Bang Duda

Bang Duda
130. Asisten



Setelah selesai berlibur, mereka semua pun kembali ke aktifitas mereka masing-masing. Namun, hubungan antara Rion dan istrinya belum mencair. Amanda seakan ingin memberikan pelajaran yang lebih kepada suaminya. Agar penyakit lama suaminya hilang.


"Yang, udah atuh ih marahnya," ucap Rion.


"Gak, Manda masih marah."


"Kesiksa tau, nyentuh kamu gak boleh. Cuma mau megang tangan pun gak boleh. Tidur pun Abang harus di sofa," keluhnya.


"Suruh siapa tuh mata jelalatan."


Rion pun mengunci mulutnya. Jika, dia terus menimpali ucapan Amanda sudah dipastikan hukumannya akan bertambah lagi.


"Nih." Amanda memberikan uang 200 ribu rupiah kepada suaminya.


"Buat apa?"


"Kan dompet Abang cuma lalat isinya."


Rion menepuk jidatnya, dia benar-benar lupa. Ternyata kartu ATM satu-satunya miliknya pun ikut masuk ruang penyitaan.


"Makasih, Sayang," ucapnya sangat manis seperti meminta sesuatu yang lebih.


"Gak ada cium-ciuman," tegas Amanda cepat.


Rion hanya menghela napas kasar. Menghadapi Amanda lebih sulit dibandingkan mengahadapi Ayanda. Seperti Singa betina vs kucing betina garang.


Setelah suaminya pergi, Amanda merenungi sikapnya. Apa dia terlalu berlebihan menghukum suaminya seperti ini. Akan tetapi, kesalahan suaminya pun sangat menyebalkan baginya.


"Maaf ya Bang, Manda hanya ingin Abang menghargai Manda. Manda ini istri Abang," gumamnya.


Sesampainya di kantor langkah Rion begitu gontai. Seperti ikan yang kehabisan air. Tidak ada semangat yang wajahnya perlihatkan.


"Kenapa lu?" tanya Arya.


"Lesu lah, kuda-kudaan gak boleh, megang tangan gak boleh, nyium gak boleh, uang dijatah kayak anak sekolah. Nasib ... oh ... nasib."


Arya tertawa puas mendengar curhatan Bossnya. Benar kata Azka, menghadapi istri yang marah lebih sulit dibandingkan mengurusi masalah perusahaan.


"Apa punya bini serumit itu?" tanya Arya serius.


"Sangat rumit, suami harus minta maaf terlebih dahulu ke istri walaupun si suami itu gak salah."


Arya mendengarkan penjelasan Rion dengan seksama. Setidaknya dia bisa belajar sedikit demi sedikit tentang rahasia wanita.


"Prinsipnya, wanita itu SELALU BENAR," sambung Rion.


Arya menelan paksa ludahnya mendengar penuturan dari sahabatnya yang sangat berpengalaman. Apa nasibnya akan sama seperti Rion jika, dia sudah menyandang status suami? Terlebih marahnya Beby tidak jauh berbeda dengan cara marahnya Amanda. Dia pun bergidik ngeri membayangkan itu semua.


"Lu harus banyak belajar, supaya pas udah nikah gak kaget menghadapi bini lu yang lagi ngambek." Arya hanyĆ  mengangguk pelan.


Ketika mereka berdua sudah mulai bekerja, Arya menyerahkan CV kepada Rion. Rion hanya mengernyitkan dahinya tak mengerti.


"CV asisten baru lu," terang Arya.


"Gua kan ...."


"Iya gua tau, tapi lu harus punya asisten pribadi. Gua kan harus ngecek toko-toko cabang juga. Gua gak bisa sepenuhnya jadi asisten lu."


"Ditambah beberapa bulan lagi gua kan mau married. Jadi, harus mempersiapkan semuanya," jelasnya.


Rion hanya mengangguk pelan. Dia juga merasa kasihan kepada Arya yang selalu saja dia repotkan ketika Rion sedang menghadapi masalah pribadi ataupun perusahaan. Sudah waktunya Arya bahagia, begitulah pikirnya.


"Cewek cowok?" tanya Rion.


"Cewek." Sejurus kemudian Arya menatap tajam ke arah Rion. Memicingkan mata tajamnya.


"Kumat lagi gua gorok lu,"ancam Arya.


Rion hanya berdecak kesal lalu membalas tatapan tajam Arya. "Gua udah tobat, bini gua lebih cantik yang pastinya seribu kali lebih seksi kalo di ranjang," sahutnya.


"Otak lu, ya." Arya menoyor kepala Rion yang kian hari kian mesum menurutnya.


"Ini calon asisten cantik, tipe-tipe bidadari surga gitu," goda Arya.


"Bodo amat."


Perdebatan mereka terhenti ketika ketukan pintu terdengar. Ya, calon asisten sudah datang dan siap di-interview oleh Rion.


"Jangan ke goda," bisik Arya.


Senyuman hangat yang diberikan oleh sang calon asisten hanya dibalas senyum ala kadarnya. Rion sedang menampakan sisi garang dan judesnya sebagai atasan.


"Kalila Maharani."


Dengan percaya dirinya Kalila menganggukkan kepala. Tidak ada rasa gugup dari wajah dan gerak tubuhnya. Seolah dia sudah biasa menghadapi atasan seperti Rion.


Sudah beberapa pertanyaan yang Rion lontarkan kepada Kalila dan mampu dijawab dengan baik dan lugas olehnya. Rion pun mulai tertarik kepada Kalila karena selain cantik dia benar-benar pandai.


Baru saja Rion membuka mulutnya untuk melontarkan pertanyaan selanjutnya, suara pintu dibuka dengan kasar terdengar. Mata semua orang tertuju ke arah pintu dan ternyata sudah ada Amanda di sana.


"Sayang." Rion bangkit dari duduknya dan menghampiri istrinya.


"Katanya mau ke rumah si kembar?" tanya Rion.


"Gak jadi, mantau suami yang punya penyakit lenjeh lebih penting," sinisnya.


Arya dan Kalila hanya mengulum bibir mereka menahan senyum. Ternyata atasan yang terlihat garang di tempat kerja tipe-tipe suami takut dengan istri.


"Nggak Sayang, punya istri satu aja ngambek melulu apalagi dua," candanya.


Amanda mencubit pinggang Rion hingga Rion meringis dan memegang tangan istrinya.


"Udahan ah marahnya, terserah deh kamu yang nentuin dia boleh jadi asisten aku atau nggak," ujar Rion yang kini menggenggam tangan istrinya.


Ada rasa bahagia di hati Rion karena secara tidak sadar Amanda mau disentuh olehnya. Rion pun membawa Amanda untuk duduk di sofa bergabung dengan yang lain.


Amanda terus memperhatikan gerak-gerik suami dan calon asisten suaminya. Tidak ada hal yang terlihat janggal.


"Gimana Sayang?" tanya Rion yang sudah selesai meng-interview Kalila.


Amanda memandangi Kalila dari atas hingga bawah. Wanita di depannya ini cantik, berpenampilan sopan memakai hijab yang biasa para pegawai lain pakai.


"Boleh," jawab singkat Amanda.


"Tapi ... kalo kata Manda pecat, Abang harus langsung pecat. Gak ada alasan," tegasnya.


"Tenang saja, Bu. Saya tidak suka laki-laki yang bentukannya buaya," sahut Kalila.


Arya pun tertawa mendengar ucapan Kalila, sudah berapa orang yang menyebut Rion jelmaan buaya.


"Mohon maaf, saya sudah punya calon suami. Jadi, ibu tenang saja. Kalo saya melakukan kesalahan dan bermain api di belakang, silahkan pecat saya," ujar Kalila.


"Oke, saya pegang ucapan kamu."


"Baik Bu," balasnya.


Rion pun menyuruh Kalila ke mejanya dan juga Arya harus ke wilayah Bogor untuk mengecek toko cabang. Tinggal dua manusia ini di dalam. Rion menarik tangan istrinya agar bisa dia rengkuh.


"Kamu tau dari mana ada asisten baru?"


"Mbak Aya yang bilang."


Rion meletakkan kepalanya di bahu Amanda dengan menggenggam tangannya. "Jangan marah lagi, Sayang. Abang gak kuat tau."


"Manda marah pasti ada penyebabnya. Dan siapa yang menyebabkan Manda marah?"


"Iya, Abang minta maaf. Abang salah."


"Maaf, maaf, besok khilaf lagi. Abang mah kudu di ruqyah biar bener-bener taubat nasuha."


"Astaghfirullah Yang, kalo ngomong tuh pedes amat sih," balas Rion yang kini gemas mencubit pipi istrinya.


"Yang, hukumannya kurangin ya. Megang tangan dan cium kening boleh, ya," tawar Rion.


"Abang kira di pasar bisa tawar menawar."


Rion mengerucutkan bibirnya membuat Amanda gemas lalu menampar pelan bibir Rion. "Jelek ih."


"Iya, hukumannya Manda kurangin. Tapi, Abang tetep tidur di sofa dan gak boleh menanam benih dulu."


Rion pun mengangguk senang lalu memeluk tubuh istrinya. Dia akui dia memang masih jelalatan. Namun, dia merasa tidak ingin disentuh oleh wanita lain kecuali istrinya. Tubuhnya auto menolak jika wanita lain menyentuhnya. Berbeda jika istrinya ada disampingnya, seperti ada daya tarik magnet yang sangat kuat. Dia akan selalu menempel pada istrinya dan tidak ingin lepas serta jauh dari Amanda.


***


Happy reading ...