Bang Duda

Bang Duda
349. Wanita Simpanan (Musim Kedua)



Mobil itu terus melaju mengikuti mobil yang di depannya. Tiga puluh menit berselang. Ponselnya berdering menandakan ada pesan masuk.


Matanya melebar ketika dia mendapat video CCTV yang diminta. "Ja-di wanita ini ...."


Tiba-tiba mobil berhenti mendadak. Membuatnya menjeda ucapannya. "Kenapa?"


"Benar dugaan Tuan," ucap sang sopir. Mobil itu masuk ke dalam rumah yang sangat dikenali oleh sang sopir serta majikannya.


Dengan rahang yang mengeras, wajah penuh amarah dia turun dari mobil dengan langkah seperti monster yang akan menghabisi musuhnya. Api kemarahan terlihat jelas ketika dia melihat yang sesungguhnya terjadi. Tanpa permisi, dia masuk ke dalam rumah itu dan melihat dengan langsung pria yang sangat dia kenali sedang memeluk wanita yang dia kenal juga.


Bugh!


Sebuah pukulan mendarat cantik di wajah sang pemilik rumah hingga dia tersungkur.


"Kenapa?" Suara yang sangat pria itu kenali dan dia pasrah ketika tangan si tamu yang marah memukulinya lagi.


"Stop!" teriak Amanda. Amanda ingin membantu pria yang bersamanya dengan wajah sudah bersimbah darah.


"Jangan sentuh dia!" teriak si tamu.


"Maafkan aku, Bang Addhit," sesalnya.


"Apa mau mu Satria?" Amarah Addhitama menggema di rumah mewah tersebut.


"Kamu tahu, siapa dia? Dia ibu sambung menantuku," sentak Addhitama dengan nada tidak terima.


"Tapi, kami saling mencintai," ujar Satria.


"Bullshit! Cinta atau hanya pemuas nafsu belaka?"


Satria pun terdiam begitu juga Amanda. "Apa kurangnya suami Anda? Sehingga dengan tega Anda bermain dengan adik kandung saya?" Sungguh pertanyaan yang membuat Amanda gemetar.


"Dan ini alasannya kamu merubah hak waris dari semua perusahaan yang kamu pegang tanpa sepengetahuanku?" Seperti dihujani timah panas Satria sekarang. Di balik sikap diam Addhitama, dia memiliki mata-mata khusus untuk menyelidiki apa yang menurutnya janggal.


"Aku tidak mempermasalahkan hak waris karena itu milikmu. Yang aku sesali, kenapa harus wanita ini? Apa kamu tahu bagaimana masa lalunya?"


Bibir Satria tercekeat begitu juga Amanda. Takut, khawatir jadi satu.


"Maaf, Bang. Dia menjadi wanita malam karena aku. Aku yang telah membeli keperawanan seharga 1 milyar."


Duar!


Seperti disambar petir di siang bolong. Sungguh Addhitama tidak menyangka memiliki adik yang bejat sama halnya dengan putra pertamanya.


"Sejauh apa hubungan kalian?" Addhitama masih bisa mengontrol emosinya.


"Apa sering kalian bertemu di hotel? Dan kenapa wanita tertutup ini bisa menanggalkan pakaiannya jika bersamamu? Apa kalian ingin membodohi semua orang?"


Mata Satria dan juga Amanda melebar sempurna mendengarnya. Satria tidak menyangka, jika Addhitama mengetahui semuanya.


"Da-dari mana Bang Addhit tahu?" tanya gugup Satria.


"Apa kamu lupa, terakhir kali kita bertemu di mana? Di sebuah hotel bintang lima ketika ulang tahunmu tiba. Dan jam tangan yang kamu pakai adalah hadiah yang aku berikan untukmu. Aku beli satu untukmu dan satu untukku. Karena selera kita sama. Apa sekarang kamu bisa mengingatnya?"


"Tanpa kamu tahu, aku pun menginap di sana. Dan aku melihat, kamu menggandeng wanita seksi dengan dress berwarna hitam dengan belahan dada rendah dan rambut digerai indah. Aku kira pacarmu, ternyata istri orang yang menjadi simpananmu. Apa terbalik? Kamu yang menjadi simpanan wanita itu?" Kalimat terakhir yang terdengar sangat merendahkan harga diri seorang Satria.


"Jangan terus hina dia, Bang," pinta Satria karena tidak tega melihat Amanda sudah terisak.


"Masih mau kamu membela wanita itu? Wanita yang menutup semua kebejatannya dengan sebuah gamis dan hijab suci? Apa wanita seperti itu patut dibela?"


Amanda semakin menunduk mendengar ucapan yang sangat amat menusuk hati.


"Wanita malam yang berniat taubat sesungguhnya tidak akan pernah melakukan hal yang dibenci Tuhannya. Apalagi, bersembunyi di balik topeng kesyar'i-an yang dia kenakan. Hijrah itu dari hati, bukan hanya untuk mengambil hati." Lagi-lagi, ucapan Addhitama menusuk relung hati Amanda.


Deru mesin mobil berdenyit, ada seseorang yang datang ke rumah itu selain Addhitama. Kali ini, keponakan Satria menatap nyalang ke arah Om-nya yang sudah babak belur.


"Kenapa gak Papih kirim Om ke liang lahat?" Sungguh jahat sekali mulut Radit sebagai keponakan. Inilah tanda jika Radit sangat kecewa dengan apa yang telah Omnya lakukan.


Kini, Radit menatap Amanda dengan tatapan membunuh. Dendam dan marah jadi satu. Ada kobaran api di sorot mata Radit.


"Sungguh ibu luar biasa. Ketika anak Anda sakit, bukankah seorang ibu itu harus merawat anaknya. Tapi, kenapa Anda malah asyik bercengkrama dengan Om saya?"


"Belum cukup Anda menyakiti istri saya dulu, sehingga sekarang Anda menyakiti Ayah mertua saya?" Pertanyaan bertubi-tubi yang sangat menyudutkan Amanda.


"Apa mau Anda? Harta Ayah mertua saya? Silahkan ambil! Karena istri dan Ayah mertua saya tidak butuh itu. Saya masih mampu memberikan harta yang berlimpah untuk istri dan Ayah mertua saya." Kesombongan luar biasa yang Radit ucapkan. Memang begitulah faktanya. Kekayaan Radit di atas kekayaan Rion. Jadi, tidak ada rasa takut untuk terkalahkan jika menyangkut kekayaan.


"Apa Anda tahu, istri dan Ayah mertua saya sudah banyak berkorban untuk Anda. Tapi, apa yang Anda berikan kepada mereka? Hanya rasa sakit yang tidak akan pernah ada obatnya. Hanya luka yang akan terus menganga yang tidak akan bisa tertutup dengan sempurna."


"Apa karena Anda telah gagal ingin menguasai harta Ayah mertua saya, jadi Anda berbelok arah kepada Om saya?"


"Cukup Radit! Amanda bukan wanita seperti itu," bentak Satria.


Senyum tipis tersungging di bibir Radit. "Oh ya? Jika, dia bukan wanita penggila harta. Dia tidak akan berpaling ketika Ayah mertua Radit tidak memberikan kebebasan atas semua akses kartu yang dia miliki. Dan sekarang, bukankah Om sudah menukar hak waris perusahaan dengan selangkangann miliknya?"


Ingin rasanya Satria menghajar mulut Radit yang sungguh keterlaluan. Tangannya sudah mengepal keras.


"Asal Om tahu, atas skandal Om dan orang ini (sambil menunjuk Amanad). Istri Radit harus diopname karena terlalu banyak pikiran. Yang terpukul atas tingkah tidak terpuji Om dan dia adalah istri Radit. ISTRI RADIT, OM!"


Baru kali ini, Radit berbicara penuh emosi seperti ini kepada Satria. Rasa marah yang Satria miliki berubah menjadi rasa bersalah yang menyelimuti hati Satria sekarang.


"Maafkan Om."


"Apa hanya dengan kata maaf akan bisa mengubah semuanya? Apa hanya dengan kata maaf akan menjadi obat atas kesakitan dan luka yang istri serta Ayah mertua Radit rasakan? Apa bisa?" bentak Radit.


"Maaf di akhir cerita tidak akan mengubah cerita awal menjadi indah kan," pungkas Radit.


Satria tidak bisa berkutik dengan apa yang telah Radit ucapkan. Tidak ada yang bisa dia sanggah. Pada nyatanya, tindakan yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan besar. Namun, tetap dia lanjutkan karena sebuah kenikmatan.


"Siapkan dirimu dan wanita simpananmu. Aku akan mengadakan persidangan tentang skandalmu dengan semua pihak. Termasuk pihak besanku."


...****************...


Komen banyak UP lagi malam ...