
"Daddy, Kak Aska mana?" tanya Riana.
"Masih mengunci diri di kamarnya," sahut Gio santai.
"Lu bapak modelan apa sih? Anak ngurung diri di kamar malah santai aja," sentak Arya.
"Terus mau gua dobrak pintunya? Sayang pintunya, tuh pintu mahal harganya," sahut Gio.
Rion langsung menoyor kepala Gio. "Bapak gak ada akhlak lu!" serunya.
Beeya langsung memukul tangan Rion yang dia gunakan untuk menoyor Gio. "Aw, Sakit Bee," ringis Rion.
"Gak boleh tuing-tuingin kepala Daddy." Sedangkan Beeya sudah dua kali menoyor kepala Gio dengan tangannya.
"Lah itu kamu ngapain?" tanya Rion.
"Ini cuma contoh." Beeya pun menoyor kepala Gio lagi sebagai contoh yang dia tunjukkan kepada Rion.
Semua orang pun tertawa begitu juga Gio. Dia tidak akan pernah merasa terganggu akan kehadiran anak-anak dari sahabatnya.
Aksa sudah naik ke lantai atas, dia sudah menggedor-gedor pintunya kembali.
"Buka gak? Gua mau mandi," seru Aksa.
"Ini bukan kamar lu doang, tapi kamar gua juga," lanjutnya.
Tak lama suara seseorang dari dalam membuka kunci terdengar. Aksa langsung mendorong pintu itu dan mengenai kening Aska.
"Santai dong," ucap Aska sudah tersulut emosi.
Aksa yang hendak ke kamar mandi menghentikan langkahnya. Dia mendekat ke arah Aska yang menatapnya tajam.
"Gua gak akan pernah santai sama orang yang udah buat Mommy gua menangis."
Aksa pun kembali melanjutkan langkahnya ke kamar mandi. Aska hanya terdiam dan menyandarkan tubuhnya di dinding.
Aska mencoba mengintip ke bawah di mana orang-orang itu bercengkrama. Dilihatnya sang Mommy hanya termenung dengan tatapan wajah yang sendu.
"Apa Mommy seperti ini karena aku?" gumamnya.
Keesokan paginya, mereka semua sudah berkumpul di meja makan. Aska pun sudah duduk manis di tempatnya.
"Jaga diri kamu ya, Bang." Aska pun mengangguk.
"Jaga adik kamu juga," tambah Gio.
Aska hanya terdiam mendengar ucapan kedua orangtuanya dan juga Abangnya. Di tidak mengerti dengan apa yang dikatakan ketiga orang itu. Dan dia memilih berlalu meninggalkan mereka bertiga tanpa mencium pipi Ayanda terlebih dahulu.
"Abang pasti akan kangen Mommy," kata Aksa yang kini memeluk erat Ayanda.
"Pergilah, nanti kamu terlambat." Lambaian tangan Ayanda mengiringi kepergian si kembar ke sekolah.
"Udah siap?" Ayanda pun mengangguk.
Ayanda dan Gio pun meninggalkan rumah mereka.
Hanya keheningan yang tercipta di mobil yang ditumpangi Aksa dan Aska. Tidak ada satu pun kata yang terucap dari mulut si kembar.
"Den, Nyonya jadi ke Singapura dan kerja di sana?" Pak Parjo memecah keheningan.
Aska menoleh ke arah Aksa, dan Aksa hanya memandang jauh ke arah kaca jendela luar.
"Iya Pak."
Aska tersentak mendengar jawaban dari sang Abang. Ingin rasanya dia menanyakan lebih dalam namun, Aska terlalu gengsi. Terlebih, semalam Abangnya sangat ketus kepadanya.
Setibanya di sekolah, Aksa masih saja terdiam. Baru saja Aska ingin membuka suara, tiba-tiba panggilan dari Farhan membuatnya menghentikan langkah. Sedangkan Aksa dia sudah masuk ke dalam kelasnya.
"Chika nangis," kata Farhan.
Aska pun bergegas masuk ke dalam kelasnya. Ternyata Chika sedang diejek oleh teman-teman kelasnya.
"Kenapa kalian mengejek Chika?" tanya Aska.
"Maaf Aska, tapi Chika memang patut dibilang seperti itu. Orangtuanya sudah ditangkap polisi karena Mamahnya Chika bukan orang baik," ujar Senna.
"Maksud kamu apa?" Aska masih belum mengerti. Seharian kemarin dia sibuk mengurung diri di kamar.
"Kamu lihat berita aja nanti," sahut Senna.
Aska mendekat ke arah Chika namun, Chika langsung menatap tajam ke arah Aska.
"Gara-gara Daddy dan Mommy kamu, Mamah aku masuk penjara," sentaknya.
Aska hanya mematung di tempatnya. Apa maksudnya semua ini? Apa hubungan kedua orangtuanya dengan Mamah Chika?
Bel istirahat berbunyi, Riana dan Keysha menghampiri Aksa di kelasnya. "Abang," panggil dua anak perempuan itu.
"Boleh Ri dan Key makan di sini?" Aksa pun mengangguk pelan.
"Ayo Bang makan bareng, soalnya Bunda bawain bekal yang banyak untuk Ri," imbuhnya.
"Mamih juga bawain sosis mie kesukaan Abang, ayo makan Bang," ucap Keysha.
Aksa hanya diam saja biasanya Aksa akan ikut makan bersama Riana dan Keysha. Mereka berdua pun menatap aneh ke arah Aksa.
"Abang kenapa?" tanya Keysha.
"Mommy."
"Ada apa dengan Mommy?" tanya Riana.
"Mommy kerja di Singapura," lirihnya.
Bukan hanya Aksa yang sedih mendengar Ayanda pergi. Riana dan Keysha pun ikut sedih.
"Kenapa Mommy memilih bekerja Bang?" tanya Riana. Setahunya Ayanda dilarang kerja oleh kedua putranya.
"Karena Mommy tidak ingin terus-terusan dibenci oleh Aska. Aska masih marah sama Mommy. Dia selalu mengatakan kalo Mommy jahat dan dia juga sering buat Mommy menangis." Aksa pun mulai tertunduk. Hatinya sangat sedih.
Aska yang mendengar semuanya di ambang pintu merasa lemas seketika. Hatinya sakit mendengar ucapan dari Aksa.
"Mommy," lirihnya.
Di lain tempat, Ayanda masih memeluk erat tubuh Gio. Air matanya tidak bisa terbendung lagi.
"Jangan menangis, Mommy bisa pantau Mereka dari laptop ini. Ini tersambung dengan CCTV rumah kita."
"Kedua putra kita, pasti akan baik-baik saja." Gio berusaha meyakinkan Ayanda.
****
Jam pulang sekolah tiba, Aksa dan Aska sudah dijemput. Aska melihat Chika yang dijemput sang papa namun dikawal polisi.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Aska menatap ke arah Aksa namun, Aksa seakan mengacuhkannya. Aksa lebih memilih menyandarkan kepalanya pada jok mobil dengan mata terpejam.
Tibanya di rumah nan besar itu, Aksa mendahului Aska masuk ke dalam kamarnya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Aksa.
"Bang, Mommy ...."
Aksa langsung menatap tajam ke arah Aska. "Bukankah ini yang kamu mau? Mommy pergi dan jauh dari kita," sentaknya.
Aska pun terdiam, ada sorot kemarahan di mata Aksa. "Belum puaskah kamu buat Mommy menangis? Bentakan yang keluar dari mulut kamu seperti pisau yang menusuk hati Mommy," jelas Aksa.
Aksa pun meninggalkan Aska yang masih mematung di tempatnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Di meja makan hanya mereka berdua yang sedang menikmati makanan yang sudah tersaji. Semua makanan memang terlihat enak, tapi terasa hambar di mulut Aska dan juga Aksa.
Teriakan sang Mommy, larangan sang Mommy membuat mereka rindu. Padahal belum 24 jam sang Mommy meninggalkan mereka berdua.
Aksa sama sekali tidak berselera, dan dia meninggalkan makanannya begitu saja. Membuat Bu Mira selaku kepala pelayan di rumah ini menghela napas kasar. Bukan hanya kedua anak kembar ini yang merindukan Ayanda. Dia dan juga pelayan-pelayan yang lainnya pun merindukan sosok majikan yang penuh dengan kehangatan.
Malam pun tiba, Gio sudah pulang dari bekerja. "Abang sama Adek di mana?" tanya Gio kepada salah seorang pelayan.
"Abang sedang berada di halaman belakang dan Adek ada di kamarnya Tuan," jawab si pelayan.
Gio melangkahkan kakinya menuju halaman belakang. Dilihatnya Aksa sedang menatap langit yang indah. Inilah yang biasanya dia dan Mommy-nya lakukan ketika langit malam cerah.
"Bang," panggilan Gio membuat mata Aksa menjatuhkan bulir bening. Aksa berhambur memeluk tubuh Daddy-nya.
"Abang kangen Mommy," adunya pada Gio.
"Mommy sedang bekerja, Bang. Biarkan Mommy meniti bisnisnya," sahut Gio sambil mengusap punggung Aksa.
"Kenapa Daddy dan Mommy tidak meminta persetujuan Abang dulu?"
"Kamu ingat pesan Daddy apa?" Aksa pun mengangguk.
"Tugas kedua anak laki-laki Daddy itu menjaga Mommy dan Kakak. Bukan malah membuat Mommy menangis. Daddy gak suka," tegasnya.
"Tapi bukan Abang yang buat Mommy menangis," elaknya.
"Siapapun yang membuat Mommy menangis kalian berdua lah yang harus bertanggung jawab," tukas Gio.
Aksa pun menunduk, dia tidak berani menimpali ucapan sang Daddy jika menyangkut ketegasan. Daddy-nya adalah ayah yang lembut namun, bisa juga tegas dan garang melebihi seorang raja hutan.
Setelah menemui Aksa, Gio masuk ke kamar Aska. Dilihatnya Aska sedang menangis dan menunduk dalam.
"Kenapa kamu menangis?" Pertanyaan Gio membuat Aska terkejut. Dia tidak berani menatap Daddy-nya.
Gio duduk di samping tempat tidur Aska. Dia mengusap lembut kepala putra bungsunya ini.
"Sebelum marah kamu cari tahu dulu kebenaranya. Jangan asal main teriak, karena kamu sendiri yang nantinya akan menyesal."
Aska memberanikan diri menatap Gio. Sangat terlihat raut kesedihan di mata Aska. "Adek mau Mommy," lirihnya.
"Biarkan Mommy pergi mengejar mimpinya. Berdoa saja semoga Mommy baik-baik saja di sana. Dan setiap akhir pekan Mommy pasti pulang kok," jawabnya seraya tersenyum.
"Adek kangen Mommy," kata Aska sambil memeluk erat pinggang Gio.
Ayanda yang menatap ke arah laptop pun mulai terisak karena melihat kedua putranya yang terlihat sedih dan juga menangis. Sakit hatinya melihat pemandangan ini.
Di tempat yang berbeda, Riana masih menangis di pelukan Rion. Dia tidak ingin ditinggalkan Mommy-nya.
"Emang Mbak Aya punya butik di Singapura?" tanya Amanda yang sudah meletakkan kopi untuk suaminya di atas meja.
"Setahu Abang sih ada, butiknya mulai maju pesat," jawab Rion sambil menyeruput kopi.
"Kasihan ya si kembar," ucapnya.
"Mungkin ini bentuk hukuman dari Daddy-nya untuk kedua anak Gio. Soalnya si Aska udah berani ngebentak Yanda sampe dia nangis," ujar Rion.
"Mungkin si Aska syok juga mendengar pemberitaan di luar. Makanya dia bisa seperti itu."
"Bisa jadi, kalo Aksa dan Riana cuek dan selalu percaya kepada Mommy mereka. Sedangkan Aska setiap hari dijejelin ucapan-ucapan yang tidak mengenakkan untuk telinganya dengar. Apalagi teman-temannya sering bully masalah video Abang sama Mommy-nya," jelas Rion.
Keesokan paginya rumah besar milik Gio seakan tidak berpenghuni. Rumah yang biasanya ramai dengan canda tawa ataupun teriakan Ayanda kini malah hening.
Mereka bertiga menikmati sarapan dengan pikiran mereka masing-masing. Gio melirik ke arah dua putranya yang sangat tidak berselera.
"Habiskan," titah Gio.
Setelah kedua putranya berangkat ke sekolah Gio pun menghela napas kasar. "Maafkan Daddy, inilah yang harus Daddy lakukan agar kalian tidak menyakiti hati Mommy kalian."
Jam pulang sekolah tiba, Aksa dan Aska enggan untuk pulang ke rumah mereka. Mereka berdua akan merindukan kehadiran sang Mommy jika berada di sana.
Aksa memutuskan untuk pergi ke rumah Riana dan diikuti oleh Aska. Ya, Aksa masih menyalahkian Aska atas kepergian sang Mommy. Meskipun Aska sudah meminta maaf dan menyesali semuanya Aksa tetaplah keras.
"Kalian sudah izin Daddy?" Si kembar pun mengangguk.
Ternyata di sana sudah ada Beeya yang sedari pagi sudah menemani Amanda di rumahnya. Hati Amanda tak tega melihat Aksa dan Aska yang murung seperti ini. Meskipun Beeya selalu mengganggu mereka, namun si kembar tetap diam. Tidak seperti si kembar yang dia kenal.
"Kenapa dengan kalian?" tanya Amanda yang sudah berada dengan Aksa dan juga Aska.
Mereka berdua hanya menunduk. Tidak ingin terlihat cengeng di depan Amanda. Apalagi Rion selalu menasihati mereka agar menjadi laki-laki yang kuat.
"Abang, Adek," panggil Amanda seraya mengusap kedua punggung si kembar.
"Abang kangen Mommy, Abang tidak ingin Mommy bekerja," lirihnya.
"Ini semua salah Adek, Bunda. Adek yang udah buat Mommy meninggalkan Adek dan Abang," sahut Aska.
"Dengarkan Bunda, Mommy itu sangat menyayangi kalian dan akan melakukan apapun demi kalian. Nyawanya juga pasti akan Mommy kalian pertaruhkan untuk melihat kalian berdua bahagia."
"Jangan buat Mommy kalian bersedih apalagi hingga menangis. Betapa berdosanya kalian." Aksa dan Aska pun semakin menundukkan kepalanya. Kini, punggung Aska sudah mulai bergetar.
"Harusnya kalian itu memeluk Mommy kalian ketika Mommy dihujat, dicibir dan diberitakan tidak benar. Harusnya kalian itu menjadi kekuatan untuk Mommy. Bukan malah menambah beban pikiran Mommy kalian."
"Adek." Amanda menyentuh punggung Aska sebelum melanjutkan ucapannya.
"Adek boleh marah sama Mommy, tapi jangan sampai berbicara kasar kepada Mommy. Bunda sangat yakin, Mommy tidak pernah mengajarkan Adek berbicara yang tidak-tidak, kan."
"Percayalah jika Mommy dan Ayah hanyalah masa lalu. Masa depan Mommy adalah kalian dan juga Daddy kalian serta Kakak Echa. Begitu juga dengan Ayah, masa depan Ayah ialah Bunda, Riana dan juga Kakak Echa," terangnya.
"Adek salah Bunda, Adek terlalu mendengar ucapan teman-teman Adek. Apalagi Adek melihat sendiri Mommy sedang memeluk Ayah. Dan Ayah pun tidak menolak pelukan dari Mommy," imbuhnya.
"Bukan hal yang aneh kan kalo Mommy dan Ayah pelukan. Bukannya sering ya?" Aska pun mengangguk.
"Jangan terlalu percaya sama ucapan orang lain ya, Dek. Belum tentu yang diucapkan orang itu benar adanya. Sebaiknya Adek tanyakan dulu kepada Mommy, benar atau tidak kabar itu. Harusnya Adek percaya sama orang yang telah berjuang melahirkan Adek dan merawat Adek hingga menjadi anak laki-laki yang tampan seperti ini."
Mata Aska pun berkaca-kaca dia memeluk tubuh Amanda dengan eratnya. "Adek menyesal Bunda," lirihnya.
Amanda menatap ke arah Aksa yang masih menunduk. Dia tahu jika Aksa lah yang sangat sedih karena Aksa yang selalu ada di samping sang Mommy ketika berita tidak benar itu tersebar.
"Abang, Bunda tahu Abang marah sama Adek. Maafkanlah Adek, jika Adek salah tegurlah baik-baik. Bagaimanapun Abang dan Adek adalah saudara. Jangan pernah bertengkar, ketika kalian bertengkar pasti Mommy kalian akan sedih melihatnya," tutur Amanda.
"Tapi dia yang ...."
"Bunda tahu, Adek sendiri sudah mengakui kesalahannya. Jadi, maafkanlah Adek. Bunda yakin, Adek sangat menyesal dengan sikapnya kemarin," ucap Amanda lagi.
"Abang, Adek menyesal. Bukan hanya Abang yang sedih, Adek pun sangat sedih. Adek tidak ingin Mommy kerja, Adek hanya ingin Mommy menemani Adek sama Abang di rumah."
Aksa pun menatap ke arah Aska yang sudah menangis. Melihat adiknya seperti bercermin. Wajah adiknya sangatlah mirip dengannya. Ketika air mata jatuh di pipi adiknya, hatinya seperti terkena silet yang tajam. Perih rasanya.
"Abang juga minta maaf udah membentak kamu," sahutnya yang kini memeluk tubuh Aska.
Ada bulir bening yang menetes di pipi seorang wanita yang tak jauh dari si kembar berada.
***
Maaf ya jadwal UP Bang Duda berubah jadi siang/sore. Lagi sibuk-sibuknya akunya.
Kalo ada notif UP langsung baca ya jangan ditimbun-timbun. Ayo bantu aku untuk mempertahankan level karya Bang Duda.
Happy reading ...