Bang Duda

Bang Duda
150. Pelajaran Baru



Pagi harinya Arya sudah rapih dengan pakaiannya, membuat Beby mengernyitkan dahi. "Mau ke mana Yang?" tanya Beby.


"Ke rumah Rion, tadi dia telepon," jawab Arya sambil memakai jam tangannya.


Beby menghampiri Arya yang sedang berdiri di samping tempat tidur. Dan mendudukkan dirinya di sana sambil mendongak melihat ke arah Arya.


"Kamu masih marah?" Pertanyaan Beby yang terdengar lirih di telinga Arya membuatnya menengok ke arah sang istri.


Mata Beby sudah berkaca-kaca, hidungnya sudah memerah. "Nggak, Sayang. Aku gak marah," jawab Arya sambil mengelus rambut Beby.


Isak tangis kini mulai terdengar membuat Arya menghela napas kasar, lalu dia pun memeluk tubuh istrinya.


"Jangan nangis, aku masih bisa menahannya, kok," ucap lembut Arya sambil menenangkan istrinya.


"Maaf," balas Beby.


"Kita masih bisa melakukannya setelah merah kamu selesai," sahut Arya. "Dan kita bisa langsung tancap gas setelah itu, sambil honeymoon," lanjutnya.


Wajah Beby terlihat merona membuat Arya gemas ingin sekali menerkamnya. "Mesum," sentak Beby.


"Gak mesum Sayang, emang harus dilakukan. Siapa tahu anak kita Made in Korea. Kan ntar udah brojolnya mirip oppa-oppa Korea yang berbibir merah dan berwajah licin kayak perosotan TK."


Beby pun tertawa mendengar celotehan dari Arya. Rasa sedihnya sedikit menghilang.


"Kamu jadi ke rumah Andra?" Beby hanya menganggukkan kepala dengan tangan yang melingkar di pinggang Arya.


"Aku nganter kamu dulu, abis itu aku langsung ke rumah Rion, ya," Beby pun setuju.


Arya mengantarkan Beby ke apartment Giondra. Setelah itu, dia melajukan mobilnya ke rumah Rion. Setelah sampai di kediaman Rion, Arya disambut hangat oleh Mbak Ina yang sedang menyapu halaman depan. Mbak Indah dan Pak Mat mengucapakan selamat kepada Arya. Arya menyahutinya dengan terimakasih.


Ternyata bener ya, apa yang dibilang si bos gila itu. Kalo 'keinginan' kita tidak tersalurkan efeknya pusing, batin Arya sambil terus melangkahkan kakinya ke dalam rumah Rion.


"Lesu amat penganten baru," goda Rion yang sudah menunggunya di ruang keluarga.


"Berapa ronde?" timpal Amanda yang sedang membaringkan kepalanya di paha sang suami.


"Berisik lah, udah berada ditegangan tinggi dan udah kepengen nusuk malah si merah datang."


Rion dan Amanda pun tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Arya. Sedangkan yang sedang ditertawakan membaringkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan mata.


"Apes banget nasib gua," katanya.


"Nasib lu mah selalu sial, kudu mandi air tujuh sumur," tutur Rion.


"Bang sat," geramnya.


Rion pun tak berhenti tertawa dan terus meledek Arya. "Lebih bagus begitu loh, setelah Beby selesai langsung hajar aja. Itu lagi masa subur. Siapa tau aja langsung dikasih rezeki," jelas Amanda.


"Kado dari gua berarti belum dipake dong," goda Rion kembali.


Arya bangun dari posisi duduknya, menatap Rion dengan tajam. "Hadiah dari lu udah bini gua buang, dikata tisu galon sama dia."


Rion dan Amanda pun tertawa lagi mendengar cerita dari Arya. Hingga perut mereka berdua terasa sakit.


"Lu nyuruh gua ke sini cuma buat ngeledekin gua doang?" sentak Arya yang sudah mulai geram.


"Pundungan," ucap Rion.


Rion langsung melemparkan sesuatu ke arah Arya, dengan refleksnya Arya menangkap lemparan dari Rion. Arya mengernyitkan melihat kunci di tangannya.


"Itu kunci rumah di samping kanan rumah gua. Dan itu buat lu," jelas Rion.


Arya melebarkan matanya tak percaya. Rumah yang kurang dari sebulan ini baru Rion beli cash.


"Bukannya itu hadiah buat bini lu?" tanya Arya sedikit ragu. Takut kena prank oleh sahabatnya yang terkadang otaknya tidak waras.


"Kagak, itu buat lu. Dan tenang aja, itu murni duit gua tanpa ada duit Ayanda. Anggap aja itu hadiah persahabatan kita yang lebih dari 17 tahun," terang Rion.


Mendengar ucapan Rion yang terakhir, membuat hati Arya terenyuh. Arya pun hendak memeluk tubuh Rion namun, dengan cepat Rion mengangkat tangannya.


"Jangan dekat-dekat. Gua gak suka bau lu."


"Setan!" teriak Arya geram.


Sedangkan di rumah Giondra, Beby sedang memeluk tubuh Ayanda dengan wajah sendu.


"Tapi, aku merasa dia marah sama aku," balas Beby.


Ayanda hanya bisa menghela napas berat. Beby adalah anak yang manja jika berada di dekat orang yang lebih tua darinya.


"Sebenarnya, meskipun kamu sedang berhalangan kamu masih bisa kok memuaskan suamimu," imbuh Ayanda. Beby pun menegakkan kepalanya dan meminta penjelasan lebih spesifik lagi.


Ayanda menarik tangan Beby menuju ke ruangan kerja Gio. Dia menghidupkan laptop yang berwarna hitam milik suaminya. Mencari folder yang berisi beberapa mata pelajaran untuk Beby.


Setelah foldernya ditemukan, Ayanda langsung membuka isi folder tersebut. Mata Beby terbelalak ketika melihat isi folder tersebut.


"Aku kira Kak Gi ...."


Ayanda hanya tersenyum. "Sama aja mesum," jawabnya.


Kemudian, Ayanda membuka folder yang harus Beby pelajari. Tak lupa volume suaranya Ayanda kecilkan. Awal menontonnya membuat Beby jijik. Tapi, ketika si pria dalam video itu menikmati, dengan serius Beby memperhatikan apa yang dilakukan si wanita tersebut.


Setelah dirasa mengerti, Beby pun meminta Ayanda untuk menyudahi memutar video itu.


"Kamu harus bisa melayani suami kamu dengan baik, dan harus bisa memuaskannya. Supaya dia gak jajan di luar."


"Kalo dia lagi pengen layanilah dengan sepenuh hati. Dan jangan pernah malu untuk menawari duluan ke suami. Apalagi jika suami terlihat lelah dan banyak pikiran. Coba tawari dia lebih dulu karena itu akan merubah mood suami," sambungnya.


"Satu lagi, kalo kamu lagi kepengen langsung minta. Gak baik menahan apa yang harusnya kita keluarkan."


"Kak Ay pernah meminta duluan?" tanya Beby malu-malu


"Sering," jawab Ayanda tanpa malu. "Pas hamil si kembar bawaannya pingin terus, sehari bisa dua sampai tiga kali," lanjutnya. Mata Beby melebar dengan sempurna, ternyata kakak sepupunya ini doyan.


"Kamu juga harus menguasai banyak gaya, biar gak monoton. Nanti Kak Ay kirim ya tutorialnya," imbuhnya seraya tertawa.


Obrolan tentang hal dewasa pun usai sudah ketika Arya sudah menjemput Beby. Mereka berdua meninggalkan kediaman Ayanda dan menuju hotel. Baru sore ini mereka akan keluar dari hotel.


Setelah masuk ke dalam kamar hotel, Arya merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sedangkan Beby sudah masuk ke dalam kamar mandi.


Baru saja memejamkan matanya, Arya merasa tubuhnya sedang digerayangi tangan nakal. Perlahan Arya membuka matanya, dia melihat istrinya yang sudah menggesek-gesekkan tangannya ke area sensitifnya.


"Say ...."


Bibir Beby langsung membekap bibir Arya dengan lembut. Hingga gigitan-gigitan kecil dan permainan lidah Beby membuat Arya menikmatinya. Bibir mereka tetap berpagutan namun, tangan Beby sudah bergerilya ke sana kemari. Dan tangannya sudah membuka kemeja yang suaminya kenakan. Begitu pun kancing dan resleting celana suaminya sudah berhasil dia buka.


Tangannya memijat pelan tongkat ajaib milik suaminya hingga desahan keluar dari mulut Arya. Tongkat itu terasa mulai menghangat dan terus mengeras.


"Yang, mau sekarang?" tanya Beby. Arya pun mengangguk cepat.


Beby mulai membuka celana panjang suaminya, setelah itu celana dalamnya. Matanya melebar ketika melihat tongkat ajaib yang cukup besar dan lumayan panjang berdiri tegak di hadapannya.


Dengan sedikit rasa takut, Beby memegang tongkat ajaib milik Arya. Ketika tangannya baru saja menyentuh, desahan kembali keluar dari mulut sang suami. Membuat Beby ingin segera membantu suaminya.


Berawal pijatan-pijatan lembut, lalu lidah Baby yang bermain diujung kepala tongkat, membuat Arya semakin mendesah kencang. Kemudian, tongkat ajaib itu Beby masukkan ke dalam mulutnya, dengan gerakan maju mundur dan sesekali menganggapnya layaknya es krim membuat Arya merancau.


"Ah ... Sayang ... Ah Beby ..."


Lahar dari tongkat ajaib itu menyembur di dalam mulut Beby, membuat Beby langsung berlari ke kamar mandi memuntahkan semuanya.


"Sayang, kamu gak apa-apa?" tanya Arya yang kini berada di belakang Beby.


"Rasanya aneh," jawab Beby. Lalu dia berkumur-kumur.


Arya hanya tertawa lalu mengelap sisa air di area mulutnya. "Makasih, Sayang," ucap Arya setelah mengecup singkat bibir Beby.


"Sudah kewajiban aku Sayang, untuk memuaskan mu," jawab Beby dengan senyum manisnya.


Arya pun memeluk erat tubuh Beby dan mengecup ujung kepala Beby. "Setelah kamu selesai, giliran aku yang akan memuaskan mu," bisik Arya. Wajah Beby pun memerah dan tangannya terus memeluk tubuh Arya.


****


Sambil menunggu cerita Bang Duda up yuk baca karya remahan aku yang lainnya. Tekan ikon lope, rate, komen dan juga like ya ...


.