Bang Duda

Bang Duda
94. Pertemuan Yang Tak Diinginkan



Mon maap ya, aku izin Hiatus untuk tiga hari sampai satu Minggu ke depan.


Alasan yang mendasar aku Hiatus.


* Komen kalian udah berkurang, semangat ku pun berkurang.


* Jempol kalian juga menurun.


* Mood ku lagi kacau.


* Butuh istirahat.


* Kegiatan padat di RL.


Doakan aja supaya gak lama-lama hiatusnya, dan aku harap kalian terus dukung karya aku dengan komen dan like di setiap part-nya. Hanya itu yang aku pinta dari kalian biar aku semangat lanjutin ceritanya. Mungkin kalian bosen dengan ceritanya dan juga seringnya Bang Duda up.


Ketika aku Hiatus, apakah kalian akan merindukan Bang Duda? Ataukah sebaliknya?


Kalo kangen masuk aja ke Grup Chat Nyonyahalu, di sana pasti ada aku.


...****************...


Kondisi Amanda sudah membaik dan dia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Sebelum pulang, Rion dan Amanda mampir dulu ke toko buah untuk membeli berbagai macam buah yang Amanda ingin sedari tadi.


Setibanya di sana, Rion menggandeng tangan Amanda dengan hangat. Mereka memilih-milih buah yang Amanda dan Rion sukai. Sudah banyak buah yang Amanda masukkan ke troli namun, belum cukup untuk Amanda.


"Sayang, Abang ke toilet dulu, ya," ujar Rion.


Amanda mengiyakan dan melanjutkan memilih-milih buahnya. Tangan seseorang menyentuh pundak Amanda, hingga Amanda menoleh ke arah belakang.


Mata Amanda menyiratkan akan kemarahan, kemurkaan dan ketidak sukaan terhadap orang itu.


"Manda," panggilnya dengan sangat lirih.


Amanda beringsut mundur, orang di depannya adalah salah satu orang yang masuk ke dalam blacklist yang sangat tidak ingin dia temui. Meskipun Amanda memiliki ikatan darah yang kuat sekalipun.


"Papih kangen," kata Seno, ayah Amanda.


Amanda hanya tersenyum sinis. "Maaf, Manda gak merindukan Papih," sahut Amanda.


"Maafkan Papih," ucap Seno dengan tulus.


"Ucapan maaf Papih salah sasaran. Harusnya Papih meminta maaf sama Mamih yang telah Papih bohongi," balas Amanda.


"Pih," panggil seorang wanita kepada Seno.


"Tidak ada kebohongan yang abadi, kan. Kalian cocok, keluarga pendusta dan tidak berakhlak," sarkasnya.


"Jaga mulut lu, jangan mentang-mentang lu pake pakaian tertutup lu merasa sok suci. Inget siapa lu dulu, hanya seorang pelac*r," bentak Vina adik tiri Amanda.


"Stop!" teriak seseorang yang baru saja menghampiri mereka.


Amanda langsung berhambur memeluk tubuh suaminya. Dari kejauhan Rion sudah mendengar apa yang Amanda dan pria itu katakan meskipun samar-samar.


"Jaga mulut kalian, dan jangan sentuh istri saya," tegas Rion.


Istri? batin Vina.


"Saya Papihnya," ucap Seno.


"Papih yang tega menjual anaknya demi melunasi hutang Papih. Dan ternyata hutang Papih akibat gaya hidup glamor istri muda Papih," ungkap Amanda.


Rion mengeraskan rahangnya mendengar pernyataan Amanda. Ternyata pria di hadapan Rion ini yang menjadi alasan dibalik pekerjaan masa lalu istrinya.


"Ayo Bang, kita pulang," ajaknya.


Rion dan Amanda pun meninggalkan ketiga orang itu dengan wajah Rion yang menyiratkan kemarahan yang luar biasa. Vina terus saja memandangi Rion yang memperlakukan Amanda dengan sangat manis.


Sial*n, si jal*Ng itu bisa dapet laki-laki tampan dan mapan. Apa istimewanya si jal*Ng sih? batin Vina.


Selama perjalanan pulang Amanda hanya terdiam dengan tatapan kosong. Bertemu Papihnya sama dengan mengorek paksa luka yang sudah mulai mengering.


Bayang-bayang wajah Mamihnya kini melintasi setiap pikirannya. Matanya mulai berkaca-kaca dan tak terasa air matanya meluncur deras membasahi pipinya.


Mobil Rion menepi, dia langsung menarik tangan istrinya ke dalam pelukannya. Air mata Amanda kini membasahi baju Rion namun, tak Rion hiraukan. Kesedihan Amanda adalah kesedihannya juga. Begitulah prinsip hidupnya sekarang.


Setelah Isak tangis istrinya sudah mereda, Rion melajukan mobilnya kembali dengan tangannya yang terus menggenggam tangan Amanda.


Sesampainya di rumah, Rion menyuruh Mbak Ina untuk mengambil buah yang istrinya beli di mobil. Sedangkan Rion dan Amanda masuk ke dalam kamar. Amanda duduk di tepian ranjang dengan wajah yang terlihat sendu. Rion duduk di sampingnya dan memeluk istrinya dari samping.


"Kita sudah hampir empat bulan menjadi sepasang suami-istri. Harusnya sudah tidak ada lagi yang kamu tutup-tutupi dari Abang ataupun sebaliknya. Abang akan berusaha menjadi tempat berkeluh kesah untukmu dan menjadi sandaran ternyaman ketika kamu lelah dengan semuanya."


Manda memandang lekat suaminya, ucapan yang Rion katakan benar-benar tulus untuknya. "Makasih," ucap Manda dan langsung memeluk erat tubuh suaminya.


"Jangan ada yang kamu sembunyikan lagi dari Abang. Begitu juga Abang yang tidak akan menyembunyikan apa pun dari kamu," ujar Rion.


***


Happy reading ...