
"Ayah udah pulang?" tanya Echa yang baru saja pulang sekolah.
"Ada berkas yang ketinggalan tadi, Dek. Ini mau balik lagi," dustanya.
"Bunda dimana?" tanya Echa.
"Di kamar," jawab Rion.
"Oh, ya udah Echa ke atas dulu ya," pamit Echa. Rion hanya menganggukkan kepalanya.
Rion lebih memilih kembali ke kantor dibandingkan harus menemui istrinya. Emosinya sedang tidak stabil dan juga hatinya masih sangat kacau karena mendengar ungkapan hati Amanda.
Amanda duduk di tepian ranjang. Untuk saat ini dia belum yakin akan cinta yang suaminya miliki. Masih ada keraguan di hati Amanda untuk memiliki anak dari Rion. Terlebih, dia mendengar sendiri sikap Rion terhadap Ayanda dan Echa seperti apa. Dia hanya tidak ingin membuat anaknya menderita.
Rion hanya menyandarkan diri di kursi kebesarannya. Arya dan juga Sita masuk ke ruangan Bossnya dengan saling menatap heran.
"Kenapa?" tanya Arya.
Tidak ada jawaban dari Rion, dia masih memejamkan matanya. Arya dan Sita menyerahkan beberapa map di tangan mereka.
"Kita harus ke Surabaya," ujar Arya.
Rion membuka matanya, dia memberikan ponselnya kepada Arya. Arya mengernyitkan dahinya ketika di layar ponselnyà ada gambar satu strip pil.
"Ngapain lu nyari tau tentang pil KB? Gak mau punya anak lagi emang lu?" tanya Arya.
"Sita, menurut kamu alasan terbesar wanita mengkonsumsi pil KB apa?" tanya Rion.
"Ya ingin menunda kehamilan Pak. Mungkin si wanita itu belum siap punya anak," jawab Sita.
Rion hanya menghela napas, Arya dan Sita saling pandang karena belum mengerti apa yang dikatakan atasan mereka.
"Bini lu minum ini?" sergap Arya.
Rion hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah yang sangat sendu.
"Wajar Pak, istri Bapak mungkin belum siap punya anak dari Bapak. Dia belum yakin tentang cinta Bapak untuknya," jelas Amanda.
"Amanda belum yakin kalo lu tuh udah berubah, sifat bodoh lu kan bisa kumat kapan aja. Lagian, istri lu itu bukan cewek sembarangan. Kudu punya seribu satu cara buat meyakinkan hatinya," ungkap Arya.
Rion memijat pangkal hidungnya yang teramat pusing. Ucapan Arya memang benar. Dia harus bekerja ekstra untuk meyakinkan hati Amanda.
Di rumah.
"Bun," panggil Echa seraya mengetuk pintu.
Amanda membuka pintu kamarnya dengan wajah yang terlihat sedih. Echa hanya diam, tidak akan menanyakan.
"Bunda gak makan? Ayah pulang malam, tadi Ayah nyuruh kita buat makan duluan," ujar Echa.
Amanda mengangguk pelan dan menuju meja makan. Makan malam saat ini hanya ada mereka berdua. Tidak ada obrolan apa-apa diantara mereka.
Rion masih setia di kantor meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 wib. Dia terus menenggak bir kaleng yang dia beli.
"Udah," bentak Arya seraya merebut bir yang berada di mulut Rion.
"Kebanyakan minum nantinya lu susah punya anak. Gak mau lu punya anak lagi?" bentak Arya lagi.
Rion hanya terdiam mendengar ucapan dari Arya. Ada rasa rindu dihatinya kepada Amanda. Di jam ini, harusnya dia sedang bermanja dengan istrinya.
"Pulang, bicaralah baik-baik dengan istri lu. Tanya alasannya kenapa? Dan lu juga jangan selalu jadi manusia egois, yang hanya mau dimengerti tanpa mau mengerti istri lu," tutur Arya.
Tak lama Beby datang ke kantor Rion, Arya sengaja meminta kekasihnya ini untuk datang dan menjemputnya.
Tanpa menghiraukan Rion dihadapannya, Beby naik ke atas pangkuan Arya. Mengecup lembut bibir sang kekasih. "Pulang yuk Yang, udah malam," ajak Beby.
"Kiss dulu," pinta Arya menunjuk bibirnya sendiri.
Beby pun mencium bibir Arya lama, lidah mereka saling membelit dan saling menggigit membuat Rion berdecak kesal.
"Sial*n!" geramnya.
"Malu," ucap Beby sambil membenamkan wajahnya di dada Arya.
"Maaf ya, hanya dengan cara ini bos gila aku mau pulang ke rumah," ujar Arya seraya mencium puncuk kepala Beby.
Beby mendongakkan kepalanya, menatap Arya dengan penuh kekaguman.
"Kenapa?" tanya Arya heran.
"Pak Rion beruntung memiliki sahabat kayak kamu," jawab Beby.
"Tidak ada yang beruntung atau rugi di dalam sebuah persahabatan yang tulus," ujar Arya seraya tersenyum. Beby semakin erat memeluk pinggang Arya, dia sangat beruntung memiliki pacar seperti Arya.
Tiba sudah Rion di rumahnya, rumahnya terlihat sudah gelap. Tidak ada tanda-tanda orang yang masih terjaga di dalam rumahnya.
Rion memilih membaringkan dirinya di sofa, meskipun hasratnya sedang on fire tapi dia harus menahannya. Dia masih kecewa dengan istrinya.
Amanda terbangun dari tidurnya, dilihatnya tempat tidur di sebelahnya masih kosong. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 wib.
"Belum pulang juga," gumamnya.
Amanda melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil air minum. Terlihat kaki yang menggantung di atas sofa. Dengan pelan Amanda melangkah ke ruang tamu. Dilihatnya Rion yang sedang terlelap di sana. Ada rasa bersalah di hati Amanda. Namun, dia juga membenci sifat egois suaminya.
Amanda kembali ke kamarnya dan mengambilkan selimut untuk suaminya. Dengan perlahan Amanda memasangkan selimut ke tubuh Rion. Dipandanginya wajah Rion, ada rasa rindu di hatinya.
Pagi harinya, Rion meregangkan ototnya yang terasa pegal. Rion melihat tubuhnya sudah terbalut dengan selimut. Rion pun mengernyitkan dahinya.
Rion masuk ke dalam kamar, Amanda sudah tidak ada di tempat tidur. Langkahnya terhenti ketika Amanda baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk. Aroma sabun sangat menusuk hidung Rion dan pemandangan indah dihadapannya mampu membangkitkan hasrat kelelakiannya.
Amanda tidak menghiraukan suaminya yang sedang mematung di depan pintu. Amanda menuju lemari pakaiannya. Pelukan dari belakang membuat Amanda tersentak kaget. Bibir Rion menyusuri leher istrinya dan turun ke pundak. Rion menyusuri setia inchi tubuh Amanda yang hanya tertutup handuk. Tangannya mulai nakal bermain di area kesukaannya. Hingga aliran darah Amanda pun bergejolak.
Rion sudah melepaskan handuk yang digunakan istrinya. Dia disuguhkan dengan penampilan istrinya yang sudah polos tanpa sehelai benang pun.
"Aku ingin," bisiknya pada Amanda.
Meskipun dalam kondisi semarah apapun seorang istri tapi, kewajiban melayani suami itu yang terpenting. Amanda pun mengangguk pelan.
Tubuh mereka berdua sudah sama-sama polos. Des*h*n dan erangan silih berganti bersahutan menandakan kenikmatan, mulut mereka saling beradu dan tubuh mulus Amanda pun sudah berubah warna menjadi merah.
Keringat sudah bercucuran di tubuh mereka namun, kenikmatan dan gejolak panas masih menjalar di tubuh mereka. Mereka terus melanjutkannya hingga akhirnya mereka melakukan pelepasan secara bersamaan.
Rion mengecup kening istrinya sangat dalam. Rion merasakan nafas Amanda yang tidak beraturan karena meladeni permainannya sekaligus menikmatinya. Rion membawa tubuh Amanda membuat Amanda melebarkan matanya.
"Mau ke...."
Mulut Amanda dibekap oleh mulut Rion, hingga Rion membuka pintu kamar mandi dan mereka masuk ke dalam bath up yang sudah diisi air dan aroma thearpy, dengan posisi Amanda berada di pangkuan Rion.
"Abang harus lakuin apa agar kamu percaya dengan cinta Abang?" tanyanya lemah.
Amanda hanya menggelengkan kepalanya dengan tatapan sendu. Rion langsung memeluk tubuh istrinya.
"Maafkan Abang, Abang belum bisa jadi suami yang baik untuk kamu," ujarnya.
"Berikan Manda waktu," balasnya.
Rion mengendurkan pelukannya dan menatap wajah istrinya intens.
"Suatu saat nanti pasti Manda akan berhenti meminum pil itu. Manda hanya perlu pembuktian yang tulus kalo Abang hanya mencintai Manda, hanya satu wanita yang ada di hati Abang. Yaitu, Manda," ungkapnya.
Rion menggenggam tangan Amanda lalu menciumnya. "Abang akan membuktikannya," ucapnya.
Mereka pun memulai kembali apa yang sudah berakhir di ranjang tadi. Rion seakan tidak puas menerkam tubuh istrinya meskipun istrinya sudah mencapai kenikmatan berkali-kali. Erangan dan des*h*n istrinya semakin membuat hasratnya terus naik. Meskipun istrinya sudah terkapar lemah, dia tidak akan berhenti jika laharnya belum meyembur ke dalam lubang kenikmatan istrinya.
Rion hanya berharap, kelak ada satu hari istrinya lupa meminum pil itu. Dan tumbuhlah Rion junior di rahim istrinya.
***
Jangan lupa like, komen dan juga vote.
Happy reading ....