
Amanda pergi meninggalkan apartment Ayanda dengan hati yang teramat sesak. Dia menghubungi seseorang yang pasti akan bisa menenangkannya.
Di apartment ternyata Ayanda tidak sendiri. Dia ditemani oleh Sheza dan juga Beby. Bu Dina dan juga Nisa sangat gemas melihat si kembar yang sangat tampan seperti Daddy-nya. Nisa selalu saja mengunyel-unyel pipi gembul si kembar. Walaupun baru menginjak 36 hari tapi badannya seperti bayi berusia tiga bulan.
"Teh, padahal Mamah dan Nisa datang bersama Amanda. Tapi, Amanda dilarang masuk. Apa Teteh yang melarangnya?"
"Aku hanya tidak ingin merusak hubungan Mas Rion dan juga Amanda, Mah. Mendengar pertengkaran Mas Rion dan juga Amanda membuatku seperti seorang pelakor. Aku tidak mau Amanda terus salah paham kepada ku, Mah. Biarkan aku menjaga jarak dengan Mas Rion dan juga istrinya."
Semua orang yang mendengar penjelasan dari Ayanda hanya diam. Mereka juga merasakan bagaimana jika berada diposisi Ayanda. Di sisi lainnya juga mereka iba terhadap Amanda. Istri mana yang hatinya tak panas melihat suami dan mantan istrinya berpelukan di dalam kamar. Pasti akan muncul pikiran-pikiran negatif.
Amanda sudah berada di sebuah mall besar di Jakarta. Dia sedang menunggu seseorang di sebuah restoran. Terdengar suara sedikit ramai dari kejauhan. Tatapannya nanar melihat Ayanda, Sheza, Beby, Bu Dina, Nisa sedang bercanda ria dengan mendorong si kembar. Harusnya dia juga berada di sana jikalau dia tidak egois seperti ini.
Dering ponselnya berbunyi, Juna mengatakan jika dia tidak bisa datang karena ada investor penting yang akan bertemu dengannya. Amanda benar-benar merasa sangat kecewa hari ini.
Amanda menatap Ayanda dengan rasa iri. Ayanda selalu saja dikelilingi orang-orang yang menyayanginya sedangkan dirinya. Hanya helaan napas kasar dan wajah sendu yang menunjukkan kesakitan yang sekarang.
Suara mereka terdengar sangat riuh dan sekarang terdengar ada suara pria. Amanda melihat ke meja mereka, dadanya sakit melihat suaminya sudah berkumpul di sana dan terlihat sangat bahagia memainkan si kembar. Bukan hanya suaminya saja, Azka dan juga Arya juga ada di sana. Echa pun sudah tertawa bahagia bersama mereka.
Amanda hanya dapat melihat dari kejauhan tanpa bisa melangkahkan kakinya ke tempat mereka yang sedang berbahagia. Hati Amanda sedikit curiga ketika satu per satu orang di sana meninggalkan meja. Hanya tersisa Rion dan juga Ayanda.
Karena rasa curiga yang membuncah, Amanda memakai masker dan kacamata dan duduk berada di dekat meja Ayanda dan juga suaminya. Mencoba menguping apa yang sedang sepasang mantan suami-istri ini katakan. Apakah benar dugaannya akhir-akhir ini.
"Dek, jangan diamkan Mas seperti ini," ucap Rion pada Ayanda yang kini duduk menjauhi Rion.
Amanda hanya dapat memegang dadanya yang seperti kehilangan oksigen mendengar ucapan suaminya kepada mantan istrinya.
"Mas, ini semua aku lakukan karena aku tidak ingin di cap sebagai pelakor oleh istrimu."
Amanda tersentak mendengar jawaban Ayanda. Dia mengira jika, Ayanda marah kepadanya ternyata sebaliknya.
"Bagaimana pun, ada hati yang harus kita jaga, Mas. Gio memang sudah terbiasa dengan hubungan kita tapi, istri Mas?"
"Kita memang pernah bersama dan kebersamaan kita juga terbilang lama. Makanya, kita bisa sedekat ini meskipun kita telah berpisah."
"Apakah kamu lupa dengan janji kita? Meskipun berpisah tidak akan ada yang berubah dari kita," sahut Rion.
"Mas, ini demi kebaikan hubungan kita. Aku juga gak mau seperti ini. Tapi, inilah yang harus kita pilih. Cukup rumah tangga kita yang hancur karena orang ketiga. Dan sekarang aku tidak mau menjadi orang ketiga yang merusak rumah tanggamu."
Ayanda meninggalkan Rion namun, langkahnya terhenti ketika melihat Amanda sudah berdiri di hadapannya. Inilah akhir dari hubungan baiknya dengan mantan suaminya.
"Aku akan menjauhi suamimu. Hubunganku ku hanya sebatas adik dan kakak. Tidak lebih tidak kurang. Cintaku hanya untuk suamiku, GIONDRA ARESTA WIGUNA," jelas Ayanda.
Rion tersentak mendengar penjelasan Ayanda kepada Amanda. Kata-kata itu benar-benar menusuk ulu hatinya.
Amanda berhambur memeluk tubuh Ayanda. Selama ini dia telah salah sangka kepada Ayanda. Benar kata Sita, Ayanda bukanlah orang yang jahat. Dia menghindari Amanda bukan karena marah tapi, hanya tidak ingin merusak rumah tangga mantan suaminya karena Ayanda tahu, Amanda cemburu kepadanya.
"Maafkan aku, Mbak." Ucapan yang terdengar sangat lirih di telinga Ayanda.
Ayanda pun membalas pelukan Amanda dan mengusap punggungnya yang bergetar karena tangisan.
"Aku tidak pernah marah kepadamu. Ini juga salahku yang tidak menjaga sikapku kepada suami mu."
Jawaban Ayanda membuat Amanda semakin terisak. Dia malu kepada dirinya sendiri karena telah berburuk sangka kepada wanita yang luar biasa baiknya.
"Mas," panggilnya.
Rion mengerti apa yang dikode-kan oleh Ayanda kepadanya. Dia pun bangkit dari duduknya.
"Sayang."
Amanda merindukan panggilan itu, tak terasa air matanya terjun bebas menatap wajah suaminya. Rion merentangkan tangannya dan Amanda pun masuk ke dalam pelukan Rion.
Rona bahagia terpancar dari wajah Ayanda, melihat cinta Rion untuk Amanda membuatnya semakin yakin untuk perlahan menjauhi mantan suaminya.
"Mom."
Ayanda hafal akan suara itu, suara yang sangat dia rindukan selama hampir seminggu ini. Namun, dia hanya tersenyum tipis. Melihat kemesraan Rion dan juga Amanda di depannya membuatnya berhalusinasi.
Tangan kekar melingkar di pinggangnya membuat Ayanda refleks membalikkan badannya. Air matanya seketika luruh, Gio langsung memeluk erat tubuh istrinya.
Hampir seminggu ini Ayanda menahan rasa sesak dan sakit di hatinya seorang diri. Dan kini, dia menumpahkan semuanya dalam dekapan hangat suaminya.
"Daddy di sini, Sayang," ujarnya dan mengecup puncuk kepala Ayanda sangat dalam.
Melihat Ayanda terisak seperti itu membuat Amanda merasa semakin bersalah. Dan dia hanya bisa menundukkan kepala.
"Saya juga pernah merasakan hal yang sama seperti kamu. Cemburu," ucap Gio pada Amanda.
"Tapi saya harus mengerti karena istrinya saya dan Rion bukan hanya setahun dua tahun berumah tangga tapi belasan tahun. Dan Rion pun pasti lebih tahu istri saya dibandingkan saya, suaminya."
"Seringnya saya dan Rion bertemu dan jalan bersama putri kami, di situlah rasa cemburu itu hilang. Tidak ada yang harus saya takutkan. Rion memang menyayangi istri saya begitu pun istri saya, dia juga menyayangi Rion. Tapi, cinta Ayank hanya untuk saya."
"Tidak pernah sekalipun istri saya membahas tentang Rion ketika kami sedang berdua. Begitu pun Rion, tidak pernah membahas tentang Ayank ketika kita berdua sedang hangout."
"Rion adalah pembimbing saya agar bisa menjadi suami yang lebih baik untuk Ayank. Dia mengajarkan banyak hal kepada saya, makanya dari awal saya menikah hingga sekarang hubungan kita semakin erat. Karena kita berkomitmen ingin menjaga wanita yang kita sayangi. Yaitu, Echa dan juga Ayank."
Rion menarik tangan Amanda agar masuk ke dalam pelukannya.
"Jika aku meninggalkan kamu dalam waktu yang cukup lama, aku pasti akan menitipkan mu kepada Gio dan Ayanda. Mereka juga pasti akan menjaga mu seperti aku menjaga Ayanda dan juga anak-anaknya."
"Kembali ke masa lalu itu tidak akan pernah terjadi. Ayanda sudah memiliki Gio yang luar biasa dan aku pun sudah memiliki kamu yang aku cinta."
Amanda pun mengeratkan pelukannya kepada Rion. Begitu pun Ayanda yang masih membenamkan wajahnya di dada Giondra dengan tangan yang masih memeluk erat pinggang suaminya.
Kehangatan dua pasangan ini seketika terganggu karena ada panggilan masuk ke ponsel Amanda. Mimik muka Amanda langsung berubah ketika menjawab panggilan.
"Bang, kita harus menemui Kak Jun."
"Ada apa?" tanya Rion.
Wajah Amanda sangat panik, mereka berdua pamit kepada Gio dan juga Ayanda. Giondra hanya tersenyum tipis mendengar kabar tentang Juna si rubah jantan yang suka mengganggu keharmonisan.
****
Happy reading ...