Bang Duda

Bang Duda
329. Kebahagiaan Genta (Musim Kedua)



Hampir 30 jam mengudara, akhirnya Genta tiba di London. Waktu menunjukkan pukul 01.30 malam, membuat Genta harus bermalam terlebih dahulu di hotel. Karena dia tidak ingin mengganggu cucu kesayangannya yang tengah terlelap.


Genta menerima laporan dari orang kepercayaannya. Matanya memicing dengan sempurna ketika melihat gambar yang dikirim oleh seseorang dari Indonesia.


"Tak kan ku biarkan kamu bersama cucu kesayanganku. Sebelum watak mu berubah," gumam Genta.


Kasih sayang Genta kepada si kembar sama seperti kepada Echa. Tapi, Genta tidak memanjakan mereka dengan alasan mereka adalah laki-laki. Laki-laki harus bermental baja dan tahan banting. Maka dari itu, Genta seolah acuh padahal dia selalu mengawasi gerak-gerik cucu kembarnya. Dan jiwa pemimpin dapat Genta lihat di dalam diri Aksa. Hampir 90% sikapnya mirip Giondra. Sedangkan Aska, memiliki sifat yang masih labil.


Pagi menjelang, Echa sudah membuka matanya. Dan dilihatnya Radit sedang memeluknya dengan tangan yang satunya menempel di perut Echa. Senyum mengembang di wajah cantik Echa. Perlahan dia turun dari tempat tidur dengan hati-hati. Karena dia tidak ingin membangunkan suaminya yang memang semalaman begadang. Memijat kaki Echa hingga Echa benar-benar terlelap.


Hamil anak kembar memiliki sensasi yang sangat berbeda. Empat bulan, tapi seperti hamil tujuh bulan. Besar dan sudah banyak keluhannya. Untung saja, Radit adalah suami siaga. Yang tidak pernah mengeluh ketika istrinya banyak maunya.


"Tidak ada rasa lelah jika menyangkut kamu dan calon anak-anak kita." Itulah yang selalu Radit katakan.


Sungguh luar biasa seorang Raditya Addhitama. Yang kesabarannya seluas samudera. Selama pacaran dan sekarang menjalani biduk rumah tangga, tidak pernah sekali pun Radit berbicara kasar. Marahnya Radit hanya diam dan menyendiri. Itulah yang membuat Echa tahu diri.


Setelah selesai mencuci wajah, Echa keluar kamarnya dan menuju dapur. Sebenarnya sudah ada orang yang membantunya di rumah. Tapi, untuk sarapan Echa tidak ingin orang lain yang membuatkannya untuk Radit. Jika, makan siang dan malam barulah Echa menyerahkan kepada asisten yang bekerja di rumahnya.


Sebenarnya Radit melarang, tapi Echa tetap bersikukuh. Bukan tanpa alasan, Echa ingin Radit mencicipi masakan yang dia buat meskipun hanya sarapan yang sederhana. Dan Radit tidak melarang, asal tidak melakukan hal-hal yang berat apalagi keadaan Echa saat ini sedang hamil triplets. Pastinya membuat tubuh Echa mudah lelah.


Echa sedang bergulat dengan wajan dan spatula. Pagi ini, Echa ingin sarapan nasi goreng. Dengan banyak campuran. Ada daging sapi, ayam, sosis dan juga telur. Serta beberapa sayuran pelengkapnya. Sedang asyik-asyiknya bermain dengan spatula dan wajan, ada tangan yang sudah melingkar dari belakang.


"Aku bikin sarapan dulu, ya." Namun, Radit tidak bergeming. Dia tetap memeluk Echa dari belakang. Dan meletakkan dagunya di bahu sang istri. Sesekali mengecup bahu Echa dan juga lehernya.


"Geli, Ba." Radit malah semakin menjadi. Tapi, Echa tetap bertahan hingga godaan itu pun bisa terlewati dengan sukses. Dan nasi goreng ala bumil pun sudah siap.


"Mandi dulu, ya. Baru sarapan." Radit mengangguk patuh dan langsung membawa tubuh Echa masuk ke dalam kamarnya. Para ART yang bekerja di rumah Radit hanya menggelengkan kepala mereka setiap melihat adegan romantis seperti ini.


"Mandi bareng, ya, Bu." Radit terus membawa tubuh Echa hingga mereka masuk ke dalam bath up berdua.


Kegiatan mandi terasa lama karena Radit yang tak hentinya memainkan perut sang istri. Apalagi gerakan-gerakan lucu anak-anak mereka yang membuat perut Echa kadang monyong ke kanan dan kiri.


"Ba, udahan ya. Dingin." Dengan sigap Radit membantu Echa berdiri dan membantu Echa untuk mengeringkan tubuhnya.


"Makasih, Sayang." Radit mengecup kening Echa sangat dalam. Echa melingkarkan tangannya di pinggang Radit seraya tersenyum.


Radit mulai mendekatkan wajahnya dan memegang dagu Echa. Dengan pelan bibir mereka menyatu dan saling berbalas. Menjadi sebuah pagutan yang lembut dan hangat.


Hingga mereka melepaskan pagutan mereka masing-masing. Radit mengusap bibir Echa dengan ibu jarinya dengan menunjukkan senyum manisnya.


"Love you, Bubu."


"Love you too, Ba."


Suara derap langkah terdengar, dua sejoli yang sedang saling merangkul dibuat terkejut oleh suara yang tidak asing bagi mereka.


"Mandi apa semedi?"


Lengkungan senyum tercipta di wajah Echa dan dia segera berhambur memeluk pria paruh baya yang sangat amat dia sayangi.


"Kakek." Echa memeluk tubuh Genta dengan sangat erat.


"Makin gendut sih kamu," cibir Genta. Bibir Echa pun maju beberapa centi mendengar cibiran Genta.


Dan Radit, dengan sopannya dia mencium tangan sang Kakek mertua. "Makin tampan aja, kamu," puji Genta. Hanya seulas senyum yang Radit berikan.


"Makan dulu, Yang. Baru melepas rindu sama Kakek." Echa pun mengangguk patuh. Membuat Genta merasa bahagia melihat sikap Radit terhadap cucu kesayangannya ini.


Mereka makan bersama dengan menu nasi goreng yang Echa buat. Ditambah beberapa menu yang baru saja dimasak oleh asisten rumah tangga. Setelah selesai sarapan, merek bercengkrama di ruang keluarga. Ini kali kedua Genta datang ke kediaman Echa dan Radit di London. Dan tidak ada yang berubah dari rumah ini.


"Mumpung ada Kakek, hari ini aku tinggal kamu dulu, ya. Aku mau ke rumah sakit. Mau nyerahin surat resign." Echa terkejut mendengarnya dan dia menatap Radit dengan penuh tanda tanya.


"Papih bantu aku untuk bicara sama pemilik rumah sakit itu dan petinggi-petinggi yang lainnya. Alhamdulillah, aku dibolehin resign. Karena aku gak akan ninggalin kamu selama menjalani kehamilan ini," ujar Radit.


Mata Echa sudah berkaca-kaca mendengarnya. Echa memeluk tubuh Radit dengan begitu eratnya.


Lagi-lagi, Genta hanya bisa tersenyum bahagia. 'Tidak salah pilihanku. Kamu mampu memberikan kasih sayang yang tidak Echa dapatkan selagi masih balita.’


"Kek, Radit titip Echa dulu, ya. Kalo semua urusan di sana udah selesai. Radit langsung pulang." Genta pun mengangguk pelan.


"Emang aku barang apa, bahasanya dititip gitu," sungut Echa. Radit dan Genta tertawa mendengar sungutan dari Echa. Ingin rasanya Radit mengecup bibir istrinya yang terlihat seksi di matanya. Namun, sangat disayangkan ada sang kakek di sini.


"Bentar, ya, Kek. Echa bantu suami Echa dulu buat nyiapin pakaiannya."


Sungguh bahagia Genta melihat Radit dan juga Echa. Melakukan peran suami-istri dengan sangat baik. Mungkin, mereka selalu melihat bagaimana kemesraan Gio dan juga Ayanda. Biasanya orang terdekat akan menjadi panutan untuk mereka berdua.


"Jangan lama-lama, Ba." Kini Echa sudah memeluk tubuh Radit yang sedang menggulung lengan kemejanya.


"Gak akan, Sayang. Setelah selesai aku akan langsung pulang. Dan kita akan pulang ke Indonesia," ucap Radit sambil membalas pelukan erat Echa.


Radit tahu, Echa sedang tidak ingin ditinggal olehnya. Sudah sering Echa seperti ini. Banyak drama yang harus Radit lalui ketika hendak berangkat bekerja. Tapi, tak pernah sekali pun Radit marah atau membentak Echa. Justru, Radit senang. Meskipun, ketika datang ke rumah sakit dia akan kena teguran dari pihak rumah sakit.


...----------------...


Happy reading ...