
Beby mengecup lembut bibir sang suami yang tengah bersandar di sofa dengan mata terpejam. "Maaf ya, Yang," ucapnya penuh dengan penyesalan.
"Pusing tau, Yang. Kalo gak tersalurkan," rengeknya dengan tangan yang melingkar di pinggang Beby.
Ada rasa iba di hati Beby. Hari ini dia sangat dipuaskan oleh Arya, namun dia belum memuaskan hasrat suaminya seutuhnya. Malah menggantungnya layaknya jemuran yang belum kering.
"Kalian tuh, Mamih datang bukan disambut malah bermesraan di kamar," sentak nyonya Reina yang menerobos masuk ke dalam kamar putranya.
"Ck, Mamih apa-apaan sih? Ganggu anaknya aja yang mau manteb-manteb," geram Arya yang semakin erat memeluk pinggang Beby.
"Gak usah manja." Nyonya Reina menjewer telinga Arya dan tangannya pun terlepas dari pinggang Beby.
"Mih ... sakit Mih," teriak Arya. Dia merasa telinganya akan segera putus.
Nyonya Reina melepaskan tangannya dari telinga Arya. "Mamih mau ajak istri kamu perawatan dan juga belanja. Kamu tidak boleh ngelarang."
"Tapi, Mih ...."
"Tidak!" tegas Nyonya Reina.
Akhirnya, Arya pun mengalah menuruti titah Baginda ratu. Setiap perkataannya harus selalu dia turuti. Jika tidak, telinganya akan memerah dan membengkak karena jeweran sadis sang Mamih.
Beby sedang berganti pakaian sedangkan Arya memilih turun. Dia melihat sang Kakak sedang asyik makan buah di ruang tamu sambil menonton tv.
"Enak banget ya lu, ke rumah orang bukannya bawa makanan malah ngabisin makanan orang." Arina hanya melirik sebal ke arah adiknya yang durhaka ini.
"Berisik lah, gua lapar Sunarya. Bating buah anggur doang juga," sahut Arina.
"Mbak, tau gak?"
"Tau apaan? Orang lu belum cerita," jawab Arina dengan mata yang masih fokus ke acara televisi.
"LU SAMA MAMIH GANGGU KENIKMATAN GUA," teriaknya tepat di telinga Arina.
"SUNARYA!" pekik Arina.
Nyonya Reina dan Beby pun segera turun ke lantai bawah ke arah keributan yang mereka dengar. Adik-Kakak saling jambak seperti bocah yang berbuat mainan. Arya dan Arina merasakan panas di telinga mereka. Mereka pun memohon ampun kepada sang Baginda ratu dengan wajah yang memelas. Sedangkan Beby terus tertawa melihat suaminya disiksa sang Mamih mertua.
"Ayo, menantu paling cantik Mamih. Kita bersenang-senang hari ini," ajaknya.
Sedangkan Arina dan juga Arya masih mengusap-usap telinganya yang terasa sangat panas.
"Yang, aku berangkat sama Mamih dulu, ya," pamitnya sambil mencium tangan Arya.
"Hati-hati, Sayang. Ingat, jangan pernah kamu keluarin duit sepeser pun. Biar semuanya Mamih yang bayarin dan belanjain. Kamu mah tinggal duduk manis aja. Apapun yang kamu suka tinggal pilih. Suruh Mamih yang bayarin," cerocos Arya.
"Ck, baru segitu. Klinik perawatan dan toko baju terkenal pun sanggup Mamih beli buat menantu cantik kesayangan Mamih ini," sahutnya.
"Suombongnya emakmu, Mbak," ujar Arya.
"Emak lu juga, Sunarya," balas Arina.
Beby dan nyonya Reina pun hendak keluar namun, dicegah oleh Arya. "Yang, aku mau ketemu sama Azka, Andra dan Rion ya." Beby pun menganggukkan kepalanya dengan senyuman manis di bibirnya.
Arya mencium pipi Beby dengan cepat dan langsung berlari menjauhi tiga wanita di depannya. Karena sudah dipastikan akan ada suara Tarzan lagi.
Nyonya Reina yang hendak berteriak pun mengurungkan niatnya karena Beby sudah merangkul lengannya dengan wajah yang bersemu merah. "Maafkan anak Mamih, ya. Dia anak tidak tahu diri." Beby pun hanya tersenyum mendengar ucapan dari Mamih mertuanya.
Keempat pria sudah duduk manis di sebuah kedai kopi. Sudah lebih dari dua Minggu ini mereka tidak berkumpul bersama. Mereka sudah memesan kopi kesukaan mereka masing-masing.
"Gimana malam pertama?" tanya Gio mengawali obrolan mereka.
"Bha cot lah," sentak Arya.
Rion pun tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Gio dan Azka mengerutkan dahi mereka tidak mengerti.
"Hampir ngebobol gua, tapi emak gua malah meniup peluit panjang di saat gua baru mau masukin."
Tertawa renyah keluar dari mulut tiga pria yang sedang berada bersama Arya. "PUAS kalian PUAS."
"Lu lu pada udah lebih berpengalaman. Dan lu tau kan rasanya lagi tegang-tegangnya tapi di PHP-in," lirih Arya dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
"Kan udah gua bilang mandi di tujuh sumur dulu," ledek Rion kembali sambil terkekeh kecil.
"Si alan!" pekik Arya.
"Ternyata gua gak sendirian," imbuh Gio sambil menyesap kopinya.
Tiga pasang mata menatap Gio dengan tatapan bingung. Gio menghembuskan napas berat. "Gimana rasanya pas dipincak-puncaknua disuruh cepet-cepat karena anak nangis?"
"Hahaha ...."
Ketiga pria itu menertawakan penderitaan si Perfect Daddy. Di mata ketiga sahabat Gio, rumah tangga Gio dan istrinya sangat harmonis dan sempurna. Ternyata sama saja seperti rumah tangga mereka.
"Bukannya nikmat, malah sakit punya gua," imbuhnya.
"Bukannya si kembar ada pengasuhnya?" tanya Rion.
"Mereka gak mau tidur sama pengasuhnya. Mereka pengen deket terus sama Mommy-nya. Dan anehnya, kalo gua lagi ngegerepe bini gua, si Adek langsung nangis. Padahal dia jauh lebih anteng dari si Abang," ungkapnya.
"Kan gua udah bilang. si Abang mirip lu, si Adek mirip emaknya. Jadi, ntu si Adek gak ikhlas emaknya lu grepe-grepe," sahut Arya.
Mereka berempat pun terus mengobrol seputar hubungan suami-istri dan yang lainnya. Sedangkan, tiga wanita kesayangan Arya sedang berada di salah satu toko pakaian. Wajah Beby tiba-tiba merona melihat apa yang dijual di toko itu.
Selama melakukan perawatan tubuh, nyonya Reina banyak memberikan pelajaran baru kepada menantunya. Pelajaran untuk memuaskan suami di ranjang. Beby pun mendengarkan secara seksama.
"Pilih Sayang, mana yang cocok untukmu," ucap nyonya Reina.
Dengan malu Beby mengambil pakaian yang berwarna merah menyala. Nyonya Reina pun tersenyum. Nyonya Reina pun menyuruh penjaga toko untuk membungkus semua pakaian yang Beby pilih dengan warna yang berbeda.
"Mih, kebanyakan ini." Protes Beby.
"Tidak apa, Sayang. Kamu masih ingat kan apa yang Mamih katakan tadi." Beby pun mengangguk pelan.
Setelah melakukan pembayaran, mereka meninggalkan toko tersebut dan langsung pulang. Sesampainya di rumah, Beby melihat kamarnya masih kosong. Ternyata suaminya belum pulang. Padahal, waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam.
Beby masuk ke dalam kamar mandi dan berendam. Menghilangkan rasa lelah di kakaknya setelah hampir seharian berjalan-jalan di dalam mall. Hampir satu jam Beby berada di dalam kamar mandi. Dia pun keluar dengan memakai pakaian yang baru saja dibelikan mertuanya.
Beby keluar dari kamar mandi dan bersamaan dengan itu, Arya masuk ke dalam kamar. Matanya melebar dengan sempurna melihat penampilan istrinya. Leher jenjang istrinya terekspose dengan sempurna. Membuatnya menelan ludah.
"Sayang." Arya langsung menghampiri Beby yang sedang tertunduk malu.
Arya meraih dagu Beby supaya menatapnya. Mata mereka memancarkan cinta yang luar biasa. Hingga hembusan napas Arya mulai mendekat dan terus mendekat. Beby pun memejamkan matanya menikmati sapuan lembut bibir Arya dengan tangan Arya yang sudah bergerilya menyusuri tubuh seksi istrinya.
Mereka berciuman seolah mereka memiliki cadangan oksigen. yang banyak. Dengan sengajanya, Arya menggesek-gesekkan bagian yang mulai menegang ke pangkal paha Beby. Desah*n manja lolos begitu saja dari mulut Beby.
Arya benar-benar sudah tidak tahan, ingin segera menuntaskan hasratnya yang sudah di ubun-ubun. Arya terus memberikan rangsangan dengan tangannya dan juga lidahnya yang sangat lihai. Sebelum melanjutkannya, Arya mengunci kamarnya terlebih dahulu. Tak lupa dia mematikan ponselnya. Agar tidak ada orang yang akan mengganggunya. Dan ponsel Beby pun sengaja Arya matikan.
Secepat kilat Arya membuka pakaian yang dia kenakan, hingga tak sehelai benang pun menempel ditubuhnya. Tangan Arya terus menyentuh bagian sensitif istrinya membuat Beby tak sepenuhnya sadar karena sentuhan Arya membuatnya terbang ke awang-awang. Hanya desah*n demi desah*n yang keluar dari mulut Beby.
Tangan Arya sudah memegang apa yang sudah tegang. Dengan sengaja Arya menggesek-gesekkannya dipintu masuk lubang kenikmatan hingga Beby Mendes*h semakin kencang. Dan ....
Sudah 1200 kata jadi, cukup sampai sini di bab ini. 😁
****
Happy reading ....