
Kedua wanita tidak ada akhlak itu masih saja mencari tahu tentang Echa. Hingga, Dea nekat mengintai Echa selama dia bekerja.
Echa hanya menghela napas kasar, ingin rasanya dia menjambak dan mencoret-coret wajah Dea yang seperti muka badak. Meskipun dia bersembunyi di lubang semut, Echa akan selalu menemukannya.
Untungnya saja, meeting hari ini Echa ikut serta menggantikan Arya yang harus menjemput Beeya di rumah Mamihnya.
Setiap kali Echa dan Rion keluar, semua mata seakan menatap tajam ke arah mereka. Setelah mereka pergi, barulah bisik-bisik terdengar.
"Ih parah ya Pak Rion, main cewek mulu. Mana cewek ini mah fresh banget, istrinya aja kalah cantik," ucap penjaga toko minuman yang tak jauh dari kantor Rion berada.
Dea yang memang sedang memantau Echa dan Rion dari sana pun menimpali ucapan si penjaga toko.
"Wanita itu selingkuhannya?" tanya Dea.
"Kayaknya lebih dari selingkuhan deh. Tiap hari mesra banget," sahut si penjaga toko.
"Kata Mbak Irah yang OB di kantor Pak Rion bilang, kalo wanita itu istri muda dari Pak Rion," balas si penjaga toko satunya lagi.
"Terus istrinya tahu?" tanya Dea.
"Tau kayaknya."
"Mau aja tuh istri Pak Rion dipoligami," ucap penjaga toko.
"Ya kan dalam agama juga diperbolehkan. Asalkan sang suami mampu dan juga adil."
Hati Dea remuk mendengar kenyataan tentang sang pujaan hati. Masih sanggupkah dia memperjuangkan cintanya yang semakin hari semakin tinggi dinding pemisahnya?
Sementara di dalam mobil, Rion merasa ada yang mengikutinya. Sedangkan Echa terlihat santai dan sedang berbalas chat dengan Radit.
"Dek, kamu ngerasa gak sih kalo mobil kita diikutin?" tanya Rion.
Echa melihat ke arah spion samping, dia kembali menatap layar ponselnya lagi.
"Itu pengawal Echa yang ditugaskan Papa," sahutnya santai.
Rion pun menarik napas lega. Dia pikir ada orang jahat yang sedang mengikutinya.
****
Arya membawa Beeya ke kantornya. Namun, sebelum masuk kantor Beeya merengek ingin minuman yang berada tak jauh dari kantor Arya.
Mata Arya menajam ketika melihat Dea di sana. Dia memang tidak pernah menampakkan diri ketika proses hukuman Dea dan teman-temannya. Karena pada waktu itu, istrinya sedang terbaring sakit dan dirawat di rumah sakit.
"Mbak, mau es cokelat dan tlowberry," ucap Beeya pada salah penjaga toko.
Beeya menatap tajam ke arah Dea. Dia masih ingat dengan wajah orang yang dengan lantangnya mengatakan jika dia ingin memiliki ayahnya.
Sedangkan Dea tidak menyadari keberadaan Arya dan Beeya didekatnya. Dia sedang fokus menyusun rencana dengan Vera. Tak berselang lama, Dea pergi ke toilet dengan meninggalkan es kopi yang masih penuh.
Beeya tersenyum penuh kelicikan. Dia membuka tasnya dan dia ambil minyak kayu putih yang ada di dalam tasnya. Mamahnya pernah mengatakan, jika ada yang akan berbuat jahat semprotkan minyak kayu putih ini ke wajah dan mata penjahat. Ya, Beby telah menyiapkan minyak kayu putih yang dia taruh di botol spray.
Karena Beeya hanya ingin mengerjai Dea, Beeya membuka tutup botol minyak kayu putih yang biasa dia pakai setalah mandi. Bukan yang di dalam botol spray.
Satu tetes.
Dua tetes.
Tiga tetes.
...
Sepuluh tetes.
Beeya pun tersenyum lalu mengaduk-aduk es itu dengan sedotan yang ada di dalam gelas. Sedangkan Arya tersenyum penuh bangga kepada Beeya.
"Bee ayo," panggil Arya.
Beeya bangkit dari duduknya dan tidak sengaja dia menabrak tubuh Dea yang baru keluar dari kamar mandi. Dea mengerutkan dahinya, sepertinya dia tidak asing dengan wajah bocah kecil di depannya.
Beeya tak bereaksi apa-apa. Dia langsung menggenggam tangan Papanya dan pergi menjauhi kedai minuman itu.
"Sepertinya aku pernah bertemu dengan anak itu," gumamnya.
Dea pun menyeruput es kopi miliknya. Dan lidah Dea seperti terbakar dan dia pun teriak kepanasan. Beeya pun tertawa ketika mendengar teriakan Dea. Beeya menoleh ke arah Dea, tatapan tajam Dea bertemu dengan manik mata indah milik Beeya. Beeya pun menjulurkan lidahnya dengan tangan yang melambai-lambai di samping telinga sebagai ledekan.
"Bocah nakal," geram Dea.
Malam hari, Echa menemui Mamah dan Papanya. Sebelumnya dia mengetuk pintu terlebih dahulu. Takut matanya ternoda lagi. Setelah dipersilahkan masuk, barulah Echa masuk ke kamar orangtuanya.
Echa berdecak kesal jika melihat kemesraan Papa dan Mamanya ini. "Hargai perasaan Echa dong. Echa kan lagi LDR-an. Kan jadi pengen dipeluk pacar," omel Echa.
Gio dan Ayanda pun tertawa mendengarnya. Echa duduk di tengah-tengah kedua orangtuanya, membuat Ayanda berdecak kesal.
"Mah, Pah, ketika ulang tahun si kembar, Echa harus terbang ke Bali untuk menemani Radit mengisi seminar di sana," ucapnya.
"Radit pulang?" Echa pun mengangguk menjawab pertanyaan mamahnya.
"Besok Radit terbang dari Ausi."
"Ya udah gak apa-apa. Itu kan hanya acara untuk anak-anak. Setelah kamu kembali, kita adakan acara lagi. Tapi, hanya untuk keluarga saja," imbuh Gio.
"Daddy, gimana kalo kita liburan?" usul Ayanda.
"Jadwal Daddy padat sampai pertengahan bulan depan."
***
Pagi-pagi sekali rumah Gio sudah kedatangan tamu tak diundang. Ya, Beeya merengek kepada Mamah dan Papahnya untuk ke rumah Ayanda.
"Maaf Kak," sesal Beby ketika melihat anak-anak Ayanda menatap kesal ke arah Beeya.
"Gak apa-apa. Asal susu dan popoknya cukup aja, gak masalah kok," sahut Ayanda.
Sesungguhnya Ayanda juga merasa kesepian. Kedua putra kembarnya sudah besar dan memiliki kesibukan masing-masing jika sudah di rumah. Waktu mereka bertemu dan bercerita pun terbilang singkat.
Gio malah senang karena Beeya datang. Setidaknya mengurangi rasa kesepian istrinya. Sebenarnya, mereka ingin menjalani program kehamilan lagi. Namun, Sarah melarangnya. Usia Ayanda semakin bertambah dan resikonya semakin tinggi. Terlebih Ayanda memiliki riwayat kandungan lemah. Sangat tidak disarankan melahirkan di atas usia 30 tahun.
Setelah mencium pipi sang mamah. Ketiga anak Gio mencubit pipi chubby Beeya. Bukannya menangis, Beeya malah tertawa terpingkal-pingkal.
"Daddy berangkat, ya. Jaga Mommy oke," ujar Gio.
"Siap Daddy." Gio pun mengusap kepala Beeya lalu mengecup kening istrinya dan berlanjut mencium singkat bibir Ayanda.
Sebelum Echa pergi, Ayanda mengatakan jika hari ini. Echa tidak perlu menjemput Aksa dan juga Aska. Karena Ayanda lah yang akan menjemput si kembar.
Seharian inI, Beeya diajak ke beberapa tempat usaha yang Ayanda miliki. Beeya menjadi anak yang baik dan tidak rewel. Dia malah menikmati setiap perjalanan. Beeya terus berceloteh riang yang membuat Ayanda tertawa.
Setelah selesai meninjau beberapa tempat usaha miliknya, Ayanda bergegas menjemput si kembar. Sesampainya di sana, Ayanda disambut hangat oleh para wali murid yang lain. Namun, tidak dengan wali murid yang satunya. Vera menatap tajam ke arah Ayanda.
Dia menelisik setiap inchi tubuh Ayanda dari atas sampai bawah. Beeya yang memperhatikan gerak-gerik Vera. Beeya merasa kesal karena dia tahu tatapan wanita itu adalah tatapan jahat.
Ayanda memberikan undangan kepada semua wali murid yang berada di sana, dan nantinya akan ada bus yang menjemput mereka untuk pergi ke rumah besar milik Gio.
"Mommy, Bee main itu, ya," tunjuk Beeya ke salah satu permainan yang tersedia di sana.
"Jangan lompat-lompat ya, nanti Bee muntah. Bee kan abis makan." Beeya mengangguk mengerti.
Ayanda pun memberikan undangan kepada Vera dan memintanya untuk datang. Karena hanya kursi di samping Vera yang kosong, mau tidak mau Ayanda duduk di sana. Padahal hatinya masih kesal karena wanita ini mencoba untuk menggoda suaminya.
Ada seringai licik di wajah Vera. Dia pun mencoba mendekatkan wajahnya ke arah Ayanda.
"Masih percayakah suamimu itu setia?" ucap Vera dengan nada jahat.
Ayanda tersenyum dan menatap lekat ke arah Vera. "Suamiku memang setia, disentuh olehmu saja dia langsung tayamum. Kamu tau itu artinya apa, kan? Kamu seperti najis mughaladzoh bagi suamiku," sahutnya dengan mengejek.
Wajah Vera sudah merah padam, harga dirinya seperti diinjak-injak oleh Ayanda. Tangannya mengepal keras. Vera mengeluarkan ponselnya dan akan memperlihatkan foto yang beberapa hari lalu dikirimkan oleh Dea.
Beeya berlari ke arah Ayanda dengan wajah yang pucat. Sedangkan Vera sudah memperlihatkan sebuah gambar kepada Ayanda.
Huek!
Beeya memuntahkan semua isi perutnya tepat di atas ponsel milik Vera dan juga mengenai tangan Vera,
Ayanda langsung panik, dia memilih untuk menyelamatkan Beeya dan tak menghiraukan Vera yang sedang mengoceh kesal.
Tiba-tiba, lambungan bola mengenai tangan Vera dan ponselnya terjatuh dan masuk ke dalam got yang berada di samping tempatnya berdiri.
"Hp gua," serunya.
"Kena sasaran," gumam Aska penuh kemenangan.
Bugh1
"Aw!" Vera meringis karena keningnya terkena lambungan botol mineral yang sengaja ditendang.
"Gol," seru Aksa seraya tertawa.
Aska dan Aksa pun mengadukan telapak tangan mereka. "Misi Berhasil," ucapnya berbarengan.
Vera menatap tajam ke arah si kembar, namun dibalas juluran lidah oleh merek berdua. Sedangkan Ayanda membawa Beeya ke kamar mandi untuk membersihkan sisa muntahan di bibir bocah kesayangannya ini.
"Bee tidak apa-apa, Mom. Ayo kita pulang."
Ayanda terperangah dengan sikap Beeya. Anak kni tidak merasakan lemas dan sekali. Wajahnya pun sudah sangat segar dan ceria.
Ayanda pun mengikuti langkah Beeya. Namun, Beeya merengek untuk dibelikan es cokelat kepada sang mommy. Ayanda pun menuruti keinginan Beeya. Dan Beeya akan masuk ke dalam mobil bergabung bersma Abang dan Kakaknya.
Vera sedang kesusahan mengambil ponsel yang terjatuh ke dalam got. Tubuhnya dia bungkukan agar memudahkan mengambil ponsel miliknya.
Brugh!
Dengan sengaja Beeya berlari dan menabrak bokong Vera dengan cukup keras. Vera pun tersungkur.
"Maaf Tante, Bee sengaja," ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak dan melanjutkan langkahnya sambil berlari kecil.
"Dasar anak-anak si Alan!" pekiknya.
"Apes banget ya, Mbak. Kudu mandi kembang tujuh rupa tuh biar gak ketiban sial mulu," ejek tukang mainan yang menyaksikan kesialan dengan kesialan yang menimpa Vera.
"Pergi lu," usir Vera. Tukang mainan pun meninggalkan Vera sambil tertawa.
"Cantik-cantik kok sial banget hidupnya," gumam tukang mainan sambil melakukan motornya.
***
Ada notif UP langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.