Bang Duda

Bang Duda
182. Jangan Tinggalkan Aku



Hati Rion benar-benar gelisah. Pikiran-pikiran jelek selalu berputar di kepalanya. Amanda, Amanda, dan Amanda. Hanya nama itu yang dia ingat. Dan laporan terakhir dari Echa membuat Rion benar-benar takut.


"Bhas, kapan benernya, sih?"


"Ini juga lagi dibenerin RION JUANDA!"


"Kenapa sial banget sih hari ini," gerutu Rion.


"Udah kaga usah bawel, bukan cuma lu yang ditunggu sama bini lu. Gua juga udah ditelponin Mulu sama istri gua," imbuhnya.


Rion menghubungi Echa kembali, namun tidak ada jawaban dari Echa. "Kemana kamu, Dek?" gumamnya dengan wajah yang sangat khawatir.


Rion mencoba menghubungi ke ponsel Amanda, tetap sama tidak ada jawaban juga.


"Jangan buat aku khawatir," gumamnya dengan wajah yang sangat frustasi.


Arya menyodorkan botol air mineral kepada Rion. "Minum dulu," ujarnya.


Rion pun meneguk air mineral yang Arya berikan. Dia menghela nafas berat. Mencoba menenangkan hati dan pikirannya namun, tetap tidak bisa.


"Echa sama bini lu pasti udah tidur. Udah jam sepuluh," kata Arya.


"Gua benar-benar khawatir, perasaan gua gak enak," imbuh Rion.


"Berdoa aja semoga semuanya baik-baik aja. Jangan terlalu parno-an, ketakutan lu bisa jadi kenyataan, loh."


"Amit-amit."


"Makanya, lu harus relax. Sepanik-paniknya pria Jangan pernah nunjukin ke istri. Ntar yang ada istri lu makin sedih dan kepikiran."


Hanya helaan napas yang menjadi jawaban dari Rion. "Gua yakin, lu bisa jadi suami dan Ayah yang selalu siaga."


Mendengar ucapan Arya terukir senyum dari bibir Rion. Ucapan yang Arya lontarkan sederhana, namun memiliki makna yang dalam untuk Rion.


Echa masih menunggu sang Bunda keluar dari kamar mandi sambil mengecek akun Instagram miliknya. Hatinya sesak ketika Riza masih memposting foto mereka berdua dengan sebuah caption yang sangat menyentuh hati.


Kamu alasanku untuk sembuh, tapi kini aku yang menjadi alasan untukmu pergi. Pergi karena terjebak keadaan, dan bodohnya aku yang menenggelamkan diri kepada keadaan yang sangat merugikan untukku dan untukmu. Hingga, kamu harus menjadi korban. Aku terima kamu membenci aku, tapi aku tetap menyayangi kamu. ELTHASYA ....


Echa menutup akun instagramnya, dan memilih meng-unfollow akun Riza. Echa melihat ke arah kamar mandi, namun sang Bunda belum keluar juga.


Echa mengetuk pintu tapi, tidak ada jawaban. Tangannya mencoba membuka knop pintu dan ternyata tidak dikunci.


Echa melongokkan kepalanya ke dalam kamar mandi. Dan alangkah terkejutnya Echa melihat Bundanya yang memejamkan di dalam bath up.


"Bunda," panggil Echa. Amanda tetap tak bergeming.


"Bunda," panggil Echa sambil mengusap lembut pipi Amanda.


Rasa takut kini menghampirinya, dia takut jika ucapan Bundanya tadi adalah pesan terakhir untuknya.


"Bunda, bangun Bunda," ucap lirih Echa.


"Bunda, jangan tinggalin Echa dan Ayah." Air mata Echa sudah menetes dan membasahi wajahnya.


"Bunda jangan bikin Echa takut." Echa terus mencoba membangunkan Amanda. Dan dia pun menyerah, dengan Isak tangis yang sangat lirih dan tubuhnya tersungkur di lantai kamar mandi.


"Bunda ...."


"Hahahaha ... Bunda masih hidup, Sayang." Echa mendongakkan kepalanya dan melihat Bundanya sedang menertawakanmya.


"Bunda jahat, Bunda jahat." Perkataan Echa tidak sesuai dengan tindakannya. Bibirnya mengatakan jika Bundanya jahat, tapi tubuhnya memeluk erat tubuh sang Bunda. Tak dia hiraukan tubuhnya ikut basah.


"Maafkan, Bunda. Berendam dengan aroma therapy ini membuat tubuh Bunda nyaman dan ketiduran," ucapnya lembut dan mengecup lembut puncuk kepala Echa.


"Jantung Echa mau copot, Bun," adunya pada Amanda.


Amanda memeluk erat tubuh Echa. Senyum bahagia melengkung indah di bibirnya. "Tolong ambilkan handuk, Bunda."


Echa pun mengambilkan handuk kimono untuk Bundanya. Amanda tidak malu memperlihatkan tubuhnya kepada Echa. Echa membantu Bundanya berjalan hingga keluar kamar mandi.


"Sayang," ucap Rion dan langsung memeluk erat tubuh istrinya hingga Amanda merasa sesak.


"Bang, bayi kita." Rion langsung melepaskan pelukannya. Dan meminta maaf kepada Amanda dan juga bayinya.


"Ck, kebiasaan." Echa menatap jengah ke arah Ayahnya. Namun, Rion tidak menghiraukannya. Malah menciumi wajah Amanda.


"Ayah ...."


****


Jangan suudzon dulu, Amanda kagak kenapa-kenapa kan di bab ini. 😁


Jangan lupa like dan komen ya, karena komen kalian adalah penyemangat aku buat nulis lagi dan lagi. Dan jangan pernah timbun bab ya, terbit langsung baca.


Oiya, sambil nunggu Bang Duda up kalian bisa baca novelku yang lain. Tinggal klik aja profil aku di situ akan muncul semua karya aku. Jangan lupa di ❤️ biar gak ketinggalan bab barunya.


Happy reading ...