
Di lain tempat, Amanda dan Riana yang baru saja tiba di kediaman mereka dikejutkan dengan langkah tergesa Arya yang sudah membawa tas ransel milik Iyan.
"Kamu ngapain di sini?" Sebuah pertanyaan yang terlontar dari bibir Amanda.
"Harusnya gua yang tanya. Lu ke mana aja? Di saat anak lu hampir mati lu malah pergi tanpa anak lu. Kalo di rumah ini gak ada Mbak Ina, gua gak tau bagaimana nasib Iyan sekarang," ujarnya dengan raut kesal.
"Ma-maksudnya apa?"
"Anak lu demam dan kejang-kejang." Arya segera meninggalkan Amanda dan Riana menuju mobilnya. Namun langkahnya dihadang oleh Amanda. "Di mana Iyan sekarang?" tanyanya sedikit panik.
"Di rumah sakit." Arya segera melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Rion. Amanda serta Riana dibuat mematung oleh tingkah Arya. Dan ketika melihat ke arah halaman rumahnya. Mobil yang biasa Riana gunakan sudah dibawa oleh Pak Mata ke apartment Echa.
Amanda segera menghubungi Mbak Ina, dia pun mengumpat kesal karena ponselnya mati. "Kenapa pake mati segala sih," gerutunya.
Riana mencoba menghubungi Mbak Ina dan ketika tahu di mana Iyan dirawat. Mereka segera pergi ke sana. Tibanya di sana, Amanda serta Riana terkejut karena sudah ada Echa dan Rion di samping ranjang pesakitan Iyan. Dan yang lebih menyesakkan hati, Iyan memeluk erat tubuh Echa seperti memeluk tubuh ibunya sendiri. Sedangkan terhadapnya, Iyan tidak seperti itu.
"Iyan." Suara Amanda bergetar ketika memanggil putra bungsunya. Semua mata tertuju ke arah Amanda. Seperti biasa, hanya tatapan datar yang Echa tunjukkan.
"Kakak pulang, ya. Dedek bayinya gak boleh lama-lama berada di rumah sakit. Karena banyak virus di sini," ujar lembut Echa sambil membelai rambut sang adik tercinta.
"Jangan pergi, Iyan ingin Kakak di sini. Iyan ingin ikut Kakak."
Seperti disambar petir di siang bolong mendengar ucapan Iyan. Sakit hati Amanda mendengarnya. Putranya sendiri lebih memilih dirawat dan tinggal dengan Echa dibanding dengannya. Apa salahnya?
"Kalo Iyan udah sembuh, Iyan boleh tinggal sama Kakak. Untuk sekarang, Iyan harus dirawat dulu, ya. Ada Ayah dan juga Bunda Iyan yang akan jaga Iyan. Kakak janji, setiap hari Kakak akan jenguk Iyan di sini sama Abang Radit." Mata Iyan nanar mendengarnya, membuat hati Echa mencelos.
"Anak cowok gak boleh nangis." Echa menyeka air mata yang sudah menganak di mata adiknya itu.
"Jangan tinggalin Iyan lagi. Iyan takut sendiri." Iyan memeluk erat tubuh Echa dengan tangisan yang terdengar. Echa terus mengusap lembut punggung Iyan seraya menenangkannya.
"Kakak gak akan pergi lagi. Kakak tinggal di negara yang sama dengan Iyan. Dan juga di Kota yang sama dengan Iyan." Akhirnya, Iyan melepaskan pelukannya. Dia mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Echa membuat Echa tersenyum gembira.
"Janji." Echa menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Iyan bentuk dari sebuah perjanjian.
"Ayah, Echa pulang ya. Sekarang Ayah udah gak sendiri. Sebentar lagi, Om Arya juga ke sini. Dia masih di rumah Mamah jemput Beeya sama Kak Beby." Rion mengangguk seraya tersenyum.
"Hati-hati ya, Dek." Echa mencium tangan ayahnya dengan sopan lalu mengecup pipi sang ayah seperti anak kecil yang hendak pamit ke sekolah.
"Cucu-cucu Engkong, jangan nakal di perut ibu kamu, ya." Usapan lembut di perut Echa membuat Echa tersentuh. Senyum pun melengkung di bibir Echa.
"Dit, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya," titah Rion.
"Iya, Yah." Mereka berdua pun meninggalkan ruangan tersebut tanpa adanya kata pamit kepada Riana dan juga Amanda.
"Gak sopan," dengus Riana ketika Echa dan Radit berlalu begitu saja di hadapannya.
"Jaga bicara kamu, Riana. Ini rumah sakit," hardik Rion dengan tatapan tajam.
Amanda mengahampiri Iyan, tapi Iyan melengoskan wajahnya. "Maafkan Bunda, Iyan."
Kalimat yang sangat menusuk ulu hati Amanda. Sedangkan Rion menatap istrinya dengan tatapan tak terbaca.
"Iyan juga ingin dimanja seperti Kak Ri. Tetapi, Bunda selalu menjawab jika Iyan ini laki-laki gak boleh manja. Apa salah seorang anak bermanja dengan ibu kandungnya? Apa Iyan ini bukan anak kandung Bunda?"
Rion segera mengusap lembut punggung tangan sang putra. Sakit rasanya mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Iyan.
"Iyan anak Ayah dan Bunda," tegas Rion.
"Tapi, kenapa hanya Ayah yang menyayangi Iyan? Kenapa hanya Ayah yang mau mendengarkan cerita Iyan? Kenapa Ayah?" Suara Iyan sangat bergetar dan tangis Iyan pun pecah.
Amanda tak kuasa menahan tangisnya. Tanpa dia sadari, putranya menyimpan beban tersendiri. Apalagi dirinya yang selalu mengutamakan Riana dibandingkan putra bungsunya.
"Kenapa Bunda tidak bisa seperti Mommy yang selalu menyayangi Abang dan Kakak bersamaan dengan adil? Padahal Mommy juga memiliki dua anak. Dan kenapa Bunda tidak bisa seperti Papih dan Mamih? Mereka menyayangi Kak Key dan mereka juga menyayangi Kak Kaza," lirihnya.
"Masih ada Ayah di sini, Iyan. Sekarang sudah ada Kakak Echa dan juga Abang Radit juga yang akan selalu jaga kamu. Dan pastinya menyayangi kamu dengan penuh ketulusan." Iyan memeluk pinggang ayahnya menumpahkan tangisnya di pinggang sang ayah.
Melihat anaknya sekacau ini, Rion merasa sudah gagal menjadi suami dan juga ayah untuk istri dan anaknya.
"Maafkan Bunda, Iyan. Maafkan Bunda." Kalimat itu lagi yang terucap dari bibir Amanda.
"Kamu kenapa sih Iyan? Kenapa kamu jadi cengeng begini?" sergah Riana sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kakak bilang Iyan cengeng, lalu Kakak apa? Manja?" sanggah Iyan.
"Coba Kakak ada di posisi Iyan, apa Kakak masih mampu bilang Iyan cengeng?" Iyan menjeda ucapannya sambil menatap Riana dengan tatapan tajam.
"Ketika Iyan butuh Bunda untuk bercerita, Bunda selalu menolak dengan alasan Kakak. Ketika Iyan ingin menunjukkan nilai Iyan kepada Bunda, Bunda selalu bilang nanti saja. Iyan diam dan menuruti ucapan Bunda. Tetapi, lama-lama Iyan juga kesal. Seakan Iyan ini bukan anak Bunda. Hanya Kakak, Kakak dan Kakak," ujar Iyan dengan intonasi cukup tinggi.
"Iyan juga ingin seperti Kakak, dimanja sama Bunda. Diperhatikan sama Bunda. Iyan juga anak Bunda bukan hanya Kakak." Amanda menangis mendengar semua ucapan sang putra.
"Kamu dengar Amanda, inilah suara hati putra yang kamu abaikan. Tidak selamanya orang yang diam itu baik-baik saja," bentak Rion yang sudah tidak tahan mendengar ucapan demi ucapan yang Iyan utarakan.
"Ayah, apa Ayah tidak sadar jika Ayah pun berlaku seperti itu kepada Ri. Ayah selalu mendahulukan anak kesayangan Ayah dari pada Ri," sahut Riana berapi-api.
"Ayah selama ini berlaku adil kepada semua anak-anak Ayah. Apa kamu tidak sadar, jika selama ini Ayah mengutamakan kebutuhan kamu. Apapun yang kamu minta selalu Ayah berikan tanpa pernah Ayah tunda. Dan apa selama ini Kakakmu banyak permintaan seperti kamu? Apa perlu Ayah beberkan berapa pengeluaran Ayah untuk kamu selama sebulan? Dan berapa pengeluaran Ayah untuk Kakakmu selama sebulan?"
"Harusnya Kakakmu yang iri kepadamu, Riana. Dia tidak mendapat kasih sayang dari Ayah ketika dia lahir sampai usianya lima tahun. Dia hidup susah karena Ayah telah membuangnya, mengabaikannya. Tetapi, kepadamu ... Ayah mengorbankan jiwa dan raga Ayah untuk kamu. Mencoba memberikan yang terbaik untuk kamu. Karena Ayah tidak ingin kamu merasakan hal yang sama seperti Kakakmu dulu. Ayah mencoba menebus kesalahan Ayah di masa lalu dengan selalu ada untuk kamu dan memanjakan kamu."
"Apa masih kurang yang Ayah lakukan untuk kamu selama ini? Jangan pernah lihat hidup Kakakmu sekarang. Hidup mewah dan bergelimang harta. Karena semua itu Kakakmu raih dengan susah payah. Tanpa pernah meminta seperak pun uang kepada Ayah. Untuk biaya kuliahnya pun, dia tanggung sendiri. Dan uang biaya sekolah Kakakmu, Kakakmu masukkan ke tabungan pribadi milikmu. Untuk masa depanmu."
"Apa kamu bisa seperti Kakakmu? Memiliki hati yang sangat baik meskipun kamu sudah memperlakukannya dengan tidak baik."
...----------------...
Happy reading ...