
"Apa? Dilarikan ke rumah sakit?"
Wajah terkejut Addhitama sangat terlihat jelas, Gio yang peka akan situasi menatap bingung ke arah Addhitama.
"Kamu terbang ke sana. Biar Papih yang jaga Rio. Setelah persalinan Echa selesai, Papih akan terbang ke Surabaya," ucapnya pada orang yang berada di sambungan telepon.
Sambungan telpon pun berakhir. Addhitama hanya menghela napas kasar.
"Ada masalah, Om?" tanya Gio.
"Masalah biasa," jawab Addhitama.
Di ruang operasi, seharusnya Radit tidak diperbolehkan masuk. Namun, atas permintaan dari sang pemilik rumah sakit Radit diperbolehkan menemani sang istri.
Sebelum dilakukannya pembedahan, dokter memberikan obat bius atau anastesi epidural agar area perut yang akan disayat mati rasa. Setelah obat bekerja, dokter mulai melakukan operasi dengan melakukan sayatan di perut dan otot rahim.
Radit tetap setia mendampingi sang istri dan sesekali mencium kening Echa. "Kamu akan jadi ibu yang hebat," ucap Radit.
Hanya seulas senyum yang Echa berikan. "Sakit gak?" Echa hanya menggeleng.
"Setelah ini, aku tidak mau kamu hamil lagi. Tiga anak cukup untuk kita," imbuh Radit.
"Aku tidak ingin kamu merasakan sakit lagi. Daei awal kehamilan kamu membuat aku takut. Setelah ini, aku hanya ingin kita hidup bahagia bersama anak-anak kita dan juga keluarga besar kita."
"I love you, Bubu."
"Love you too, Ba."
Suara tangisan si kecil membuat Radit mengintip ke arah depan. Seorang perawat memperlihatkan bayi yang masih berlumuran darah kepada Radit dan Echa.
"Ini anak pertama kalian. Berjenis kelamin perempuan." Perawat hanya menunjukkan beberapa menit kepada Radit dan Echa. Itu pun dari jarak yang cukup jauh karena bayi itu harus dibersihkan dan dilakukan tes kesehatan.
Baru saja perawat itu pergi, perawat yang lain sedikit mendekat ke arah Radit dan Echa. "Ini bayi kedua kalian, dengan perbedaan waktu lahir 5 menit. Berjenis kelamin perempuan."
Senyum merekah di wajah ayah dan ibu baru itu. Setelah mereka hanya terdiam karena tidak menyangka ketika melihat anak pertama mereka lahir ke dunia.
Perawat pun melakukan hal yang sama pada anak kedua Echa. Pandangan Echa dan Radit masih terpaku pada bayi kedua mereka yang digendong oleh si perawat.
Suara perawat yang lain mengalihkan pandangan Radit dan Echa pada bayi yang sedang menangis sangat keras. "Ini anak ketiga kalian, berjenis kelamin perempuan juga. Perbedaan waktu lahir dengan yang kedua hanya 4 menit saja."
Mereka berdua tidak bisa berkata apa-apa. Ada rasa yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Ada bahagia yang tidak bisa diganti dengan apapun.
"Kamu jadi ibu, Sayang. Dan aku jadi Ayah," kata Radit dengan raut bahagia tak terkira.
Bulir bening lolos begitu saja di ujung mata Echa. Tidak menyangka, Tuhan memberikan anugerah yang sangat luar biasa untuknya. Hanya dengan satu kali berjuang antara hidup dan mati, Echa mendapatkan tiga buah hati sekaligus.
Radit terus mengajak bicara Echa terus menerus. Karena dokter sedang menutup luka sayatan yang sangat dalam itu. Hingga tiga perawat yang tadi mengahampiri Echa dan menaruh dua bayi itu di dada sang ibu. Dan yang satu di dada sang ayah.
Tak terasa, bulir bening itu merembes kembali di mata Echa. Dua bayi itu seolah mencari sumber makanan untuknya. Mulutnya yang mungil tidak mau diam. Dan bayi yang ada di dada Radit hanya tertidur pulas. Seakan dada sang ayah adalah tempat yang nyaman untuknya bersandar. Haru dan bahagia bercampur jadi satu.
Mamih, lihatlah. Cucu-cucu Mamih sangat cantik. Sekarang Radit sudah jadi Ayah, Mih.
Radit tak kuasa menahan air matanya. Ketika air mata itu mengenai sang bayi, dia seolah terbangun. Lalu, bibirnya tersenyum dan kembali terpejam.
Para perawat pun membawa kembali tiga bayi itu. Membiarkan ibunya menjalani prosedur operasi yang memang belum selesai.
Keluarnya tiga perawat disambut antusias oleh keluarga Echa. "Ini cucu saya, Sus? Cowok apa cewek?" tanya Ayanda.
"Ibu keluarganya dari Nyonya Elthasya?" Ayanda pun mengangguk.
"Iya, ini anak-anak dari ibu Elthasya semuanya berjenis kelamin perempuan. Tapi, mohon maaf. Kami bawa bayi-bayi ini ke ruang khusus bayi dulu, ya, Bu. Setelah ibunya keluar dari ruang operasi nanti akan kami berikan kepada ibunya."
Ada rasa kecewa di hati Ayanda dan para kakek di sana. Ini adalah prosedur yang harus diikuti. Apalagi bayi yang baru saja lahir masih sangat rentan sekali terkena penyakit.
"Kamu ibu yang hebat, Kak," ucap Ayanda yang kini membelai rambut sang putri dengan air mata yang mengalir.
"Ajari Echa jadi ibu yang baik dan kuat, Mah. Maaf, kalo selama ini Echa sering buat Mamah marah, sedih dan kecewa. Melahirkan itu sangat menyakitkan, Mah," ujar Echa yang sudah menangis.
"Jangan nangis, Dek. Kesakitan kamu, sudah tergantikan dengan kehadiran anak-anak kamu ke dunia ini," ujar Rion.
Keharuan mereka harus berakhir ketika dua perawat masuk dan mendorong boks bayi.
"Kasih ASI, ya, Bu. Biar mereka belajar meminum ASI," ujar perawat.
Perawat pun menyerahkan anak pertama Echa kepada Echa. Anak kedua Echa diambil alih oleh Rion dan anak ketiga Echa diambil alih oleh Ayanda.
"Sakit," keluhnya, ketika anak pertamanya mulai meminum ASI.
"Kalo pertama pasti begitu, Kak. Malah bisa sampai lecet," ucap Ayanda.
"Kasih susu formula aja lah. Dari pada mainan aku itu lecet dan gak bagus lagi."
Pletak!
Dengan keras Rion memukul kepala Radit dengan tangan sebelahnya menggendong sang cucu.
"Kamu harus puasa selama 40 hari. Mungkin bisa lebih karena Echa lahiran secara Caesar," ucap Rion.
Addhitama hanya menggelengkan kepala sambil terus menyentuh pipi gembil sang cucu.
Sedangkan Gio terus menciumi pipi cucunya. Dan Radit terus memberikan sentuhan hangat di kepala sang istri dan sesekali memainkan pipi merah jambu sang putri.
"Cucu-cucu kita sangat cantik, ya. Perpaduan antara Mamah dan Papanya," ucap Ayanda.
"Mukanya sama, gimana cara bedainnya," balas Rion. Radit pun menggeleng.
"Kita belum bisa tahu, setelah 24 jam baru deh bisa tahu. Pasti ada hal yang membuat mereka berbeda," terang Gio.
"Kamu udah siapin nama untuk anak-anak kamu, Dit?" tanya Addhitama. Radit hanya mengangguk.
"Ini, Aleena Addhitama." Radit membelai anak yang sedang digendong Echa.
"Yang digendong Ayah, Aleesa Addhitama."
"Yang digendong Mamah, Aleeya Addhitama."
"Sebutan sayang dari Engkong mah, Uyal, Uyil dan Uyul ya," ucap Rion sambil menatap cucunya yang sedang terlelap sambil tersenyum ke arah Rion.
"Ayah," protes Echa dan Radit.
Rion hanya tertawa dan diikuti orangtua mereka yang lainnya.
"Opa." Suara anak kecil menghentikan tawa semua orang.
"Loh, kok Rio ke sini?" tanya Radit.
"Mamih dan Papih ke Surabaya. Iyo disuruh tinggal sama Om Ifal dan Opa dulu kata Mamih," ucapnya jujur.
Radit menajamkan matanya kepada sang Papih. Meminta jawaban atas ucapan Rio.
...****************...
Mana komennya atuh? Makin ke sini makin sedikit. Sedih loh aku, udah nulis capek-capek tapi gak dikomen, 🤧