
Hari ini drama antara Aksa dan Ziva dimulai. Ya, ide gila yang berasal dari otak Beeya. Si perempuan petikilan yang memiliki ide cemerlang.
"Zi, kamu gak keberatan, kan?" Aksa bertanya dengan ragu.
"Gak kok, Sa. Santai aja, lagian aku tulus kok bantuin kamu. Meskipun nantinya aku bakalan kena jambak," ucapnya seraya terkekeh pelan.
Sungguh manis senyum Ziva, tapi tak membuat hati Aksa bergetar. Aksa melajukan motornya menuju sekolah dengan Ziva yang membonceng di belakangnya. Sedangkan Aska memilih membawa motor yang lain. Tibanya di sekolah, semua mata tertuju pada kendaran yang baru saja terparkir. Siapa lagi jika bukan Aksa dan juga Ziva. Sikap manis Aksa terhadap Ziva membuat semua siswi yang mengidolakannya patah hati.
Apalagi, dengan senyum yang terus mengembang. Aksa membantu Ziva membuka helm yang dikenakan oleh Ziva. "Makasih." Satu kata yang sangat lembut di telinga orang yang mendengarnya.
Riana yang baru saja turun dari mobil pun sedikit meradang melihat pemandangan yang sangat merusak matanya itu.
"Apa dia yang mengaku pacar Abang?" Begitulah gumaman Riana.
Riana mencoba menghampiri Aksa dan Ziva yang sedang berjalan beriringan. Dan dengan sengaja, Riana menabrak tubuh Ziva hingga dia hampir tersungkur. Untung saja Aksa menjadi laki-laki yang sigap untuk menopang tubuh Ziva.
"Sorry, gak sengaja," ucap Riana seperti tak punya dosa.
Hanya tatapan dingin yang Aksa tunjukkan kepada Riana. "Kamu gak apa-apa?" Pertanyaan yang penuh kekhawatiran yang Aksa ungkapkan kepada Ziva.
"Gak apa-apa,” jawab Ziva.
Dalam hati Ziva, dia mengumpat kesal ke arah Riana. Ingin rasanya Ziva menjambak rambut Riana hingga botak.
"Ciye, pasangan baru berduaan aja nih," goda Aska.
Mata Riana melebar ketika mendengar kata pasangan baru. Ziva dan Aksa hanya saling pandang dan mereka sama-sama tersenyum mendengar ucapan Aska.
"Si-siapa yang pasangan baru?" tanya Riana bingung.
"Kepo!" seru Aska, Aksa dan juga Ziva.
Dengan mesranya Aksa menggenggam tangan Ziva di depan Riana. Membuat Riana terbakar api cemburu yang teramat panas. Sedangkan Aska mengikuti langkah Abangnya dan juga Ziva dari belakang. Riana hanya terdiam di tempatnya. Mengamati genggaman tangan Aksa kepada Ziva.
"Bengong Mulu, kesambet lu," ujar Keysha.
"Key, Abang udah punya pacar?" tanya Riana.
Keysha berpikir sejenak. Semalam Beeya menghubunginya agar masuk ke dalam drama yang dibuatnya. Bukannya Keysha tega, tapi ini juga untuk membuat Riana tersadar akan perasaanya yang salah. Apalagi sikapnya yang sudah sangat keterlaluan.
"Tanya aja sama, Abang." Keysha pun memilih untuk pergi meninggalkan Riana.
"Kenapa semua orang seperti menjauhiku?" gumamnya.
Riana sedikit berlari menuju kelas dua belas. Ketika dia melewati kelas Aksa, dadanya sangat sesak dan ingin rasanya dia marah. Melihat laki-laki yang dia sayangi sedang tertawa lepas bersama Ziva. Tangan Riana sudah mengepal dengan kerasnya. Namun, Riana ingat tujuan awalnya datang ke kelas dua belas karena ingin bertemu dengan Aska. Tidak terlalu sulit untuk menemukan Aska. Karena Aska adalah anak yang senang bergaul.
"Kak," panggil Riana.
Merasa dirinya dipanggil, Aska pun menoleh ke arah suara.
"Masih berani tuh anak deketin lu. Setelah kemarin Abang lu ditampar sama dia," ucap salah seorang teman Aska.
Aska hanya menghela napas kasar ketika Riana menghampiri Aska. "Kak apa-"
"Iya, mereka pacaran," potong Aska. Tubuh Riana terasa limbung mendengarnya. Ingin rasanya dia berteriak keras mendengar ucapan Aska.
Aska membiarkan Riana dengan keterkejutannya. Bukan tanpa alasan, Aska terlanjur sakit hati dengan sikap Riana. Di balik parasnya yang cantik, tapi memiliki sifat yang tidak seperti wanita cantik.
"Dek, kamu tahu rencana-"
"Bee semalam WhatsApp Adek. Ya udah Adek ikut aja dalam drama kalian." Cengiran khasnya terukir di wajah Aska.
"Bukannya kamu suka sama dia?" tebak Ziva.
"Dulu, Zi. Setelah aku tahu bagaimana sifatnya. Aku jadi mikir 3-4 kali untuk mencintai dia dengan tulus. Ke Abang aku aja dia berani nampar," jelas Aska.
"Ya ampun, kalian ini bikin aku terharu deh. Andai aku punya kakak seperti kalian," lirih Ziva. Ya, Ziva adalah anak tunggal dari dokter Sarah. Karena satu dan lain hal, akhirnya dokter Sarah dan suaminya memutuskan untuk tidak ingin menambah momongan. Alasannya hanya mereka yang tahu.
"Jangan sedih, Zi. Kamu bisa anggap aku dan juga Aska sebagai Abang kamu," imbuh Aksa mengusap lembut pundak Ziva.
"Benar kata Abang," timpal Aska dengan senyuman mautnya.
Riana berubah menjadi anak yang pendiam sekarang. Sedih dan kecewa jadi satu. Tapi, sifat kekehnya masih mendominasi hatinya. Hingga seringai licik pun muncul di wajahnya.
Pulang sekolah, Ziva dan Aksa pulang bersama. Menaiki motor matic yang selalu Aksa bawa. Tak lupa, memakaikan helm ke kepala Ziva.
"Asyik dah, mesra bener," ledek teman Aksa. Hanya senyuman yang menjadi jawaban dari bibir Aksa.
"Pegangan." Ziva pun memegang pundak Aksa membuat Aksa tersenyum lucu.
"Kamu kira aku ini tukang ojek," ejek Aksa sambil memindahkan tangan Ziva ke pinggangnya.
"Biar makin panas, dia ada di belakang kita," ucap Aska sambil menoleh ke arah Ziva. Ziva akhirnya mengangguk mengerti. Dia semakin merangkul erat perut Aksa dan kemudian meninggalkan Riana dan juga Keysha yang sedang berada tidak jauh dari mereka. Senyum tipis tersungging di bibir Keysha.
"Lu tau siapa ceweknya?" Keysha hanya mengangkat bahu. Menandakan dia tidak tahu.
Sesampainya di rumah, Aska sudah terlebih dahulu duduk di ruang keluarga bersama sang Mommy. Sambil menyantap cemilan yang dibeli Ayanda.
"Kan anterin Ziva dulu, Mom." Ayanda mengangguk mengerti dan Aksa naik ke lantai atas untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Aksa ikut bergabung dengan Aska dan juga Ayanda. Kini, Aksa duduk di samping kiri sang mommy dan merangkul lengannya dengan manja.
"Pada kenapa sih, anak Mommy," ujar Ayanda heran.
"Sekali-kali, Mom. Mumpung Daddy gak ada," sahut Aska dan disambut gelak tawa Ayanda dan juga Aksa.
"Mom, kabar Kakak sama si Bandit gimana?" Pukulan di paha Aksa melayang sempurna dari tangan Ayanda. "Yang sopan manggil kakak ipar tuh," omelnya.
"Ck, itu singkatan dari Bang Radit, Mom," elak Aksa.
"Gak kebayang, kalo Kakak punya anak tiga terus anaknya tinggal di sini. Gimana jadinya rumah ini, ya?" Aska membayangkan bagaimana kacaunya rumah ini ketika keturunan sang kakak hadir di rumah ini. Pasti rumah ini akan seperti kapal pecah. Membuat Aska tertawa membayangkannya.
"Ngebayangin yang aneh-aneh, nih," tebak Ayanda sambil memukul bahu Aska.
"Lucu aja kali ya, tingkah pecicilan Kakak nurun ke ketiga anaknya. Auto Mommy dan Daddy kewalahan ngurus mereka," ejek Aska.
"Mommy kira gak tuh. Pasti Daddy akan membelikan apa yang si kembar tiga inginkan. Contohnya, mereka suka es krim pasti Daddy akan menyuruh semua perusahaan es krim ternama di negara ini untuk menyimpan freezer-nya di sini."
"Rumah kita udah kayak mini market ya," sahut Aksa.
"Sayangnya, kalian sudah tidak ada di sini. Abang akan ke London dan Adek akan ke Si-"
"No, Adek mau kuliah di Jakarta aja. Cukup Abang yang pergi jauh. Adek ingin jaga Mommy dan juga Kakak serta anak-anak Kakak. Karena Adek yakin, Daddy dan Bang Radit akan sibuk," potong Aska yang kini memeluk tubuh Ayanda.
Ayanda terharu mendengar ucapan Aska. Dan Aksa tersenyum bangga mendengar perkataan Aska.
"Kalian lelaki hebat yang Mommy miliki," ujar Ayanda sambil mengecup pipi si kembar silih berganti.
"Love you, Mom," ucap si kembar berbarengan dan kemudian mengecup pipi Ayanda secara bersamaan.
Setelah puas bercengkrama dengan Ayanda. Aksa masuk ke kamarnya dan mulai membuka ponselnya.
"Nomor ini kamu kenal gak?" Isi pesan WhatsApp yang dikirim Ziva kepada Aksa.
Sebelum membalasnya, Aksa mencari tahu nomor itu. Dan bibirnya tersenyum penuh makna.
"Kenapa emangnya?" tanya Aksa.
"Dia ngajak ketemuan gitu," balas Ziva.
"Ya udah ikutin aja maunya itu orang. Nanti aku akan temenin kamu."
Bibir Ziva melengkung dengan sempurna membaca isi pesan yang dibalas oleh Aksa.
"Ya udah, aku tentuin tempatnya dulu." Percakapan mereka via WhatsApp pun terhenti. Aksa lebih memilih membaringkan tubuhnya di kasur yang empuk miliknya. Sambil mendengar lagu melow kesukaannya.
Setengah jam berlalu, dering ponsel Aksa berbunyi. Aksa segera menjawabnya karena itu panggilan dari Ziva.
"Dia ngajak ketemuan di Milenial cafe."
"Oke, kamu ke sana duluan. Nanti aku nyusul. Tinggal kamu chat aja nanti duduk di table berapa."
"Oke."
Aksa pun segera bangkit dari posisi tidurnya dan langsung menuju kamar mandi. Karena dia akan menuju Milenial Cafe yang dimaksud Ziva.
Dan seseorang sudah menunggu Ziva di sana. Dengan seringai licik yang pastinya akan mematahkan hati si orang yang sedang ditungguinya.
Selang setengah jam, orang yang ditunggunya sudah datang. Wanita yang berpenampilan sederhana tapi terlihat sangat cantik di mata siapapun yang melihatnya. Siapa lagi jika bukan Ziva.
Mata Ziva memicing dengan sempurna ketika melihat orang yang mengajaknya bertemu adalah Riana. Sebelum mendekat Ziva harus menguatkan mentalnya terlebih dahulu. Jangan sampai, dia dipermalukan oleh Riana di depan umum.
"Oh kamu yang ngajak ketemu," ucap Ziva sopan. Hanya senyuman sinis yang Riana berikan.
"Gak usah sok polos dan sopan deh. Gua mau tanya, ada hubungan apa antara lu sama Abang Aksa?" sergah Riana.
"Oh." Hanya satu kata yang keluar dari bibir Ziva.
"Bentar ya, aku haus. Mau pesan minum dulu," ujar Ziva.
"Tenang aja, minuman yang aku pesan aku yang bayar kok," sambung Ziva dengan senyum mengejek. Membuat wajah Riana berubah menjadi masam.
Setelah minuman Ziva datang, barulah Ziva duduk tegak dan menatap ke arah Riana dengan tangan yang dilipat di atas dada.
"Aku sama Aksa-"
"Hai, Sayang." Kecupan lembut di kepala Ziva membuat Ziva dan Riana melebarkan mata tak percaya.
****
Happy reading ...