
Malam ini, perut Amanda terasa sangat lapar. Namun, dia tak tega membangunkan Rion karena sudah terlelap dengan nyamannya. Dengan pelan dia turun dari tempat tidur dan menuju ke dapur.
"Aku ingin makan sayur dan juga orak Arik telor," ucapnya.
Amanda mencari persediaan sayur dan juga telur di lemari pendingin. Sebenarnya dia tidak sanggup untuk jongkok karena kehamilannya cukup besar. Dengan pelan, Amanda mencoba berdiri.
"Ya ampun, saking jarang bergeraknya cepat lelah begini, ya," gumamnya.
Amanda terus memotong sayuran sambil menyeka keringatnya. Terkadang juga dia memegang pinggangnya karena terasa panas.
Panas di pinggangnya mulai menjalar ke bagian perutnya . Sesekali Amanda meringis, tapi dia masih melanjutkan aktifitasnya memotong sayuran.
Rasa sakit itu terus datang membuat Amanda tidak sanggup lagi. Dia mencoba berjalan meskipun dengan tertatih.
"Bang," ucapnya pelan.
Amanda terus berjalan menuju kamarnya. Amanda sungguh tidak kuat lagi. Dia terus memaksa berjalan hingga tak sengaja dia menyenggol vas bunga. Rion pun terbangun dan matanya menyipit ketika melihat istrinya sedang bersandar di dinding sambil memegang perutnya.
"Yang," teriak Rion. Dia langsung berlari dan membantu Amanda untuk duduk di sofa tak jauh dari tempat Amanda berdiri.
"Sa ... Kit Bang," lirihnya.
Rion menyeka keringat Amanda dan matanya melebar ketika melihat darah di kaki Amanda.
"Yang, da ... rah," ujarnya.
Tanpa aba-aba Rion langsung membopong tubuh istrinya. Dan berteriak kencang membangunkan penghuni rumah mereka. Pak Mat langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.
Rintihan kesakitan Amanda adalah sayatan luka yang Rion rasakan. "Sabar, Sayang," ucapnya yang terus menggenggam tangan Amanda dan terus mengecup puncuk kepala istrinya.
Sesampainya di rumah sakit, Rion membawa Amanda masuk ke IGD dengan hanya memakai celana kolor hitam dan juga kaos hitam yang memperlihatkan bentuk tubuhnya. Di kakinya hanya memakai sandal jepit merk burung walet.
"Bapak tunggu di luar dulu. Akan kami periksa pasien terlebih dahulu."
Rion pun menunggu dengan harap-harap cemas. Dia sama sekali tidak membawa apapun. Dompet atau pun ponsel tidak dia bawa. Saking paniknya, dia melupakan semuanya.
"Bagaiman dok?" tanya Rion dengan wajah yang khawatir.
"Silahkan masuk, Pak."
Dilihatnya wajah Amanda yang sudah kembali ceria lagi dan juga sudah tidak merasakan sakit.
"Istri Bapak hanya mengalami kontraksi palsu saja. Tapi, karena istri Bapak mengalami pre-eklamsia jadi, harus segera dilakukan tindakan." Rion pun mengangguk.
"Sekarang Bapak urus administrasi dulu dan kami akan memindahkan istri Bapak ke ruang rawat."
Rion pun kalang kabut, ponsel tidak dibawa, dompet pun tertinggal di rumahnya. Dia menghampiri Pak Mat. Dan meminjam ponsel Pak Mat.
"Pak, berikan ponselmu," ujarnya.
Pak Mat pun memberikannya. "Kamu menyimpan nomor Arya?" Pak Mat menggeleng.
"Saya hanya menyimpan nomor ponsel Ibu Yanda Pak." Rion pun bernapas lega.
Dia cari kontak Ayanda dan langsung menghubunginya. Suara ponsel terus berdering, membuat Gio mengerang kesal. Bagaimana tidak, baru saja juniornya merasakan kenikmatan tapi harus diganggu oleh ponsel istrinya yang terus mengusik konsentrasinya.
"Dad, ijinkan Mommy mengangkat panggilannya dulu," imbuh Ayanda.
Dengan terpaksa, Gio pun mencabutnya dan berbaring di sisi istrinya yang sedang menerima panggilan.
"Kamu di rumah sakit mana, Mas?" tanya Ayanda.
Gio langsung merampas ponsel istrinya. "Bhang Sat Emang lu, ganggu kenikmatan gua aja," sentak Gio pada Rion.
"Eh Bhang Ke Gua kagak tau lu lagi ehem-ehem. Udah cepetan ke sini sebentar. Gua gak bawa dompet ini, telpon aja pake nomor sopir gua ini."
"Gak guna." Gio pun langsung menutup panggilannya.
"Mom tapi ini ...."
"Pulang dari sana kita bisa lanjut, Dad."
"Sebentar aja, Mom."
"Sebentar Daddy dua jam," sentaknya dan berlalu meninggalkan suaminya yang masih merengek layaknya anak kecil.
Dengan ogah-ogahan Gio pun menuruti Ayanda untuk ke rumah sakit. Gio menatap sengit ke arah Rion yang tersenyum layaknya manusia tak punya dosa.
Gio membuka dompetnya, lalu menyerahkan kartu debitnya ke dada Rion.
"Makasih banyak Tuan Giondra Aresta Wiguna. Anda patut diandalkan," ujar Rion. Ingin sekali Gio menjitak atau menampar wajah Rion yang terlihat amat menyebalkan di matanya.
"Daddy." Tangan Ayanda mengelus lengan suaminya dan kini menggandeng suaminya untuk menemui Amanda.
"Mbak," ucap Amanda ketika melihat Ayanda sudah masuk ke ruangannya.
"Jangan tegang ya, Nda. Kamu pasti bisa." Amanda pun tersenyum dan memeluk hangat Ayanda.
Rion masuk ke dalam ruangan istrinya dan menyerahkan kartu debit milik Giondra. "Lu harus bayar 10 kali lipat," imbuh Gio santai.
"Eh, lu melebihi rentenir, ya," sungut Rion.
"Suruh siapa nyuruh gua datang di tengah malam begini. Lu ganggu waktu gua." Amanda dan juga Ayanda hanya menggelengkan kepala melihat perdebatan dua pria dewasa di depan mereka.
"Mom, pulang yuk. Daddy ngantuk, besok ada meeting pagi," ucapnya yang sudah berkali-kali menguap.
Ayanda pun mengikuti kemauan suaminya. "Nda, Mbak pulang dulu, ya. Besok Mbak ke sini lagi," ucapnya. Amanda pun menganggukkan kepalanya.
Setelah kepergian Gio dan juga Ayanda kini Rion terus menggenggam tangan istrinya. Ada sedikit kekhawatiran yang wajahnya tunjukkan.
"Sayang, kalo sakit bilang sakit, ya. Jangan Sembunyikan apapun dari Abang."
"Iya, Bang," jawabnya.
Amanda sudah memejamkan matanya, namun Rion masih terjaga dan masih menggenggam erat tangan Amanda. Dia sesekali mencium perut istrinya.
"Anak Ayah, jangan pernah membuat Bunda repot, ya. Ayah sayang kamu dan juga Bunda," ucapnya pelan.
Yang merasa ketar-ketir dan takut tak terkira adalah Rion. Dia takut jika istrinya akan merasakan kesakitan, dan terjadi apa-apa dengan anaknya. Dia benar-benar takut.
"Kata orang, operasi sesar ini adalah tindakan yang tidak akan menyakitkan. Apa iya?" tanyanya pada diri sendiri .Dia bergelut dengan pikirannya sendiri tak terasa matanya pun terpejam.
Keesokan paginya, tangan Rion terasa dingin. Jadwal operasi akan dilakukab pukul sepuluh pagi. Jam delapan tiga puluh, para sahabat Rion dan juga Amanda sudah berada di rumah sakit.
Arya menyerahkan dompet dan juga ponsel Rion yang baru saja dia ambil di rumahnya. Wajah panik Rion sangat terlihat membuat Gio dan Azka ingin sekali mengejeknya. Tapi, mereka juga pernah merasakan bagaimana jadi Rion.
"Apa operasi itu tidak sakit?" tanya Rion pada Gio, Arya dan juga Azka.
"Di mana-mana yang namanya operasi itu sakit, Rion," timpal Arya.
Rion menjadi gundah sekarang. Mulutnya mampu menguatkan Amanda, tapi hatinya malah takut dan sangat takut.
"Berdoa saja, semoga semuanya berjalan dengan baik," ujar Ayanda pada Rion.
Amanda akan dibawa ke ruang operasi, wajah paniknya terlihat jelas. "Kamu bisa, Nda." Ucapan yang selalu membuat Amanda menjadi wanita kuat. Tutur kata Ayanda seperti Mamihnya. Apalagi pelukan hangat nan tulus yang Ayanda berikan kepadanya.
Perawat pun membawa Amanda ke ruang operasi yang diikuti oleh Rion dengan terus menggenggam tangan Amanda.
****
Happy reading ....