Bang Duda

Bang Duda
66. Muak



Dinda sudah berada di Bandara namun, keberangkatannya dicekal. Padahal di harus terbang sekarang juga ke Jakarta, Erlan kritis.


Sedangkan di rumah sakit Amanda tidak menyangka jika Ayanda dan juga Rion mengenal Ayuna. Sahabatnya yang tega menusuknya dengan sebilah pisau.


"Belum puas kamu mencelakai Ayanda dan juga Gio?" geram Rion dengan wajah yang sudah merah padam.


Ayuna hanya menunduk dalam mendengar kemarahan Rion, dan Amanda hanya menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Maksudnya apa Bang?" tanya Amanda.


"Dia wanita yang sudah mencelaki istriku dan juga menusukku. Dan aku yang mencebloskannya ke dalam penjara," jelas Gio.


"Jadi, orang yang kamu celakai adalah Mbak Ayanda sama Pak Gio. Hingga keluargamu menjauh," tutur Amanda.


"Maafkan aku, Man. Aku gak sengaja menusukmu," ucap Ayuna.


"Terlalu manis ucapan mu itu, dan kamu tidak pantas untuk dimaafkan," sarkas Rion yang sangat begitu marah.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Gio santai dan sekarang sedang memeluk Ayanda.


"Ti-ti-dak ada," kilahnya.


"Baiklah, dalam waktu kurang dalam setengah jam saya pastikan perusahaan ayahmu hancur. Dan ayahmu sudah dipastikan akan menjadi gelandangan," ancam Gio.


"Jangan Pak, saya mohon," pinta Ayuna yang sudah berlutut di kaki Gio.


Ayanda yang masih trauma dengan kelakuan jahat Ayuna, langsung memeluk erat tubuh suaminya.


"Dad," bisik Ayanda. Gio hanya menganggukkan kepalanya.


"Cepatlah mengaku," teriak Rion.


"Aku disuruh Dinda," jawab Ayuna.


"Bohong!" teriak Dinda yang kini sudah masuk ke ruangan Amanda dengan diapit oleh dua orang kekar dan sangar.


"Pintar sekali kamu membual," ucap Dinda kesal.


Gio dan Ayanda hanya menjadi penonton perdebatan dua wanita berhati iblis di depannya. Mereka malah asyik bermesraan. Sedangkan Rion kepalanya sudah mengeluarkan tanduk.


"Mas, mana mungkin aku mencelakai istrimu," ucap sendu Dinda.


Drama apa lagi sih? Muak! batin Amanda.


Gio, Ayanda dan juga Arya hanya berdecak kesal. Sangat muak mendengar ucapan manis Dinda kepada Rion. Dan itulah yang selalu membuat Rion kalah dan menjadi lelaki lemah.


Jurus ampuh kini Dinda keluarkan. Dia menangis seraya memeluk kaki Rion. Dengan ucapan yang terdengar sangat pilu dan sedih dan sangat menyudutkan Ayuna.


"Kembalikan kartu kreditku," ucap Rion.


Dinda mendongakkan kepalanya menatap Rion. "Kembalikan kartu kredit ku," bentak Rion.


"Tidak usah berkilah lagi. Mau kamu apa?" tanya Rion dengan penuh kemarahan. Jurus jitu apapun yang Dinda miliki tidak mempan sekarang.


"Aku hanya menginginkanmu Mas, kamu," lirihnya.


"Jangan mimpi! Aku sudah mencintai Amanda. Kamu hanya seekor anak kucing yang aku pungut dari jalanan. Tapi sekarang, kamu menjadi harimau buas yang tidak tau diuntung," jelas Rion.


Amanda yang mendengar kejujuran hati suaminya hanya bisa tersenyum lega. Perjuangannya tidak sia-sia meskipun sekarang dia harus kena luka tusuk.


"Jahat kamu, Mas," bentak Dinda.


"Kamu bilang aku jahat. Lalu kamu apa? Sadis?" cecar Rion.


"Sekarang kembalikan kartu kredit ku," pinta Rion dengan menarik paksa tas Dinda.


"Silahkan cek, ada gak kartu kreditmu," bentak Dinda.


Rion terus mencari, namun tidak ada. Dompet dan juga tas Dinda sudah dia geledah semua namun, tidak dia temukan kartu kredit miliknya.


"Puas kamu sekarang, Mas. Puas!" teriak Dinda.


"Jelas aja kartu kreditnya gak ada, orang dibuang," ucap Gio santai. Gio membanting kartu kredit di atas meja dengan sangat keras. Membuat semua orang melihat ke arah Gio.


Tangan Gio seolah meminta sesuatu kepada orang yang sangar dan berbadan kekar. Lalu orang suruhan Gio pun memberikan ponsel. Hanya senyum tipis yang Gio tunjukkan.


"Lihat ini!"


Rion dan Arya pun mendekat ke arah Gio. Mereka benar-benar terkejut dengan kejahatan Dinda. Semua orang menatap tajam ke arah Dinda, dia hanya bisa menunduk dalam.


Ponsel Gio berdering, panggilan dari rumah sakit. Dengan sengaja Gio mengaktifkan loudspeaker agar semua orang mendengarnya.


📲 "Maaf Pak Gio, saya mengganggu," ucap seorang dokter di seberang telepon.


📱 "Ada apa, Dok?"


📲 "dokter Erlan sudah menghembuskan nafas terakhirnya lima menit yang lalu," lirihnya.


Tubuh Dinda seketika lemas, air matanya tak mampu dia bendung lagi dan meluncur begitu derasnya. Sudah jatuh tertimpa tangga. Inilah karma yang harus dia terima.


****


Maaf banget, up-nya malam banget🙏


Niatnya gak mau up karena tugas dunia nyataku padat merayap, tapi banyak yang pengen tahu cerita selanjutnya. Akhirnya, up juga.


Harap berikan komen kalian ya, biar ada ide lagi buat bab selanjutnya. Komen kalian kadang jadi ide untuk next episode.


Oiya, aku juga ijin untuk libur sehari tapi itu entah kapan. Yang jelas otakku perlu direparasi dan juga perlu disuntik hiburan.


Happy reading semua ...