Bang Duda

Bang Duda
93. Takdir



Jangan lupa jempolnya ....


Komennya ....


Cuma begitu geh aku mah udah girang banget.


...****************...


Keesokan harinya, Amanda meringis kesakitan merasakan sakit yang luar biasa di bawah perutnya. Rintihan istrinya membuat Rion mengerjapkan mata.


"Bang, sakit," rintihnya.


"Kamu kenapa?" tanya Rion yang masih setengah sadar.


"Sakit ... perut Manda sakit," ucapnya dengan air mata yang telah jatuh.


"Abang cuci muka dulu, kita ke rumah sakit sekarang," ujar Rion.


Hari masih gelap namun, Rion sudah mengeluarkan mobilnya dari garasi rumahnya. Di dalam mobil, Amanda terus saja merintih sakit membuat Rion semakin panik.


"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita sampe," ujarnya dengan terus menggenggam tangan istrinya.


Tiba sudah mereka di rumah sakit. Rion langsung membawa tubuh istrinya ke ruang IGD. Amanda langsung ditangani oleh dokter.


Tak lama berselang, seorang bidan keluar. Beliau mengatakan jika Amanda harus menjalani USG


untuk memastikan keadaan bayinya. Rion pun menyetujuinya. Hanya saja, mereka harus menunggu beberapa jam karena dokter kandungan baru memulai praktek jam 07.00.


Amanda sudah berada dalam ruang pemeriksaan. Dokter mulai mengoleskan gel di atas perut Amanda. Dan mulai menggerakkan alat USG di atas perut Amanda. Dengan sangat teliti, dokter memperhatikan layar monitor. Kedua alisnya berkerut, cukup lama dokter memandangi layar monitor dan menggerakkan alat USG di atas permukaan perut Amanda. Hingga dokter menghela napas kasar.


Rion membenarkan baju Amanda dan mereka pun duduk di hadapan dokter. Raut wajah dokter sangat tidak terbaca.


"Bagaimana dok kandungan istri saya?" tanya Rion.


"Mohon maaf Pak. Kita harus melakukan kuret untuk sekarang ini," jawab dokter.


"Janin yang ada di rahim istri Bapak tidak berkembang," sambung dokter lagi.


Tubuh Amanda terasa lemas, matanya nanar. Hatinya teramat sakit mendengar pernyataan dokter. Rion hanya bisa menggenggam erat tangan istrinya.


"Lakukan dok, yang penting istri saya sehat kembali," ujar Rion.


Air mata Amanda pun akhirnya tumpah. Rion memeluk tubuh istrinya dan mengusap lembut punggung Amanda.


"Gak apa-apa Sayang. Dia belum menjadi rezeki kita. Yang terpenting kamu sehat dan selalu ada di samping Abang," imbuh Rion.


Amanda terus saja terisak, dan Rion pun dengan sabar menenangkan istrinya. Bukan hanya Amanda yang sedih, dia juga sedih. Hanya saja dia sudah menyerahkan semuanya kepada Allah. Inilah takdir Allah tentang buah hati yang dia inginkan. Dia menginginkan seorang bayi yang lahir dari istrinya dengan cara licik, dan kini dia harus menerima akibatnya.


Setelah Amanda tenang, dokter pun langsung mengambil tindakan. Rion terus menggenggam tangan Amanda. Melihat air mata yang menetes di pipi istrinya membuat hatinya teramat sakit.


Setelah selesai, Amanda dipindahkan ke ruangan perawatan. Hanya wajah sendu yang Rion lihat dari wajah istrinya.


"Ikhlaskan Sayang, Allah belum mengizinkan kita untuk memiliki anak. Kita kan masih bisa berusaha lagi," kata Rion.


"Maafkan Manda," lirihnya.


Rion langsung memeluk tubuh istrinya. Dia tahu, sekarang Amanda sedang menyalahkan dirinya sendiri atas kegugurannya kali ini. Dokter mengatakan faktor penyebab janin tidak berkembang salah satunya adalah sering mengkonsumsi alkohol.


Masa lalu Amanda dulunya bersahabat baik dengan yang namanya alkohol dan juga rokok. Hingga dia semakin menyalahkan dirinya sendiri atas keguguran yang dia alami sekarang.


"Manda bukanlah ibu yang baik," ucapnya terbata.


Rion langsung mendekap tubuh istrinya dengan hangat. "Dengar Sayang, ini udah takdir Allah. Kita hanya bisa menerima semua ini. Hadiah tidak selalu dibungkus dengan indah kan? Dibalik kesedihan pasti Allah telah menyiapkan kebahagiaan untuk kita," ucap Rion.


"Jangan terus-terusan salahin diri kamu sendiri, dokter kan bilang banyak faktor yang menyebabkan janin tidak berkembang. Mungkin saja, kualitas sp*rm* Abang juga jelek. Jadi, stop ya nyalahin diri kamu sendiri," lanjutnya lagi.


"Kita ikhlaskan si mungil, ya." Rion pun mencium mata anda secara bergantian.


"Setelah kamu pulih, kita konsultasi ke dokter kandungan dan mulai menjalani program kehamilan lagi," ujar Rion.


"Jangan pernah mengkonsumsi pil penunda kehamilan lagi. Anak adalah rezeki dari Allah. Jangan pernah menolaknya," sambungnya lagi.


Amanda hanya menganggukkan kepalanya dan membenamkan wajahnya di dada Rion. "Cepet sehat makanya, nanti akan Abang ajak kamu lembur bikin si kecil mungil lagi." Amanda langsung mencubit pinggang suaminya.


"Mesum," bentak Amanda dengan pipi yang merona. Rion hanya tertawa dan mengecup singkat bibir mungil Amanda.


"Bukan mesum, kita kan lagi berusaha. Lagian kan Abang kangen mimi kamu," sangkalnya.


"Kasihan bayi gede Manda, udah gak pernah Mimi ya," ledek Amanda.


"Ya gimana mau Mimi, si mungil manja banget sama Ayahnya jadinya kan Ayahnya gak bisa bermanja sama Bundanya," sahutnya.


Amanda hanya tertawa mendengar perkataan Rion. Dia menatap intens wajah Rion. Pandangan mereka saling terkunci. Tatapan hangat kini berubah menjadi nanar.


"Makasih atas kesabaran dan cinta Abang untuk Manda. Manda sayang Abang," ungkapnya.


Rion memeluk tubuh istrinya dengan hangat. Bulir bening pun jatuh di pelupuk mata Amanda.


"Abang juga sangat mencintaimu. Kita lalui cobaan ini sama-sama, ya. Saling menggenggam dan terus bergandengan hingga maut yang akan memisahkan," jawabnya.


Pelukan hangat Rion mampu membuat Amanda terlelap dengan nyenyak. Rion hanya menghela napas berat. Dia terus menggenggam tangan Amanda dan sesekali mencium punggung tangan istrinya.


Mungilnya Ayah dan Bunda. Maafkan Ayah dan Bunda ya, Nak, belum bisa menjaga kamu dengan baik. Jadilah malaikat kecil yang akan menyelamatkan Ayah dan Bunda di akhirat kelak. Ayah dan Bunda sayang kamu, batin Rion seraya tangannya mengusap lembut perut rata Amanda.


Rion pun ikut terlelap di samping tempat tidur. Akhir-akhir ini dia juga kurang tidur karena si mungil selalu ingin bermanja dengannya. Tangan Rion harus selalu mengusap perut Amanda hingga istrinya terlelap. Jika, terlepas Amanda langsung terbangun.


Usapan lembut di kepala Rion membuatnya terbangun. Dia melihat Amanda yang sudah terjaga.


"Abang lelah?" Rion hanya menggelengkan kepala.


"Maafkan Manda," katanya.


Rion tersenyum hangat kepada istrinya dan mencium lembut punggung tangan Amanda.


"Tidak ada kata lelah untuk istriku tersayang," rayunya.


"Jadul amat gombalannya," ucap Echa yang baru saja masuk ke kamar perawatan Bundanya.


"Bunda." Echa langsung memeluk tubuh Amanda.


"Maafkan Bunda," lirihnya.


"Bunda tidak salah, makasih atas perjuangan Bunda untuk adik kecil Echa," ucapnya.


Amanda merasa terharu mendengar ucapan terimakasih dari mulut Echa. Amanda berpikir jika dia akan disalahkan oleh semua orang karena kegugurannya. Malah sebaliknya yang dia peroleh, suami dan anaknya tetap memberikan cinta dan kasihnya untuk Amanda.


"Bunda tenang saja, kalo si kembar udah lahir Bunda bisa meminjam mereka nanti ke Mamah. Dan bawa pulang ke rumah Ayah," usul Echa.


Rion dan Amanda tertawa, Echa pikir si kembar itu boneka yang bisa dioper ke sana ke sini. Celotehan Echa mampu menghangatkan suasana ruangan perawatan Amanda.


****


Hay !


Kemarin aku baca komen kalian katanya ada yang minta visual dari Bang Duda. Mon maap, peraturan Noveltoon/Mangatoon sekarang tidak boleh menyisipkan gambar yang memiliki copyright (hak cipta). Jadi, berimajinasi lah dengan karakter favorit kalian masing-masing.


Happy reading semua ....