mas. Kebetulan anak kita mengerti dan tidak menginginkan hal-hal aneh."
Deheman seseorang membuat Rion sedikit kaku, pasalnya dia takut jika, Giondra mendengar semua ucapan Rion tadi. Dan akan terjadi salah paham.
"Gu-gua cuma ...."
"Santai aja, gua denger semuanya dan gak masalah buat gua. Wajar kalo lu minta maaf ke mantan istri lu atas segala kesalahan yang dulu pernah lu buat," ujar Gio dengan senyuman hangat.
"Makasih, Gi. Udah menggantikan posisi gua untuk Yanda. Dan lu jadi suami yang benar-benar baik untuk wanita yang pernah singgah di hati gua," ungkap Rion.
Ayanda dan Gio hanya tersenyum. Mereka berdua kini menjadi pasangan yang super duper romantis. Apalagi, Gio selalu memanjakan Ayanda. Dan istrinya sangat tidak diperbolehkan masuk ke dapur. Tugas Ayanda hanya mengurus si kembar dengan dibantu dua pengasuhnya dan juga mengurus Giondra, suaminya.
Selain itu, tugas Ayanda hanya menjaga tubuhnya dengan melakukan segala perawatan. Serta menghabiskan uang yang diberikan oleh suaminya.
Tak lama kemudian, Sheza dan juga Amanda selesai melakukan senam hamil. Mata Amanda melebar ketika melihat mata Rion.
"Kita ke bawah duluan, ya," ujar Gio yang tahu ada sedikit bumbu dalam rumah tangga Rion dan juga Amanda.
Rion menghampiri Amanda yang masih mematung di tempatnya. Rion mengambil handuk kecil di tangan Amanda dan mengelap tetesan keringat yang membasahi wajahnya.
"Maafkan Abang, ya. Semalam udah bentak kamu dan juga anak kita." Manik mata Rion menatap intens manik mata Amanda.
"Abang janji, akan menuruti semua keinginan kamu dan anak kita. Tapi, jangan minta yang aneh-aneh karena Abang juga harus mencari uang buat kalian berdua, kesayangan Abang."
Rion mengecup kening Amanda lalu mencium perut Amanda yang sudah sedikit membuncit. "Jangan susahkan Bunda ya, Nak. Harus jadi anak baik. Ayah dan Bunda sayang kamu."
Air mata Amanda mengalir begitu saja mendengar ucapan tulus dari Rion. "Kenapa kamu nangis? Ada yang sakit?" Amanda hanya menggelengkan kepala.
"Makasih, sudah menjadi suami yang baik untuk Manda," lirihnya.
Rion membawa Amanda ke dalam pelukannya. "Kamu tidak perlu berterimakasih, sudah kewajiban Abang menjadi suami yang baik untuk kamu," sahutnya.
****
Makasih banyak yang udah komen dan menginginkan aku untuk tetap stay di Sini. Jika dukungan kalian seperti ini terus, pasti akan susah untukku berpindah rumah. Karyaku bernyawa karena komen kalian, like kalian dan juga ❤️ kalian.
Untuk cerita Echa dan Radit insha Allah akan terbit tanggal 1 Februari 2021 ya .. aku mau namatin cerita Dirga dan Niar dulu. Semoga kalian suka dengan alur ceritanya ...
Oiya, aku baca salah satu komen readers, aku gtw dia komen di part apa karena tidak tertulis di bab berapanya. Pesan aku untuk kalian yang baru aja baca cerita Bang Duda, baca dulu cerita Air Mata Ayanda biar gak keder dan berkata pusing dengan alurnya.
Makasih banyak untuk kalian yang sudah komen di setiap bab yang aku tulis, mau itu komen membangun atau menjatuhkan aku sangat berterima kasih. Apapun komen kalian, aku akan tetap melanjutkan cerita yang telah aku buat ini .
Makasih banyak yang udah suka sama cerita remahan peyek aku ini. I lope you all ...😘😘