
Radit merengkuh pinggang Echa. Dia mengusap air mata yang menetes di ujung mata Echa. "Gantilah air mata ini dengan senyuman termanis mu." Echa pun tersenyum lalu memeluk pinggang Radit.
"Bunta temana? Li tanen Bunta. Li inin bobo tama bunta," oceh Riana.
Amanda mengusap air mata yang sudah membasahi pipi putri kecilnya. "Bunda di sini, Sayang. Bunda akan menemani Riana, bermain bersama Riana dan bobo bareng Riana." Senyum Riana pun mengembang dengan sempurna.
"Mommi, Bunta Li tembali," adu Riana pada Ayanda. Gadis kecil itu memeluk tubuh Ayanda.
"Riana senang?" Riana pun mengangguk dengan cepat.
"Apa janji Riana jika Bunda kembali?" tanya Gio sambil mengusap pipi chubby Riana.
"Dak oleh nanis dan natal," jawabnya.
Riana pun tos dengan Gio. Amanda sangat terenyuh melihat kedekatan Riana bersama Ayanda dan juga Gio. Meskipun Riana bukan anak mereka, tapi mereka memperlakukan Riana seperti anak mereka sendiri.
Riana melihat ke arah pintu penghubung. Dia melihat Kakaknya sedang memeluk pinggang Radit. Dia pun berlari dan menarik paksa tangan Echa hingga menjauhi Radit.
Langkah Riana berhenti tak jauh dari Amanda. Echa pun tersenyum tulus kepada Amanda. Riana menarik kembali tangan Echa hingga mendekat ke arah bundanya.
"Yayah, Bunta, Li dan tata," ucapnya sambil memegang erat tangan Rion, Amanda, dan juga Echa.
"Li tayang temua," ujarnya.
Air mata Echa menetes begitu saja. Adik kecilnya berubah menjadi anak penyayang dan begitu sopan. Kebersamaan bersama ayah dan bundanya malam ini akan menjadi kenangan terindah untuk Echa.
Amanda mendekat ke arah Ayanda dan juga Gio. "Maafkan aku, Mbak. Maafkan saya Pak Gio. Saya su ...."
Ayanda bangkit dari duduknya dan menggenggam tangan Amanda. "Aku sudah memaafkan semuanya. Aku tidak menyimpan dendam kepadamu. Semoga aku tidak akan kecewa lagi sama kamu," imbuh Ayanda.
Amanda hanya terdiam mendengar ucapan dari Ayanda. Betapa lapangnya hati mantan istri suaminya ini. Betapa baiknya dia.
Karena Amanda terus saja terdiam, Ayanda pun bertanya, "apa aku boleh memelukmu?" Dengan cepat Amanda mengatakan iya.
Ya Allah, sungguh beruntungnya aku dipertemukan dengan orang yang baik seperti ini. Harusnya aku bisa mencontoh kebaikannya, bukan malak membuatnya kecewa.
Rion dan Gio hanya saling pandang, dan bibir mereka pun melengkung dengan sempurna.
Hubungan mereka semua pun kembali membaik. Semuanya berkat keikhlasan hati Echa. Namun, ada hal yang belum Amanda ketahui perihal Echa yang akan melanjutkan sekolah ke luar negeri. Apa Amanda akan mengijinkannya? Apa dia berhak melarang Echa untuk pergi?
Setelah mereka makan bersama dan bercengkrama bersama, satu per satu dari mereka pulang. Kini, tinggal Ayanda, Gio, Radit dan Echa.
"Dek, apa kamu sudah bilang ke Ayah tentang rencana kamu untuk kuliah di Ausi?" Echa pun mengangguk.
"Lalu?"
"Ayah mengijinkan, tapi Echa tahu Ayah berat untuk melepaskan Echa."
"Inilah yang harus Echa lakukan. Echa hanya ingin melihat Ayah, Bunda dan Riana bahagia. Begitu juga Mamah, Papa dan juga si kembar," tukasnya.
"Kamu ingin melihat kami bahagia? Apa kamu bahagia hidup jauh dari kami?" Suara yang terdengar sangat lirih dari mulut Ayanda.
"Keluarga adalah tempat untuk Echa pulang. Karena hanya keluarga lah yang mau menerima baik-buruknya Echa. Senang dan sedihnya Echa serta hanya keluarga yang benar-benar tulus menyayangi Echa."
"Biarkanlah Echa bersedih sejenak, merasa kehilangan sejenak. Doakan Echa supaya Echa bisa menemukan dan mendapatkan kebahagiaan di sana. Bisa melupakan apa yang sudah terkubur dalam. Bisa bangkit dari segala keterpurukan hati yang tergores dalam. Doakan Echa, Mah."
Ayanda memeluk erat putrinya. Sungguh dewasa pemikiran Echa. Disaat semuanya sedih, hanya dia yang bisa tersenyum. Dan berkata, "Echa tidak apa-apa. Echa baik-baik saja."
Gio hanya menghela napas kasar. Yang dia takutkan bukan tentang bahagia atau tidaknya Echa. Tapi, didikan Ayahnya lah yang sangat dia khawatirkan. Genta Wiguna adalah orang yang sangat tegas dan juga disiplin. Ketika salah harus dihukum. Apa ayahnya akan menerapkan sistem itu juga kepada Echa?
Di kediaman Rion, bibirnya tak henti melengkungkan senyum. Apalagi melihat putrinya yang terus memeluk erat tubuh Amanda. Seperti tidak ingin kehilangan Bundanya lagi.
Air mata Amanda pun tak hentinya menetes. Dia sangat bahagia bisa kembali bertemu dengan putri kesayangannya.
Seketika senyum Rion menghilang tatkala dia mengingat ucapan Echa. Apa dia harus bercerita kepada Amanda?
Echa memandang langit-langit kamarnya dengan senyuman hambar. "Saatnya menata hidup yang baru. Aku gak boleh lemah," gumamnya.
Bibir bisa berkata tegar, tapi hati pastilah sudah menangis. Echa tetaplah Echa, dia akan melakukan apapun untuk orang yang sangat dia sayangi.
Pagi harinya, Amanda sudah memasak sarapan kesukaan suaminya dan juga sarapan untuk Riana. Dia juga sudah menyiapkan bekal untuk Echa.
"Bang, tolong kasih bekal ini untuk Echa, ya. Bilang, sore ini suruh mampir ke sini. Manda mau masakin masakan kesukaan Echa." Rion pun tersenyum. Istrinya benar-benar sudah berubah.
Hari ini, Rion yang akan mengantarkan Echa ke sekolah. Karena Radit harus membantu ayahnya di rumah sakit.
"Pagi, Ayah," sapa Echa dengan senyuman cerianya.
"Ini ada titipan dari Bunda. Habiskan katanya." Mata Echa pun berbinar terlebih ada cokelat di dalam paper bag dan juga minuman cokelat.
"Dek, apa tidak bisa kamu merubah tempat kuliah kamu?" Echa menatap ayahnya yang sedang menyetir.
"Tidak Ayah, sudah keputusan final. Kakek sudah menunggu Echa di sana."
"Dek, apa kamu tidak kasihan sama Mamah? Mamah pasti akan sangat sedih," bujuk Rion.
"Ayah, sudah sangat sering Echa mengutamakan perasaan orang lain dibanding dengan perasaan Echa sendiri. Kini saatnya, Echa mengutamakan perasaan Echa sendiri." Rion pun terdiam mendengar ucapan putrinya.
Echa bukan anak kecil lagi yang harus menuruti setiap perkataan orangtuanya. Dia sudah dewasa, sudah waktunya dia menentukan pilihannya sendiri.
Mereka telah sampai di depan gerbang sekolah. Sebelum Echa turun, dia mencium tangan Ayahnya dulu.
"Dek, sore ini Pak Mat yang jemput kamu. Bunda mau masakin masakan kesukaan kamu." Echa tersenyum bahagia sambil mengacungkan jempolnya.
Rion benar-benar tidak fokus dalam bekerja, membuat Arya mengerutkan dahinya.
"Bini lu udah balik, tapi kayaknya banyak beban amat tuh muka," cela Arya.
Rion menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya. Dia memejamkan matanya sejenak.
"Amanda sudah kembali tapi, sebentar lagi Echa akan pergi." Arya menatap tajam ke arah Rion. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh sahabatnya ini.
"Anak lu mau pergi ke mana?"
"Dia mau kuliah di Ausi."
"Lu ngijinin?"
"Terpaksa," jawab Rion.
"Om Genta pasti punya alasan kenapa Echa disuruh kuliah di sana. Gua tau beliau sangat menyayangi Echa. Apapun akan dia lakukan untuk cucunya."
"Echa bilang, dia ingin menyembuhkan setiap lukanya," lirih Rion.
"Anak lu udah dewasa, udah saatnya dia mengatur hidupnya sendiri. Beri dia kebebasan, pasti ada alasan yang tidak kita ketahui dibalik keputusannya."
Rion hanya terdiam, dia pun merasakan sepertinya ada yang Echa sembunyikan darinya. Dia berniat untuk menanyakan hal itu kepada Ayanda.
Siang hari ketika jam istirahat, dia ke rumah Ayanda. Dia menanyakan tentang Echa yang ingin melanjutkan kuliah di Ausi.
Ayanda menatap Rion dengan mata nanar. Ada raut kesedihan di matanya. "Echa sedang dalam proses penyembuhan trauma psikis. Dan ternyata ...."
Rion mengerutkan dahinya ketika ucapan Ayanda terhenti. Apalagi air mata Ayanda sudah menetes.
"Penyakit Aritmia Echa sering kambuh. Dan dia menyembunyikan itu semua dari kita," lirihnya.
Hati Rion seperti dihantam batu yang sangat besar. Hancur, sudah pasti. Sakit, tentu saja.
"Ketika di Ausi, penyakit Echa kambuh dan Ayah segera membawanya ke rumah sakit. Dan benar saja, stres yang Echa rasakan sangat mempengaruhi kondisi jantung Echa. Maka dari itu, Ayah meminta kepadaku dan juga Gio untuk mengijinkan Echa kuliah di sana."
"Satu tahun pertama adalah pengobatan intens untuk Echa. Ketika semuanya sudah membaik dan progressnya bagus, barulah Echa boleh melanjutkan pendidikannya," jelas Ayanda.
"Bukannya jika penyakit itu datang lagi akan ...."
"Hanya 30 persen kemungkinan Echa akan selamat," lirihnya.
Rion mengusap kasar wajahnya. Ingin sekali dia menjerit. Menangis keras, hal penting seperti itu pun mampu Echa tutup rapat.
"Aku pun berat Mas melepaskannya. Tapi, aku ingin anakku sembuh. Aku ingin Echa benar-benar terlepas dari semua beban hatinya. Aku ingin Echa kembali sehat lagi. Sehat tubuh dan psikisnya, aku ingin melihat Echa seperti anak normal lainnya," lirihnya.
"Mas telah gagal menjadi Ayah, Dek. Mas, gagal ...."
"Aku pun Mas, perpisahan kita membawa dampak buruk pada psikis Echa. Banyak yang tidak aku tahu, banyak yang Echa pendam sendiri."
Ayanda dan juga Rion merenungi kesalahan demi kesalahan yang mereka perbuat hingga berimbas pada anak mereka.
Jam pulang sekolah tiba, Echa dijemput oleh Pak Mat dan pulang ke rumah Bundanya. Tibanya di sana dia disambut hangat oleh Riana.
"Bunta, tata datang," teriak Riana.
Amanda tersenyum ke arah Echa, Echa pun mencium tangan Amanda dengan sopan.
"Tunggu sebentar lagi, kwetiau goreng pedasnya belum selesai." Echa pun memilih bermain bersama Riana. Terdengar gelak tawa dari ruang keluarga, membuat Amanda tersenyum bahagia.
Setelah semuanya sudah terhidang, Amanda membawa beberapa piring menuju ruang keluarga. "Loh kok dibawa ke sini?" tanya Echa.
"Kalian bermain saja, Bunda ingin menyuapi anak-anak Bunda," imbuhnya.
Hati Echa mencelos ketika mendengar ucapan Bundanya. Dan dengan telaten Amanda menyuapi Echa dan Riana bergantian dengan sesekali mereka bercanda.
Rion yang baru saja datang, hanya dapat menyandarkan tubuhnya ke dinding. Tawa putrinya yang setiap hari selalu dia tunjukkan ternyata hanya kamuflase belaka. Kesedihan yang Echa tutup dengan balutan tawa renyah.
Sudah satu jam Rion memandang keakraban Amanda, Echa dan juga Riana. Dia ingin menyimpan kejadian ini di memori otaknya. Karena sebentar lagi, putrinya akan pergi jauh darinya.
Setelah mengatur napasnya, Rion bergabung bersama mereka dan mencium kening ketiga wanita yang amat Rion sayangi.
Mereka bercanda bersama, tertawa bersama layaknya keluarga bahagia. Terlihat jelas pancaran kebahagiaan di wajah Amanda. Rion mengeluarkan ponselnya dan mengajak selfie ketiga wanita kesayangannya. Dalam beberapa pose selfie, Rion terus memeluk erat tubuh Echa. Dia ingin foto ini menjadi pelipur rindu ketika Echa jauh di sana.
Setelah selesai bercengkrama, Rion mengajak Echa duduk di gazebo. Echa memeluk pinggang ayahnya dengan sangat erat.
"Echa pasti akan sangat merindukan pelukan hangat Ayah," imbuhnya.
"Ayah juga pasti akan sangat merindukan kamu, Dek. Jaga diri kamu baik-baik, kamu adalah permata berharga untuk Ayah."
"Maafkan Ayah belum bisa jadi Ayah yang baik untuk kamu," lirihnya.
Echa semakin mengeratkan pelukannya ke pinggang Rion. "Ayah tetaplah Ayah terbaik untuk Echa, Echa sayang Ayah. Dan rasa sayang Echa ini tidak akan pernah bisa berubah. Ayah dan Mamah adalah separuh nyawa Echa." Bulir bening pun menetes di pelupuk mata Rion.
"Kenapa Ayah menangis?" tanya Echa seraya mengusap air mata di pipi Ayahnya.
"Tidak terasa putri kecil Ayah sudah dewasa. Sudah menjelma menjadi gadis cantik dan juga berhati baik. Dan sebentar lagi, kamu akan pergi jauh dari Ayah." Echa hanya tersenyum.
"Jangan menangis, Echa pergi untuk mencari kebahagiaan Echa. Echa akan baik-baik saja, Ayah." Rion mendekap hangat kembali tubuh Echa.
Echa memejamkan matanya merasakan pelukan hangat sang Ayah yang sudah lama ini tidak dia rasakan. Dia akan mengingat-ingat bagaimana rasanya dekapan ayahnya. Agar ketika nanti Echa rindu ayahnya, dia bisa membayangkan hangatnya pelukan Rion.
Sudah lama Echa memeluk erat tubuh Rion, hingga tangan Echa mulai mengendur. Rion menatap putrinya ternyata dia sudah tertidur. Rion pun tersenyum.
"Bang ...."
Ucapan Amanda terhenti ketika melihat putri sulungnya tertidur. "Pindahkan Bang, kasihan," ucap Amanda.
Rion pun dengan hati-hati membawa tubuh Echa ke kamarnya. Sedangkan Amanda menatap nanar gazebo ini. Di mana putrinya pernah tertidur di sini demi menunggu ayahnya. Tapa bantal, tanpa selimut hanya meringkuk seorang diri. Dan sekarang, putrinya tertidur kembali. Tapi, dengan dekapan hangat ayahnya.
"Bunda janji, bunda akan membahagiakan mu," gumamnya.
Di kamar Echa, Rion meletakkan tubuh Echa dengan pelan. Membenarkan anak rambut yang menutupi wajah putrinya. Menyelimuti tubuh Echa lalu mengecup kening Echa sangat dalam.
"Ayah sayang kamu, Dek."
Rion hendak beranjak dari tempat tidur Echa. "Echa rindu pelukan Ayah, jangan pernah lepaskan pelukanmu, Ayah." Gumaman Echa membuat Rion menatap sedih ke arah putrinya yang sudah terlelap.
Bukan hanya Riana yang sering mengigau, anak gadisnya pun sama. Rion duduk di samping tempat tidur Echa. Dia memandang lamat-lamat wajah putrinya yang terlihat sangat damai.
Dia sedang mengingat-ingat inchi demi inchi wajah Echa agar tergambar jelas di kepalanya. Agar dia selalu mengingat wajah cantik putrinya.
Amanda berdiri diambang pintu, hatinya sakit karena telah memisahkan anak dan ayahnya. Apalagi melihat suaminya sekarang, yang masih betah di dalam kamar Echa dan memandang wajah Echa yang sedang tertidur.
Amanda mengira Rion benar-benar merindukan Echa. Padahal, Rion tengah menangis dalam hati menyesali semua perbuatannya dan menguatkan diri untuk melepaskan putrinya nanti. Meskipun hanya ke Australia, tapi tetap saja sangat berat terasa melepas Echa. Putri yang terlambat dia jaga
****
Mau nanya, kalo aku UP 2x sehari pada bosen gak sih? Jawab di kolom komentar ya ...
Ayo dong, jangan timbun-timbun UP Bang Duda. Kesetiaan kalian mempengaruhi level karya aku.