
"GANTI IKAN CUPANK GUA, BANGOR!" seru Arya di sambungan telepon.
"Apa maksudnya, Om?" tanya Echa tidak mengerti.
"Uyil jangan!" teriak Arya membuat Echa melebarkan mata.
"Si kembar ada di sana?" tanya Echa.
"Janda bolong gua," lirih Arya.
"Cepetan lu ke sini." Arya segera mengakhiri teleponnya.
"Si kembar ada di mana?" tanya Ayanda.
"Di rumah Om Arya." Mereka semua bisa bernapas lega mendengarnya. Echa dan Radit menuju rumah Arya.
Tibanya di sana, Echa mengerutkan dahinya ketika melihat sang ayah tengah bersantai menyesap kopi.
"Ayah!" seru Echa. Rion menoleh ke asal suara dan bersikap santai sesantainya.
"Kenapa bawa anak-anak Radit gak bilang dulu?" tanya Radit sedikit emosi.
"Lah ngapain, kalian aja belum bangun ketika si kembar bangun," sahut Rion.
Echa mendelik kesal ke arah sang ayah. Semakin hari semakin menyebalkan. "Echa hampir aja lapor polisi," ujarnya.
"Mana bisa? Lapor polisi itu kalo udah 1x24 jam gak pulang," jawab Rion.
"Capek hati ngomong sama Ayah mah," geram Echa. Rion hanya berdecak kesal. "Lagian kenapa kamu ke sini? Bukan siap-siap ke toko pusat," imbuh Rion.
"Ngapain lu pada ngobrol di sini? Tiga piaraan lu tuh tangkap," geram Arya kepada Echa dan Radit. Apalagi melihat Rion yang seakan tuli tidak mendengar keributan yang disebabkan oleh ketiga cucunya.
"Bubu, pussi," ucap Aleena yang hampir mencekik anak kucing peliharaan Beeya.
"Jangan!" pekik Arya yang segera mengambil kucing kesayangan anaknya. Hidung Aleena sudah memerah dan air matanya sudah menganak.
"Wawa ...." Aleena pun menangis membuat Arya menghela napas kasar. Dia merasa bersalah kepada bocah berusia satu tahun ini.
Arya segera memeluk tubuh Aleena sambil menggendong si pussi.
"Uyal gak boleh peluk pussi dengan kencang. Nanti pussinya kesakitan. Nanti Uyal dimarahin Kakak Bee. Uyal mengerti?" Anak pertama Radit dan Echa mengangguk dan berhenti terisak. Arya melengkungkan senyumnya melihat cucu Rion yang mampu mengerti apa yang diucapkan olehnya. Aleena sudah duduk dan memangku pussi sambil dielus dengan tangan mungilnya.
"Eena mau kucing kayak pussi?" Aleena pun mengangguk mendengar pertanyaan sang ayah.
"Nanti kita minta ke Opa, ya." Pukulan dari tangan Arya mendarat sempurna di belakang kepala Radit.
"Orang tua gak bermodal," sungut Arya. Radit dan Echa hanya terkekeh. Sedangkan Rion hanya menggelengkan kepala.
Suara pecahan kaca, membuat semua orang berlari. Kecuali Rion yang menjaga Aleena.
"Crown tail gua," lirih Arya menatap ikan cupanknya yang sudah tergelatak di lantai. Dan ekor-ekor si ikan cupank sedang dicabuti oleh Aleeya sambil tertawa.
"Eeya gak apa-apa?" tanya Echa.
"Funny," sahutnya.
"Lucu dari mana Uyul," sungut Arya.
"Wawa, no angry. Dak boyeh," sahut Aleeya sambil mengibaskan kedua tangannya.
Ibu dari si pussy yang bernama pupus berjalan ke arah mereka. Aleeya berdiri dan memberikan ikan cupank itu kepada si pupus.
"Mam ya," ucap Aleeya sembari tersenyum. Sedangkan Arya terperangah dengan apa yang dilihatnya.
"Delapan juta gua." Tubuh Arya luruh ke lantai, lemas tak berdaya. Belum selesai penderitaannya. Anak kedua Echa sudah berlari kecil dengan membawa ponsel. Namun, tubuhnya terjatuh membuat ponsel itu ikut terjatuh dengan layar ponsel menyentuh lantai.
"Apel digigit gua," lirih Arya kembali.
Radit segera membantu Aleesa dan mengambil ponsel yang ikut terjatuh bersama putri keduanya. Radit memamerkan giginya sambil menunjukkan layar ponsel Arya yang sudah retak parah.
Aleesa menghampiri Arya memberikan ponsel itu kepada Arya.
"Empon," ucap Aleesa dengan wajah yang tidak bersalah.
"Sungguh tragis sekali nasibmu Bhaskara," ejek Rion sambil menggendong Aleena.
"Gak mau tahu, ganti kerugian gua hari ini," pekik Arya.
"Delapan juta ditambah dua puluh juta. Belum janda bolong gua yang disobek-sobek Aleena seharga sembilan juta."
"Ganti pokoknya ganti!!"
...****************...
Komen dong komen ...
Mau lanjut bonchap-nya apa udahan?
Untuk judul Riana dan Aksa udah paten, ya. Aku kan cuma ngasih spoiler doang kemarin. Cerita aslinya kan belum aku jabarin. Karena hanya aku yang tahu mau dibawa ke mana itu cerita. 😁
Jodoh Rahasia, bukankah jodoh itu menjadi rahasia Tuhan?
Ah sudahlah, nanti baca aja ya. Insha Allah bulan depan baru aku terbitkan.