
Kalo kalian suka sama karya Bang Duda jadilah pembaca setianya. Jika, ada notif Up langsung baca jangan sampe nimbun-nimbun bab. Itu sangat berpengaruh pada level karya ini. Bantu aku sebagai author remahan untuk bisa mempertahankan level karya ini. Supaya semakin semangat memberikan cerita kepada kalian. Baca setiap bab yang baru terbit di Mangatoon/Noveltoon tidak harus beli koin kan. Cukup dengan membaca rutin setiap bab yang udah UP sama dengan kalian membantu author untuk mendapatkan level karya yang maksimal.
Yang udah setia baca, terimakasih yang belum ayo dong jadi pembaca setia sebelum authornya migrasi ke tempat yang lain.
...****************...
Selama dua hari dirawat, Rion mampu memberikan kasih sayang sepenuhnya untuk putrinya yang sudah beranjak dewasa. Lengkungan senyum selalu Echa tunjukkan kepada ayah tercintanya. Jutaan rasa syukur selalu Rion panjatkan karena putrinya banyak sekali mengubah hidupnya. Dari seorang ayah dan suami yang kejam. Menjadi manusia yang kehilangan arah karena sesungguhnya Rion belum sepenuhnya melupakan Ayanda setelah perpisahannya.
Echa lah yang membuatnya bangkit dari keterpurukan. Echa lah yang memberi lampu hijau untuknya agar menikah kembali. Dan kini, Rion memilki istri atas perjodohan yang mamahnya lakukan. Yang didasari kebohongan agar Rion bangkit dari kesedihan dan meninggalkan wanita yang telah merusakkan rumah tangganya dengan Ayanda dulu.
"Kenapa Ayah senyum-senyum begitu?" tanya Echa heran.
"Wajah kamu sangat mirip Mamah kamu."
"Ya kali muka Echa mirip Mbak Ina. Pan Echa anak Ayah dan Mamah," sahut Echa.
"Siapa tahu waktu di rumah sakit Ayah salah bawa anak," balas Rion santai.
"Emang Echa dilahirin di rumah sakit? Bukannya Echa dilahirin di bidan. Dan yang ngadzanin Echa pun Om Arya."
Sontak Rion pun terdiam. Ucapan Echa membawa Rion berkelana ke masa lalu. Ketika Ayanda memasuki HPL, dia dengan teganya meninggalkan Ayanda seorang diri dengan alasan pekerjaan. Padahal dia berselingkuh dengan mendiang Dinda.
"Maaf."
Satu kata yang terucap dari mulut Rion membuat Echa terperangah. Echa menatap lamat-lamat wajah sang ayah.
"Bukan kepada Echa Ayah harus meminta maaf. Tapi, kepada Mamah. Echa tidak tahu bagaimana menderita dan tersiksanya Mamah pada waktu itu. Jika, Echa tahu Mamah terpaksa menerima ajakan rujuk dari Ayah, sudah pasti Echa akan mengorbankan perasaan Echa. Karena sudah pasti Mamah sudah banyak berkorban dan menangis untuk Echa."
Air mata Echa sudah menganak begitu juga Rion. Wajahnya nampak sekali menyesal. Jika, membicarakan perjuangan seorang Ayanda untuk putrinya, tidak akan habis tujuh hari untuk menceritakan penderitaan yang Ayanda alami.
Begitu juga Rion, jika membahas masa lalu, dia banyak berhutang kebaikan kepada Ayanda. Jutaan maaf tidak akan mampu menebus setiap kesalahan yang Rion lakukan kepada Ayanda.
Apalagi, ketika kondisi Ayanda kemarin kritis. Yang ada dibenak Rion adalah putrinya. Bagiamana putrinya menjalani hidup tanpa sosok Mamahnya? Dan juga dia akan melihat terpuruknya Gio tanpa istrinya. Dan nasib si kembar? Rion belum siap kehilangan Ayanda, wanita yang luar biasa baiknya.
"Dek, ketika kamu mendengar kondisi Mamah kritis, apa yang kamu rasakan?" tanya Rion.
"Dunia Echa hancur, Yah. Tubuh Echa seakan tidak memilki kekuatan untuk berdiri. Hati Echa mati," lirihnya.
"Echa gak tau bagaimana hidup Echa tanpa kehadiran Mamah?" tambahnya.
"Kalian nyawa Echa. Jangan pernah tinggalkan Echa sebelum ada orang yang bisa menyayangi Echa seperti kalian menyayangi Echa," pintanya.
Rion memeluk tubuh Echa datang kini berurai air mata. Permintaan yang sangat sederhana tapi, sulit untuk dijanjikan. Ketika ada pertemuan pasti akan ada perpisahan.
****
Di Jakarta, Riana dan juga Amanda sedang menyiapkan beberapa baju untuk mereka dan juga menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Mereka akan menemui Ayanda dan juga Echa di Bogor. Wajah antusias Riana sangat terlihat jelas. Begitu juga anak kecil yang sedang asyik menyedot botol susu sambil menonton film kartun.
"Bee happy akan ketemu Mommy?"
Beeya yang sedang asyik menonton televisi menatap ke arah Amanda.
"Mommy berdarah," sahutnya dengan wajah yang sedih.
"Mommy sudah tidak berdarah, dan kita akan bertemu dengan Kakak El juga," jelas Amanda.
Mendengar nama Echa membuat wajah sedih Beeya seketika berubah. Beeya malah melompat-lompat di atas tempat tidur.
"Bun, apakah Kakak waktu kecil senakal Beeya?" Kini Riana bersuara.
"Bunda tidak tahu, Ri. Yang tahu Kakak waktu kecil hanya Ayah, Mommy, Daddy serta Papa."
"Bun, kok Ri bingung ya. Ri anak Bunda dan Ayah. Ri punya Kakak, yaitu Kak Echa. Tapi, Kak Echa bukan anak Bunda. Hanya anak Ayah. Dan Bunda selalu bilang, jika Mamahnya Kakak itu adalah Mommy," urai Riana sambil menggaruk-garuk kepalanya pusing.
Amanda pun bingung harus menceritakan dari mana. Karena Riana akan sulit mencerna apa yang dijelaskan oleh Amanda.
"Ayah dan Mommy menikah. Lalu, punya anak Kak El. Ayah dan Mommy pisah, Mommy menikah sama Daddy, punya anak Abang Aksa dan juga Kakak Aska. Terus, Ayah dan Bunda menikah punya anak Kak Ri," jelas Beeya sambil menonton TV seraya tiduran.
Amanda melongo mendengar penjelasan Beeya. Dan Riana pun manggut-manggut mendengar penjelasan dari Beeya.
"Ri, paham," ucap Riana.
"Anak ajaib," puji Amanda sambil menciumi pipi gembul Beeya.
"Bun, kita ke tempat Abang dan Kakak dulu ya," pinta Riana.
Amanda pun hanya menganggukkan kepalanya. Setelah semuanya siap dan perlengkapan Beeya sudah lengkap, mereka menuju ke rumah sakit tempat Aksa dan juga Aska dirawat.
Tibanya di sana, lengkungan senyum terukir dari wajah si kembar ketika melihat bunda dan juga kedua adiknya datang.
"Bun, Abang bosan," adu Aksa.
Sudah hampir seminggu ini mereka berdua berada di rumah sakit.
"Sabar ya, kalian harus sembuh dulu. Baru bisa bertemu dengan Mommy."
"Adek kangen Mommy, ingin peluk Mommy," timpal Aska.
Amanda memeluk tubuh Aksa dan juga Aska bergantian. Ada kesedihan juga yang Amanda rasakan. Ketika Anak-anak Gio hampir dibunuh dan Ayanda hampir meregang nyawa, membuat hatinya sakit. Apalagi, yang mencoba membunuh anak-anak Gio adalah kakaknya sendiri.
Ya Allah, kenapa orang menjahati keluarga baik ini adalah kakakku sendiri?"
Selana dibawa ke psikiater, Amanda belum menjenguk kakaknya. Bukan tanpa alasan, hati Amanda masih kecewa.
"Nda, yang dikatakan Rion tentang pendonor itu benar?" tanya Arya. Amanda hanya mengangguk.
"Lambat laun Andra akan tahu," ujar Arya.
"Tidak ada anak yang akan terus saja diam ketika melihat orangtuanya berada diantara hidup dan mati," sahut Amanda.
Beby dan Arya pun hanya terdiam. Benar apa yang dikatakan oleh Amanda. Apalagi Arya sangat tahu bagaimana sayangnya Echa kepada mamahnya.
"Ya sudah, aku mau ke Bogor mau jenguk Mbak Aya dulu."
Bulir bening membasahi pipi si kembar ketika Amanda menyebut nama Mommy mereka. Selama beberapa hari ini, Beby dan Arya pun merasa kasihan ketika melihat raut wajah Aksa dan Aska yang selalu murung.
"Tinggal dua kali terapi, kalian pasti bisa. Papah janji setelah itu kita langsung menemui Mommy di Bogor."
Secercah harapan Arya berikan kepada si kembar. Bagaimana pun, kedua anak ini memilki ikatan batin yang kuat dengan ibunya.
****
Dan di ruang perawatan Ayanda, Gio tak hentinya memandangi wajah sang istri yang masih belum sepenuhnya pulih. Dia terus menggenggam tangan Ayanda yang kali ini sedang terlelap.
Dia tidak bisa membayangkan, bagaiman hidupnya tanpa sosok yang dia cintai ini. Hidupnya pasti tidak tahu arah, seperti tahun-tahun sebelumnya.
27 tahun yang lalu ...
Suara teriakan dari sang ayah menggema di rumah yang sangat besar itu. Giondra yang baru saja akan terlelap, bergegas keluar kamar begitu juga adiknya, Giandra.
Mereka berdua turun ke lantai bawah dan mereka melihat sang ayah sudah membawa tubuh ibu mereka ke dalam mobil.
Setelah sang ayah pergi dan hanya membawa tubuh ibunya. Gio hanya bisa menenangkan adiknya yang sedari tadi menangis. Usia mereka di kala itu masih 16 tahun.
"Kak, Ibu, Kak," lirih Gia.
Gio yang sebenarnya pun sedih dan rapuh berusaha menjadi kakak yang tegar di hadapan adiknya ini
Keesokan paginya, mereka berdua sedang sarapan sebelum pergi ke sekolah. Sopir yang membawa ayah dan ibunya semalam menjemput Gio dan Gia. Mereka dibawa ke rumah sakit di mana ibunya dirawat.
Tibanya di sana, Gio melihat ke papan ruangan yang berada di atas kepalanya.
"ICU."
Dengan wajah yang sulit diartikan, Gio dan Gia masuk ke dalam ruangan itu. Ibu mereka sedang tersenyum ke arah mereka dengan wajah yang sangat pucat.
"Kakak," panggil sang ibu kepada Gio.
Dengan langkah pendek, Gio menghampiri ibunya. Sedangkan Gja sudah memeluk tubuh ibunya yang terbaring lemah. Gio menatap ke arah Genta, wajah tanpa ekspresi. Gio tahu, ayahnya sedang menutupi kesedihannya.
Bu Githa menggenggam tangan sang putra yang memang sangat tampan. Dia tersenyum ke arah Gio yang menatap sedih ke arahnya.
"Kakak anak yang hebat, Kakak anak yang kuat, dan Kakak adalah anak yang penuh tanggung jawab. Tolong bantu Ibu untuk menjaga adik dan Ayahmu ya, Kak," ucap Bu Githa.
"Kakak akan terus menjaga Ibu, Gia serta Ayah. Kakak akan terus berusaha menjaga kalian," sahut Gio dengan nada datar.
"Kakak tidak perlu lagi menjaga Ibu. Yang perlu Kakak jaga hanya Ayah dan juga Gia."
Hati Gio semakin tak karuhan ketika mendengar ucapan dari ibu tercintanya ini. Ada tetesan air mata yang meluncur begitu saja di wajah Gio.
Begitu pun dengan Genta, dia mendongakkan kepalanya ke atas agar bisa menahan tangisnya.
"Don't cry. Please hug me," pinta Githa.
Gio dan Genta pun mendekat dan memeluk tubuh Gita yang terbaring.
"I will always you all."
Senyuman yang melengkung indah di wajah Githa, menjadi senyuman terakhir untuknya. Perlahan matanya menutup dan napasnya sedikit demi sedikit menghilang.
Hingga Gio tersadar jika tangan Githa yang sedang memeluk Gio pun terlepas. Gio melepaskan pelukannya dan mengarahkan jarinya ke hidung sang ibu.
Matanya melebar, jantungnya seakan berhenti berdetak. Dunianya hancur saat itu juga.
"Ibu!" teriak Gio.
Githa pun menghadap sang Maha Kuasa. Inilah yang menjadi alasan kenapa Gio lebih memilih menjadi seorang dokter daripada harus menjadi pengusaha. Dia ingin menyelamatkan banyak nyawa.
Hati Gio sesak jika harus kembali mengingat hal itu. Kelembutan dan kesabaran Gio terbentuk setelah kepergian ibunya. Karena dia harus menghadapi adiknya dengan penuh kesabaran. Karena Gio tahu, di usia adiknya sangat membutuhkan tempat untuk bercerita dan berkeluh kesah. Biasanya Gia melakukan itu dengan ibunya. Tapi, kali ini Gia sudah kehilangan pendengar setia. Dan Gio berusaha keras untuk menjadi tempat untuk Gua bercerita, Awalnya sulit, tapi seiring berjalannya dengan waktu Gia mau terbuka kepada Gio.
Inilah yang membuat Echa merasa nyaman jika, mengeluarkan keluh kesah kepada Gio. Bukan hanya Echa, Ayanda yang masih berstatus istri Rion dulu pun merasakan kenyamanan jika dekat dengan Gio. Waktu yang merubah sikap keras Gio. Menjadi pria yang berhati luas serta sabar seperti sekarang ini.
Itulah alasannya kenapa Gio selalu bilang, dia akan terus menjaga wanita kesayangannya karena Gio sudah pernah merasakan kehilangan dua wanita kesayangannya di dalam hidupnya. Dan dia tidak ingin hal itu terjadi lagi.
Tuhan telah mengambil Ibu serta adiknya, tapi Tuhan Maha baik. Tuhan menggantinya dengan kehadiran dua wanita yang sangat Gio00 sayangi di hidupnya saat ini. Yaitu Ayanda dan juga Echa.
"Daddy."
Panggilan dari Ayanda mengakhiri bayangan masa lalunya. Gio pun tersenyum ke arah istrinya.
"Mommy mau apa?" tanya Gio.
"Kapan Mommy bisa pulang?"
"Setelah kondisi Mommy membaik," jawabnya.
Teriakan dari bocah kecil kesayangan semua orang membuat Ayanda melengkungkan senyum.
"Bee takut. Hiks," ucap Beeya seraya menangis.
"Mommy tidak apa-apa, Bee."
Beeya ingin memeluk Ayanda namun, tubuhnya diangkat oleh Gio dan dipangkunya.
"Gak boleh peluk Mommy dulu ya. Perut Mommy masih sakit," ujar Gio.
"Darah?"
Gio mengangguk pelan. Beeya pun menangis di dalam pelukan Gio.
"Bee takut Mommy berdarah."
Bayangan menyeramkan ketika Beeya melihat perut sang Mommy berlumuran darah. Dan itu menjadi ketakutan tersendiri untuk Beeya. Gio pun menenangkan Beeya dengan kata-kata yang menyejukkan telinga. Hingga tangis Beeya reda.
"Ri mau nginap temenin Mommy?" tanya Ayanda kepada Riana yang sudah menggenggam tangan Ayanda.
"Ri mau temenin Kakak," sahut Riana dengan wajah berbinar.
"Ri ingin bertemu Kakak Echa, Ri kangen Kakak. Kata Bunda, Kakak juga dirawat di sini," jelas Riana.
Ayanda menatap ke arah Gio dan Gio hanya mengerutkan dahinya. Tak lama, Amanda masuk kembali ke ruangan Ayanda.
"Apa benar Echa dirawat di sini?"
Pertanyaan dari Gio membuat Amanda tersentak. "Tidak, Echa di Bandung," kilah Amanda.
"Bunda, tadi kan Bunda bilang kepada Ri kalo Kakak Echa dirawat dia sini juga. Rumah sakit yang sama dengan Mommy," imbuh Riana.
Amanda merutuki kebodohannya. Ternyata dia salah berbicara dan dia lupa, jika Riana adalah anak yang tidak bisa berbohong jika di hadapan Ayanda dan juga Gio.
Melihat Amanda diam seribu bahasa, Gio menghubungi seseorang. Sepertinya dia menghubungi pihak rumah sakit untuk mencari tahu tentang ruang rawat Echa.
Setelah panggilan berakhir, Gio menurunkan tubuh Beeya dari gendongannya dan dia bergegas ke ruang rawat yang disebutkan oleh pihak rumah sakit tandai.
"Nda," lirih Ayanda.
"Maaf Mbak," sesal Amanda.
Dengan langkah seribu, Gio bergegas menuju lantai tiga rumah sakit. Ya, ternyata Echa dirawat di ruang yang sangat eksklusif atas permintaan Genta.
Tibanya di sana, dia melihat tubuh putrinya yang terbaring lemah. Dengan pelan, Gio membuka kamar perawatan Echa dan di sana sudah ada Rion.
"Kak."
Echa yang lemah pun membuka matanya perlahan. Dilihatnya sang Papa sudah berdiri di depan pintu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa kamu yang mendonorkan darah itu?"
...----------------...
Jika kalian udah bosan sama cerita ini, bilang ya ..