Bang Duda

Bang Duda
252. Seringai Licik (Musim Kedua)



Melihat adegan seperti itu membuat Aska marah dan kecewa terhadap Mommy-nya. Padahal, Mommy dan ayahnya sering berpelukan seperti itu. Malah lebih seringnya Mommy dan ayahnya berpelukan di depan Daddy dan bundanya.


Kali ini, Aska benar-benar marah dan dia langsung membanting pintu kamar dan menguncinya dari dalam.


"Adek, buka pintu Dek. Mommy mau bicara," pinta Ayanda.


"Adek gak mau ketemu Mommy, Mommy bukan ibu yang baik untuk Adek."


Sakit sekali hati Ayanda mendengar jawaban dari putra bungsunya itu. Melihat bulir bening yang menetes di pipi wanita kesayangannya, Aksa langsung menggedor-gedor pintu kamar dengan sangat keras.


"Aska, buka pintunya," teriak Aksa.


Tidak ada jawaban dari dalam membuat Aksa semakin geram. "Lu udah bikin Mommy nangis, lu udah jadi anak durhaka," teriak Aksa lagi.


Ayanda memeluk tubuh Aksa dengan sangat erat. Di saat dia sedih seperti ini anak laki-lakinya yang satu ini memasang badan untuknya.


"Kita ke bawah, biarkan si Aska tenang dulu," ajak Rion.


Sesampainya di ruang keluarga, Rion menceritakan semuanya kepada Aksa dan Aksa pun mengerti.


"Abang gak nyalahin Mommy sama Ayah. Abang kesal sama Adek, dia terlalu percaya dengan omongan-omongan jahat dari wali murid. Apalagi yang berbicara jahat itu Mamahnya Chika. Temen dekat Adek," jelas Aksa.


"Emang ibu itu bilang apa?" tanya Rion.


"Tadi sih pas pulang Abang denger, ibu jahat itu menghasut wali murid lain supaya anak-anak mereka menjauhi Abang dan Adek. Karena dia bilang Mommy adalah wanita tidak benar. Tukang ngerebut suami orang. Sama materai," jelasnya.


"Matre," ralat Ayanda dan Rion berbarengan.


"Ya Abang gak tau, Abang gak ngerti yang begitu-begituan," sahutnya.


Ayanda dan Rion pun tertawa sambil mengusap lembut kepala Aksa.


"Sssttt!"


Mereka semua mencari asal suara tersebut. Hingga mereka menatap ke arah belakang sofa. Beeya sedang menonton sebuah video lalu dia tertawa girang.


"Ayah, Mommy dan Kak Aska jadi artis." Beeya pun bertepuk tangan.


Rion mengambil ponsel yang Riana pegang, mata Rion melebar dengan sempurna. Apalagi di media sosial itu disebutkan siaran langsung.


Rion menyerahkan ke arah Ayanda dan tubuh Ayanda lemas seketika.


***


Di perjalan menuju kediaman Ayanda, Arya terus diumpat oleh kedua wanita yang sedang dia bawa. Membuat telinga Arya sakit karena seringnya mereka berteriak. Terlebih Riana yang sedari tadi mengoceh-oceh sambil mengancam Arya.


Sesampainya di sana, Riana dan kedua wanita yang menaiki mobil Arya berlari. Tinggal Arya yang hanya menghela napas kasar.


"Gitu kali ya kalo punya bini dua," gumamnya.


Mata Ayanda berkaca-kaca ketika Beby memeluk tubuh Ayanda. " Sabar Kak." Ayanda hanya mengangguk.


"Sayang, Abang ...."


"Manda percaya sama Abang." Rion pun memeluk tubuh istrinya.


Sedangkan Beeya mengambil ponsel yang dia temukan tadi dan menonton siaran langsung itu lagi.


"Hebat, Mommy, Ayah dan Kak Aska main film," ocehnya.


Arya yang mendengar ocehan dari Beeya langsung menghampiri putrinya. "Dari mana kamu dapat ponsel ini, Bee?"


Beeya hanya tersenyum menunjukkan giginya yang belum lengkap. Beeya menunjuk arah dapur.


"Si Andra ke mana?" tanya Arya.


"Dia lagi ke Surabaya."


"Lu udah liat kan?" Ayanda pun mengangguk pelan.


"Gua gak ngerti nih orang dendam sama lu apa sama si Rion. Atau emang dendam sama lu berdua," tukasnya.


Di lain tempat, senyum tersungging sempurna di bibir Gio. "Masuk perangkap," ucapnya yang terdengar mengerikan.


"Apa yang akan Anda lakukan?" tanya Remon.


Remon hanya menghela napas kasar. Setimpal menurut Gio adalah balasan lebih buruk menurut Remon. Apalah daya Remon, dia hanya sebagai bawahan yang harus patuh kepada atasan.


"Sudah siap semua?" Remon pun mengangguk.


"Kita ke sana."


Di sebuah rumah minimalis modern, tiga wanita sedang memeluk tubuh wanita yang umurnya sedikit lebih tua dari mereka.


"Makasih Kak, sudah membebaskan kami," ucap Dea.


"Tidak perlu khawatir. Aku masih punya orang dalam untuk membebaskan kalian dengan mudah," ucapnya sombong.


Putri dan Vera pun tersenyum ke arah wanita itu. Seorang pembantu rumah tangga menghampiri wanita itu. "Maaf Nyonya Cantika, ada tamu." Cantika pun meninggalkan tiga wanita itu dan menghampiri Sella, tamunya.


"Ibu sudah lihat sosial media?" Cantika pun mengeluarkan ponselnya dan tertawa ketika rencananya berhasil.


"Sebentar lagi dia akan dijauhi oleh suaminya dan juga anak-anaknya. Wanita itu akan hidup sendirian lagi," ujarnya dengan tertawa sangat bahagia.


"Apa semudah itu Nyonya? Bukankah Tuan Gio itu sangat mencintai Nyonya Ayanda," tanya Sella.


"Gio itu adalah lelaki yang setia. Tapi, dia sangat tidak suka dengan yang namanya perselingkuhan. Tanpa pikir panjang, dia pasti akan menceraikan istrinya. Apalagi salah satu anak kembar dari Gio itu adalah anak yang paling Gio sayangi," jelasnya.


"Sebarkan video itu ke media, tapi jangan meninggalkan jejak apapun. Biar berita ini mempengaruhi saham dari perusahaan Gio dan dia akan berlutut meminta bantuan kepadaku." Cantika pun tertawa puas.


Tepukan tangan menghentikan tertawa Gio. "Bagus sekali, sudah kuduga kamu adalah dalangnya." Wajah Cantika pun mulai pucat. Apalagi Sella wajahnya seperti mayat hidup.


"Ada kecoak nakal rupanya di rumah saya," ucapnya sambil menatap tajam ke arah Sella.


"Putri, langsung sebar video itu ke media tempatmu bekerja dan juga video ketika dia tengah menyogok salah satu polisi supaya membebaskan Vera dan kedua sahabatnya."


Putri yang sedari tadi bersembunyi pun akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Dia menganggukkan kepala menuruti semua perintah Gio.


"Gio, aku mohon jangan lakukan itu." Kini, Cantika sudah berlutut di kaki Gio.


Dengan kerasnya Gio mengibaskan kakinya hingga rangkulan tangan Cantika di kaki Gio terlepas.


"Jangan main-main denganku Cantika. Aku tidak memandang bulu, jika ada yang mengusik ku serta keluargaku hanya ada dua pilihan. Masuk rumah sakit atau liang lahat," ancamnya.


Sella semakin ketakutan mendengarnya. "Termasuk kamu," sentak Gio kepada Sella.


"Kamu tidak akan berani melakukan itu," sahut Cantika yang sudah menatap tajam ke arah Gio.


"Hahaha ... Cantika, Cantika."


"Aku bisa melakukan semuanya, apalagi memasukkan suamimu ke dalam penjara dan akan membusuk di sana seumur hidupnya."


Deg.


Jantung Cantika terasa berhenti mendengar ucapan Gio kali ini. Cantika benar-benar merasa terancam.


"Mahendra Sunyoto adalah dokter kandungan yang membuka praktek ilegal, yaitu aborsi." Mata Cantika melebar dengan sempurna mendengarnya.


Begitu juga Vera dan juga Dea yang sedang melihat percekcokan antara Gio dan Cantika.


"Mahen sebenarnya orang baik, hanya saja dia terlalu sayang padamu dan selalu menuruti semua kemauan mu. Karena kamu selalu mengancam Mahen menggunakan anak kamu. Padahal anak kamu itu bukanlah anak Mahen."


Cantika pun terdiam mendengar penuturan Gio. Dia tidak menyangka Gio mengetahui semua rahasianya.


"Siap-siaplah sebentar lagi akan ada yang menjemputmu," ucap Gio.


"Dan kamu Dea, berhati-hatilah berteman dengan Vera. Karena dia adalah wanita malam yang hanya menutupi pekerjaannya dengan pakaian tertutup yang dia kenakan."


Gio berlalu meninggalkan rumah itu. Dan dia akan menunggu berita yang akan tersebar di media.


"Siapa di sini yang akan kalah." Seringai licik muncul di wajahnya.


***


Kalian udah bosen ya sama cerita Bang Duda ....?


Sedih loh, lope semakin berkurang.


Kalian bisa bantu aku kan, kalo ada notif Up Bang Duda langsung baca ya jangan ditimbun-timbun. Bantu aku untuk mempertahankan level karya Bang Duda.