
Dengan sangat terpaksa, Gio membangunkan istrinya untuk ikut dengannya. Gio hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan Ayanda.
"Mom, Sayang," panggil lembut Gio seraya menepuk pipi istrinya yang terlihat chubby.
"Hm." Hanya gumaman yang menjadi jawaban Ayanda.
"Bangun ya, ikut Daddy," ucapnya pelan.
Dengan terpaksa Ayanda membuka matanya. menatap Gio dengan wajah lelahnya.
"Mandi dulu ya." Gio langsung membopong tubuh istrinya dan memandikan istrinya dengan telaten. Sebenarnya Gio tidak tega, tapi dia juga tidak akan membiarkan istrinya di apartment seorang diri. Echa sudah izin pulang malam karena harus ke toko buku dulu.
Setelah selesai memandikan istrinya dan memakaikan baju Ayanda. Ayanda menggenggam tangan Gio. Seolah menanyakan ada apa? Hanya seulas senyum yang Gio berikan.
"Mau make up dulu?" tanya Gio.
"Aku pake masker aja," jawab Ayanda.
Semenjak menginjak usia kandungan ke-6 bulan, Ayanda tidak pernah memoleskan bedak apapun ke wajahnya. Dengan alasan malas. Akan tetapi, meskipun tanpa make up wajah Ayanda terlihat segar dan sangat bersih dan terlihat sangat cantik. Seperti memakai riasan. Sehingga membuat Sheza dan Beby iri dengan kecantikan wajah Ayanda.
Remon melajukan mobil menuju salah satu rumah sakit. Ayanda hanya menyandarkan kepalanya ke bahu Gio dengan memejamkan matanya.
"Masih ngantuk?" tanya Gio.
"Aku lelah," jawab Ayanda.
"Wah Boss abis ngapain tuh?" sambung Remon.
"Kepo aja lu," sarkar Gio dan Remon pun hanya terkekeh geli di kursi kemudi depan.
Setengah jam kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Ayanda hanya mengerutkan dahinya bingung. Gio terus menggenggam tangan istrinya. Tak lama salah satu anak suruhan Gio menghampirinya.
"Gimana?" tanya Gio.
"Masih di IGD."
"Siapa yang sakit, Dad?" tanya Ayanda.
"Dinda melakukan percobaan bunuh diri," jawabnya.
Ayanda terkejut mendengarnya. Orang semacam Dinda ternyata bisa depresi juga. Biasanya dia yang selalu membuat orang lain depresi.
"Bagaimana keadaannya?"
"Masih ditangani dokter Bu Boss."
Mereka pun menuju ruang IGD, seorang dokter keluar dengan wajah sendu.
"Ada apa, Dok?" tanya Gio.
Dokter hanya menggelengkan kepalanya membuat Gio mengerutkan dahinya, tidak mengerti.
"Maaf, kami sudah melakukan tindakan semaksimal mungkin. Namun, takdir berkehendak lain. Pasien telah tiada," ungkap dokter.
Dua jam yang lalu ....
Salah satu orang suruhan Gio membawakan makanan ke dalam kamar Erlan. Dinda hanya duduk diam di sana dengan memeluk dua figura di dadanya. Tidak ada isak tangis, hanya tatapan kosong dan pancaran wajah yang sangat menyedihkan yang terlihat.
"Kenapa kalian tega meninggalkan aku?" gumamnya.
"Aku di sini sendiri. Aku butuh kalian," sambungnya lagi.
Dinda menatap foto Erlan. "Kamu bilang mereka yang sudah membantumu. Tapi, kenapa kamu bisa mati? Harusnya mereka berusaha agar kamu tetap bisa hidup." Monolognya.
"Kalian bodoh! Bodoh!" teriak Dinda di dalam kamar. Tak lama suara tangisan pun terdengar. Dinda terus saja berteriak, tak lama tertawa, dan juga menangis.
Hingga dia lelah sendiri, dia masuk ke kamar mandi. Dilihatnya ada karbol pembersih lantai di pojokan. Senyum tipis terukir dari bibirnya. Dia membawa cairan itu dan meletakkan di meja samping tempat tidur.
Dinda mencari satu benda lagi di dalam laci, bibirnya terangkat. Dan dia membawa benda itu dan meletakkannya di meja samping tempat tidur.
Dua benda yang sudah ada di atas meja. Cairan karbol pembersih lantai dan juga karter.
"Aku tidak mungkin hidup dalam bayang-bayang manusia kejam seperti mereka. Aku lebih baik ikut kalian," gumamnya.
Dinda pun meneguk cairan karbol yang berada di atas nakas. Dia merasa tidak ada reaksi apa-apa.
Diambilnya karter, di letakkan di tangan di bagian urat nadinya. "Aku akan menyusul kalian. Tunggu aku di sana."
Dengan brutal dan seolah tidak ada rasa sedikitpun, Dinda menekan karter yang awalnya hanya berada di atas permukaan kulit kini karter tersebut sudah sedikit masuk dalam kulitnya. Hingga membuat kulitnya menganga dan luka goresannya cukup dalam. Darah yang keluar pun sangat deras. Yang Dinda lakukan hanya menunggu kematiannya saja.
Lima belas menit berselang, tubuh Dinda lemas. Dia pun terkapar di lantai dengan darah yang terus mengalir dan juga mulut yang berbusa.
Sebelumnya, Dinda menuliskan sesuatu dari darahnya di atas secarik kertas.
Lebih baik aku mati daripada meminta maaf kepada kalian.
***
Seorang pengawal memberikan secarik kertas kepada Gio. Ayanda ikut membacanya dan seketika tubuhnya terkulai lemas di kursi.
"Karena ini dia memilih untuk bunuh diri," ujar Ayanda tak percaya.
Gio menghampiri istrinya dan merengkuh tubuh Ayanda. "Semuanya sudah takdir Tuhan. Jalan kematian yang dia pilih adalah seperti ini," imbuh Gio.
Gio tahu hati kecil Ayanda menyalahkan dirinya sendiri. Kenyataannya, Dinda lah yang bermain api terlebih dahulu. Pada akhirnya api membakar tubuhnya sendiri dan sekarang dia pun memilih untuk pergi selama-lamanya.
Di Yogyakarta.
Seorang suami sedang merengek minta mimi kepada istrinya. Namun, selalu Amanda tolak.
"Sayang ...."
"Bang, nanti aja kalo kita udah pulang dari rumah sakit. Terserah deh Abang mau Mimi berapa jam," ucap Amanda.
Rion hanya memonyongkan bibirnya, hasratnya lagi-lagi tidak bisa tersalurkan. Ponselnya berdering, Rion pun menjawabnya. Seketika tubuhnya mematung dan tanpa sengaja dia menjatuhkan ponselnya. Untungnya ponselnya jatuh ke samping ranjang pesakitan Amanda. Amanda sedikit bingung dengan sikap suaminya.
"Ada apa?" tanya Amanda.
"Dinda meninggal," jawab lirih Rion.
Amanda melihat raut kesedihan pada wajah Rion. Seolah dia sangat kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupnya. Hanya keheningan yang tercipta. Mereka bergelut dengan pikirannya masing-masing.
"Gio sudah menyiapkan pesawat pribadi miliknya. Dan perawatan kamu akan dipindahkan ke Jakarta," jelas Rion.
Tidak ada jawaban apapun dari mulut Amanda. Melihat sikap suaminya seakan mematahkan hatinya lagi.
Begitu berhargakah dia untukmu, Bang?
Rion dan Amanda sudah dijemput oleh orang suruhan Gio. Mereka pun meninggalkan rumah sakit. Rion berjalan sangat cepat dengan langkah lebarnya tanpa memperdulikan Amanda yang harus berjalan tertatih di belakangnya.
"Cepet dong," bentak Rion.
Dengan mata tajam Amanda menatap Rion. Dia masih mematung di depan pintu mobil.
"Ngapain berdiri di situ, cepet masuk," geram Rion melihat Amanda.
Bukannya masuk, Amanda malah membanting pintu sangat keras. Membuat Rion terlonjak kaget. Amanda pun menjauh dari mobil yang menjemput mereka, membuat Rion berdecak kesal. Rion turun dari mobil dan mengejarnya.
"Apa-apaan sih kamu?" bentaknya lagi.
"Abang yang apa-apaan? Mendengar selingkuhan Abang menghadap Sang Pencipta Abang sangat luar biasa khawatirnya. Abang seolah lupa dengan Manda istri Abang yang masih merasakan sakit di perut," jelasnya dengan mata yang sudah nanar.
Rion pun tercengang mendengar ucapan istrinya. Kesedihannya mendengar berita duka tentang Dinda membuatnya lupa akan sakit istrinya.
"Manda tahu Abang masih mencintai dia. Pergilah, temui dia untuk terakhir kalinya. Semoga Abang bisa melupakannya selamanya, seperti dia yang meninggalkan Abang untuk selamanya," jelas Amanda.
Amanda pun memberhentikan taksi yang sedang melintas. Dia meninggalkan Rion seorang diri yang sedang mematung di tempatnya.
Ternyata Abang belum sepenuhnya mencintai Amanda. Masih dia yang utama di hati Abang, batinnya.
****
Hay ....
Jangan lupa like, komen dan juga vote ya ...
Happy reading semua ...