
Pagi hari Rion sudah dikejutkan dengan tangisan si triplets. Rion segera berlari ke kamar mereka bertiga. Keningnya mengkerut ketik melihat Aleeya sudah dikurung oleh kedua kakaknya di dalam kardus.
"Kenapa adiknya ditaruh di situ?" Suara Rion membuat dua bocah itu menunjukkan cengiran khas mereka.
"Bicik," jawab Aleena sambil menunjuk Aleeya.
"Natal," timpal Aleesa.
Rion menghela napas kasar. Dia mengangkat tubuh Aleeya yang berada di dalam kardus dan sedang menangis.
"Coba jelaskan ke Engkong," pinta Rion.
Aleesa menunjukkan kertas yang sedang dia coret-coret kepada Rion dengan wajah yang ditekuk.
"Adek natal, Hua ...." Tangis Aleesa pun pecah. Rion semakin mengurut keningnya. Menghadapi tiga cucunya yang super duper aktif membuatnya harus banyak menahan sabar.
Tidak sampai setengah jam, Rion mampu menenangkan tiga bocah ini dan sekarang sudah mulai bermain bersama kembali. Hanya ukiran senyum yang tercipta di bibirnya. Namun, hatinya masih merasa tidak enak karena Echa masih mendiaminya.
Hingga tercetus ide untuk membawa si triplets ke suatu tempat. "Au nana?" tanya Aleena.
"Kalian diem, ya. Jangan nakal." Rion pun menaruh ketiga cucunya di kursi belakang dengan seat car agar aman dan mereka tidak ke mana-mana. Mobilnya berhenti di sebuah kedai kopi kesukaan Echa.
"Bu-bu," ucap Aleesa.
Rion hanya tersenyum. Echa sering mengajak ketiga anaknya datang ke kedai kopi ini hanya sekedar menghilangkan penat atau menghirup suasana segar setelah seharian bekerja.
Rion membawa ketiga cucunya dengan menuntun mereka dan memesan kopi kesukaan sang putri beserta cake kesukaan sang cucu. Banyak orang yang menatap ke arah Rion. Dan mereka mengira jika tiga bocah ini adalah anaknya.
"Anak-anaknya lucu, Pak," ucap salah seorang pelayan di sana. Sambil mengusap gemas pipi Aleeya.
Bocah itu langsung mengusap-usap pipinya dan memasang wajah garang. Bertanda bahwa jika dia tidak suka.
"Ini cucu-cucu saya."
Pelayan itu pun melongo mendengar penuturan dari Rion. Dan ketiga cucunya menatap tajam ke arah si pelayan itu dengan sorot mata yang ingin membunuh.
"Yuk, minuman dan kopi untuk Bubu sudah selesai. Kita ke kantor Bubu." Ketiga anak itu pun bersorak gembira dan mulai menggenggam tangan Rion menuju mobil.
Tibanya di kantor, Rion disambut hangat oleh security dan semua karyawan menyambut tiga kurcaci kecil yang terlihat sangat cantik dan lucu.
"Don't touch me," ketus Aleena. Diikuti oleh Aleesa dan juga Aleeya.
Ya, mereka tidak suka disentuh sembarangan orang. Karena sang baba selalu mengajarkan jika ada yang memegang mereka harus segera dilap dengan tisu basah. Takut alergi. Dan itu juga yang membuat si triplets tidak bisa jauh dari tisu basah.
Setelah menuju lantai teratas, Rion mengerutkan dahi ketika dia melihat pegawai baru. Kali ini, pegawainya nampak sudah berumur. Bisa dibilang seusia Sheza.
"Maaf Pak, mau cari siapa?" tanya si sekretaris Echa.
"Bubu," panggil si triplets kepada Echa.
"Loh kok?" Echa menatap ke arah tiga anaknya dan juga ayahnya.
"Ayah sengaja bawa mereka ke sini. Kamu pasti lelah, kan," ujar Rion sambil menyerahkan paper bag ke arah Echa.
"Nyogok nih ceritanya," ledek Arya yang sedang anteng di kursinya.
"Bicik!" sahut Aleeya.
Arya segera bangkit dari duduknya dan langsung menggendong tubuh Aleeya yang langsung tertawa dibuatnya. Echa dan Rion hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kedekatan Aleeya dan juga Arya.
"Bubu, a," pinta Aleena agar Echa membuka mulutnya.
Aleena dan Aleesa mulai menyuapi Echa silih berganti. Dan tersenyum ketika sang ibu memakan kue suapan mereka.
"Kamu masih marah sama Ayah?" tanya Rion menatap ke arah Echa.
Echa hanya menatap datar ke arah sang ayah. Dan hanya menghela napas kasar.
"Di depan ada noh janda beranak satu. Seumuran lah sama Sheza," ucap Arya sambil menaik turunkan alisnya ke arah Rion. Disambut gigitan di tangan Arya oleh Aleeya.
"Ampun Uyul ampun," ucap Arya yang sekarang bukan hanya menerima serangan dari Aleeya. Melainkan dari Aleesa dan juga Aleena.
Sedangkan Rion dan Echa tertawa melihat Arya sedang digigit oleh tiga anak jengglot piaraan Echa.
"Enton dak boyeh tayang-tayang tewek. Tutup tayang Eena, Eesa dan Eeya."
Tiga bocah itu berlari ke arah Rion dan duduk di pangkuan sang kakek dengan tangan yang sangat posesif mendekap hangat tubuh Rion.
"Enton tuma boyeh tayang tami," ucap Aleesa yang kini mencium wajah Rion.
"Eena tayang Enton."
"Eesa pun."
"Kalian gak sayang Wawa?" timpal Arya.
"No," teriak si triplets dan membuat Arya merengutkan wajahnya.
...****************...
Mungkin beberapa bab lagi ya, izinkan aku untuk istirahat sejenak sebelum Kisah Riana dan Aksa muncul.